Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumLingkungan & BencanaKamis, 18 Juni 2026

Kultum — "Tarji' Bukan Penutup Percakapan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja melewati guncangan gempa berkekuatan magnitudo 6,7 di Sulawesi Tengah, ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini — pesan tentang bagaimana kita sebagai mukmin menjawab musibah, tidak dengan rumus singkat, melainkan dengan hati yang dididik.

Pernahkah kita perhatikan, jamaah, betapa cepat kita mengirim pesan "yang sabar ya" tetapi betapa lama kita duduk dengan saudara yang sedang berduka? Pekan ini, ketika kabar gempa Palu sampai ke layar telepon kita, banyak dari kita mengirim emoji hati, doa singkat, mungkin juga transfer donasi kecil. Itu baik — alhamdulillah. Tetapi mari kita renungkan satu kalimat yang Allah Ta'ala muliakan dalam Al-Qur'an:

QS. Al-Baqara: 156

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah kami kembali.'"

Kalimat ini, jamaah, sering kita ucapkan dengan kecepatan satu detik — sebelum kita memikirkan apa isinya. Tetapi kalau kita pelan-pelan, kalimat ini sebenarnya adalah deklarasi yang mengubah cara kita melihat dunia. "Kami milik Allah" — bukan milik diri kami sendiri. Rumah yang baru runtuh karena gempa bukan benar-benar "rumah kami"; ia adalah titipan Allah yang sudah Dia kelola. Anggota keluarga yang Allah panggil pulang bukan benar-benar "milik kami"; ia adalah hamba Allah yang sedang menyelesaikan perjalanannya. Dan kita pun, jamaah, kita semua yang duduk di sini malam ini — kita juga sedang dalam perjalanan kembali kepada-Nya. Tidak ada yang menetap di dunia ini selamanya.

Jamaah yang saya hormati, mari kita renungkan tiga kabar pekan ini bersama-sama. Kabar pertama: Senin pagi, tanah di Palu berguncang dengan kekuatan magnitudo 6,7. Satu nyawa kembali kepada Allah Ta'ala, banyak keluarga lain tidur di luar rumah karena gempa susulan yang tidak berhenti. Pesan-pesan pendek beredar di feed: "ya Allah lindungilah keluargaku", "stay safe buat keluarga di Palu". Ini adalah suara doa kolektif yang lahir dari hati yang khawatir. Tugas kita pekan ini bukan hanya ikut mengirim doa, tetapi memastikan doa itu diiringi tindakan — donasi yang sampai, kontak yang dihubungi, dukungan jangka panjang yang tidak berhenti di hari ketujuh setelah berita reda.

Kabar kedua: pekan ini juga muncul ajakan dari salah satu lembaga untuk menyatukan tokoh-tokoh agama dalam apa yang disebut "pertobatan ekologis" — sebuah kesadaran bahwa krisis lingkungan adalah krisis ruhani, bukan sekadar krisis teknis. Bahasa ini menarik karena meletakkan kita kembali pada posisi yang seharusnya: kita bukan pemilik bumi, kita adalah penjaganya. Setiap sampah plastik yang kita buang sembarangan, setiap keran air yang kita biarkan menyala, setiap pohon yang kita robohkan tanpa pengganti — semua dicatat dalam timbangan amanah yang akan ditanyakan di hari kiamat. Pertobatan ekologis bukan ide elite; ia adalah keputusan-keputusan kecil yang bisa kita ambil mulai malam ini, ketika kita pulang dari sholat.

Kabar ketiga, yang menyentuh hati saya sendiri: di antara hiruk pikuk berita pekan ini, ada satu cerita pendek tentang seorang tukang sampah di sebuah kampung yang menjadi perhatian seorang penulis sejak ia berusia tujuh tahun. Cerita ini tidak heroik secara dramatis; tukang sampah itu hanya melakukan pekerjaannya setiap pagi. Tetapi ada keindahan di sana — keindahan amanah yang dijalankan tanpa pamrih. Berapa banyak dari kita yang menyapa tukang sampah di kompleks kita dengan nama? Berapa banyak dari kita yang memberi air minum kepada penyapu jalan yang bekerja di tengah panas? Mereka adalah penjaga bumi di lingkungan kita yang paling dekat — dan menghargai mereka adalah salah satu bentuk pertobatan ekologis yang paling konkret.

Rasulullah ﷺ memberi kita kerangka yang sangat indah tentang bagaimana seorang mukmin menghadapi ujian dan kenikmatan.

Riyad as-Salihin 1244

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin; segala sesuatu baik baginya, dan ini tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu lebih baik baginya."

Lihatlah, jamaah, betapa lega kerangka ini. Mukmin tidak ditakdirkan untuk hidup tanpa ujian; mukmin diajari untuk membuat ujian itu menjadi kebaikan. Saudara kita di Palu yang sekarang tidur di tenda darurat — mereka sedang dalam ujian ḍarrā'. Kalau mereka bersabar, ujian itu menjadi kebaikan: dosa-dosa diampuni, derajat diangkat, ikatan dengan Allah Ta'ala menjadi lebih erat. Dan kita yang sekarang aman di rumah masing-masing — kita sedang dalam nikmat sarrā'. Kalau kita bersyukur — dengan cara apa? Dengan menjaga amanah bumi, dengan membantu saudara yang sedang ditimpa, dengan tidak boros — maka nikmat kita pun menjadi kebaikan. Tidak ada situasi yang sia-sia bagi seorang mukmin yang hatinya hidup.

Jamaah yang saya hormati, mari kita renungkan sebentar: mengapa Allah Ta'ala memberi kita perumpamaan mukmin yang lentur, bukan mukmin yang kaku? Karena hidup ini memang banyak anginnya. Ada angin musibah pribadi — kehilangan pekerjaan, kehilangan kesehatan, kehilangan orang tua. Ada angin musibah kolektif — gempa, banjir, krisis ekonomi, pandemi. Mukmin yang kaku akan patah saat angin pertama datang dengan kuat. Mukmin yang lentur akan bengkok, mungkin sampai hampir menyentuh tanah, tetapi akarnya tetap di bumi — dan ketika angin mereda, ia tegak kembali. Ini bukan kekuatan otot; ini kekuatan iman yang dirawat setiap hari dengan sholat, dengan dzikir, dengan tilawah, dengan persaudaraan.

Saudara-saudara sekalian, mari kita renungkan apa yang ayat dan hadits ini ungkapkan tentang struktur masyarakat kita sendiri. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang bisa menampung tangis sebelum memberi nasihat. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang menjaga bumi sebagai amanah, bukan sebagai inventaris. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang menghargai orang-orang kecil yang menjaga lingkungan secara senyap — tukang sampah, penyapu jalan, petugas drainase, ibu-ibu yang memilah sampah di dapur. Kalau komunitas kita masih sering memotong tangis saudara, kalau kita masih boros air dan listrik tanpa berpikir, kalau kita masih memanggil tukang sampah dengan nada merendah — maka pekerjaan rumah kita masih panjang.

Pertanyaan yang ingin saya tinggalkan malam ini: setelah kita pulang dari sholat ini, dalam 24 jam ke depan, apa satu hal kecil yang bisa kita lakukan? Saya tawarkan tiga pilihan; pilih satu, jalankan. Pertama, transfer donasi kecil ke lembaga kemanusiaan resmi yang menyalurkan ke Sulawesi Tengah — sekecil apa pun, sekarang juga sebelum kita lupa. Kedua, kunjungi atau telepon satu saudara yang sedang berduka — siapa pun, di mana pun — dan dengarkan ceritanya tanpa langsung memberi nasihat selama lima belas menit. Ketiga, mulai satu kebiasaan kecil ekologis di rumah malam ini: pemilahan sampah plastik, atau membawa botol minum sendiri besok, atau mematikan listrik yang tidak terpakai sebelum tidur. Pilih satu. Jalankan. Itulah pertobatan ekologis yang riil — bukan retorika, melainkan tindakan.

Mari kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمَنْكُوْبِيْنَ فِيْ بَالُوْ وَسِيْغِيْ وَفِيْ كُلِّ بَلَدٍ أَصَابَتْهَا الْكَوَارِثُ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْهُمْ وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَأَلْهِمْهُمُ الصَّبْرَ الْجَمِيْلَ، وَعَوِّضْهُمْ خَيْرًا مِمَّا فَقَدُوْا.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَحْفَظُوْنَ أَمَانَتَكَ فِي الْأَرْضِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ فِيْهَا، وَوَفِّقْنَا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيْ بُيُوْتِنَا وَفِيْ بِيْئَتِنَا.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِيْنَ الشَّاكِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan