اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، وَجَعَلَ الْعَدْلَ نِظَامَ الْبِلَادِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah pada Jumat yang penuh berkah ini kita memulai dengan rasa syukur kepada Allah yang masih mengizinkan kita berhimpun di rumah-Nya. Pekan yang baru saja kita lewati bukan pekan yang ringan untuk negeri ini. Dari berita pekan ini kita ketahui bahwa gelombang protes mahasiswa kembali memenuhi jalanan kota-kota besar; bahwa kasus korupsi pada program yang seharusnya memberi makan anak-anak kita kembali menambah tersangka; bahwa harga-harga kebutuhan dasar terus naik sementara batas kemiskinan resmi pemerintah ditetapkan di kisaran dua puluh ribu rupiah sehari untuk satu jiwa. Maka pertanyaan yang harus kita bawa di mimbar hari ini bukan pertanyaan politik praktis, melainkan pertanyaan iman: bagaimana sebenarnya Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kita memahami beban yang sedang dipikul oleh rakyat ini?
Mari kita awali dengan satu ayat yang sangat ringkas tetapi tajam, firman Allah dalam QS. Al-Fajr: 11:
ٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ
"Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri." (QS. Al-Fajr: 11)
Ma'asyiral muslimin, ayat ini muncul dalam rangkaian peringatan Allah terhadap kaum-kaum terdahulu — kaum 'Ad, kaum Tsamud, Fir'aun dan tentaranya — yang dibinasakan bukan semata karena banyaknya pasukan atau besarnya benteng, melainkan karena satu hal yang disebut Allah dengan tegas: thaghaw fil-bilad, yaitu berbuat melampaui batas, sewenang-wenang, di dalam negeri. Allah tidak menghancurkan mereka karena kelebihan harta; Dia menghancurkan mereka karena melampaui batas dalam memakai harta dan kuasa itu. Ada sebuah garis tipis yang Allah letakkan di dalam syariat: harta boleh, kuasa boleh, jabatan boleh — semua boleh, asalkan tidak melampaui batas yang Allah tentukan.
Lalu di mana letak melampaui batas itu? Ulama menjelaskannya dengan satu kata kunci: zhulm, kezaliman. Yaitu meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Mengambil yang bukan hak. Memberi kepada yang tidak berhak. Menahan dari yang berhak. Memutuskan perkara tanpa timbangan yang lurus. Ketika hak satu pihak diambil untuk diuntungkan pihak lain — itu zhulm. Ketika anggaran yang seharusnya mengisi piring anak-anak Sekolah Dasar disisihkan untuk kantong pribadi seseorang — itu adalah kategori thaghaw fil-bilad yang persis disorot ayat ini. Allah tidak menutup mata terhadap perbuatan itu, dan sejarah membuktikan bahwa Allah memberikan tenggang waktu sebelum jatuh tempo perhitungan-Nya.
Kabar yang sampai kepada kita pekan ini, tersangka kelima dalam kasus korupsi program Makan Bergizi Gratis kembali ditetapkan. Bayangkan: sebuah program yang dijual ke publik sebagai bentuk kepedulian negara terhadap nutrisi anak — sebuah program yang dengan namanya saja kita berharap akan mengisi perut anak yatim di kampung jauh — ternyata di dalam jeroannya dikoyak oleh oknum yang menukar amanah dengan kemewahan pribadi. Program ini sudah berjalan delapan belas bulan, dan baru pekan ini lapisan kebusukannya dibongkar satu per satu. Tidakkah ini termasuk thaghaw fil-bilad sebagaimana Allah firmankan? Tidakkah ini bentuk kesewenang-wenangan yang justru lebih halus dan lebih merusak dari kezaliman terbuka, karena ia memakai topeng pelayanan publik?
Ma'asyiral muslimin, gelombang protes mahasiswa pekan ini bukan kemunculan yang tiba-tiba. Ia adalah letupan dari akumulasi kekecewaan yang berlapis: kenaikan harga bensin yang merembet ke transportasi dan makanan; ketimpangan yang terasa setiap hari ketika seseorang membandingkan gaji UMR dengan biaya kontrakan dan susu anak; kasus korupsi yang seolah tidak pernah berhenti silih berganti. Yang menarik dari protes pekan ini, sebagian besar bukan protes anarkis — ia adalah protes intelektual yang lahir dari ruang kuliah, yang berbicara dengan kerangka tuntutan: cabut kebijakan tertentu, evaluasi program tertentu, transparansi anggaran tertentu. Ini adalah suara generasi muda yang membaca konstitusi mereka sebagai amanat, dan menagih agar amanat itu ditepati.
Kabar yang lain, ada diskursus yang muncul kembali tentang aktivis dan kritikus kebijakan yang mengaku mengalami berbagai bentuk tekanan setelah aktif menyuarakan keberatan terhadap kebijakan publik. Saya tidak ingin masuk ke detail kasus per kasus karena ini bukan mimbar berita; tetapi pola ini perlu kita renungkan. Islam datang membela orang yang lemah suaranya — yatim, janda, musafir, hamba sahaya. Dakwah para nabi selalu memuat satu garis pertahanan: pertahanan terhadap yang lemah dari yang kuat. Jika di negeri kita hari ini ada warga yang merasa ditekan karena bersuara — apapun afiliasi politiknya — maka tugas kita sebagai umat ini bukan menertawakan dia atau menghakiminya, tetapi setidaknya mendoakan agar Allah melindunginya, dan menjaga ruang sipil supaya kebenaran tetap punya tempat untuk diucapkan.
Mari kita perdalam dengan satu riwayat yang sangat dalam. Sahih Muslim 4782 mencatat sebuah peristiwa di mana seorang sahabat bernama Salama bin Yazid al-Ju'afi bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ الْحَضْرَمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ سَأَلَ سَلَمَةُ بْنُ يَزِيدَ الْجُعْفِيُّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم.
Hadits ini diriwayatkan dari 'Alqamah bin Wa'il al-Hadrami, dari ayahnya. Ayahnya berkata: Salamah bin Yazid al-Ju'afi bertanya kepada Rasulullah ﷺ — "Wahai Nabi Allah, bagaimana pendapatmu jika kami memiliki penguasa yang memerintah kami dan menuntut kami untuk memenuhi kewajiban kami kepada mereka, tetapi mereka sendiri tidak memenuhi tanggung jawab mereka kepada kami? Apa yang engkau perintahkan kami untuk lakukan?" Rasulullah ﷺ pada mulanya menghindar dari pertanyaan itu, tetapi Salamah terus bertanya sampai akhirnya Nabi ﷺ menjawab dengan satu prinsip yang dalam riwayat panjangnya tersirat: jalankan kewajiban kalian, dan biarkan mereka mempertanggungjawabkan kewajiban mereka kepada Allah.
Hadits ini, ma'asyiral muslimin, adalah salah satu hadits yang paling sering disalahpahami dalam diskursus politik kontemporer. Sebagian membacanya sebagai perintah diam mutlak. Itu pembacaan yang kurang adil terhadap teks dan terhadap keseluruhan ajaran Nabi ﷺ. Yang Nabi ﷺ ajarkan di sini bukan diam, melainkan dua hal yang berpasangan: pertama, jangan sampai kelalaian pemimpin menjadi alasan kita untuk juga lalai dalam kewajiban kita sebagai warga — bayar zakat, jaga shalat, jaga halal-haram dalam usaha, jaga tetangga, jaga keluarga. Kedua, percaya bahwa Allah Mahaadil akan menuntut pertanggungjawaban dari pundak setiap pemimpin atas setiap rakyat yang dipimpinnya. Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ tegas: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." Tidak ada satupun pejabat yang luput dari mizan ini di hari kiamat.
Tetapi — dan ini penting — bahwa kewajiban warga tidak gugur bukan berarti tidak ada koreksi yang sah untuk dilakukan terhadap kekuasaan. Islam menyediakan saluran yang sangat luas untuk koreksi. Ada nashihah lil-aimmatil-muslimin yaitu menasihati para pemimpin Muslim, yang Rasulullah ﷺ sebut sebagai bagian inti dari agama. Ada amar ma'ruf nahi munkar yang menjadi tanda kebaikan umat ini. Ada saluran konstitusional yang juga diakui dan sah di negeri kita. Yang tidak diizinkan dalam Islam hanyalah dua: pembangkangan bersenjata yang merusak, dan diam yang menggemukkan kemungkaran. Selain dua itu, semua jalur koreksi terbuka — dengan syarat dijalankan dengan hikmah, adab, dan niat membangun, bukan menghancurkan.
Lalu bagaimana sikap kita pekan ini, ma'asyiral muslimin? Pertama, kita doakan negeri ini agar Allah perbaiki para pemimpin kita dan beri mereka taufiq untuk menjalankan amanah. Doa pemimpin yang baik di belakang shalat adalah ibadah, bukan jilat. Kedua, kita tidak abai terhadap kemungkaran — kalau kita melihat ada kebijakan yang menyakiti rakyat, kita boleh dan harus menyuarakannya melalui jalur yang Allah ridhai, bukan dengan cacian di media sosial dan bukan dengan kekerasan. Ketiga, kita kuatkan komunitas kita sendiri — RT, masjid, keluarga — supaya kalau lapisan struktural negara gagal melayani lapisan bawah, ada jaring pengaman umat yang menampung mereka.
Saudara-saudara seiman, mari kita tarik lebih dalam lagi. Rasulullah ﷺ memberi kita teladan yang sangat halus dalam menjaga harta umat. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda bahwa harta umat adalah amanah, dan pemimpin yang menelantarkan rakyatnya satu malam saja dalam keadaan lapar — sementara dia tidur kenyang — terancam tidak masuk surga. Inilah standar nubuwwah. Inilah cara para khulafa rasyidun memahami jabatan: bukan sebagai privilege, melainkan sebagai beban yang menggetarkan kaki di hari kiamat. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata bahwa kalau ada seekor keledai tersesat di tepi Sungai Tigris, ia khawatir Allah akan menanyai dirinya kenapa ia tidak meratakan jalan untuk keledai itu. Bayangkan standar itu dibandingkan dengan standar pejabat yang menyisihkan dana program gizi anak untuk kemewahan pribadi.
Apa pelajaran untuk kita pekan ini, ma'asyiral muslimin? Pertama, jangan biarkan amarah membutakan keadilan. Kita boleh prihatin atas korupsi, tetapi jangan menghakimi tanpa bukti, dan jangan menyalahkan kelompok atau kasta tertentu hanya karena seorang anggotanya berkhianat. Yang berkhianat adalah individu; tugas hukum negara dan tugas pengawasan publik adalah memprosesnya dengan adil. Kedua, jangan kehilangan harapan. Sejarah umat ini penuh dengan masa-masa sulit, tetapi setiap kali muncul kembali generasi reformasi yang membersihkan barisan. Ketiga, mulai dari diri sendiri — apakah kita sendiri konsisten dengan amanah kecil di tempat kerja, di rumah, di keuangan keluarga, di media sosial?
Maka tindakan konkret pekan ini, jamaah, ada empat sampai enam yang ingin saya tawarkan. Pertama, sisihkan zakat dan sedekah kita ke saluran yang dipercayai komunitas, dan dampingi tetangga yang sedang kesulitan ekonomi dengan dapur umum mingguan di RT atau kotak qardh hasan di masjid. Kedua, ikuti perkembangan kasus korupsi MBG dengan tenang dan tertib; jangan ikut menyebar informasi yang belum terverifikasi, tetapi juga jangan diam sepenuhnya — doakan agar proses hukumnya jujur dan tuntas. Ketiga, kalau ada anggota keluarga atau jamaah kita yang ikut demo dengan niat menyuarakan keadilan, ajarkan adab kritik: tegas pada gagasan, lembut pada orang, hindari perusakan, jaga shalat lima waktu walaupun di tengah aksi. Keempat, jaga lisan di media sosial — jangan caci pejabat, sebut nama dengan adab, paparkan fakta dengan akurat, bedakan kritik kebijakan dari fitnah pribadi. Kelima, di majelis-majelis taklim kita pekan ini, sisipkan bahasan tentang amanah dan adl — bukan untuk menjadi politis, tetapi untuk menjadi rabbani, yaitu menanamkan kerangka iman pada peristiwa publik. Keenam, doakan negeri dalam qunut nazilah — doa singkat di rakaat terakhir shalat berjamaah — agar Allah perbaiki para pemimpin dan meringankan beban rakyat.
Saudara-saudara, sebelum saya tutup khutbah pertama ini, izinkan saya menutup dengan satu perenungan. Allah tidak pernah lupa. Tidak ada satu sen rupiah yang dijarah dari piring anak Sekolah Dasar yang lolos dari pencatatan-Nya. Tidak ada satu cibiran yang dilontarkan kepada saudara kita yang menderita kemiskinan yang akan luput dari mizan-Nya. Tidak ada satu doa rakyat yang dipinggirkan oleh penguasa yang akan tidak Dia dengar. Maka bagi kita yang berada di lapisan bawah piramida sosial — jaga shalat, jaga lisan, jaga keluarga, jaga tetangga. Allah-lah pelindung dan penolong yang sebenarnya, bukan negara dan bukan partai. Dan bagi kita yang Allah amanahi posisi apa pun — dari ketua RT sampai direktur perusahaan, dari ayah dalam keluarga sampai guru di ruang kelas — jagalah amanah itu seperti barang titipan yang akan diminta kembali oleh Pemiliknya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، أَمَّا بَعْدُ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari kita renungkan lagi inti khutbah pertama. Yang kita sampaikan tadi bukan ajakan untuk apatis dan bukan ajakan untuk memberontak — yang kita sampaikan adalah ajakan untuk berdiri di garis tengah yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan: setia pada kewajiban kita sebagai warga sekaligus tidak menutup mata atas kezaliman yang sedang terjadi. Setiap pekan kita melihat berita yang menggetarkan; setiap pekan ada saja oknum yang Allah bukakan aibnya supaya kita semua belajar. Maka tugas kita adalah belajar — bukan untuk menjadi cynical, tetapi untuk menjadi lebih tajam dalam mendoa, lebih tajam dalam memberi nasihat, lebih tajam dalam memperbaiki diri sendiri.
Saya ingin tekankan satu hal lagi sebelum kita berdoa. Ketika kita melihat pejabat berbuat kezaliman, sangat mudah bagi kita berkata "lihat, semua mereka korupsi" — itu cara berpikir yang malas. Allah memerintahkan kita untuk berbuat adil bahkan kepada orang yang kita benci. Banyak pejabat yang menjalankan amanah dengan baik tetapi nama mereka tidak viral karena yang viral hanya yang buruk. Banyak guru, perawat, polisi lapangan, pegawai kelurahan yang bekerja jujur dengan gaji pas-pasan setiap hari. Doakan mereka. Hargai mereka. Jangan ikut menggeneralisasi seolah seluruh aparatur negara adalah penjahat. Karena ketidakadilan kita dalam menghakimi juga adalah thaghaw — kesewenang-wenangan dengan modal lisan dan jempol.
Dan kepada para mahasiswa kita yang sedang menyuarakan keprihatinan di jalanan — saya ingin titip pesan dari mimbar ini, walaupun mereka mungkin tidak hadir di sini. Yang kalian lakukan adalah panggilan zaman; yang membedakan gerakan kalian dengan gerakan yang hanya gaduh adalah adab. Jangan sampai gerakan ini lahir dari kemarahan tanpa kerangka. Bawa shalat ke jalanan; bawa nash ke ruang diskusi; bawa kerendahan hati ke meja negosiasi. Pemimpin reformasi yang berhasil di sepanjang sejarah Islam adalah mereka yang ilmunya lebih dalam dari amarahnya. Pesan ini saya titipkan, semoga ada di antara hadirin yang menyampaikannya.
Terakhir, mari kita ingatkan diri tentang batas takdir dan ikhtiar. Kondisi negeri ini bukan hanya soal kebijakan; ada juga ujian dari Allah untuk menguji siapa yang sabar dan siapa yang melompat ke maksiat. Kelangkaan, kemiskinan, ketakutan — semua disebut Allah dalam Al-Qur'an sebagai bentuk ujian yang dengannya Allah saring orang-orang yang sabar dari orang-orang yang putus asa. Maka di tengah kabar pekan yang berat, kita tidak hanya bertanya "siapa yang salah?", tetapi juga bertanya "apa yang Allah ingin ajarkan kepada saya lewat ujian ini?"
Mari kita berdoa.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْكَرْبَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَتَقَبَّلْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مَهْدِيِّيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَقُلُوْبِ رَعِيَّتِهِمْ عَلَى الْحَقِّ، وَاكْفِنَا شَرَّ مَنْ خَانَ الْأَمَانَةَ، وَاكْشِفْ مَكْرَ مَنْ مَكَرَ بِبِلَادِنَا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ شَبَابَنَا وَطُلَّابَنَا الَّذِيْنَ يُنَادُوْنَ بِالْحَقِّ، وَاجْعَلْ نِدَاءَهُمْ سَبَبًا لِإِصْلَاحِ هَذِهِ الْأُمَّةِ لَا لِفِتْنَتِهَا، وَوَفِّقْهُمْ لِلْأَدَبِ وَالْحِكْمَةِ، وَاحْفَظْهُمْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِيْنَ فِيْ بِلَادِنَا، وَوَسِّعْ عَلَيْهِمْ فِيْ أَرْزَاقِهِمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَاكْسُ عَارِيَهُمْ، وَفَرِّجْ كُرْبَتَهُمْ، وَاجْعَلْ لَنَا فِيْ بَيْتِكَ الْحَرَامِ شَفَاعَةً لِفُقَرَائِنَا.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَارْحَمْ أَمْوَاتَنَا وَأَمْوَاتَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاجْعَلْ قُبُوْرَهُمْ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ كَسْبٍ حَرَامٍ، وَمِنْ شُحٍّ مُطَاعٍ، وَمِنْ خِيَانَةِ الْأَمَانَةِ، وَمِنْ ظُلْمِ النَّاسِ، وَمِنْ قَوْلٍ بِلَا عِلْمٍ، وَمِنْ فِتْنَةٍ عَمْيَاءَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
