بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ.
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ جَعَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِخْوَةً، وَأَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, di hadapan kita pekan ini, dunia bergerak cepat. Kabar tentang nota kesepakatan damai antara dua kekuatan besar — yang selama bertahun-tahun saling mengancam — sampai ke layar telepon kita. Pada saat yang sama, kabar lain juga sampai: tentang Masjid Al-Aqsa yang masih diintai dengan rencana yang membuat hati umat sedih, tentang Masjid Al-Ibrahimi di Hebron yang dicaplok, tentang anak-anak Rohingya yang bertumbuh di pusat tahanan di tetangga sebelah, tentang ketegangan domestik yang membuat suara kritis merasa tidak aman. Dunia tidak lagi datang kepada kita sebagai satu cerita; ia datang sebagai banyak cerita yang tumpang tindih. Maka di mimbar yang mulia ini, mari kita ingatkan diri kita sendiri tentang satu prinsip yang menjadi tulang punggung iman kita: keadilan. Keadilan yang tidak hilang ketika kepala negara berjabat tangan; keadilan yang menjangkau yang terdekat dan yang terjauh sekaligus.
Allah Ta'ala berfirman:
QS. Al-Maaida: 8
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini turun pada saat kaum Muslimin baru saja merasakan luka mendalam dari para penindas mereka di Mekah. Tidaklah aneh kalau ada satu sudut hati yang membara, satu kerinduan untuk membalas. Tetapi Allah Ta'ala datang dengan perintah yang justru lebih sulit dari perintah berperang: tetap adil, bahkan kepada kaum yang dahulu menyakitimu. Inilah keadilan yang dibawa Islam — bukan keadilan yang lahir dari rasa nyaman, melainkan keadilan yang ditegakkan walau hati terluka. Pekan ini, kita sebagai jamaah, kita yang membaca berita di pagi hari sambil minum kopi, kita yang menggeser layar di malam hari sebelum tidur — kita sedang diuji oleh perintah yang sama. Apakah kita ikut larut pada euforia bahwa "akhirnya damai", lalu lupa bahwa di Tepi Barat satu rumah masih dirobohkan setiap pagi? Apakah kita ikut larut pada amarah terhadap satu pihak, lalu menutup mata pada kezaliman yang dilakukan oleh pihak yang kita dukung? Adil itu rumit; tetapi adil yang rumit adalah lebih dekat kepada takwa daripada keberpihakan yang mudah.
Ma'asyiral muslimin, kabar tentang pertemuan diplomatis selalu menyembunyikan dua hal sekaligus: harapan dan bahaya. Harapan, karena percikan rudal sempat menyambar pangkalan-pangkalan tertentu di kawasan Yordania, dan setiap hari tanpa rudal adalah jiwa yang diselamatkan. Bahaya, karena diplomasi sering dipakai untuk menormalkan situasi yang sebenarnya belum normal. Kita tidak boleh melupakan bahwa di balik garis perjanjian, masih ada satu masjid suci yang sedang diintai, masih ada jamaah Hebron yang Jumat ini harus melewati tujuh pos pemeriksaan untuk bisa sholat di mihrab Nabi Ibrahim 'alaihissalam, masih ada anak-anak di Gaza yang setiap pagi memilih antara air dan tepung gandum. Kabar damai dari Washington adalah kabar untuk gedung-gedung diplomatik di Washington; kabar damai untuk jamaah Palestina masih harus kita perjuangkan bersama, lewat doa qunut nazilah, lewat sedekah yang sampai, lewat suara-suara yang sopan namun tidak diam.
Saudaraku, mari kita tegaskan satu hal yang sering disalahpahami: kepedulian kita kepada saudara di Palestina, di Hebron, di Cox's Bazar, di Aceh dahulu dan di Maluku dahulu, di setiap titik di mana umat sedang ditindas — kepedulian ini bukan urusan politik kita. Ini urusan iman kita. Rasulullah ﷺ menggambarkan umat ini sebagai satu tubuh:
Sahih al-Bukhari 6951
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرِ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَنَّ سَالِمًا، أَخْبَرَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رضى الله عنهما أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Maka ia tidak boleh menzaliminya, dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh. Dan barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya."
"Tidak menyerahkannya" — frasa ini berat. Kita tidak boleh mendiamkan, kita tidak boleh menyerahkan saudara yang ditindas kepada nasibnya sendiri. Diam adalah satu bentuk penyerahan. Maka di tengah dunia yang sibuk menghitung kalkulasi geopolitik — siapa menang, siapa kalah, siapa lebih untung — kita sebagai jamaah Indonesia punya tugas yang tetap: jangan menyerahkan saudara kita. Jangan menjadi diam karena di layar TV kelihatannya semua "sudah baik". Damai antar pemerintah tidak otomatis adil bagi seluruh hamba Allah di kawasan itu.
Hadirin yang dirahmati Allah, kabar dari negeri tetangga juga membuat kita merenung. Lebih dari dua ribu anak Rohingya — kanak-kanak yang seharusnya bersekolah dan bermain — bertumbuh di balik jeruji pusat tahanan imigrasi. Mereka tidak pernah memilih untuk lahir dengan status itu. Mereka tidak pernah meminta untuk menjadi ujian bagi umat di kawasan. Tetapi mereka ada, dan keberadaan mereka adalah panggilan langsung kepada kita. Rasulullah ﷺ pernah bertanya secara retoris:
Bulugh al-Maram 1587
وَعَنْ جَابِرٍ رضى الله عنه، سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: كَيْفَ تُقَدَّسُ أُمَّةٌ، لَا يُؤْخَذُ مِنْ شَدِيدِهِمْ لِضَعِيفِهِمْ.
"Bagaimana suatu umat dapat disucikan dari dosa-dosanya di mana hak orang-orang lemahnya tidak diambil dari orang-orang kuatnya?" — Pertanyaan ini ditujukan kepada kita semua. Kita sebagai umat yang kuat di negeri-negeri yang aman. Apakah kita sudah mengambil sebagian dari yang kita miliki untuk yang lemah? Atau kita sibuk menumpuk untuk diri sendiri sambil mengirim emoji sedih ke postingan tentang Rohingya?
Saudaraku yang dimuliakan Allah, di dalam negeri pun ujian keadilan kita sedang berjalan. Pekan ini muncul cerita seorang aktivis yang mengaku menerima berbagai bentuk teror setelah ia menyuarakan kritik atas sejumlah kebijakan di kementerian. Saya tidak ingin masuk ke ranah politis di mimbar yang mulia ini — politik adalah ranah lain. Tetapi prinsip yang dipertaruhkan adalah prinsip Islam: setiap warga punya hak untuk menyampaikan pendapat dengan lurus, dan setiap institusi punya kewajiban untuk mendengar tanpa menyakiti. Inilah amanah yang Allah Ta'ala perintahkan di banyak tempat. Diskursus tentang respons aparat terhadap demo mahasiswa pun masih berdenyut, walau sebagian menyebutnya sebagai "yang diulang-ulang". Bagi kita di mimbar, yang penting bukan menentukan siapa benar siapa salah dalam satu peristiwa; yang penting adalah menjaga prinsip-prinsip universal: kebenaran disampaikan dengan adab, keadilan ditegakkan dengan amanah, dan setiap nyawa dilindungi karena ia adalah ciptaan Allah yang dimuliakan.
Allah Ta'ala juga mengingatkan kita tentang kerusakan yang muncul ketika prinsip-prinsip ini diabaikan:
QS. Al-Anfaal: 73
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ وَفَسَادٌۭ كَبِيرٌۭ
"Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu — hai para muslimin — tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar."
Ayat ini bicara tentang konsekuensi struktural ketika persaudaraan iman tidak ditegakkan: kekacauan dan kerusakan. Bukan sekadar perasaan kalah, tetapi fasād kabīr — kerusakan besar — yang menyebar di muka bumi. Maka pekan ini, mari kita evaluasi: sejauh mana kita sebagai jamaah Indonesia sudah menjadi pelindung bagi saudara seiman? Bukan dengan suara keras yang memecah belah, melainkan dengan tindakan konkret yang menyembuhkan.
Ma'asyiral muslimin, sebelum saya tutup khutbah pertama ini, izinkan saya menyampaikan empat tindakan konkret untuk pekan ini. Pertama, hidupkan kembali doa qunut nazilah dalam sholat lima waktu kita. Setiap sholat berjamaah di masjid lingkungan, sisipkan satu menit untuk Palestina, Rohingya, dan setiap saudara mustadh'afin. Kedua, sisihkan satu transfer donasi yang terverifikasi — sekecil apa pun nominal — ke lembaga kemanusiaan resmi yang menyalurkan ke kawasan tertindas. Kebiasaan ini lebih kuat dari emoji marah di kolom komentar. Ketiga, periksa konsumsi media kita. Setidaknya tiga sumber berbeda sebelum kita mengambil sikap atas satu peristiwa internasional; jangan biarkan satu kanal saja membentuk kerangka keadilan kita. Keempat, di kalangan keluarga dan tetangga, jaga ucapan kita. Jangan menjadikan kerinduan akan keadilan global sebagai alasan untuk merendahkan saudara seiman yang berbeda pendapat politik. Ishlah antar Muslim adalah perintah yang sama tegasnya dengan perintah berpihak kepada yang tertindas.
Akhirnya, jamaah yang dirahmati Allah, mari kita ingat: damai yang sejati hanya datang dari Sang Pemilik perdamaian. Diplomasi manusia mungkin mereda untuk sementara waktu, kemudian retak lagi. Maka sandaran kita bukan pada nota kesepakatan yang ditandatangani di gedung-gedung pemerintahan; sandaran kita pada Allah Ta'ala, yang Maha Adil, yang Maha Mengetahui, yang janji-Nya tidak pernah dikhianati. Mari kita kuatkan diri sebagai pribadi yang adil di lingkungan terdekat — di meja makan, di kantor, di grup chat tetangga — supaya cahaya keadilan itu tumbuh dari bawah, dari hati-hati yang lurus, sampai ia memancar ke seluruh negeri.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan saya menegaskan beberapa hal dari khutbah pertama. Pertama, tentang ambiguitas berita damai. Kita tidak diharamkan untuk gembira mendengar bahwa rudal-rudal mereda. Tetapi kegembiraan itu harus segera diiringi dengan kewaspadaan: apakah damai ini menyelesaikan kezaliman yang masih berjalan, atau hanya membungkus kezaliman itu dengan kemasan yang lebih halus? Para sahabat Nabi ﷺ pernah merasakan ini saat perjanjian Hudaibiyah. Dari luar, perjanjian itu kelihatan tidak menguntungkan; tetapi dari dalam, ia justru membuka pintu yang membuat Mekah terbuka tanpa darah dua tahun kemudian. Hikmah dari sejarah itu: tidak setiap jabat tangan diplomatik adalah pengkhianatan terhadap keadilan; tidak setiap diplomasi adalah jalan untuk melupakan yang ditindas. Yang kita awasi adalah substansi, bukan permukaan.
Kedua, tentang persaudaraan yang lintas batas. Kita sebagai jamaah Indonesia terkadang merasa jauh dari Palestina, dari Rohingya, dari saudara-saudara yang ditindas. Tetapi syariat mengajarkan kita: jarak fisik tidak menghapus tanggung jawab moral. Di zaman Nabi ﷺ, kabar tentang penindasan terhadap kaum Muslimin di tempat lain selalu sampai ke mimbar; doa qunut nazilah dilakukan bukan untuk performance, melainkan karena hati ini tidak boleh tertutup. Hari ini kita punya kemudahan teknologi yang membuat kabar sampai dalam hitungan detik. Kemudahan itu adalah amanah: kita harus lebih responsif, bukan lebih mati rasa.
Ketiga, tentang situasi di dalam negeri. Saya kembali tegaskan: mimbar Jumat ini bukan ruang politik praktis. Tetapi mimbar Jumat ini adalah ruang prinsip. Prinsip bahwa kebenaran disampaikan dengan adab; bahwa kritik yang lurus adalah bagian dari amanah warga; bahwa institusi negara mempunyai kewajiban melindungi setiap warga, termasuk yang berbeda pendapat. Kita doakan keselamatan setiap warga yang menyuarakan kebenaran. Kita doakan juga keadilan dalam setiap pos kepemimpinan, sehingga amanah ditegakkan dan kepercayaan publik dipulihkan.
Keempat, tentang sikap di antara sesama Muslim. Pertikaian opini tentang geopolitik sering menjadi pintu masuk perpecahan internal. Satu pihak merasa lebih peduli; pihak lain merasa lebih realistis. Kedua-duanya bisa saja punya niat baik. Maka jangan kita ulang kesalahan yang berulang: pertikaian sesama saudara karena perbedaan analisis tentang konflik di tempat lain. Ishlah, ishlah, dan ishlah — inilah perintah yang Allah Ta'ala tegaskan tiga kali dalam dua ayat Al-Hujurat. Hentikan komentar yang merendahkan; ganti dengan klarifikasi yang sopan. Hentikan unfollow yang menambah polarisasi; ganti dengan dialog langsung yang membangun.
Sebagai penutup, mari kita panjatkan doa untuk umat ini secara keseluruhan.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، وَفِيْ أَرْضِ الْمَسْجِدِ الْأَقْصٰى الْمُبَارَكِ، وَفِيْ الْخَلِيْلِ عِنْدَ مَقَامِ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلِكَ، وَفِيْ كُلِّ بَلَدٍ يُعَانِيْ مِنَ الظُّلْمِ وَالْعُدْوَانِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ أَطْفَالَ الرُّوْهِيْنْغَا الْمَحْبُوْسِيْنَ خَلْفَ الْقُضْبَانِ، وَأَطْفَالَ غَزَّةَ الَّذِيْنَ يَبْحَثُوْنَ عَنِ الْخُبْزِ وَالْمَاءِ، وَكُلَّ طِفْلٍ مُسْلِمٍ يَعِيْشُ فِيْ خَوْفٍ، وَافْتَحْ لَهُمْ أَبْوَابَ الْأَمْنِ وَالْكَرَامَةِ.
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّهِمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ بِإِذْنِكَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لَا فِتْنَةً، وَأَصْلِحْ لَنَا قُضَاتَنَا وَأَجْهِزَتَنَا، وَاحْمِ كُلَّ نَفْسٍ بَرِيْئَةٍ فِيْ هٰذِهِ الْبِلَادِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
