Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumInspirasi & Kisah PribadiKamis, 18 Juni 2026

Kultum — "Apa yang Kita Bawa Pulang?"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ السَّفَرَ إِلَيْهِ زِيَارَةً، وَجَعَلَ الْعَوْدَةَ إِلٰى أَهْلِنَا بَرَكَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja melewati momentum kepulangan saudara-saudara kita jemaah haji gelombang pertama — sekitar 95 ribu saudara kita mulai pulang ke kampung halaman — ada satu pertanyaan sederhana yang ingin saya bagikan malam ini. Pertanyaan ini bukan untuk para jemaah haji saja; pertanyaan ini untuk kita semua yang menyaksikan kepulangan mereka dari balik layar HP.

Pertanyaannya: ketika perjalanan selesai, apa yang seharusnya kita bawa pulang?

Allah Ta'ala memberi jawaban yang sangat jelas dalam Kitab-Nya. Allah berfirman:

ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌۭ مَّعْلُومَٰتٌۭ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍۢ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

QS. Al-Baqara: 197 — "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi... Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal."

Coba kita perhatikan dua kata kunci dari ayat ini, jamaah. Kata pertama: tazawwadu — "berbekallah". Kata kedua: khayra az-zādi at-taqwā — "sebaik-baik bekal adalah takwa". Ayat ini turun, menurut para ahli tafsir, karena ada sekelompok orang dari Yaman yang pergi haji tanpa membawa bekal apa-apa, mengandalkan minta-minta di sepanjang jalan. Mereka mengira bahwa "bertawakal pada Allah" berarti tidak perlu menyiapkan apa-apa. Allah meluruskan: tawakal itu bukan kemalasan. Bekal tetap perlu disiapkan. Tetapi bekal terbaiknya, ingatlah, adalah takwa.

Saudara-saudara sekalian, mari kita renungkan ini dalam konteks pekan kita. Pekan ini, dari layar-layar yang kita pegang, kita melihat dua jenis pulang yang sangat kontras. Yang pertama, kabar yang sampai ke kita: ribuan jemaah haji pulang ke kampung halaman dengan koper berisi air zam-zam, kurma, sajadah, oleh-oleh untuk tetangga dan saudara. Wajah-wajah lelah tetapi bahagia di Bandara Soekarno-Hatta, di Adisutjipto, di Juanda, di Hasanuddin. Yang kedua, di sisi lain feed kita, kita juga melihat kisah-kisah lain — keluarga yang baru saja pulang dari rumah sakit setelah berjuang dengan keluarga anggota yang kecanduan, anak-anak yang pulang sekolah membawa pertanyaan-pertanyaan yang tidak siap dijawab orang tua, menantu yang pulang dari pemakaman mertua sambil menyesali percakapan yang tidak sempat tuntas.

Semua ini adalah jenis "pulang". Dan Allah, dalam ayat di atas, mengingatkan kita: bekal terbaik yang bisa dibawa pulang — dari mana pun, dari Tanah Suci, dari kampus, dari kantor, dari rumah sakit, dari pemakaman — adalah takwa. Bukan oleh-oleh fisik. Bukan kenangan emosional. Bukan foto yang di-upload. Takwa yang sederhana: kesadaran bahwa Allah melihat.

Mari kita lihat lebih dalam. Pekan ini juga ramai dibahas sebuah kisah klasik yang sering dikutip oleh para ustadz — kisah Abdullah bin Mubarak rahimahullah. Beliau ulama besar, kaya, dan setiap tahun pergi haji. Pada satu tahun, di tengah perjalanan, beliau melihat seorang perempuan dengan anak-anaknya sedang mengais sampah, mencari bangkai burung untuk dimasak. Beliau bertanya, dan perempuan itu menjelaskan situasi keluarganya yang sangat sulit. Maka Abdullah bin Mubarak menyerahkan seluruh bekal hajinya — uang, perbekalan, kendaraan — kepada keluarga itu. Beliau pulang ke Khurasan tanpa pernah sampai ke Makkah. Dalam mimpi yang dialaminya kemudian, beliau dikabari bahwa hajinya tahun itu diterima karena dialihkan ke yang lebih membutuhkan.

Kisah ini bukan tentang Abdullah bin Mubarak saja. Kisah ini tentang kita. Pertanyaan yang ditanyakan kepada kita: di mana "perempuan dengan anak-anak yang lapar" di sekitar kita pekan ini? Bisa jadi tetangga sebelah yang bulan ini telat bayar kontrakan. Bisa jadi keluarga karyawan harian di kantor yang tidak masuk karena anaknya sakit. Bisa jadi adik tingkat di kampus yang sudah dua minggu tidak makan nasi dengan layak. Mereka adalah "haji" kita yang sebenarnya — mereka adalah lapangan di mana takwa diuji.

Mari kita amplifikasi lagi. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang juga relevan:

Sahih Muslim 4961 — "Bepergian adalah pengalaman yang menyiksa. Ia merampas tidur seseorang, makanan dan minumannya. Apabila salah seorang dari kalian telah menyelesaikan tujuannya, maka hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya."

Kalimat ini, jamaah, jujur sekali. Nabi ﷺ tidak meromantisasi perjalanan. Beliau tidak mengatakan, "Safar itu indah, terus saja jalan-jalan." Beliau mengatakan: safar itu qit'atun min al-'adzāb — sepotong dari azab. Lalu beliau memberi instruksi: kalau urusanmu selesai, segera pulang. Jangan diperpanjang. Jangan mampir-mampir. Kembali ke keluarga.

Saudara-saudara, hadits ini bukan hanya tentang perjalanan fisik. Saya mengajak kita merenungkan: berapa banyak "perjalanan" yang sudah kita selesaikan, tetapi kita tidak mau pulang? Kita selesai dengan satu kebiasaan yang merusak, tetapi kita masih nongkrong di lingkungannya. Kita selesai dengan satu hubungan toxic, tetapi kita masih scrolling timeline-nya. Kita selesai dengan satu fase keuangan yang buruk, tetapi kita masih kembali ke pinjol setiap kali ada kebutuhan kecil. Nabi ﷺ berkata: segera pulang. Jangan diperpanjang.

Dan ini, jamaah, adalah hijrah yang sesungguhnya. Hijrah bukan event satu kali; hijrah adalah pulang berulang-ulang dari setiap kebiasaan yang tidak kita inginkan. Sebagaimana sahabat Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu menempuh perjalanan panjang dari Isfahan ke Madinah hanya untuk pulang ke iman yang benar — kita juga, setiap hari, sedang menempuh perjalanan pulang ke fitrah kita.

Saudara-saudara, sebelum saya tutup, izinkan saya sebut tiga tindakan praktis yang bisa kita lakukan dalam 24 jam ke depan.

Pertama, muhasabah pulang. Sebelum tidur malam ini, tanyakan pada diri: hari ini, dari mana saja saya pulang? Pulang dari kantor — apakah saya bawa takwa, atau hanya kelelahan? Pulang dari belanja — apakah saya bawa berkah, atau hanya barang? Pulang dari obrolan — apakah saya bawa kebaikan, atau hanya gosip? Muhasabah ini cukup 3-5 menit. Allah tahu, dan itu sudah cukup.

Kedua, bekal takwa untuk besok pagi. Sebelum tidur, niatkan satu amal kecil yang akan kita lakukan besok. Cukup satu, jangan terlalu banyak. Misalnya: besok pagi saya akan menyapa satpam dengan senyum tulus, bukan basa-basi. Atau: besok pagi saya akan menelepon ibu/ayah dan bertanya kabar. Atau: besok pagi saya akan menahan satu kata yang biasanya saya lontarkan tanpa pikir. Satu niat yang spesifik insya Allah lebih konkret dari sepuluh niat yang umum.

Ketiga, bantu satu jemaah haji yang baru pulang. Jika ada tetangga, saudara, atau rekan kerja yang baru pulang dari Tanah Suci pekan ini, sempatkan satu kunjungan singkat — 15-20 menit cukup. Bukan untuk minta oleh-oleh, tetapi untuk mendengarkan: apa yang mereka rasakan, apa yang ingin mereka pertahankan dari pengalaman itu. Kehadiran kita adalah cara komunitas merawat bekal takwa mereka.

Mari kita tutup dengan doa:

اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا أَعْمَالَنَا، وَاجْعَلْ خَيْرَ زَادِنَا تَقْوَاكَ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَأَصْلِحْ شَأْنَ أُسَرِنَا، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ. اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ إِخْوَانِنَا الْحُجَّاجِ، وَاجْعَلْ حَجَّهُمْ مَبْرُوْرًا، وَسَعْيَهُمْ مَشْكُوْرًا، وَذَنْبَهُمْ مَغْفُوْرًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan