بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan kita yang baru saja melewati banyak kabar tentang harta yang lepas dari tangan yang tidak amanah, tentang kemarahan publik yang kembali ramai menuntut perlindungan lebih kuat bagi anak dan perempuan, dan tentang suara-suara yang dibungkam karena bertanya keras. Malam ini, saya tidak ingin menambah daftar berita yang sudah kita baca sepanjang pekan. Saya ingin mengajak kita semua duduk lebih tenang, dan menamai satu hal sederhana yang sedang menyatukan semua peristiwa itu.
Marilah kita mulai dari satu ayat. Allah berfirman:
وَيَٰقَوْمِ أَوْفُوا۟ ٱلْمِكْيَالَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
"Dan Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.'" (QS. Hud: 85)
Nabi Syu'aib 'alaihissalam diutus kepada kaum yang dikenal hidup dari perdagangan — dan dikenal pula sering curang. Mereka mengurangi takaran. Mereka melebihkan timbangan saat membeli. Yang menarik, Nabi Syu'aib tidak datang sambil marah. Dia memanggil mereka "yā qawmī" — "wahai kaumku" — sebuah panggilan yang penuh kasih. Lalu dia mengingatkan: jangan kurangi hak orang. Pekan ini, kita juga sedang berhadapan dengan kaum yang sebagiannya mengurangi hak — bukan dalam takaran beras di pasar, tetapi dalam takaran amanah jabatan. Maka mari kita pinjam adab Nabi Syu'aib: berbicara tentang ini bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kasih kepada saudara seiman.
Jamaah yang saya hormati, di antara kabar yang sampai kepada kita pekan ini, ada tiga yang ingin saya tarik benangnya bersama. Yang pertama, kasus korupsi di program penyaluran gizi nasional terus bergulir dengan pemeriksaan-pemeriksaan baru. Yang kedua, otoritas pajak menarik kembali sejumlah aset dari para penunggak — sebuah kerja yang patut kita apresiasi, walau kita semua tahu pertanyaan besarnya tetap menggantung: kenapa penundaan-penundaan kepatuhan dibiarkan begitu lama? Yang ketiga, suara-suara kemarahan kanal sosial kembali ramai menuntut hukuman lebih berat bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan — diskursus yang muncul berulang setiap kali kasus baru viral di feed. Ketiga kabar ini, bila kita renungkan, bermuara di satu kata: amanah. Amanah harta. Amanah penegakan hukum. Amanah perlindungan terhadap yang paling lemah.
Mari kita perdalam dengan satu hadits. Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Muslim:
اِتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan di Hari Kiamat." (Sahih Muslim 6577)
Kata zhulumāt — bentuk jamak. Bukan satu kegelapan, melainkan lapisan-lapisan kegelapan. Para ulama menjelaskan, kezaliman akan menampakkan dirinya pada hari itu sebagai kegelapan yang tidak satu pun cahaya iman pelakunya bisa menembusnya. Renungkan, jamaah: di hari di mana cahaya yang dimiliki orang beriman akan menerangi jalan mereka menuju surga, pelaku kezaliman akan berdiri dalam gelap yang berlapis. Bukan karena Allah kejam — melainkan karena hak-hak yang dia rampas dari orang lain menutupi cahayanya sendiri. Dan inilah yang membuat saya ingin mengajak kita berhenti sebentar malam ini: kita semua memiliki pos kecil di mana cahaya bisa redup tanpa kita sadari.
Siapa di antara kita yang malam ini bisa bilang dengan jujur bahwa tidak ada satu pos amanah pun yang sedang kita lalaikan? Bendahara arisan yang menunda menyetor sumbangan. Pegawai yang memakai fasilitas kantor untuk urusan pribadi tanpa pamit. Suami yang menghemat nafkah istri demi memuaskan keinginan pribadi. Orang tua yang menjanjikan sesuatu kepada anak lalu menarik kembali tanpa penjelasan. Pengurus masjid yang tidak melaporkan rincian kotak amal kepada jamaah. Semuanya kecil — sangat kecil bila dibandingkan dengan triliunan rupiah yang sedang ramai dibahas di feed. Tetapi semuanya, bila dikumpulkan di neraca akhirat, adalah zhulumāt — lapisan kegelapan yang bisa menutupi cahaya kita pada hari yang kita semua tidak bisa berkelit darinya.
Saya ingin mengajak kita merenungkan satu hal lagi tentang kasus-kasus besar pekan ini. Kita gampang sekali melemparkan kemarahan kita ke "para koruptor" sebagai sebuah kelas — seolah-olah mereka adalah spesies yang berbeda dari kita. Tetapi para ulama kita mengingatkan: koruptor besar tidak lahir dewasa dalam keadaan korup. Mereka tumbuh dari anak-anak yang menormalkan kecurangan kecil. Yang mencuri permen dari toko tetangga tanpa dilarang ibunya. Yang mencontek di kelas dan dianggap cerdas oleh teman-temannya. Yang berbohong kepada guru lalu dimaafkan tanpa konsekuensi. Kebiasaan-kebiasaan inilah yang, lima belas tahun kemudian, akan menjadi tangan yang menandatangani kontrak rente. Maka pertanyaan kita pekan ini bukan "bagaimana saya membenci koruptor itu" — melainkan "bagaimana saya tidak membesarkan koruptor di rumah saya sendiri."
Mari kita ambil satu rujukan tambahan. Rasulullah ﷺ memperingatkan tentang ghulul — penggelapan harta yang seharusnya dibagikan secara sah — dengan sangat tegas. Beliau bersabda dalam riwayat Bukhari:
لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ
"Aku tidak suka melihat salah seorang di antara kalian pada Hari Kiamat, memikul di atas lehernya seekor domba yang akan merengek." (Sahih al-Bukhari 3073)
Bayangkan, jamaah. Seseorang menggelapkan satu kepala kambing dari dana umat, dan kelak dia tampil di hadapan seluruh manusia dengan kambing itu mengembik di lehernya — saksi yang tidak bisa dia diamkan. Hari ini kita gampang menyembunyikan harta yang tidak halal di rekening yang dibungkus nama orang lain. Tetapi di hari itu, harta yang tersembunyi akan menampakkan dirinya. Tidak ada akuntan yang bisa kita sewa untuk merapikan neraca. Tidak ada pengacara yang bisa kita beli untuk membela kita. Saksinya adalah harta itu sendiri.
Jamaah yang saya hormati, ada satu sisi yang saya rasa belum cukup kita renungkan tentang amanah. Amanah itu bukan beban — amanah itu hadiah. Allah memilih kita untuk memegangnya. Setiap kali kita memegang sebuah pos kecil, sebenarnya Allah sedang berkata: "Aku percayakan ini kepadamu. Aku tahu kamu mampu." Bayangkan betapa indahnya panggilan ini. Tetapi banyak dari kita memperlakukan amanah seperti rongsokan yang harus diperas habis-habisan. Padahal amanah adalah pinjaman pendek dari Tuhan, yang akan diambil kembali dan akan ditanyakan: bagaimana kamu memperlakukannya?
Lalu apa yang harus kita lakukan setelah pulang dari majelis malam ini? Saya ingin memberi tiga tindakan konkret yang bisa kita lakukan dalam 24 jam ke depan. Pertama, pulang dan duduk sebentar dengan keluarga di meja makan. Identifikasi satu pos amanah pribadi — bisa harta, bisa waktu, bisa janji — yang selama ini kita lalaikan. Bicarakan terbuka dengan pasangan atau orang tua. Kedua, jika kita pengurus masjid atau TPA, sampaikan kepada takmir tentang pentingnya SOP perlindungan anak — sederhana saja, satu lembar yang ditempel di papan pengumuman: aturan tidak boleh sendirian, jadwal penjemputan, kontak orang tua. Ketiga, malam ini sebelum tidur, doakan dua nama: satu pejabat publik yang nama-nya sering kita caci, dan satu aktivis muda yang berani bersuara untuk membela hak orang banyak. Bukan dengan kemarahan — dengan doa untuk perbaikan dan perlindungan.
Saudara-saudara, izinkan saya tutup dengan satu kalimat sederhana. Adil bukan slogan. Adil adalah pilihan kecil yang kita ambil di pos kita masing-masing, pekan demi pekan, sampai napas terakhir. Bila kita ingin negeri ini lebih adil, mari kita menjadi orang pertama yang menambah satu butir keadilan di tempat kita sendiri.
Mari kita berdoa.
اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلٰى دِيْنِكَ وَعَلٰى طَاعَتِكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا أَمَانَةً لَا تَخُوْنُهَا، وَوَلِّيْنَا فِيْ أَهْلِنَا وَجِيْرَانِنَا، وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَأَهْلَ بِلَادِنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ تَوَلَّى أَمْرَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَهُمْ مِنَ الطَّمَعِ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَنَا وَأَهْلَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا مَأْوَى أَمَانٍ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
