بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja melewati banyak cerita berat tentang HP yang menjebak suami-suami muda, izinkan saya membawa sebuah pesan pendek malam ini. Bukan pesan yang baru — pesan yang sudah lama ada di kitab kita, tapi sering kita lewatkan karena kelihatannya bicara tentang "ekonomi" dan kita pikir "ekonomi bukan urusan ibadah saya".
Pekan ini saya membaca sebuah pengakuan di kanal terbuka. Seorang istri menulis kalimat yang menahan air mata: dia memfoto layar HP suaminya, menemukan jejak slot online, dan dia menulis dengan singkat — "padahal posisi kami lagi susah punya anak". Saya tertegun cukup lama membaca kalimat itu. Bukan karena itu satu-satunya cerita seperti itu — di feed pekan ini ada banyak yang mirip — tapi karena kalimat itu memuat sebuah ironi yang sangat dalam. Pasangan yang sedang berdoa untuk diberi anak, sedang juga membakar rezekinya di mesin yang tidak mengenal ampun. Mari kita ambil satu ayat yang langsung berbicara tentang ini:
QS. Al-Baqara: 276
يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah."
Saudara-saudara sekalian, perhatikan kata yang Allah pakai: yamhaqu — yang artinya bukan sekadar "mengurangi" atau "menghukum", tapi menghapus pelan-pelan, seperti tinta yang dihilangkan dengan air, seperti tulisan di papan tulis yang diseka. Allah tidak mengatakan riba akan "dikurangi", tidak mengatakan akan "dihukum nanti di akhirat saja" — Allah mengatakan dia akan dihapus pelan-pelan dari keberkahannya, di dunia ini juga, di rumah ini juga, di umur ini juga. Coba kita lihat seorang suami yang setiap malam mencicil di tiga aplikasi pinjol untuk menutup kekalahan di empat aplikasi slot. Berapa rupiah penghasilannya yang masih sampai ke meja makan keluarga? Berapa banyak waktunya yang masih sampai ke anak yang sedang berkembang? Berapa banyak tenaganya yang masih sampai ke pekerjaan halal yang seharusnya dia kerjakan dengan tenang? Itulah yamhaqu. Allah tidak perlu mengirim petir — keberkahan keluarga itu sudah dihapus pelan-pelan dengan tangan suami itu sendiri yang memutar slot.
Sebaliknya, kata yang Allah pakai untuk sedekah adalah yurbii — yang artinya menumbuhkan, menyuburkan, melipatgandakan. Allah memakai akar kata yang sama dengan "riba" untuk menyebut sedekah — karena keduanya menumbuhkan. Bedanya: riba menumbuhkan dengan menarik dari saku orang lain ke saku kita, sedangkan sedekah menumbuhkan dengan menarik dari saku kita ke saku orang lain — tapi kemudian Allah sendiri yang menambahkan rezeki kita dari arah yang tidak kita sangka. Inilah ekonomi yang Allah ajarkan: bukan tarik-menarik antar manusia yang sama-sama lemah, tapi memberi-menerima dengan Allah sebagai perantara yang mengatur.
Saudara-saudaraku, izinkan saya tarik pesan ini ke kehidupan kita yang sangat konkret. Pekan ini, banyak suami muda kita sedang terjebak di siklus yang sama. Ada yang sudah jelas mengakui — "kecanduan rokok, judi, porno tuh emang berat buat ngelepasnya". Ada juga yang masih menyangkal, masih menjawab dengan "ah tenang, gue cuma main sebentar". Tapi siklusnya satu: slot menang, dopamin tinggi, ingin lagi, kalah, butuh modal, pinjol, kalah lagi, stres, lari ke konten dewasa, malu, balik ke slot karena "siapa tahu menang dan beres semua". Ini bukan teori. Ini cerita yang masuk ke media sosial pekan ini, dari mulut istri-istri yang lelah, dari mulut pemuda-pemuda yang sudah hancur dan baru mau berhenti.
Tugas kita malam ini, jamaah, bukan menghakimi siapa yang sudah jatuh. Tugas kita adalah dua hal: pertama, audit diri sendiri — apakah saya juga sedang membuka satu dari tiga pintu darurat itu? Berapa banyak waktu saya di malam hari habis di tempat yang tidak akan saya katakan kepada Allah dengan tenang di hari Mahsyar? Kedua, audit lingkungan terdekat — siapa di RT saya, di masjid saya, di grup WA bapak-bapak saya yang sedang berjuang? Apakah saya sudah menjadi tangan yang menarik, atau saya hanya menjadi mata yang menonton?
Saya teringat sebuah kalimat dari salah satu sahabat yang berkata bahwa seorang Muslim adalah cermin bagi Muslim lainnya. Cermin yang baik tidak melihat aib saudaranya untuk disebarkan — cermin yang baik melihat aib saudaranya untuk dibantu dibersihkan. Pekan depan, di rumah masing-masing, mari kita lakukan satu langkah kecil yang konkret. Hapus satu aplikasi yang tidak akan kita ridhai kalau kita meninggal malam ini sambil HP-nya masih terbuka. Hanya satu. Jangan terlalu ambisius — satu pintu yang ditutup dengan tegas lebih berharga daripada sepuluh niat yang lemah. Lalu, kirim pesan kepada satu sahabat yang kita tahu sedang berjuang. Tidak perlu panjang. Cukup "Bro, gimana kabarnya? Kita ngopi yuk pekan depan." Cukup itu. Allah yang akan mengurus sisanya.
Mari kita tutup dengan kesimpulan yang sederhana: Allah memberi kita pintu rezeki yang halal dengan janji yang nyata, dan menutup pintu yang haram dengan ancaman yang nyata juga. Kita tidak perlu mencari celah, tidak perlu mencoba menang dari sistem yang sudah ditata Allah lebih luas dari kita. Kita perlu satu hal saja: percaya bahwa rezeki yang halal cukup, walaupun ia datangnya lambat, walaupun ia tidak meriah.
Mari kita berdoa.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسْبِ الْحَرَامِ، وَمِنْ كُلِّ بَيْتٍ بَنَيْنَاهُ مِنْ غَيْرِ بَرَكَةٍ، وَمِنْ كُلِّ زَوْجَةٍ تَبْكِيْ بِسَبَبِ تَقْصِيْرِنَا، وَمِنْ كُلِّ وَلَدٍ يَكْبُرُ فِيْ غَفْلَتِنَا.
اَللّٰهُمَّ أَغْلِقْ عَنَّا أَبْوَابَ الْفِتَنِ مِنَ الشَّاشَاتِ، وَافْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الرِّزْقِ الْحَلَالِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ سِرًّا وَعَلَانِيَةً.
اَللّٰهُمَّ مَنْ كَانَ مِنْ إِخْوَانِنَا أَسِيْرًا لِلْقِمَارِ أَوِ الرِّبَا أَوِ الشَّهَوَاتِ، فَفُكَّ أَسْرَهُ، وَاجْبُرْ قَلْبَهُ، وَأَعِدْهُ إِلٰى أَهْلِهِ سَلِيْمًا تَائِبًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
