Di pekan ketika kabar dari dunia pendidikan kita ramai oleh luka — guru dihina, dosen dipecat, mahasiswa diintimidasi — ada baiknya kita kembali ke generasi pertama yang mendefinisikan ulang arti belajar. Imam Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah dalam Hayatus Shahabah — Bab Hijrah, fasal "Al-Ihtimām bi at-Ta'līm fī al-Jihād" menghimpun riwayat tentang bagaimana Allah, di tengah perintah untuk mengangkat senjata, justru mengingatkan umat agar tidak meninggalkan kelas.
Para sahabat duduk di Madinah. Saat itu masih awal. Wahyu turun bertahap. Rasulullah ﷺ baru saja membangun masyarakat Madinah dari nol. Ada yang baru hijrah dari Mekkah, ada yang penduduk asli Madinah yang masuk Islam, ada yang masih malu-malu beriman.
Lalu datang perintah berperang. Bukan sekali, berkali-kali. Allah menurunkan ayat: "Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan ringan maupun berat."
Dan sahabat-sahabat itu — mereka yang sebagian besar belum lama mengenal Islam — bersiap. Pedang diasah. Kuda disiapkan. Anak-anak istri dititipkan ke keluarga. Mereka berangkat dengan satu niat: berjuang di jalan Allah.
Tetapi suatu hari, ayat ini turun:
وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
"Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Tawbah: 122)
Sahabat-sahabat berhenti sejenak. Ayat ini terasa berbeda. Sebelumnya, semua diminta berangkat. Sekarang Allah berkata: tidak semuanya. Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma kemudian menerangkan: "Sebelumnya Allah menurunkan: 'Ambillah kehati-hatianmu, lalu berangkatlah berkelompok atau berangkatlah semuanya.' Dia juga berfirman: 'Berangkatlah, dalam keadaan ringan dan berat.' Dan: 'Jika kalian tidak berangkat, Allah akan menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih.' Lalu ayat-ayat ini di-nasakh dengan ayat ini." Allah mengubah perintah. Tidak semua harus berangkat ke medan.
Sebagian dari mereka harus tinggal. Untuk apa? Untuk belajar. Untuk tafaqquh fī ad-dīn — memperdalam ilmu agama. Lalu setelah saudara-saudara mereka pulang dari medan, mereka yang tinggal di Madinah akan mengajarkan kepada saudara-saudara mereka yang baru kembali, sehingga seluruh umat menjadi tahu — bukan hanya yang bertempur.
Sahabat-sahabat menyadari sesuatu yang besar pada hari itu. Bahwa di tengah ujian yang paling berat — bahkan di tengah ancaman fisik atas eksistensi umat — Allah tetap menempatkan belajar sebagai pekerjaan yang tidak boleh terhenti. Tidak ada yang lebih darurat daripada perang. Tetapi Allah berkata: bahkan dalam perang, harus ada yang tetap duduk di majelis ilmu.
Beberapa pemuda Madinah yang sebelumnya bersiap berangkat lalu turun dari pelana. Mereka kembali ke Masjid Nabawi, duduk di Suffah, membuka kembali catatan-catatan mereka tentang sabda Nabi ﷺ. Pedang dilepas. Pena diambil. Dan mereka belajar — sambil mendengar dari kejauhan denyut perjuangan saudara-saudara mereka di medan.
Inilah yang Allah maksud: dua sayap. Sayap yang berperang dan sayap yang belajar. Dua-duanya jihad. Dua-duanya wajib. Dua-duanya tidak boleh dipisahkan.
Riwayat Ibn Abbas yang dikumpulkan al-Baihaqi ini menjadi salah satu fondasi pemahaman umat tentang fiqh ad-dakwah — bahwa di setiap zaman, harus ada yang menjaga obor ilmu, sebagaimana di setiap zaman harus ada yang menjaga benteng umat.
Pelajaran
Kisah ini menyentuh inti pertanyaan kita pekan ini. Di tengah berita yang panas tentang pendidikan — guru yang dihina, dosen yang dipecat, mahasiswa yang ditekan — kita yang tinggal di rumah, di kompleks, di kantor, kadang merasa diri kita tidak melakukan apa-apa. Kita merasa "yang penting" adalah orang-orang di garda depan. Tapi kisah para sahabat ini mengatakan sebaliknya. Yang tinggal untuk belajar dan mengajarkan juga ada di garda depan — garda yang berbeda, tetapi sama-sama vital. Pendidikan adalah benteng yang tidak boleh kosong meski seluruh badai sosial melanda. Setiap kali kita mengajak anak kita duduk membuka Al-Qur'an, setiap kali kita mengingatkan tetangga tentang adab, setiap kali kita mendukung guru honorer dengan amplop kecil, kita sedang menjadi thā'ifah yang Allah sebut dalam ayat ini — kelompok yang tidak boleh ditarik ke medan lain karena perannya menjaga rantai ilmu. Pekan ini, jangan merasa kecil — yang Anda lakukan di ruang tamu rumah Anda mungkin saja jadi pekerjaan paling penting di lingkungan Anda.
Sumber Asli
Hayatus Shahabah — الباب الرابع باب الهجرة / الإهتمام بالتعليم في الجهاد
حياة الصحابة والبزار؛ ورجال أحمد رجال الصحيح. انتهى. وقد تقدم (ص 277) دعاؤه صلى الله عليه وسلم بعد فراغه من عرض الدعوة على أهل الطائف في «تحمُّل النبي صلى الله عليه وسلم الشدائد والأذى في الدعوة إلى اا» . الإهتمام بالتعليم في الجهاد في سبيل الله قول ابن عباس في معنى الآية {وما كان المؤمنون لينفروا كافة} أخرج البيهقي عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال الله تبارك وتعالى: {خذوا حذركم فانفروا ثبات أو أنفروا جميعا} وقال: {أنفروا خفافا وثقالا} وقال: {إِلاَّ تَنفِرُواْ يُعَذّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا} ، ثم نسخ هذه الآيات
