Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumKonflik & GeopolitikKamis, 18 Juni 2026

Kultum — "Tenang yang Belum Tentu Adil"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja membaca kabar tentang nota damai antara dua kekuatan besar, dan pada saat yang sama kabar tentang anak-anak Rohingya di balik jeruji di negeri tetangga, ada satu pertanyaan yang ingin saya bagikan kepada saudara-saudara malam ini: apakah kita sebagai jamaah masih bisa membedakan antara "tenang" dan "adil"?

Mari kita mulai dengan satu ayat yang menjadi tulang punggung renungan kita malam ini:

QS. Al-Hujuraat: 10

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."

Ayat ini singkat, tetapi padat. Allah Ta'ala menyebut iman sebagai pengikat — bukan tanah air, bukan suku, bukan partai, bukan blok geopolitik. Iman. Maka ketika saudara seiman kita di Hebron Jumat ini harus melewati pos pemeriksaan untuk bisa sholat di mihrab Nabi Ibrahim 'alaihissalam — itu adalah luka bagi tubuh ukhuwah kita. Ketika lebih dari dua ribu anak Rohingya bertumbuh di balik jeruji — itu juga luka bagi tubuh yang sama. Ketika kita di dalam negeri saling melempar tudingan karena beda analisis tentang konflik di tempat jauh — itu pun luka, bahkan luka yang lebih dekat ke jantung.

Saudara-saudara, ada sesuatu yang menarik dari urutan kabar pekan ini. Kabar tentang nota damai datang sebagai berita besar yang menarik perhatian luas. Kabar tentang Masjid Al-Aqsa yang diintai dengan rencana yang membuat hati umat sedih, kabar tentang Masjid Al-Ibrahimi Hebron yang dicaplok, kabar tentang anak-anak Rohingya — semua ini berjalan paralel, tetapi sering tidak mendapat porsi perhatian yang sama. Inilah yang saya sebut "tenang" yang berbeda dari "adil". Tenang itu permukaan; adil itu substansi. Tenang adalah ketika kita tidak lagi mendengar suara rudal di televisi; adil adalah ketika setiap anak Muslim bisa bermain tanpa takut pos pemeriksaan, tanpa takut jeruji, tanpa takut suara dentuman.

Kemudian ada kabar dari dalam negeri yang membuat hati kita semua merenung: cerita tentang seorang aktivis yang mengaku menerima berbagai bentuk teror setelah ia menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan di kementerian pertahanan. Saya tidak ingin masuk ke ranah politis di majelis ini — itu bukan tempat saya. Tetapi prinsip yang dipertaruhkan adalah prinsip Islam yang harus kita jaga semua: setiap warga punya hak untuk menyampaikan pendapat dengan lurus, dan setiap insitusi punya kewajiban untuk mendengarkan tanpa menyakiti. Kita doakan keselamatan semua yang menyampaikan kebenaran dengan adab.

Rasulullah ﷺ memberi kita panduan tegas dalam hadits qudsi:

Sahih Muslim 6572

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِيْمَا رَوَى عَنِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ: يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا.

Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan Muslim, Allah Ta'ala berfirman: "Wahai hamba-Ku, Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi." — Bayangkan, jamaah: Allah Ta'ala yang Maha Berkuasa, yang sebenarnya tidak terikat oleh apa pun, mengharamkan kezaliman atas diri-Nya. Kalau Sang Khaliq saja mengikat diri-Nya dengan keadilan, maka kita sebagai hamba lebih berhak untuk mengikat diri kita pada hal yang sama. Kezaliman yang besar adalah kezaliman yang sistemik — yang menjeruji anak-anak, yang merobohkan rumah, yang membuat suara kritis takut malam hari. Tetapi kezaliman yang kecil — komentar tajam di grup chat tetangga, prasangka kepada saudara seiman yang beda partai, ghibah pekan-pekan tentang ulama yang tidak satu manhaj — kezaliman kecil ini juga diharamkan oleh hadits yang sama.

Saudaraku, refleksi malam ini bukan tentang dunia "di luar sana". Refleksi malam ini tentang kita. Tentang bagaimana kita sebagai jamaah merespons ambiguitas berita dengan cara yang sehat. Tiga hal yang ingin saya tinggalkan kepada saudara-saudara. Pertama, hidupkan kembali doa qunut nazilah di sholat berjamaah lingkungan kita. Bukan ritual hampa — tetapi sebagai pengingat batin bahwa kita tidak boleh lupa pada saudara yang ditindas, walau dunia kelihatan sedang merayakan damai. Kedua, sisihkan satu transfer donasi yang terverifikasi pekan ini ke lembaga kemanusiaan resmi yang menyalurkan ke kawasan tertindas. Kebiasaan ini lebih kuat daripada emoji marah di kolom komentar — karena yang sampai ke saudara adalah air dan roti, bukan amarah kita. Ketiga, jagalah lisan kita di antara sesama Muslim. Jangan jadikan perbedaan analisis politik sebagai alasan untuk memutus silaturahmi. Ishlah, ishlah, ishlah.

Mari kita tutup dengan doa pendek.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا فِيْ فِلَسْطِيْنَ وَالْخَلِيْلِ وَأَطْفَالَ الرُّوْهِيْنْغَا الْمَحْبُوْسِيْنَ، اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاحْفَظْ لِسَانَنَا مِنَ الظُّلْمِ، وَاهْدِنَا إِلَى الْعَدْلِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan