Pekan ini, ketika percakapan tentang jiwa yang lelah dan amanah yang tergerus menemui kita dari banyak arah, ada satu kisah lama yang terasa berbicara langsung ke pintu rumah. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — قصة الثلاثة الذين أووا إلى الغار menghimpun kembali kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ini, tentang tiga lelaki yang terjebak di mulut gua, dan tiga doa yang menggetarkan langit.
Hujan turun deras di malam itu. Tiga lelaki berjalan di lereng bukit. Mereka mencari tempat berteduh. Sebuah gua terbuka di depan mata. Mereka masuk.
Lalu batu besar bergulir. Menutup mulut gua. Gelap. Pengap. Tidak ada jalan keluar.
Mereka saling pandang. Salah seorang berkata pelan, "Demi Allah, wahai kawan-kawan. Tidak ada yang menyelamatkan kita kecuali kejujuran. Mari setiap orang berdoa dengan amal yang dia tahu betul-betul jujur di dalamnya."
Lelaki pertama menarik napas. "Ya Allah," ucapnya, "Engkau tahu, aku pernah punya seorang pekerja upahan. Dia bekerja untukku sehari penuh, mendapat upah satu faraq beras. Tapi dia pergi sebelum mengambil bayarannya."
Suaranya tertahan sebentar.
"Aku tidak menyimpan beras itu. Aku menanamnya. Hasilnya berbuah. Aku jual hasilnya. Aku beli seekor sapi. Sapi itu beranak. Lalu menjadi banyak."
"Suatu hari pekerja itu kembali. 'Berikan upahku,' katanya. Aku tunjuk sekumpulan sapi. 'Ambil semua sapi itu. Itu milikmu.'"
"'Jangan permainkan aku,' jawabnya. 'Upahku hanya satu faraq beras.'"
"Aku katakan, 'Aku tidak mempermainkanmu. Semua sapi itu, dari satu faraq berasmu.'"
"Dia menggiring sapi-sapi itu pulang."
Lalu suara lelaki pertama bergetar.
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ مِنْ خَشْيَتِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا
"Ya Allah, jika Engkau tahu aku melakukan itu karena takut kepada-Mu, bukalah jalan untuk kami."
Batu di mulut gua bergeser. Sedikit. Cahaya masuk. Tapi belum cukup untuk keluar.
Lelaki kedua maju. "Ya Allah," katanya, "Engkau tahu, aku pernah mencintai sepupu perempuanku dengan cinta yang berat. Lebih dari yang seharusnya. Aku ingin merebutnya. Dia menolak. Suatu masa, kemarau panjang menimpa kampung. Dia datang kepadaku, lapar, butuh uang."
"Aku berikan seratus dinar — dengan syarat dia menyerahkan dirinya kepadaku."
"Dia setuju. Karena terpaksa."
"Tapi ketika aku sudah duduk di antaranya, dia berkata, 'Bertakwalah kepada Allah, jangan rusak segel ini kecuali dengan haknya.'"
"Aku berdiri. Aku tinggalkan dia. Aku biarkan seratus dinar itu untuknya."
Suaranya tertekan.
"Ya Allah, jika Engkau tahu aku melakukan itu karena takut kepada-Mu, bukalah jalan untuk kami."
Batu bergeser lebih lebar. Cahaya masuk lebih banyak. Tapi belum cukup.
Lelaki ketiga maju. "Ya Allah," ucapnya, "Engkau tahu, aku punya para pekerja. Setiap petang aku bayar mereka. Suatu hari ada satu yang pergi tanpa mengambil bayarannya. Aku tidak menghabiskan upahnya. Aku berdagang dengan uang itu. Aku kembangkan. Sampai bertambah banyak menjadi banyak ternak."
"Bertahun-tahun kemudian, dia kembali. Pakaiannya lusuh. 'Hai hamba Allah, berikan upahku.'"
"Aku tunjuk semua kawanan domba, sapi, dan unta. 'Itu semua milikmu.'"
"Dia mengira aku mempermainkannya. Aku katakan, 'Bukan. Itu semua tumbuh dari upahmu yang dahulu kau tinggalkan.'"
"Dia menggiring semuanya pulang. Tidak meninggalkan satu pun untukku."
Suaranya berbisik.
"Ya Allah, jika Engkau tahu aku melakukan itu karena takut kepada-Mu, bukalah jalan untuk kami."
Batu bergeser sepenuhnya. Mereka keluar. Berjalan pulang.
Pelajaran
Ada satu kalimat yang diulang ketiga lelaki itu — in kunta ta'lamu annii fa'altu dzaalika min khasy-yatika, "jika Engkau tahu aku melakukan itu karena takut kepada-Mu." Mereka tidak mengangkat amal mereka karena amal itu besar; mereka mengangkatnya karena di balik amal itu ada satu sumbu yang sama: takut pada Allah, yang membuat mereka tidak khianat ketika tidak ada yang mengawasi. Lelaki pertama tidak makan upah pekerja yang lupa pulang. Lelaki kedua menarik diri dari maksiat di puncak hawa nafsu. Lelaki ketiga menyerahkan kembali harta yang sudah bertahun-tahun ia kembangkan, kepada pekerja yang barangkali sudah lupa pernah menitipkan. Mereka semua memilih amanah ketika tidak ada saksi manusia — dan itulah yang menggeser batu di gua. Pekan ini, ketika kabar tentang rahasia yang bocor, perundungan yang viral, dan jiwa yang lelah memenuhi feed kita, kisah tiga lelaki di mulut gua mengajak satu pertanyaan ke dalam hati: amanah apa yang sedang aku jaga ketika tidak ada yang mengawasi? Dari sanalah jalan-jalan tersempit terbuka.
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — قصة الثلاثة الذين أووا إلى الغار
[قِصَّةُ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ أَوَوْا إِلَى الْغَارِ] فَانْطَبَقَ عَلَيْهِمْ فَتَوَسَّلُوا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِصَالِحِ أَعْمَالِهِمْ فَفُرِّجَ عَنْهُمْ قَالَ الْإِمَامُ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ خَلِيلٍ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بَيْنَمَا ثَلَاثَةُ نَفَرٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ يَمْشُونَ إِذْ أَصَابَهُمْ مَطَرٌ فَأَوَوْا إِلَى غَارٍ فَانْطَبَقَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: إِنَّهُ وَاللَّهِ يَا هَؤُلَاءِ لَا يُنَجِّيكُمْ إِلَّا الصِّدْقُ فَلْيَدْعُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْكُمْ بِمَا يَعْلَمُ أَنَّهُ قَدْ صَدَقَ فِيهِ فَقَالَ وَاحِدٌ مِنْهُمُ: اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ كَانَ لِي أَجِيرٌ، عَمِلَ لِي عَلَى فَرَقٍ مِنْ أَرُزٍّ فَذَهَبَ وَتَرَكَهُ، وَأَنِّي عَمَدْتُ إِلَى ذَلِكَ الْفَرَقِ فَزَرَعْتُهُ فَصَارَ مِنْ أَمْرِهِ أَنِّي اشْتَرَيْتُ مِنْهُ بَقَرًا، وَأَنَّهُ أَتَانِي يَطْلُبُ أَجْرَهُ فَقُلْتُ: اعْمَدْ إِلَى تِلْكَ الْبَقَرِ فَسُقْهَا فَقَالَ لِي: إِنَّمَا لِي عِنْدَكَ فَرَقٌ مِنْ أَرُزٍّ فَقُلْتُ لَهُ: اعْمَدْ إِلَى تِلْكَ الْبَقَرِ فَإِنَّهَا مِنْ ذَلِكَ الْفَرَقِ فَسَاقَهَا فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ مِنْ خَشْيَتِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا فَانْسَاخَتْ عَنْهُمُ الصَّخْرَةُ.
