Di tengah kabar pekan ini tentang nota damai dan masjid-masjid suci yang masih dijaga jamaahnya dengan susah payah, ada satu dokumen tua yang patut kita lihat lagi. Imam Ibnu Hisyam dalam Sirah Ibn Hisham — المجلد: الثاني / ص 409-411 mencatat naskah perjanjian yang Rasulullah ﷺ susun saat baru tiba di Madinah — sebuah piagam yang mengikat kaum mukminin dan komunitas Yahudi Madinah dalam satu kesepakatan tertulis.
Madinah pada awal hijrah. Udaranya kering. Jalanan berdebu. Rumah-rumah dari bata lumpur berbaris di sepanjang gang sempit. Di kota ini, Rasulullah ﷺ baru saja menetap. Para Muhajirin masih merindukan Mekah. Anshar baru saja berbai'at. Yahudi Madinah — Bani 'Awf, Bani al-Najjar, Bani al-Harith, Bani Sa'idah, dan kabilah-kabilah lain — sudah hidup di sini sejak lama.
Rasulullah ﷺ tahu satu hal yang sangat penting. Kota baru tidak bisa dibangun di atas perasaan saja. Kota baru butuh aturan. Maka beliau menyusun sebuah naskah. Bukan khutbah. Bukan ceramah. Naskah hukum yang tertulis. Naskah yang mengikat semua pihak.
Naskah itu dimulai dengan prinsip ajaib: kaum mukminin adalah satu umat. Tetapi tidak berhenti di situ. Naskah itu menyebut Yahudi Bani 'Awf sebagai ummatun ma'al-mu'minin — umat bersama kaum mukminin. Bukan musuh. Bukan tamu. Umat bersama.
وَإِنَّ يهودَ بَنِي عَوْف أُمَّةٌ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ، لِلْيَهُودِ دِينُهُمْ، وَلِلْمُسْلِمَيْنِ دِينُهُمْ.
"Yahudi Bani 'Awf adalah satu umat bersama kaum mukminin; bagi Yahudi agama mereka, dan bagi kaum Muslimin agama mereka."
Lihat keseimbangannya. Pengakuan tentang perbedaan agama, tetapi kesatuan tentang nasib kota.
Naskah itu terus berjalan. Klausa demi klausa. Salah satu klausa berbunyi:
وَإِنَّ الْمُؤْمِنِينَ الْمُتَّقِينَ عَلَى مَنْ بَغَى مِنْهُمْ، أَوْ ابْتَغَى دَسِيعَةَ ظُلم، أَوْ إثْمٍ، أَوْ عُدْوَانٍ، أَوْ فَسَادٍ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ. وَإِنَّ أَيْدِيَهُمْ عَلَيْهِ جَمِيعًا، وَلَوْ كَانَ وَلدَ أَحَدِهِمْ.
"Dan sungguh kaum mukminin yang bertakwa akan bertindak terhadap siapa pun di antara mereka yang melakukan kezaliman, atau mencari kejahatan besar, atau dosa, atau permusuhan, atau kerusakan di antara kaum mukminin. Tangan mereka semua menentangnya, walaupun ia anak salah seorang dari mereka."
Walaupun ia anak salah seorang dari mereka. Bayangkan. Tidak ada kekecualian untuk anak sendiri. Adil bukan berarti pilih kasih kepada yang dekat.
Klausa lain memberi perlindungan bagi yang lemah:
وَإِنَّ ذِمَّةَ اللَّهِ وَاحِدَةٌ يُجير عَلَيْهِمْ أَدْنَاهُمْ.
"Dan sungguh perlindungan Allah itu satu; perlindungan dari yang paling rendah di antara mereka berlaku atas mereka semua."
Apa artinya? Kalau seorang Muslim biasa — yang paling tidak berpengaruh sekalipun — memberi perlindungan kepada seseorang, perlindungan itu mengikat seluruh kaum mukminin. Tidak ada hierarki suara. Perlindungan yang diberikan seorang gembala sama beratnya dengan perlindungan yang diberikan seorang sahabat besar.
Naskah ini juga membatasi: yang melakukan kezaliman akan menanggung sendiri. Yahudi Bani 'Awf — illā man zalama wa atsima, fa innahu lā yūtighu illā nafsahu wa ahla baytihi.
إلَّا مَنْ ظَلم وأثِم، فَإِنَّهُ لَا يُوتِغ إلَّا نفسَه، وأهلَ بَيْتِهِ.
"Kecuali orang yang melakukan kezaliman dan dosa, maka ia tidak membinasakan kecuali dirinya sendiri dan keluarganya."
Tidak ada hukuman kolektif terhadap satu komunitas karena perbuatan satu individu. Setiap nafs menanggung sendiri. Inilah keadilan struktural yang dibawa Rasulullah ﷺ ke Madinah.
Naskah itu juga menetapkan kewajiban bersama membela kota. Wa baynahum an-naṣru 'alā man ḥāraba ahla hādhihi aṣ-ṣaḥīfa — di antara mereka ada pertolongan terhadap siapa pun yang memerangi penghuni piagam ini. Madinah dijaga bersama. Yahudi mengeluarkan nafkah mereka, Muslim mengeluarkan nafkah mereka, tetapi pertahanan kota adalah satu.
Piagam Madinah ini dibacakan. Disaksikan. Diterima. Lalu Madinah berjalan beberapa tahun di bawah dokumen ini — kota yang multi-etnis, multi-agama, terikat oleh aturan tertulis. Bukan kota damai-damai palsu yang menyembunyikan kezaliman; tetapi kota yang membangun damai di atas keadilan.
Pelajaran
Piagam Madinah adalah salah satu dokumen hukum tertua di dunia yang menunjukkan bagaimana keadilan bisa diatur secara struktural — bukan dengan slogan, melainkan dengan klausa. Rasulullah ﷺ tidak berkata "mari kita semua hidup damai"; beliau menulis aturan yang mengikat bahkan ketika hati terasa berat. Klausa "walaupun ia anak salah seorang dari mereka" adalah inti: keadilan yang sebenarnya tidak punya pengecualian untuk yang dekat. Klausa "perlindungan yang paling rendah berlaku atas semua" memberi suara kepada yang lemah. Dan klausa "tidak menanggung kecuali dirinya sendiri" mencegah hukuman kolektif. Di tengah kabar damai pekan ini, dokumen tua ini mengingatkan: damai tanpa klausa keadilan adalah damai yang rapuh; damai yang kokoh adalah damai yang ditulis di atas kertas yang melindungi semua pihak, termasuk yang paling lemah.
Sumber Asli
Sirah Ibn Hisham — المجلد: الثاني / ص 409-411
وتحملُ أُخْرَى أفرَحَتْك الودائعُ وَأَنْ لَا يُحَالِفَ مؤمنٌ مَوْلَى مُؤْمِنٍ دونَه وَإِنَّ الْمُؤْمِنِينَ الْمُتَّقِينَ عَلَى مَنْ بَغَى مِنْهُمْ، أَوْ ابْتَغَى دَسِيعَةَ ظُلم، أَوْ إثْمٍ، أَوْ عُدْوَانٍ، أَوْ فَسَادٍ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِنَّ أَيْدِيَهُمْ عَلَيْهِ جَمِيعًا، وَلَوْ كَانَ وَلدَ أَحَدِهِمْ.
وَإِنَّ ذِمَّةَ اللَّهِ وَاحِدَةٌ يُجير عَلَيْهِمْ أَدْنَاهُمْ وَإِنَّ الْمُؤْمِنِينَ بَعْضُهُمْ مَوَالِي بَعْضٍ دُونَ النَّاسِ، وَإِنَّهُ مَنْ تَبِعَنَا مِنْ يَهُودَ فَإِنَّ لَهُ النَّصْرَ وَالْأُسْوَةَ، غَيْرَ مَظْلُومِينَ وَلَا مُتَنَاصَرِينَ عَلَيْهِمْ.
وإنَّ سِلْمَ الْمُؤْمِنِينَ وَاحِدَةٌ لَا يُسَالَمُ مُؤْمِنٌ دُونَ مؤمنٍ فِي قِتَالٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إلَّا عَلَى سَوَاءٍ وَعَدْلٍ بَيْنَهُمْ.
وَإِنَّ يهودَ بَنِي عَوْف أُمَّةٌ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ لِلْيَهُودِ دِينُهُمْ، وَلِلْمُسْلِمَيْنِ دِينُهُمْ مَوَالِيهِمْ وَأَنْفُسُهُمْ، إلَّا مَنْ ظَلم وأثِم، فَإِنَّهُ لَا يُوتِغ إلَّا نفسَه، وأهلَ بَيْتِهِ.
