Pekan yang berat untuk negeri ini — gelombang protes, kabar korupsi, harga-harga yang naik — mengundang banyak nama menjadi pusat sorotan. Di tengah suara-suara yang saling memanggil, ada satu kisah yang justru berbicara dengan diam: bagaimana sosok yang paling layak dimuliakan dalam sejarah, justru menolak kemewahan dan keterhormatan untuk dirinya. Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — bab tawadhu' Rasulullah ﷺ menghimpun rangkaian riwayat tentang sikap rendah hati Nabi ﷺ.
Ada satu pertemuan di Madinah. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menyampaikan pesan Nabi ﷺ. Suaranya tegas. Beliau berkata, mengutip langsung dari Rasulullah ﷺ:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُولُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ
"Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani melampaui batas dalam memuji putra Maryam. Aku hanyalah hamba. Sebutlah aku hamba Allah dan rasul-Nya."
Bayangkan. Beliau adalah utusan Allah. Beliau yang turun Jibril membawakan wahyu. Beliau yang ditegur langit ketika sahabatnya berbuat keliru. Tetapi yang pertama beliau lakukan adalah memagari pujian. Bukan karena pujian itu mengganggu; karena beliau tahu, pujian yang berlebihan adalah pintu yang menggelapkan akal pemimpin lain. Beliau ingin umat ini punya kerangka berpikir yang benar tentang kemuliaan.
Suatu hari, seorang perempuan dari Anshar datang. Riwayat itu mencatat — dalam beberapa keterangan namanya Ummu Zufar, dahulu tukang sisir Ibu Khadijah. Dia berkata kepada Nabi ﷺ, "Ya Rasulullah, saya perlu sesuatu darimu."
Nabi ﷺ tidak meminta dia menunggu di antrian. Tidak meminta dia datang lewat protokol. Beliau menjawab:
اجْلِسِي فِي أَيِّ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ شِئْتِ أَجْلِسْ إِلَيْكِ
"Duduklah di jalan Madinah mana saja yang engkau kehendaki. Aku akan duduk di sebelahmu."
Bayangkan adegan ini. Pemimpin tertinggi umat — politisi, panglima perang, hakim agung, guru besar — berkata pada seorang perempuan biasa yang punya keluhan: pilih jalan mana saja di kota ini, aku akan duduk di sebelahmu untuk mendengarkan. Dan riwayat dalam Muslim menambahkan: beliau memang duduk dengannya di pinggir jalan sampai keluhannya selesai disampaikan. Untuk menjaga kerahasiaan perempuan itu, beliau memilih jauh dari keramaian — agar tidak ada yang mendengar urusannya selain beliau.
Bukan hanya itu. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, Nabi ﷺ biasa menjenguk orang sakit. Menghadiri pemakaman. Menunggang keledai. Memenuhi undangan budak. Di hari penaklukan Bani Quraizhah — saat beliau memimpin pasukan — beliau menunggang keledai dengan kekang dari serat kurma. Pelana keledai itu juga dari serat. Bukan kuda perang yang gagah; keledai sederhana yang lazim dimiliki rakyat biasa.
Anas juga meriwayatkan, Nabi ﷺ pernah diundang makan roti gandum kasar dan lemak basi yang sudah lama. Beliau memenuhi undangan itu. Tidak menolak dengan alasan menu tidak layak. Dan diriwayatkan, baju besi beliau pernah tergadai di seorang Yahudi untuk membeli makanan keluarga, dan baju besi itu belum sempat beliau tebus sampai beliau wafat. Seorang nabi besar Allah, panglima yang menaklukkan Jazirah Arab, wafat dengan harta pribadi tergadai untuk kebutuhan dapur. Tidak ada warisan harta yang ditinggalkannya — yang beliau wariskan adalah ilmu dan akhlak.
Anas berkata, "Tidak ada orang yang lebih mereka cintai daripada Rasulullah ﷺ. Tetapi kalau mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri — karena mereka tahu beliau membenci hal itu."
Mereka tahu. Cinta mereka pada beliau begitu dalam — tetapi cinta itu mereka tunjukkan dengan tidak berdiri, justru karena beliau tidak mau dihormati seperti itu. Beliau tidak ingin penghormatan yang menjadikan dirinya berbeda dari mereka. Beliau ingin tetap menjadi bagian dari mereka. Innama ana 'abdun — aku hanyalah hamba.
Dalam riwayat panjang Hind bin Abi Hala — saudara tiri Nabi ﷺ — tentang adat keseharian beliau, dikatakan: "Beliau membagi waktunya menjadi tiga bagian: sebagian untuk Allah, sebagian untuk keluarga, sebagian untuk dirinya sendiri. Lalu sebagian untuk diri itu beliau bagi lagi antara dirinya dan manusia. Beliau utamakan ahli keutamaan untuk masuk menemuinya. Beliau bagi waktu berdasarkan keutamaan mereka dalam agama — ada yang punya satu kebutuhan, ada yang dua, ada yang lebih. Beliau temani satu per satu sampai semua selesai."
Dan ini yang paling menggetarkan: "Beliau berkata: 'Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Sampaikan kepadaku kebutuhan orang yang tidak mampu menyampaikan sendiri. Karena barangsiapa menyampaikan kepada penguasa kebutuhan orang yang tidak mampu menyampaikannya sendiri, Allah akan mengokohkan kakinya di hari kiamat.'"
Itu Sang Pemimpin. Itu standar nubuwwah. Bukan pemimpin yang sibuk merancang citranya; pemimpin yang sibuk meratakan akses untuk orang yang paling lemah suaranya.
Pelajaran
Pekan ini kita melihat banyak nama dipanggil, banyak pejabat disorot, banyak slogan dibacakan. Tetapi gambar Rasulullah ﷺ yang dihimpun at-Tirmidzi ini adalah satu set kaca pembanding untuk semua kekuasaan, di mana pun, kapan pun. Pemimpin yang dirindukan umat bukan yang konvoi kendaraannya panjang. Pemimpin yang dirindukan umat adalah yang sedia duduk di pinggir jalan untuk mendengarkan keluhan satu ibu yang tidak punya kuasa apa-apa. Yang baju besinya tergadai bukan karena gengsi tetapi karena urusan rakyat lebih penting dari kemewahan pribadi. Yang membenci pujian melampaui batas karena tahu, pujian seperti itu adalah racun yang membusukkan jiwa pemimpin. Kita boleh berharap pada perbaikan struktural di luar; tetapi setiap kali kita merasa lelah, kembalilah ke gambar ini — Nabi ﷺ menunggang keledai sederhana, makan roti gandum kasar, duduk di pinggir jalan untuk perempuan biasa. Itu kompas yang tidak pernah patah.
Sumber Asli
Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم
313- حدثنا أحمد بن منيع وسعيد بن عبد الرحمن المخزوميّ وغير واحد قالوا- حدثنا سفيان بن عيينة عن الزّهريّ عن عبيد الله عن ابن عباس عن عمر بن الخطاب قال-: «قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تطروني كما أطرت النّصارى ابن مريم إنّما أنا عبد فقولوا: عبد الله ورسوله».
314- حدثنا عليّ بن حجر. حدثنا سويد بن عبد العزيز عن حميد عن أنس بن مالك رضي الله عنه: «أن امرأة جاءت الى النبيّ صلى الله عليه وسلم فقالت له: إنّ لي اليك حاجة. فقال: اجلسي في أيّ طريق المدينة شئت أجلس إليك».
315- حدثنا عليّ بن حجر. حدثنا عليّ بن مسهر عن مسلم الأعور عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعود المريض ويشهد الجنائز ويركب الحمار ويجيب دعوة العبد. وكان يوم بني قريظة على حمار مخطوم بحبل من ليف وعليه إكاف من ليف».
316- حدثنا واصل بن عبد الأعلى الكوفي. حدثنا محمد بن فضيل عن الأعمش عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: «كان النّبيّ صلى الله عليه وسلم يدعى إلى خبز الشعير والإهالة السّنخة فيجيب. ولقد كان له درع عند يهوديّ فما وجد ما يفكّها حتى مات».
