Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsPekerja & Pertanian RakyatKamis, 18 Juni 2026

Kisah Pendek — "Lemari Penuh Emas yang Ditolak Ali"

Pekan ini banyak cerita tentang upah pekerja yang tertunda dan keluarga yang ekonominya goyah. Di tengah riuh angka dan kebijakan, ada satu kisah singkat dari abad pertama Hijriyah yang patut kita simak. Imam Syaikh Yusuf al-Kandahlawi dalam Hayat as-Sahabah — Bab al-Hijrah, Pasal "Pandangan Umar tentang Hak Muslim atas Mal" menghimpun beberapa kisah para sahabat tentang sikap mereka terhadap harta umat — dan satu di antaranya adalah momen ketika Ali bin Abi Thalib menolak menerima kekayaan yang seharusnya menjadi haknya.

Suatu pagi di Kufah, Qanbar — pelayan setia Ali bin Abi Thalib — datang menemui sang amirul mukminin dengan wajah yang penuh harap. Beberapa hari sebelumnya, rampasan perang dan harta baitul mal baru saja masuk. Qanbar tahu rumah Ali sedang tidak punya banyak. Beras tinggal sedikit. Pakaian Ali bahkan ditambal di beberapa tempat. Anak-anak Ali — Hasan dan Husein — tidak pernah mengeluh, tapi Qanbar yang mengurusi dapur tahu betapa sederhananya keadaan rumah ini.

"Ya Amirul Mukminin," kata Qanbar, "engkau adalah orang yang tidak menyimpan apa-apa. Padahal ahli baitmu juga punya hak atas mal ini. Aku telah menyisihkan sesuatu untukmu."

Ali menatap Qanbar dengan dahi yang sedikit berkerut. "Apa itu?"

"Mari ikut aku. Lihatlah sendiri."

Qanbar membawa Ali ke sebuah ruangan kecil di belakang rumah. Pintu kayu yang sudah lapuk dibuka pelan. Di dalam, di atas lantai tanah yang dipoles bersih, terbaring sebuah peti besar yang penuh dengan bejana — bejana emas, perak, dan beberapa yang dilapis emas dengan corak yang sangat halus. Cahaya pagi yang masuk lewat ventilasi membuat permukaan logam mulia itu berkilau, memantulkan warna keemasan ke dinding tanah liat ruangan kecil itu.

Wajah Ali berubah seketika. Bukan berbinar, bukan terpesona. Tetapi cemas — bahkan marah.

"Celakalah engkau, hai Qanbar!" suara Ali pelan tapi tegas, hampir seperti bisikan yang menyakitkan. "Ibumu kehilangan engkau! Apakah engkau hendak memasukkan ke dalam rumahku api yang besar?"

Qanbar terdiam. Dia kira tindakannya akan membuat sang amirul mukminin lega. Tapi Ali memandang harta itu seperti memandang sesuatu yang membakar.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Ali mendekati peti. Ia mengangkat satu bejana emas dengan tangannya yang penuh tambalan-tambalan kerja, lalu menimbangnya pelan. Kemudian ia memerintahkan agar dipanggil para arif — para pengurus pembagian yang biasa membantunya membagikan bagian setiap kelompok di baitul mal. Satu per satu mereka datang. Satu per satu Ali memberikan bagian sesuai catatan yang sudah ada di hati dan ingatannya. Tidak ada bejana yang tertinggal. Tidak ada perak yang dia sisihkan untuk dirinya sendiri.

Setelah peti itu kosong, Ali berdiri dan melantunkan dua bait pendek yang sering dikutip dari Imam Ali sendiri:

هَذَا جَنَايَ وَخِيَارُهُ فِيْهِ وَكُلُّ جَانٍ يَدُهُ إِلَى فِيْهِ

"Inilah hasil petikan tanganku, dan yang terbaik darinya ada di sini. Padahal setiap orang yang memetik biasanya memasukkan tangannya ke mulut sendiri lebih dulu."

Bait ini, dalam tradisi Arab, biasanya diucapkan oleh pemetik kurma yang biasa memakan kurma yang paling baik untuk dirinya sendiri sebelum membagi. Tapi Ali membaliknya: aku memetik, dan yang terbaik kuserahkan kepada yang berhak — bukan kepada mulutku sendiri.

Lalu Ali menatap ke arah peti yang sudah kosong dan berkata:

يَا دُنْيَا، لَا تَغُرِّيْنِي، وَغُرِّي غَيْرِيْ

"Wahai dunia, jangan menggodaku — godalah orang lain saja."

Qanbar berdiri terpaku. Dia memahami sekarang, mengapa sang amirul mukminin marah. Bukan karena hartanya banyak. Tapi karena harta itu bukan haknya — ia hanya dititipkan untuk disampaikan kepada umat.

Beberapa waktu sebelumnya, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu juga pernah menghadapi persoalan serupa. Ketika harta baitul mal terkumpul, beliau mengumpulkan para sahabat dan berkata: "Pikirkan kepada siapa harta ini harus disampaikan." Kemudian beliau membacakan ayat-ayat dari Surah Al-Hasyr — bagaimana harta fai' adalah untuk Allah, untuk Rasul, untuk kerabat, untuk yatim, untuk miskin, untuk ibnu sabil. Lalu beliau berkata dengan tegas: "Demi Allah, tidak ada satu pun Muslim, kecuali ia punya hak atas harta ini — diberikan kepadanya atau ditahan darinya — bahkan penggembala kambing di Aden."

Bahkan penggembala kambing di Aden. Aden — kota di ujung Semenanjung Arab, ribuan kilometer dari Madinah. Umar tidak mengatakan "para pejabat", "para pejuang", "para sahabat dekat". Beliau menyebut penggembala kambing di Aden — pekerja pinggiran yang nasibnya jarang terdengar di pusat kekuasaan.

Hari itu di rumah Ali, peti emas yang dibawa Qanbar kembali kosong. Distribusi sudah berjalan. Ali masih dengan pakaiannya yang ditambal, masih dengan dapur yang sederhana, masih dengan anak-anak yang akan makan dengan apa adanya malam itu. Tapi di langit, malaikat-malaikat mencatat bahwa di Kufah ada seorang amirul mukminin yang lebih takut pada api harta umat daripada pada kelaparan rumahnya sendiri.

Pelajaran

Ali bin Abi Thalib memandang bejana emas itu sebagai api yang akan membakar rumahnya. Bukan karena emas itu haram secara material — emas itu adalah harta umat yang sah. Tapi karena setiap dirham yang diambil melebihi hak yang ditentukan menjadi titik gelap yang akan menghimpit pada hari kiamat. Dan Umar menyebut penggembala kambing di Aden — bukan pejabat, bukan jenderal, bukan ulama — sebagai pemegang hak atas harta baitul mal. Pelajaran untuk kita pekan ini sederhana: setiap pekerja di sekitar kita — tukang sampah, asisten rumah tangga, ojek pangkalan, satpam, kurir paket — adalah penggembala kambing di Aden kita. Mereka punya hak atas rezeki yang lewat di rumah kita. Apakah upah mereka kita lebihkan atau kita kurangi, apakah nama mereka kita sebut atau kita lupa, apakah waktu mereka kita hormati atau kita tunda — semuanya dicatat. Dan harta yang kita simpan dengan menahan hak mereka, dalam pandangan syariat, bukan kekayaan — melainkan api kecil yang sedang menyala diam-diam di rumah kita.

Sumber Asli

Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / رأي عمر رضي الله عنه في حق المسلمين في المال

حياة الصحابة المال مالاً يبيت فيه حتى يقسمه؛ إلا أن يغلبه شغل فيصبح إِليه، وكان يقول: يا دنيا، لا تغريني وغُرِّي غيري، وينشد: هذا جنايَ وخيارُه فيهْ وكلُّ جانٍ يَدهُ إلى فيهْ

وأخرج أبو عبيد عن عنترة قال: أتيت علياً رضي الله عنه يوماً فجاءه قنبر، فقال: يا أمير المؤمنين إنَّك رجل لا تليق شيئاً، وإنَّ لأهل بيتك في هذا المال نصيباً، وقد خبأت لك خبيئة، قال: وما هي؟ قال: إنطلق فانظر ما هي، قال: فأدخله بيتاً فيه باسنة مملوءة آنية ذهب وفضة مموَّهة بالذهب، فلما رآها علي قال: ثكلتك أمك لقد أردت أن تدخل بيتي ناراً عظيمة؟ ثم جعل يزنها ويعطي كل عريف بحصته

رأي عمر رضي الله عنه في حق المسلمين في المال: أخرج البيهقي عن أسلم قال: سمعت عمر رضي الله عنه يقول: حياة الصحابة إجتمعوا لهذا المال فانظروا لمن ترونه... والله ما من أحد من المسلمين إلا وله حق في هذا المال أُعطي منه أو مُنع حتى راعٍ بعَدَن

Lihat Briefing Mingguan