Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPatologi Sosial DigitalKamis, 18 Juni 2026

Khutbah Jumat — "Tiga Pintu Darurat di Satu HP"

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَحَلَّ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا، وَجَعَلَ فِيْ شَرِيْعَتِهِ شِفَاءً لِكُلِّ قَلْبٍ مَرِيْضٍ، وَطَرِيْقًا لِكُلِّ بَيْتٍ مُسْتَوْحِشٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَالْهَادِيْ إِلٰى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, pada Jumat berkah ini, izinkan kita memulai dengan ayat yang mungkin paling sering kita dengar tapi paling jarang kita pahami akibatnya di rumah-rumah kita:

QS. Al-Baqara: 275

ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْبَيْعُ مِثْلُ ٱلرِّبَوٰا۟ ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟

"Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata: sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."

Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikan satu perumpamaan yang sangat khas dalam ayat ini. Allah tidak menggambarkan pemakan riba sebagai orang yang kaya rakus, atau pedagang licik, atau pejabat korup. Allah menggambarkan mereka sebagai orang yang berdiri seperti kemasukan setan, terhuyung-huyung dipukul-pukul penyakit gila. Bayangkan gambaran itu — seseorang yang berjalan tapi tidak bisa berjalan lurus, yang berdiri tapi terhuyung-huyung, yang ada di tubuhnya tetapi pikirannya entah di mana. Ini bukan deskripsi orang kaya. Ini deskripsi orang yang kalah pada sesuatu yang seharusnya dia kendalikan. Dan jika kita melihat sekeliling kita pekan ini, kita akan menemukan banyak sekali laki-laki muda — bapak-bapak rumah tangga, suami yang baru menikah, ayah dari bayi yang baru lahir — yang sedang berjalan dalam keadaan yang persis seperti itu. Mereka pulang ke rumah tapi pikiran mereka di slot. Mereka memeluk anak mereka tapi tangan mereka mencari HP. Mereka menatap istri mereka tapi mata mereka melihat ke ronde berikutnya.

Pekan ini, jamaah, beredar di media kabar-kabar yang sangat menyayat. Ada seorang istri yang menulis di kanal terbuka: "ini gw foto dari hp suami, asli kaget banget, padahal posisi kami lagi susah punya anak." Bayangkan kalimat itu. Seorang perempuan yang sedang berjuang untuk punya anak, menatap layar HP suaminya, dan menemukan jejak slot dan pinjol. Bayangkan rasa sakit yang dia tahan untuk bisa menuliskan kalimat itu dengan tenang. Ada juga warganet lain yang menulis: "kecanduan rokok, judi, porno tuh emang berat buat ngelepasnya." Kalimat itu bukan kalimat orang yang sedang menasihati orang lain — itu kalimat seseorang yang sedang mengakui kekalahannya sendiri di hadapan tiga pintu darurat yang sudah masuk ke dalam genggamannya. Kita patut bertanya, ma'asyiral muslimin: berapa banyak rumah tangga di kompleks kita, di RT kita, di jamaah masjid kita, yang sedang menanggung pola yang sama dalam diam?

Saudara-saudara seiman, izinkan kita melihat sebuah pola yang lebih dalam dari sekedar "ada yang judi" atau "ada yang riba". Yang sedang terjadi pekan ini bukan tiga masalah terpisah — ini satu mesin dengan tiga pintu. Pintu pertama: judi online, yang menjanjikan kemenangan dalam hitungan detik tapi mengembalikan kekalahan dalam hitungan menit. Pintu kedua: pinjaman online, yang menjanjikan solusi cepat tapi mengikat selamanya. Pintu ketiga: pornografi, yang menjanjikan pelarian tapi meninggalkan rasa kosong yang lebih besar dari yang dilarikan. Ketiga pintu ini ada di HP yang sama. Ketiganya saling memberi sinyal: kalah di slot, klik pinjol; merasa malu dari pinjol, klik konten dewasa; merasa bersalah karena konten dewasa, balik klik slot karena "siapa tahu menang dan semua beres". Itu siklus. Dan tugas dakwah kita bukan menambah suara yang menghakimi orang yang sudah masuk di siklus itu — tugas dakwah kita adalah memberi tangan untuk keluar.

Mari kita perhatikan apa yang Allah katakan tentang akar dari semua ini:

QS. Al-Baqara: 276

يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa."

Lihat dua kata kerja dalam ayat ini: yamhaqu (memusnahkan, menghapus pelan-pelan, menghilangkan keberkahan) dan yurbii (menumbuhkan, menyuburkan, melipatgandakan). Allah tidak mengatakan "riba akan dihukum di akhirat saja" — Allah mengatakan di dunia ini, secara nyata, harta riba akan dihapus pelan-pelan dari keberkahannya. Bagaimana cara Allah memusnahkan riba? Kita melihatnya pekan ini: rumah tangga yang berkalang hutang pinjol, suami yang kehilangan respek istrinya, anak yang tumbuh dalam suasana tegang, masa depan yang dijadikan agunan untuk masa kini yang tidak pernah cukup. Itu bukan hukuman di akhirat — itu pemusnahan keberkahan yang sedang terjadi di hadapan mata kita.

Dan apa lawannya? Yurbii — menyuburkan sedekah. Allah berjanji bahwa harta yang dikeluarkan untuk membantu orang lain akan bertambah secara tak terduga — bukan hanya nominalnya (walaupun itu juga sering terjadi), tapi keberkahannya, ketenangannya, makna hidupnya. Inilah ekonomi yang Allah ajarkan: bukan ekonomi "pinjam sekarang, bayar dua kali lipat nanti", tapi ekonomi "beri sekarang, terima berlipat-lipat dari arah yang tidak disangka". Tugas kita pekan ini, jamaah Jumat, adalah membantu rumah-rumah di sekitar kita untuk berpindah dari mesin pemusnah ke mesin penumbuh.

Saudara-saudaraku, mari kita dengar bagaimana Rasulullah ﷺ memperingatkan tentang siapa yang terlibat dalam sistem riba ini:

Sahih Muslim 4093

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

"Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba dan pemberi makan riba, pencatatnya, dan dua saksinya. Beliau bersabda: 'Mereka semua sama.'"

Perhatikan dengan saksama, jamaah, apa yang sedang Rasulullah ﷺ ajarkan kepada kita. Bukan hanya orang yang mengambil riba yang dilaknat, bukan hanya orang yang memberi riba — tapi juga pencatat dan dua saksinya. Ini bukan ancaman yang sempit. Ini sebuah peringatan tentang rantai partisipasi. Setiap orang yang membantu mempermulus jalannya transaksi riba — yang menandatangani kontrak digital di pinjol, yang menjadi penjamin paylater untuk teman, yang menjadi influencer mempromosikan platform pinjaman yang riba, yang menjadi sales bank dengan target bunga — mereka semua sama dalam beban dosanya. Ini sebuah panggilan yang sangat keras untuk introspeksi: di rantai mana saya berada? Apakah saya pemakan? Apakah saya pemberi? Apakah saya pencatat — termasuk dengan menjadi "join kasih kode referral" demi sekadar Rp 50 ribu? Apakah saya saksi — termasuk dengan diam ketika tetangga saya jelas-jelas masuk ke perangkap ini?

Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita tarik benang yang lebih luas. Allah berfirman tentang bahaya memakan harta orang lain dengan jalan yang batil:

QS. An-Nisaa: 161

وَأَخْذِهِمُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَقَدْ نُهُوا۟ عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَٰطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَٰفِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًۭا

"Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih."

Ayat ini menyebut dua hal sekaligus: riba dan memakan harta orang lain dengan jalan batil. Mengapa keduanya disebut bersamaan? Karena keduanya adalah satu pola yang sama: mengambil sesuatu yang tidak kita hasilkan dengan kerja yang adil. Slot judi online adalah memakan harta orang lain dengan jalan batil — pemainnya mengambil uang dari orang lain bukan karena ia menghasilkan nilai, tapi karena algoritma kasino memberi hadiah di putaran tertentu untuk membuat dia terus bermain. Pinjol berbunga tinggi adalah memakan harta orang yang lemah — platformnya menjebak orang yang sedang panik dengan janji solusi cepat, lalu mengambil dua kali lipat dari kebutuhannya. Penipuan dalam jual-beli yang Allah sebut dalam riwayat ini juga sama:

Sahih al-Bukhari 2675

أَقَامَ رَجُلٌ سِلْعَتَهُ فَحَلَفَ بِاللَّهِ لَقَدْ أُعْطِيَ بِهَا مَا لَمْ يُعْطَهَا

"Seorang pria memamerkan barang dagangannya di pasar dan bersumpah palsu bahwa ia telah ditawari sekian untuk barang tersebut padahal ia tidak ditawari jumlah tersebut."

Dalam riwayat itu, Allah menurunkan ayat yang mengancam keras: orang yang menjual janji Allah dan sumpahnya dengan harga yang sedikit tidak akan mendapat bagian di akhirat, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat. Bayangkan, jamaah — Allah tidak akan berbicara. Bukan sekadar marah, bukan sekadar menghukum — memutuskan komunikasi. Itu hukuman tertinggi bagi seorang hamba: bahwa Tuhan yang menciptakannya, yang memberinya napas setiap detik, berpaling dari membicarakannya pada hari paling penting di kehidupannya. Dan apa yang membuat seseorang sampai ke titik itu? Sumpah palsu di pasar. Tawaran fiktif untuk menaikkan harga. Janji yang dimain-mainkan untuk keuntungan instan.

Apa hubungannya dengan judol-pinjol-paylater pekan ini, jamaah? Sangat dekat. Industri judi online dibangun atas janji-janji palsu: "menang besar dengan modal kecil", "RTP 98%", "bonus dijamin cair". Industri pinjol predator dibangun atas janji yang dipoles: "cair dalam 5 menit", "bunga ringan", padahal cetak halusnya menyembunyikan biaya administrasi, denda keterlambatan, dan teror kolektor. Industri konten dewasa dibangun atas janji emosional yang juga palsu: bahwa pelarian dari rasa malu bisa didapat dari mengkonsumsi tubuh orang lain. Ketiganya — dibangun atas dusta yang disumpah-sumpahkan. Maka tepat sekali peringatan Rasulullah ﷺ tentang sumpah palsu di pasar — itu adalah leluhur teologis dari setiap perangkap digital yang kita hadapi hari ini.

Ma'asyiral muslimin, mari kita renungkan satu hal yang lebih dalam. Mengapa banyak laki-laki muda kita jatuh ke perangkap ini? Bukan karena mereka jahat. Mayoritas dari mereka adalah suami yang baik, ayah yang ingin memberi yang terbaik untuk anaknya, pekerja yang kelelahan setelah hari yang panjang. Yang menjebak mereka bukan sifat buruk yang mendalam — yang menjebak mereka adalah sebuah desain yang sangat licin. Slot dirancang oleh psikolog perilaku untuk memicu sensasi dopamin yang sama dengan kokain. Pinjol dirancang dengan UI yang menghilangkan friksi sebanyak mungkin: tiga klik, tanpa tatap muka, tanpa rasa malu. Pornografi dirancang dengan rekomendasi yang menyesuaikan ke preferensi spesifik dalam hitungan menit. Tiga industri ini secara teknologi melampaui daya tahan psikologis biasa seorang manusia. Maka jamaah, ketika kita berbicara dengan seorang saudara yang sedang terjebak di salah satu pintu ini, jangan mulai dengan menghakimi karakternya — mulai dengan menjelaskan bahwa dia sedang melawan sebuah mesin yang dirancang untuk mengalahkannya, dan dia tidak bisa melawan sendirian.

Saudara-saudara seiman, mari kita bawa pulang beberapa tindakan konkret pekan ini. Pertama, audit HP kita sendiri terlebih dahulu. Apakah ada aplikasi slot yang kita pasang "untuk iseng"? Apakah ada aplikasi pinjol yang kita masih simpan "kalau-kalau butuh"? Apakah riwayat browser kita bersih dari pintu-pintu darurat itu? Mulailah dari diri sendiri — bukan dari menasihati orang lain. Kedua, buka percakapan jujur dengan pasangan. Tidak untuk menuduh, tidak untuk menggali aib, tapi untuk membangun komitmen bersama: kita keluar dari mesin ini bersama-sama, dengan tabungan darurat yang jelas, dengan budget bulanan yang transparan, dengan support yang nyata ketika salah satu dari kita tergoda. Ketiga, di lingkungan masjid kita, dorong terbentuknya kelompok kecil — 3-5 bapak — yang bisa saling memeriksa setiap dua pekan. Pertemuan tidak harus formal. Bisa di teras masjid setelah subuh. Pertanyaannya sederhana: "Bagaimana keuangan rumahmu pekan ini? Ada godaan?" Hanya itu. Kelompok kecil yang jujur menyelamatkan lebih banyak rumah daripada seminar besar yang ramai. Keempat, untuk yang punya anak SMP-SMA, pelajari secara serius bagaimana sistem parental control di HP anak. Bukan untuk mengawasi setiap detik kehidupan mereka, tapi untuk menutup pintu-pintu yang dirancang menjebak anak yang otak prefrontalnya belum selesai berkembang. Ini bukan paranoia — ini tanggung jawab. Kelima, mulai sisihkan dua persen dari pendapatan untuk tabungan darurat keluarga di tempat yang bebas riba. Dua persen kecil, tapi setelah enam bulan dia bisa menjadi pintu keluar dari godaan pinjol di saat darurat keluarga. Keenam, dorong komunitas masjid untuk membangun qardh hasan — pinjaman tanpa bunga yang dikelola pengurus — untuk anggota jamaah yang sedang darurat. Ini adalah jihad ekonomi yang konkret: mengganti pintu pinjol dengan pintu komunitas yang adil.

Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah kita ingat janji Allah:

QS. Aal-i-Imraan: 130

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوا۟ ٱلرِّبَوٰٓا۟ أَضْعَٰفًۭا مُّضَٰعَفَةًۭ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan."

Allah memberi syarat untuk keberuntungan: jauhi riba, bertakwa. Kata "tuflihuun" — supaya kamu mendapat keberuntungan — sangat khas. Ini bukan janji yang muluk tentang surga abstrak; ini janji bahwa dalam kehidupan dunia kita ini, takwa dan menjauhi riba membawa keberuntungan yang nyata. Keberuntungan untuk rumah tangga yang tenang. Keberuntungan untuk anak yang tumbuh tanpa trauma keuangan. Keberuntungan untuk istri yang tidur tanpa mengkhawatirkan HP suami diam-diam. Keberuntungan untuk pekerjaan yang berkah, bukan pekerjaan yang dipotong cicilan setiap bulan. Allah tidak menjanjikan kemewahan — Allah menjanjikan falaah, kesejahteraan yang menyeluruh.

Sebelum kita masuk ke khutbah kedua, ma'asyiral muslimin, satu kata penutup untuk pertama: jangan biarkan rasa malu menghalangi kita untuk meminta tolong. Tidak ada satupun dari kita yang akan diadili oleh Allah pada sesuatu yang sudah kita tinggalkan dengan tobat yang tulus. Kalau di antara kita pekan ini ada yang merasa terjerat — di slot, di pinjol, di paylater yang membengkak, di konten yang merusak hati — pintunya selalu terbuka. Pintunya tidak ada bedanya dengan pintu Nabi Yunus 'alaihissalam yang berdoa dari perut ikan: "Tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim." Allah mendengar doa itu. Allah mendengar doa kita juga. Tapi langkah pertama harus dari kita: akui, hentikan, ganti dengan yang halal. Komunitas masjid kita siap menjadi tangan yang menarik.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلٰى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالٰى فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهٰى عَنْهُ وَزَجَرَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, di khutbah kedua ini, izinkan kita memperdalam dua sisi dari apa yang sudah kita renungkan di khutbah pertama. Sisi pertama: rasa malu dan jalan keluar. Salah satu hambatan terbesar bagi seseorang yang sudah terjerat untuk keluar adalah rasa malu. Malu kepada istri yang sudah memberi kepercayaan. Malu kepada orang tua yang sudah membesarkan. Malu kepada anak yang akan kecewa. Malu kepada jamaah masjid yang menganggapnya orang baik-baik. Rasa malu ini, jika dipakai dengan benar, adalah cahaya yang menarik kita kepada tobat. Tapi jika dipakai dengan salah, dia menjadi penjara yang mengunci kita di dalam dosa karena kita takut keluar dan terlihat. Maka, jamaah, mari kita rancang komunitas masjid kita sebagai tempat yang aman untuk mengakui. Bukan tempat untuk menggosipkan, bukan tempat untuk mengukur akhlak, tapi tempat di mana seorang yang jatuh bisa mengatakan "tolong" tanpa kehilangan martabatnya. Ini bukan sekadar etika sosial — ini bagian dari fardh kifayah komunitas Muslim yang sehat.

Sisi kedua: tanggung jawab kita sebagai tetangga. Pekan ini, di banyak kompleks Indonesia, ada rumah yang sedang retak diam-diam karena hutang pinjol. Ada istri yang mengetuk pintu tetangga sebelahnya bukan untuk menjamin sembako, tapi untuk berbisik bahwa rumahnya tidak baik-baik saja. Bagaimana kita memperlakukan keluhan yang setengah itu? Bagaimana kita menjadi tetangga yang sungguh berperan, bukan hanya sopan? Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa siapa yang membantu meringankan kesulitan saudaranya, Allah akan meringankan kesulitannya pada hari kiamat. Itu bukan retorika — itu sebuah kontrak ekonomi spiritual yang Allah tawarkan. Tetangga yang sungguh hadir, yang menawarkan pinjaman tanpa bunga ketika mampu, yang membantu memeriksa kontrak pinjol sebelum tandatangan, yang menemani konsultasi ke bank syariah — tetangga seperti itu sedang membangun simpanan di sisi Allah yang nilainya melebihi semua bunga riba di dunia.

Sisi ketiga: melindungi generasi berikutnya. Apa yang kita lewatkan pekan ini, anak-anak kita akan tanggung lima belas tahun lagi. Setiap rumah tangga yang retak karena adiksi digital adalah satu generasi yang tumbuh dengan luka. Anak yang melihat ayahnya gemetar pegang HP, ibunya menangis di kamar, dan rumahnya sepi karena tidak ada cukup duit untuk apapun — anak itu sedang dibentuk menjadi orang dewasa yang menghadapi luka yang sama nanti. Maka mari kita lihat tindakan kita pekan ini bukan sekadar untuk diri sendiri — tapi sebagai investasi untuk anak-anak kita yang akan menanggung dunia yang kita buat. Jika kita malas memutus siklus ini sekarang, mereka akan mewarisi siklus yang sama plus lapisan-lapisan baru yang sekarang belum kita bayangkan.

Sisi keempat: kembali kepada Allah dengan tobat yang sungguh. Setiap pekan, jamaah, adalah kesempatan baru. Allah membuka pintu-Nya dengan rumusan yang sangat sederhana: akui kesalahan, tinggalkan dengan ketegasan, tutup pintu kembali. Tidak perlu menunggu Ramadhan untuk memulai hijrah ekonomi. Tidak perlu menunggu jumlah tabungan tertentu untuk meninggalkan paylater. Tidak perlu menunggu kondisi sempurna untuk berdiri dari slot. Hari ini, Jumat ini, di mimbar ini, kita memutuskan: satu pintu kita tutup. Mungkin pintu slot. Mungkin pintu pinjol. Mungkin pintu konten dewasa. Mungkin ketiganya. Dan Allah akan membantu kita melangkah, karena Dia tidak pernah menyia-nyiakan seseorang yang sungguh-sungguh berbalik kepada-Nya.

Marilah kita menutup khutbah ini dengan doa.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقْتَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَلَبَاتِ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ رِزْقٍ حَرَامٍ يُمْحَقُ بَرَكَتُهُ، وَمِنْ كَسْبٍ خَبِيْثٍ يُسَوِّدُ وُجُوْهَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَ إِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ ابْتُلُوْا بِفِتْنَةِ الْقِمَارِ وَالْمَيْسِرِ وَالشَّهَوَاتِ، وَخَلِّصْهُمْ مِنْ شِبَاكِ الرِّبَا وَأَصْحَابِهِ، وَاجْبُرْ بُيُوْتَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ شُرُوْرِ الشَّاشَاتِ، وَمِنْ كُلِّ مَا يُفْسِدُ فِطْرَتَهُمْ، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَأَئِمَّةً لِلْمُتَّقِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، وَفِيْ كُلِّ بِلَادٍ ابْتُلُوْا بِالظُّلْمِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَأَعِنْهُمْ عَلٰى إِغْلَاقِ أَبْوَابِ الْمَنْكَرِ مِنْ شَاشَاتِ شَعْبِنَا.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan