Pekan ini, kabar gempa di Palu dan ajakan pertobatan ekologis bertemu di satu titik yang sama: bagaimana seorang mukmin bersabar atas musibah yang Allah Ta'ala timpakan kepadanya. Syaikh Yusuf al-Kandahlawi dalam Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / الصبر على البلايا مطلقا merekam satu kisah pendek yang hampir terlupakan — kisah seorang perempuan Anshar di Madinah yang menderita penyakit, dan pilihannya yang mengejutkan ketika Rasulullah ﷺ menawarinya kesembuhan.
Perempuan itu datang di siang yang biasa. Madinah di tahun-tahun awal hijrah masih sederhana — pohon-pohon kurma berderet di pinggiran kota, rumah-rumah dari tanah liat, langit yang biru tanpa awan. Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma adalah salah satu sahabat yang mencatat percakapan itu. Ia kemudian bercerita kepada 'Atha' radhiyallahu 'anhu, salah seorang tabi'in.
"Apakah engkau ingin kutunjukkan seorang perempuan dari ahli surga?" tanya Ibn 'Abbas suatu hari kepada 'Atha'.
"Tentu saja," jawab 'Atha'.
Ibn 'Abbas menunjuk seorang perempuan kulit hitam yang sedang berdiri di dekat tirai Ka'bah, memegangnya dengan kedua tangan. "Perempuan inilah." Lalu Ibn 'Abbas bercerita.
Suatu hari di Mekah, sebelum hijrah selesai, perempuan itu datang menemui Rasulullah ﷺ. Wajahnya terlihat lelah; tubuhnya membawa beban yang tidak terlihat dari luar. Ia menderita penyakit yang membuatnya tiba-tiba kejang dan jatuh ke tanah tanpa kendali. Penyakit yang orang Arab menyebutnya as-shar'. Yang lebih berat lagi: saat kejang datang, pakaiannya kadang tersingkap. Ia kehilangan kendali atas tubuhnya, lalu kehilangan kehormatannya di mata orang.
"Wahai Rasulullah," kata perempuan itu, suaranya gemetar. "Aku menderita penyakit kejang. Dan saat penyakit ini datang, auratku tersingkap. Doakan aku kepada Allah."
Rasulullah ﷺ menatapnya dengan lembut. Kemudian beliau berkata, kalimat yang sederhana tetapi merobek hati:
«إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ لَكِ أَنْ يُعَافِيَكِ»
"Jika engkau mau bersabar atas penyakitmu, bagimu surga. Dan jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu."
Pilihannya jelas — terlalu jelas. Doa Rasulullah ﷺ tidak pernah ditolak oleh Allah Ta'ala. Kalau ia memilih doa, penyakitnya akan hilang seketika. Tetapi perempuan itu diam sebentar. Ia menelan ludah. Ia menatap tanah, lalu menatap wajah Rasulullah ﷺ.
"Aku akan bersabar," katanya pelan. "Tetapi aku tetap mohon, doakanlah aku — bukan untuk sembuh — tetapi agar auratku tidak lagi tersingkap saat kejang datang."
Rasulullah ﷺ tersenyum. Beliau mengangkat kedua tangannya, dan berdoa.
Sejak hari itu, perempuan itu tidak pernah lagi pakaiannya tersingkap saat ia kejang. Penyakitnya tetap ada; tetapi kehormatannya dijaga.
'Atha' radhiyallahu 'anhu, yang mendengar cerita ini dari Ibn 'Abbas, kemudian melihat sendiri perempuan itu — Ummu Zufar namanya — sedang berdiri di dekat tirai Ka'bah. Sosoknya tinggi, kulitnya gelap, pakaiannya sederhana. Imam Bukhari merekam: 'Atha' melihatnya. Ia memegang tirai Ka'bah, mungkin sedang berdoa, mungkin sedang menahan satu kejang yang akan datang lagi.
Di kesempatan lain, perempuan Anshar yang berbeda — atau mungkin perempuan yang sama dalam riwayat lain — juga datang kepada Nabi ﷺ dengan keluhan serupa. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, setan yang busuk ini telah mengalahkanku."
Nabi ﷺ menjawab dengan kalimat yang lembut tetapi pasti:
«إِنْ تَصْبِرِي عَلَى مَا أَنْتِ عَلَيْهِ تَجِيئِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ عَلَيْكِ ذُنُوبٌ وَلَا حِسَابٌ»
"Jika engkau bersabar atas keadaanmu sekarang, engkau akan datang di hari kiamat tanpa dosa dan tanpa hisab."
Perempuan itu berkata, suaranya tegas: "Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, aku akan bersabar — sampai aku berjumpa dengan Allah."
Lalu ia menambahkan: "Aku khawatir setan menyingkap pakaianku saat kejang." Maka Nabi ﷺ mendoakannya. Dan sejak itu, kapan pun ia merasa kejang akan datang, ia berlari ke tirai Ka'bah, memeluknya, dan berkata kepada penyakit itu: "Pergilah!" Maka penyakit itu menjauh untuk sementara.
Bayangkan, pembaca — perempuan ini, miskin, kulit hitam, ditimpa penyakit yang membuat tubuhnya tidak terkendali, ditawari kesembuhan oleh manusia yang paling mulia di sisi Allah. Dan ia memilih kesabaran. Bukan karena ia merindukan derita; tetapi karena ia tahu apa yang ditawarkan di balik kesabaran itu — surga.
Pelajaran
Kisah Ummu Zufar adalah kisah tentang ekonomi yang dalam — ekonomi akhirat yang sering kita lupakan saat kita memilih jalan pintas di dunia. Perempuan itu mengerti satu hal yang sering kita kaburkan: penyakit yang ia tanggung adalah modal yang Allah Ta'ala titipkan kepadanya untuk dibawa ke hari kiamat. Setiap kejang yang ia tahan, setiap rasa malu yang ia telan, setiap doa yang ia panjatkan di tirai Ka'bah — semua menjadi tabungan yang dibuka di akhirat. Bagi kita pekan ini, ketika gempa di Palu menjadi ujian besar bagi sebagian saudara kita, kisah ini mengingatkan: ujian bukan kekalahan; ujian adalah peluang. Dan tugas kita yang sedang dalam keadaan aman bukan menggurui yang sedang ditimpa, melainkan duduk di samping mereka seperti Rasulullah ﷺ duduk di samping Ummu Zufar — menawarkan, tidak memaksa; menghormati pilihan mereka untuk bersabar, dan mendoakan agar Allah Ta'ala menjaga kehormatan mereka di tengah ujian.
Sumber Asli
Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / الصبر على البلايا مطلقا
الصبر على البلايا مطلقا صبر امرأة أنصارية على داء الصرع. أخرج البزار عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم بمكة فجاءته امرأة من الأنصار فقالت: يا رسول الله إن هذا الخبيث قد غلبني، فقال له: «إن تصبري على ما أنت عليه تجيئين يوم القيامة ليس عليك ذنوب ولا حساب». قالت: والذي بعثك بالحق لأصبرنَّ حتى ألقى الله. قالت: إني أخاف الخبيث أن يجرِّدني، فدعا لها، فكانت إذا خشيت أن يأتيها تأتي أستار الكعبة فَتَعَلَّق بها وتقول له: اخسأ فيذهب عنها.
وعند أحمد عن عطاء رضي الله عنه قال: قال لي ابن عباس رضي الله عنهما: ألا أريك امرأة من أهل الجنة؟ قلت: بلى، قال: هذه السوداء، أتت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت: إني أصرع وأنكشف فادع الله لي، قال: «إن شئت صبرت ولك الجنة، وإن شئت دعوت الله لك أن يعافيك». قالت: لا، بل أصبر فادع الله ألا أنكشف. قال: فدعا لها.
وهكذا رواه الشيخان ثم قال البخاري عن عطاء: أنه رأى أم زُفَر رضي الله عنها تلك امرأة طويلة سوداء على ستر الكعبة.
