Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatLingkungan & BencanaKamis, 18 Juni 2026

Khutbah Jumat — "Lentur di Goncangan, Amanah di Bumi"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ.

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لِعِبَادِهِ أَمَانَةً، وَأَنْزَلَ الْبَلَايَا اخْتِبَارًا لِلصَّابِرِيْنَ، وَجَعَلَ الصَّبْرَ مِفْتَاحَ الْفَرَجِ، وَالشُّكْرَ زِيَادَةَ النِّعَمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, di hadapan kita pekan ini, bumi tempat kita berpijak baru saja mengingatkan kita tentang kelemahan diri. Senin pagi yang biasa berubah menjadi pagi yang berat ketika tanah di Sulawesi Tengah berguncang dengan kekuatan yang merobohkan ketenangan. Saudara-saudara kita di Palu, di Sigi, dan di kabupaten-kabupaten sekitarnya merasakan gempa susulan yang terus berdatangan jam demi jam. Satu nyawa dilaporkan kembali kepada Allah Ta'ala; banyak keluarga lain tidur di luar rumah karena khawatir dinding akan runtuh saat mereka memejamkan mata. Pada saat yang sama, kabar dari mimbar lain pekan ini menjadi pengingat: ada ajakan untuk merumuskan apa yang disebut sebagai "pertobatan ekologis" — kesadaran bahwa krisis lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan ruhani yang menuntut perubahan dari hati. Dan dari negeri-negeri yang jauh, kabar tentang pengungsi yang harus berpindah tanah karena perubahan iklim membuat kita sadar: bumi yang kita pijak ini tidak lagi seperti yang dikenal generasi sebelum kita.

Allah Ta'ala berfirman:

QS. Al-Baqara: 155

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."

Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini turun di Madinah pada saat kaum Muslimin sedang menghadapi ujian beruntun: kelaparan, ketakutan akan serangan musuh, kekurangan harta karena hijrah, dan kehilangan jiwa-jiwa di medan perang. Allah Ta'ala tidak menyembunyikan kenyataan bahwa hidup di dunia ini memang dipenuhi ujian. Tetapi ayat ini bukan ayat yang menutup pintu; ia adalah ayat yang membuka pintu — "wa basysyiriṣ-ṣābirīn", "berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar". Sabar di sini bukan sabar yang datar, bukan sabar yang membungkam tangis. Sabar di sini adalah sabar yang mengakui beratnya cobaan, tetapi tetap berpegang pada janji Allah Ta'ala yang Maha Adil. Pekan ini, kita sebagai jamaah yang sebagian rumahnya jauh dari pusat gempa tetap dipanggil untuk merasakan sakit saudara kita di Palu. Kita yang menggeser layar telepon di sela pekerjaan, kita yang membaca berita susulan di pagi hari sambil minum kopi — kita semua sedang diuji apakah hati kita masih bisa pecah untuk saudara di kawasan bencana, atau sudah membatu karena terlalu banyak berita.

Saudaraku yang dirahmati Allah, ada satu kekeliruan yang sering masuk ke dalam pemahaman umat tentang musibah. Kekeliruan itu adalah ketika kita memperlakukan bencana alam sebagai "kebetulan geologis" yang tidak punya hubungan dengan iman, atau sebaliknya, sebagai "hukuman langsung" yang membuat kita buru-buru menunjuk dosa orang lain sebagai sebab. Keduanya tidak benar. Allah Ta'ala memberi kita kerangka yang lebih jernih. Allah Ta'ala berfirman:

QS. At-Taghaabun: 11

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Ayat ini memberi kita dua hal sekaligus. Pertama, ia mengembalikan setiap musibah kepada izin Allah Ta'ala — sehingga tidak ada satu pun guncangan tanah yang lepas dari pengetahuan-Nya, tidak ada satu pun nyawa yang kembali tanpa izin-Nya. Kedua, ayat ini memberi kabar gembira: orang yang beriman kepada Allah, hatinya akan diberi petunjuk — petunjuk untuk bagaimana menyikapi musibah, petunjuk untuk apa yang harus dilakukan setelahnya, petunjuk untuk tidak putus asa. Ini adalah perbedaan mendasar antara orang yang beriman dan orang yang tidak: keduanya sama-sama bisa ditimpa gempa, sama-sama bisa kehilangan rumah, sama-sama bisa kehilangan orang dicintai. Tetapi orang beriman menerima musibah itu dengan hati yang dibimbing — ia tetap berdiri, ia tetap bisa bersujud, ia tetap mampu berkata "innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" dengan keyakinan yang sungguh.

Ma'asyiral muslimin, kita lupa betapa kuatnya kalimat tarji' itu. Allah Ta'ala memuji orang-orang yang mengucapkan kalimat ini ketika ditimpa musibah:

QS. Al-Baqara: 156

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun' — Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nyalah kami kembali."

Lihatlah kalimat ini, hadirin. Ia bukan kalimat penyerahan diri yang pasif. Ia adalah deklarasi kepemilikan yang dalam: kami milik Allah, dari awal sampai akhir. Rumah yang hilang karena gempa bukan benar-benar "rumah kami" — ia adalah titipan Allah Ta'ala yang sudah Dia ambil kembali. Anggota keluarga yang Allah panggil pulang bukan benar-benar "milik kami" — ia adalah hamba Allah yang sedang menyelesaikan perjalanannya. Dan kita semua sedang dalam perjalanan yang sama; tidak ada yang menetap di dunia ini selamanya. Kalimat tarji' adalah kalimat yang menyusun ulang hati kita: ia memindahkan pusat gravitasi hidup dari "apa yang aku punya" menjadi "kepada siapa aku akan kembali". Maka pekan ini, ketika kita mengirim pesan kepada saudara di Palu, jangan kita kirim kalimat datar "yang sabar ya". Mari kita kirim kalimat yang dibawa Al-Qur'an — kalimat tarji' yang mengembalikan hati pada pemiliknya.

Saudaraku, Rasulullah ﷺ pernah memberi kita gambaran indah tentang mukmin yang ditimpa musibah:

Sahih al-Bukhari 5644

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَةِ مِنَ الزَّرْعِ، تُفَيِّئُهَا الرِّيَاحُ، تَصْرَعُهَا مَرَّةً وَتَعْدِلُهَا أُخْرَى، حَتَّى تَهِيجَ، وَمَثَلُ الْكَافِرِ كَمَثَلِ الْأَرْزَةِ الْمُجْذِيَةِ عَلَى أَصْلِهَا، لَا يُفَيِّئُهَا شَيْءٌ، حَتَّى يَكُونَ انْجِعَافُهَا مَرَّةً وَاحِدَةً.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti tanaman muda yang segar; dari arah mana pun angin datang, ia akan membengkokkannya, tetapi ketika angin mereda, ia akan tegak kembali. Demikian pula, seorang mukmin ditimpa musibah, tetapi ia tetap sabar sampai Allah menghilangkan kesulitannya. Dan orang yang fasik dan jahat adalah seperti pohon pinus yang tetap keras dan tegak sampai Allah memotongnya ketika Dia berkehendak."

Hadits ini, hadirin, mengajari kita teologi sabar yang sangat dalam. Mukmin tidak digambarkan sebagai pohon yang keras dan tidak bergerak — itu bukan sabar, itu kekakuan. Mukmin digambarkan sebagai tanaman muda yang lentur — ia bisa bengkok ketika angin musibah datang, tetapi akarnya tetap kokoh di bumi. Ia tidak pura-pura tidak ditiup; ia mengakui anginnya. Ia bahkan boleh menangis, boleh terjatuh untuk sementara. Tetapi ketika angin mereda, ia kembali tegak. Inilah yang kita butuhkan pekan ini ketika kita bicara kepada saudara kita di Palu. Mereka boleh menangis. Mereka boleh berkata "saya tidak sanggup". Mereka boleh berduka berhari-hari. Tugas kita bukan menghentikan tangis mereka, melainkan duduk di samping mereka sebagai saudara, supaya ketika angin mereda — dan ia akan mereda — mereka tahu mereka tidak sendiri saat tegak kembali.

Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita pindah ke benang kedua. Pekan ini, kabar tentang "pertobatan ekologis" muncul dari ruang publik. Bahasa ini menarik karena ia mengembalikan krisis lingkungan ke wilayah ruhani, di mana sebenarnya Islam telah meletakkannya empat belas abad lalu. Bumi ini, jamaah, bukan milik kita. Kita bukan pemilik; kita adalah khalifah — pengelola yang dititipi tanggung jawab. Allah Ta'ala mengingatkan kita lewat lisan Nabi Musa 'alaihissalam:

QS. Al-A'raaf: 128

قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱللَّهِ وَٱصْبِرُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱلْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۖ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

"Musa berkata kepada kaumnya: 'Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.'"

Ayat ini diucapkan Nabi Musa kepada Bani Israil yang sedang tertekan di tangan Fir'aun. Tetapi pesannya melampaui konteks itu. "Innal-arḍa lillāh" — sesungguhnya bumi ini milik Allah. Kalimat sederhana, tetapi konsekuensinya besar. Kalau bumi ini milik Allah, maka membuang sampah sembarangan adalah pelanggaran terhadap titipan Allah Ta'ala. Kalau bumi ini milik Allah, maka menebang hutan tanpa hisab adalah pengkhianatan amanah. Kalau bumi ini milik Allah, maka membiarkan sungai tercemar oleh limbah pabrik adalah ifsad fil-ardh — kerusakan di muka bumi — yang dilarang Allah secara tegas di banyak tempat dalam Al-Qur'an. Dan "wal-'āqibatu lil-muttaqīn" — kesudahan yang baik bagi orang yang bertakwa. Takwa di sini termasuk takwa dalam mengelola bumi: tidak boros, tidak rakus, tidak merusak. Maka "pertobatan ekologis" yang dibahas di ruang publik pekan ini sebenarnya adalah bahasa baru untuk satu prinsip Islam yang sangat tua: hifz al-bi'ah, menjaga lingkungan sebagai bagian dari amanah khilafah fil-ardh.

Ma'asyiral muslimin, hubungan antara dua benang ini — gempa di Palu dan pertobatan ekologis — adalah hubungan yang dalam. Bencana alam yang sering melanda negeri kita bukan sekadar kebetulan geologis; ia adalah cermin. Cermin yang menunjukkan kelemahan kita di hadapan kekuasaan Allah, dan sekaligus cermin yang menunjukkan kelalaian kita dalam menjaga apa yang dititipkan kepada kita. Ulama kita mengajarkan: setiap musibah adalah kombinasi takdir Allah dan ikhtiar manusia. Gempa adalah takdir; tetapi bangunan yang tidak tahan gempa, tata kota yang tidak menghormati lempeng tektonik, dan kebijakan yang abai pada peringatan dini — semua itu adalah ikhtiar manusia yang bisa diperbaiki. Maka pertobatan ekologis yang dibahas pekan ini bukan pertobatan yang abstrak; ia adalah pertobatan yang sangat konkret. Pertobatan dari membuang sampah ke sungai; pertobatan dari menebang hutan tanpa reboisasi; pertobatan dari membangun rumah di sempadan kali; pertobatan dari hidup boros tanpa mempertimbangkan generasi yang akan tinggal di bumi yang sama.

Hadirin yang dirahmati Allah, ada satu sosok yang muncul dalam berita pekan ini yang ingin saya angkat: seorang tukang sampah di sebuah kampung yang menjadi perhatian seorang penulis sejak ia berusia tujuh tahun. Sosok ini sederhana, tidak heroik, tidak terkenal. Tetapi ia adalah salah satu wajah dari amanah khilafah bumi yang sedang dijalankan oleh orang biasa setiap subuh, tanpa pidato, tanpa konferensi pers, tanpa anggaran lima miliar. Pekan ini, mari kita angkat sosok-sosok seperti ini di mata kita sendiri. Penyapu jalan yang membersihkan trotoar sebelum kita berangkat ke kantor; petugas drainase yang berdiri di lutut air saat hujan turun deras; ibu-ibu kompleks yang memilah sampah plastik dari sampah organik di pagi hari. Mereka semua adalah penjaga amanah bumi di lingkungan terdekat kita. Memuliakan mereka — memberi salam, memberi air minum, memanggil dengan nama yang sopan, memberi upah yang adil — adalah bentuk sederhana dari pertobatan ekologis yang riil. Bukan retorika; tindakan.

Saudaraku, sebelum saya tutup khutbah pertama ini, izinkan saya merangkum lima tindakan konkret untuk pekan ini. Pertama, hidupkan doa qunut nazilah dalam sholat lima waktu kita. Setiap sholat berjamaah di masjid lingkungan, sisipkan satu menit untuk saudara di Palu, di Sigi, dan di setiap kawasan yang sedang ditimpa bencana. Kalau imam tidak membaca qunut, kita doakan dalam sujud terakhir kita sendiri. Kedua, sisihkan satu transfer donasi yang terverifikasi — sekecil apa pun nominal — ke lembaga kemanusiaan resmi yang menyalurkan ke Sulawesi Tengah. Kebiasaan ini lebih kuat dari emoji sedih di kolom komentar. Ketiga, kalau di antara kita ada keluarga yang sedang berduka — siapa pun, di mana pun, bukan hanya korban bencana — kunjungi rumahnya pekan ini, duduk barang lima belas menit, dengarkan ceritanya tanpa langsung memberi nasihat. Kalimat "innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" yang kita ucapkan saat masuk pintu akan terasa berbeda kalau diikuti dengan duduk yang tulus. Keempat, di rumah masing-masing, mulai satu kebiasaan ekologis baru pekan ini: pemilahan sampah plastik dan organik, mengurangi air saat wudhu (tanpa mengurangi kesempurnaan wudhu itu sendiri — Nabi ﷺ wudhu dengan satu mudd, sekitar tiga ratus mililiter air), atau mematikan listrik yang tidak terpakai. Kelima, di kompleks atau RT kita, ajak takmir masjid atau pengurus pengajian untuk menyusun satu sesi kajian khusus tentang adab Islam terhadap lingkungan — bukan sekadar wacana, tetapi diakhiri dengan satu kegiatan nyata seperti penanaman pohon di pekarangan masjid atau kerja bakti pembersihan saluran air.

Akhirnya, jamaah yang dirahmati Allah, mari kita ingat: bumi yang kita pijak hari ini adalah saksi yang akan berbicara di hari kiamat. Setiap jengkal tanah yang kita rawat akan menjadi saksi yang menguntungkan kita; setiap jengkal yang kita rusak akan menjadi saksi yang memberatkan kita. Maka mari kita jadikan pekan ini sebagai pekan pertobatan kecil — pertobatan dari kelalaian terhadap saudara yang ditimpa musibah, pertobatan dari kelalaian terhadap titipan bumi, pertobatan dari kelalaian terhadap kalimat tarji' yang sering kita ucapkan tanpa rasa. Allah Ta'ala janji-Nya tidak pernah meleset; setiap kesabaran akan dibalas, setiap amanah yang ditunaikan akan dimuliakan, setiap pertobatan yang tulus akan diterima. Kita hanya perlu memulai — dari masjid ini, dari hati ini, hari ini.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ الْأَرْضَ أَمَانَةٌ، وَأَنَّ الْمُصِيْبَةَ امْتِحَانٌ، وَأَنَّ الصَّبْرَ مِفْتَاحُ الْفَرَجِ.

Saudaraku yang dimuliakan Allah, dalam khutbah pertama tadi kita telah merangkai tiga benang besar pekan ini: gempa di Sulawesi Tengah, pertobatan ekologis yang dirumuskan dari ruang publik, dan figur-figur kecil yang menjaga bumi di kampung. Izinkan saya memperdalam tiga sisi dari pesan itu sebelum kita berdoa.

Sisi pertama adalah tentang bahasa sabar yang lapang. Salah satu kekeliruan kita sebagai komunitas Muslim modern adalah memperlakukan kata "sabar" sebagai tombol "diam dan terima". Kita melarang saudara yang baru kehilangan orang dicintai dari menangis; kita memotong cerita orang yang baru kehilangan rumah dengan kalimat "yang penting kita masih hidup"; kita memberi nasihat sebelum kita memberi telinga. Tetapi sabar dalam Al-Qur'an dan Sunnah tidak seperti itu. Sabar adalah tanaman muda yang bergerak mengikuti angin, bukan batu yang tidak bergerak. Sabar adalah hati yang mengakui beratnya cobaan, lalu memilih untuk tetap percaya pada Allah Ta'ala. Pekan ini, ketika kita bicara dengan saudara kita di Palu, di Sigi, atau di mana pun mereka berada — mari kita berikan bahasa sabar yang lapang. Mari kita biarkan tangis menemukan tempatnya, sebelum kita mengarahkan ke harapan.

Sisi kedua adalah tentang khilafah bumi yang konkret. Pertobatan ekologis bukan ide besar yang harus dirumuskan di forum tingkat tinggi sebelum dijalankan. Ia adalah serangkaian keputusan kecil yang kita ambil setiap hari: menutup keran air saat menyikat gigi, membawa botol minum sendiri, memilah sampah di rumah, menanam satu pohon di pekarangan, tidak membuang puntung rokok di selokan, mengurangi belanja impulsif yang menghasilkan tumpukan plastik. Setiap keputusan ini sederhana, tetapi setiap keputusan ini adalah bagian dari menjawab pertanyaan: apakah kita pantas menjadi khalifah di bumi yang Allah titipkan? Khalifah yang baik bukan khalifah yang menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri; khalifah yang baik adalah khalifah yang mewariskan bumi dalam keadaan lebih baik kepada generasi setelahnya.

Sisi ketiga adalah tentang akhlak kepada saudara yang ditimpa musibah. Rasulullah ﷺ memberi kita teladan yang sangat lembut: beliau tidak pernah menyalahkan orang yang sedang berduka; beliau tidak pernah mengukur kesabaran orang lain dengan kesabaran beliau sendiri. Beliau duduk, mendengarkan, mendoakan, dan memberi bantuan yang konkret. Pekan ini, mari kita tiru akhlak beliau. Jangan kita menjadi orang yang setiap kali mendengar berita buruk langsung memberi ceramah tiga jam tentang "kenapa kita harus bersyukur". Jangan kita menjadi orang yang memotong proses berduka saudara kita demi kenyamanan diri sendiri. Mari kita menjadi orang yang duduk dengan sabar, mendengar dengan hati, dan memberi bantuan dengan tangan.

Saudaraku, mari kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah Ta'ala.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَانَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَتَقَبَّلْ شُهَدَاءَنَا، وَاكْتُبْ لِأَهْلِ الْبَلَاءِ الْعَافِيَةَ وَالْفَرَجَ الْقَرِيْبَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الَّذِيْنَ زُلْزِلَتْ تَحْتَ أَقْدَامِهِمُ الْأَرْضُ فِيْ مَدِيْنَةِ بَالُوْ وَفِيْ كُلِّ بَلَدٍ أَصَابَتْهَا الزَّلَازِلُ وَالْكَوَارِثُ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنْهُمْ، وَاشْفِ جِرَاحَهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَأَسْكِنْ رَوْعَهُمْ، وَرُدَّ بُيُوْتَهُمْ سَالِمَةً، وَأَلْهِمْهُمُ الصَّبْرَ الْجَمِيْلَ، وَاجْعَلْ مَا أَصَابَهُمْ تَكْفِيْرًا لِذُنُوْبِهِمْ وَرَفْعًا لِدَرَجَاتِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مَنْ مَاتَ فِي الزَّلْزَلَةِ شَهِيْدًا، وَاجْعَلْ قَبْرَهُ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ، وَأَلْهِمْ أَهْلَهُ الصَّبْرَ وَالسَّلْوَى، وَعَوِّضْهُمْ خَيْرًا مِمَّا فَقَدُوْا.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَهُمْ، وَاكْفِ أَيْتَامَهُمْ، وَأَكْرِمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَاسْقِ ظَامِئَهُمْ، وَدَاوِ مَرْضَاهُمْ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا مِنَ الزَّلَازِلِ وَالْفَيَضَانَاتِ وَالْحَرَائِقِ وَكُلِّ بَلَاءٍ، اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَرْضِنَا وَفِيْ مَائِنَا وَفِيْ ثِمَارِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَحْفَظُوْنَ أَمَانَتَكَ فِي الْأَرْضِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ فِيْهَا.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَأَلْهِمْهُمْ رُشْدَهُمْ فِيْ حِفْظِ الْأَرْضِ وَالنَّاسِ، وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَشَايِخَنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ الْجَمِيْلَ، وَالشُّكْرَ الدَّائِمَ، وَالْإِيْمَانَ الصَّادِقَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلٰى دِيْنِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلٰى طَاعَتِكَ.

اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا فِي شَهْرِ مُحَرَّمٍ، وَتَقَبَّلْ مِنَّا قِيَامَنَا، وَاكْتُبْ لَنَا أَجْرَ تَاسُوْعَاءَ وَعَاشُوْرَاءَ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَ سَنَتِنَا الْمَاضِيَةِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan