Madinah di sore yang panjang. Khalifah Umar bin al-Khattab berdiri di pinggir pasar, memperhatikan seorang pemuda yang sedang berbisik-bisik mempergunjingkan kehormatan tetangganya. Beberapa orang yang lewat menundukkan kepala dan diam. Umar tidak diam. Ia bertanya — bukan kepada pemuda itu, tetapi kepada orang-orang yang diam itu — sebuah pertanyaan yang akan dihafal generasi berikutnya. Kisahnya tercatat dalam Hayat as-Sahabah — bab keempat tentang hijrah, fasal yang membahas perintah Umar dan Utsman kepada kaum Muslimin untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.
Umar memandang mereka satu per satu. Suaranya pelan, namun tegas.
"Apa yang menahan kalian," tanya Umar, "ketika kalian melihat seorang yang bodoh sedang merobek-robek kehormatan orang lain, untuk tidak menegurnya?"
Mereka diam sejenak. Lalu salah seorang dari mereka, yang barangkali lebih jujur dari yang lain, menjawab.
"Kami takut lidahnya, ya Amirul Mukminin."
Khalifah mengangguk pelan. Lalu ia berkata sesuatu yang mengubah cara para sahabat di sekitarnya melihat takut.
"Itu," kata Umar, "adalah hal yang paling dekat untuk membuat kalian menjadi para syuhada."
Para sahabat yang mendengar terkesiap. Mereka belum pernah mendengar takut dipanggil dengan nama itu sebelumnya. Sebuah kata yang seharusnya menjadi penghambat, oleh khalifah, dipanggil sebagai pintu — pintu menuju kedudukan paling tinggi yang bisa dijemput seorang Muslim.
Pada hari yang lain, Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu naik ke mimbar yang sama. Suaranya tenang sebagaimana biasa, namun isinya menghantam.
"Perintahkanlah yang ma'ruf," kata Utsman, "dan laranglah yang munkar — sebelum orang-orang terburuk di antara kalian dijadikan berkuasa atas kalian, dan kemudian orang-orang terbaik di antara kalian berdoa untuk kalian, tetapi doa mereka tidak dikabulkan."
Madinah hening sejenak setelah Utsman turun. Ada yang mengangguk. Ada yang menundukkan kepala. Semua tahu, Utsman sedang menggambarkan masa depan yang mungkin tiba bila lidah-lidah yang seharusnya berbicara dipilih untuk diam.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu suatu hari berdiri di hadapan rakyat di Kufah. Khotbahnya hari itu dimulai dengan kalimat yang kelak akan dihafal oleh banyak generasi.
"Wahai sekalian manusia," kata Ali, "sesungguhnya yang telah binasa sebelum kalian, binasa karena kemaksiatan-kemaksiatan yang mereka kerjakan, sementara para ulama dan ahli ibadah mereka tidak melarang mereka. Maka ketika mereka terus dalam kemaksiatan dan tidak ada yang melarangnya, mereka ditimpa hukuman. Maka, perintahkanlah yang ma'ruf dan laranglah yang munkar, sebelum diturunkan kepada kalian seperti yang diturunkan kepada mereka."
Salah seorang dari kalangan rakyat mengangkat tangannya. Ia bertanya tentang jihad — sebuah kata yang pada hari-hari itu sering dipahami hanya dalam satu makna.
Ali memandang pria itu. Lalu ia menjawab dengan kalimat yang akan mengubah cara orang memahami jihad.
"Jihad itu ada tiga," kata Ali. "Jihad dengan tangan, jihad dengan lisan, dan jihad dengan hati. Yang pertama kali dikalahkan dari jihad adalah jihad tangan, kemudian jihad lisan, kemudian jihad hati. Maka apabila hati tidak lagi mengenal yang ma'ruf dan tidak mengingkari yang munkar, ia dibalik — bagian atasnya menjadi bagian bawahnya."
Pria itu tertegun. Begitu juga orang-orang di sekitarnya. Ali sedang menggambarkan urutan kekalahan — bukan urutan perang militer, melainkan urutan jatuhnya nurani sebuah masyarakat.
Pada hari lain di Kufah, seorang pria bernama 'Itris bin 'Arqub asy-Syaibani datang menemui Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Mungkin dia ingin nasihat. Mungkin dia ingin penghiburan. Yang dia dapatkan adalah sebuah kalimat yang menohok.
"Telah binasa," kata Ibn Mas'ud, "barangsiapa yang tidak memerintahkan yang ma'ruf dan tidak melarang yang munkar."
Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada eufemisme. Ibn Mas'ud hanya menyebut dua kata — binasa dan tidak melarang — dan membiarkan kedua kata itu duduk di hati pendengarnya.
Pada lain waktu, sahabat-sahabat lain menanyakan kepada Ibn Mas'ud tentang batas-batas pengingkaran. Apa yang harus dilakukan ketika tangan tidak mampu? Ketika lisan tidak diizinkan? Beliau menjawab dengan kalimat yang membuat sebagian dari mereka merasa terlindungi, dan sebagian lain merasa tertantang.
"Apabila engkau melihat kemungkaran dan engkau tidak mampu mengubahnya," kata Ibn Mas'ud, "cukuplah bagimu bahwa Allah mengetahui engkau membencinya dengan hatimu."
Hatinya, kata Ibn Mas'ud. Bahkan ketika tangan dan lisan dikalahkan, masih ada satu medan jihad terakhir yang tidak boleh ditinggalkan — medan hati yang membenci kebatilan.
Tetapi beliau juga memperingatkan sebaliknya, agar tidak ada yang merasa terlalu nyaman dengan tameng "yang penting hati saya tidak suka". Beliau berkata, "Seseorang yang menyaksikan kemaksiatan sedang dikerjakan lalu dia membencinya, ia seperti orang yang tidak hadir di tempat itu. Dan orang yang tidak hadir lalu meridhainya, ia seperti orang yang menyaksikannya."
Begitu halusnya tata letak hati: ada yang hadir dan diam tetapi membenci — itu seperti tidak hadir, selamat. Ada yang tidak hadir tetapi menyenangi — itu seperti hadir, terlibat. Hati adalah saksi yang tidak bisa dikelabui.
Pelajaran
Empat sahabat besar — Umar, Utsman, Ali, dan Ibn Mas'ud — bicara tentang satu hal yang sama dengan empat sudut yang berbeda: ketika sebuah masyarakat memilih diam di hadapan kemungkaran, ia sedang menulis takdirnya sendiri. Umar memanggil takut sebagai pintu menuju kedudukan paling tinggi. Utsman menggambarkan hari di mana doa orang-orang baik tidak lagi dikabulkan. Ali menjelaskan bahwa jihad hati adalah benteng terakhir — yang bila ditinggalkan, masyarakat itu dibalik bagian atasnya menjadi bagian bawah. Ibn Mas'ud menutup dengan rumus yang halus: hati yang membenci kebatilan masih sebuah amal; hati yang meridhainya, walau jasadnya jauh, sudah ikut menanggung. Pekan ini, ketika kabar kemungkaran datang bertumpuk-tumpuk ke layar kita, pertanyaannya bukan "apakah saya berdaya?" — pertanyaannya adalah "di mana hati saya sedang berdiri?".
Sumber Asli
Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / (أمر عمر وعثمان المسلمين بالأمر والنهي عن المنكر)
حياة الصحابة (أمر عمر وعثمان المسلمين بالأمر والنهي عن المنكر) وأخرج ابن أبي شيبة وأبو عبيد في الغريب وابن أبي الدنيا في الصمت عن عمر رضي الله عنه قال: ما يمنعكم إذا رأيتم السفية يُخَرِّق أعراض الناس أن لا تُعرِّبوا عليه؟ قالوا: نخاف لسانه، قال: ذاك أدنى أن تكونوا شهداء.
وأخرجه ابن أبي شيبة عن عثمان رضي الله عنه قال: مُروا بالمعروف وانهَوا عن المنكر قبل أن يُسلَّط عليكم شراركم، ويدعوا عليهم خياركم فلا يستجاب لهم.
وأخرج ابن أبي شيبة عن علي رضي الله عنه قال: لتأمرنَّ بالمعروف ولَتَنْهُونَّ عن المنكر، ولتجِدُّنَّ في أمر الله، أو ليسومّنكُم أقوام يعذبونكم ويعذبهم الله.
وأخرج مسدَّد والبيهقي - وصححه - عن علي قال: الجهاد ثلاثة: جهاد بيد، وجهاد بلسان، وجهاد بقلب؛ فأول ما يُغلب عليه من الجهاد جهاد اليد ثم جهاد اللسان، ثم جهاد القلب، فإذا كان القلب لا يعرف معروفاً ولا ينكر منكراً نُكِّس وجعل أعلاه أسفله.
وأخرج ابن أبي شيبة ونعيم عن ابن مسعود قال: إذا رأيت المنكر فلم تستطع له تغييراً فحسبك أن يعلم الله أنك تكره بقلبك.
