بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja melewati gelombang demo mahasiswa dan kabar penambahan tersangka pada kasus korupsi program makan anak sekolah, ada satu pertanyaan yang ingin saya bagikan malam ini: sejauh mana kita sebagai jamaah masih percaya bahwa amanah itu nyata, bukan sekadar kata yang dicetak di poster?
Saya bertanya bukan untuk membuat kita putus asa. Saya bertanya supaya kita berhenti sebentar, dan mengukur ulang diri kita masing-masing. Karena seringkali, kita yang berkomentar paling keras di media sosial tentang amanah pejabat, justru lupa pada amanah-amanah kecil yang dititipkan kepada kita sendiri — amanah uang kembalian, amanah jam kerja, amanah barang pinjaman, amanah rahasia tetangga, amanah pesan yang dikirim oleh seseorang.
Mari kita dengar firman Allah yang sangat singkat tetapi sangat tajam — QS. Al-Fajr: 11:
ٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ
"Yang berbuat sewenang-wenang di negeri ini." (QS. Al-Fajr: 11)
Ayat ini, jamaah, muncul dalam rangkaian peringatan Allah terhadap kaum-kaum yang dibinasakan-Nya — 'Ad, Tsamud, Fir'aun. Allah menghancurkan mereka bukan karena mereka kafir saja; banyak kaum kafir tetapi Allah tidak menghancurkan mereka langsung. Yang membuat takdir kehancuran turun lebih cepat adalah satu hal: thaghaw fil-bilad — sewenang-wenang dalam negeri. Yaitu memakai kuasa untuk menyakiti rakyatnya sendiri. Yaitu mengambil yang bukan haknya. Yaitu menahan keadilan dari yang berhak.
Sekarang mari kita bawa ayat ini ke kondisi pekan ini. Kabar yang sampai ke kita pekan ini, tersangka kelima dalam kasus korupsi program Makan Bergizi Gratis ditetapkan oleh aparat penegak hukum. Program ini, jamaah, sudah berjalan delapan belas bulan. Dirancang untuk mengisi piring anak SD di kabupaten jauh. Dipromosikan ke publik sebagai bentuk kepedulian negara. Tetapi di dalamnya, ternyata ada lapisan-lapisan oknum yang menukar amanah ini dengan kemewahan pribadi. Bukankah itu thaghaw fil-bilad dalam bentuk yang paling halus? Mengambil dari piring anak yang sedang lapar. Tidak ada bentuk kesewenangan yang lebih menyakitkan dari itu.
Tetapi saya tidak ingin malam ini kita hanya prihatin pada kasus besar. Karena ayat ini juga berbicara tentang kita. Coba kita tanya diri sendiri — di tempat saya bekerja, apakah saya pernah mengambil yang bukan hak saya? Print pribadi pakai printer kantor, jam istirahat memanjang seenak hati, gaji penuh untuk pekerjaan setengah. Di rumah, apakah saya adil pada anak-anak saya, atau saya hanya merasa adil karena saya yang punya otoritas? Di RT, apakah saya bayar iuran tepat waktu sebagaimana saya menuntut tetangga lain bayar? Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri kita, tetapi untuk menyadarkan: thaghaw tidak hanya milik pejabat tinggi. Ia adalah penyakit hati yang bisa bercokol di siapa saja yang punya sedikit kuasa atas siapa saja yang lebih lemah dari dirinya.
Mari kita dengar satu hadits dari Sahih Muslim 4782 — sebuah riwayat panjang di mana sahabat Salamah bin Yazid al-Ju'afi bertanya kepada Rasulullah ﷺ: "Wahai Nabi Allah, bagaimana jika kami punya penguasa yang menuntut kewajiban kami sedangkan mereka sendiri tidak memenuhi kewajiban mereka kepada kami?" Pertanyaan yang sangat relevan dengan keadaan kita pekan ini, bukan? Nabi ﷺ pada mulanya enggan menjawab; tetapi setelah ditanya berulang kali, beliau memberi prinsip bahwa kita tetap menjalankan kewajiban kita, dan biarkan setiap pemimpin mempertanggungjawabkan kewajibannya kepada Allah. Bukan diam mutlak — tetapi tetap setia pada bagian kita, sambil percaya bahwa Allah tidak akan membiarkan pengkhianatan amanah lolos dari mizan-Nya.
Jamaah yang saya hormati, sebagian kita pekan ini mungkin sedang tergoda untuk masuk ke arus kemarahan media sosial. Setiap hari ada saja postingan baru yang menggugah amarah — ada yang valid, ada yang berlebihan, ada yang murni fitnah. Kita harus berhati-hati. Karena yang dirusak oleh kemarahan tidak hanya orang yang kita marahi; yang lebih dulu rusak adalah hati kita sendiri. Marah yang lurus dalam Islam adalah marah pada kemungkaran sebagai prinsip, bukan kemarahan personal pada individu yang kita tidak kenal. Nabi ﷺ tidak pernah memaki orang per orang ketika beliau mengkritik praktik kaum musyrikin; beliau menyerang praktik, bukan pribadi.
Saudara-saudara seiman, ada satu sudut yang lebih dalam yang ingin saya bagikan. Setiap kali kita melihat tersangka korupsi disorot oleh media — siapapun dia, dari mana pun dia — yang Allah ingin kita renungkan bukan kepuasan untuk menggumpalkan kemarahan; melainkan pelajaran agar kita sendiri tidak terjebak dalam jalur yang sama. Siapa yang tahu, ujian harta yang Allah uji pada kita di masa depan bisa jadi lebih besar. Kalau hari ini kita ditawari posisi yang ada celah untuk menyimpang sedikit — apakah kita akan teguh? Kalau hari ini ada amplop yang dikirim untuk kemudahan urusan — apakah kita akan menolak? Inilah saatnya kita melatih kepekaan, supaya bukan hanya pejabat yang harus belajar, tetapi kita juga belajar dari kejadian-kejadian ini sebelum giliran kita tiba.
Lalu apa yang harus kita lakukan setelah pulang dari shalat malam ini, jamaah? Saya tawarkan tiga tindakan riil. Pertama, mari kita cek satu amanah kecil yang sedang kita tunda di rumah — utang yang belum dilunasi, janji yang belum ditepati, barang pinjaman yang belum dikembalikan. Selesaikan satu malam ini juga. Kedua, kalau kita aktif di media sosial, mari kita berhenti menyebar konten yang belum kita verifikasi tentang kasus korupsi atau demo mahasiswa — apapun afiliasi politik kita. Tidak menyebar berita yang belum jelas adalah salah satu bentuk amar ma'ruf yang paling sering dilupakan. Ketiga, doakan negeri ini sebelum tidur — sebut secara khusus nama pemimpin kita, mahasiswa yang sedang menyuarakan, dan juga anak-anak yang menjadi sasaran program-program negara — supaya Allah perbaiki semuanya.
Sebagai penutup, saudara-saudara, ingat satu hal: Allah tidak butuh kita untuk menghakimi orang lain. Allah ingin kita menjaga amanah kita sendiri terlebih dahulu. Karena di hari ketika as-sa'i ya'tihi sa'yuhu — setiap jiwa datang membawa amalnya sendiri — tidak ada satu pun pejabat yang akan menggendong dosa kita di pundaknya, dan tidak ada satu pun rakyat yang akan menanggung amanah kita di tempat kita. Mari mulai dari diri sendiri pekan ini.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَمَانَاتِنَا، وَأَصْلِحْ نِيَّاتِنَا، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الظُّلْمِ وَالطَّمَعِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَّقُوْنَ اللهَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، وَفِيْ كُلِّ كَلِمَةٍ، وَفِيْ كُلِّ خُطْوَةٍ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا مِنْ كُلِّ خَائِنٍ، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَارْحَمْ فُقَرَاءَنَا، وَوَسِّعْ أَرْزَاقَ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
