Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPendidikan & SDMKamis, 18 Juni 2026

Kultum — "Allah Pengajar, Rumah Madrasah Pertama"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, pekan ini sebuah video pendek menjadi titik luka dalam percakapan publik kita: seorang pejabat dinas terlihat menghina besaran gaji guru honorer. Sebagian dari kita menonton video itu sambil terdiam, tidak tahu harus tertawa atau menangis. Anak-anak kita kemudian bertanya ke kita malam itu: "Mama, papa, kalau gaji guru ngajinya saja segitu, kenapa kita selalu bilang guru itu mulia?"

Pertanyaan polos itu sebenarnya pertanyaan yang harus kita renungkan bersama. Mari kita kembali ke ayat yang sederhana tapi menggetarkan.

QS. Al-Alaq: 5

عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

"Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."

Ayat ini, jamaah, adalah ayat ketiga dari wahyu pertama yang turun kepada Nabi ﷺ. Sebelum hukum, sebelum ibadah ritual, sebelum aqidah dijelaskan dengan detail — yang pertama Allah sebut adalah aksi mengajar. Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Pengajar. Maka setiap manusia yang ikhlas mengajarkan ilmu yang benar — apakah dia guru sekolah, guru ngaji, dosen, ibu yang mengajarkan akhlak ke anak, atau kakak yang mengajari adik membaca Iqra — sedang melanjutkan sifat ilahi yang paling pertama disebut dalam wahyu.

Pekan ini, jamaah, ada dua kabar yang sampai ke kita tentang dunia pendidikan. Pertama yang tadi saya sebut, soal pejabat yang menghina gaji guru honorer. Kedua, kabar pemecatan seorang dosen di Yogyakarta yang dilaporkan setelah ia menggugat dugaan publikasi jurnal predator. Dua kabar yang berbeda, tetapi satu benang: orang-orang yang menyalakan obor ilmu sedang dilukai. Yang pertama dilukai harga dirinya. Yang kedua dilukai posisinya. Kita yang jauh dari kejadian itu sering merasa, "ya tapi itu urusan mereka, urusan kementerian, urusan kampus." Padahal sebenarnya, jamaah, itu urusan kita semua. Setiap kali seorang guru dipermalukan dan kita diam, kita sedang mengajari anak kita bahwa ilmu boleh dipandang murah. Setiap kali seorang pelapor integritas diisolasi dan kita tidak peduli, kita sedang mengajari anak kita bahwa berani jujur itu mahal harganya — dan diam-diam mereka menyimpulkan: lebih baik tutup mulut.

Saudara-saudara sekalian, mari kita simak satu peringatan Allah yang keras. Allah berfirman tentang orang-orang yang dititipi ilmu tapi salah memakainya:

QS. At-Tawba: 34

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلْأَحْبَارِ وَٱلرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah."

Ayat ini turun untuk komunitas tertentu di masanya. Tetapi pelajaran moralnya menggema sampai sekarang. Allah mengingatkan: ilmu itu pisau bermata dua. Bila dititipkan kepada hati yang lurus, ia menyalakan jalan Allah. Bila dititipkan kepada hati yang serakah, ia menjadi alat untuk menggemukkan diri sendiri dan mengisolasi yang bersuara benar. Maka kita yang berdiri di luar arena harus memilih sisi: kita mau berdiri di sisi mana? Pekan ini, sisinya jelas — di sisi guru yang gajinya dihina, di sisi dosen yang melapor jurnal predator, di sisi mahasiswa yang menguji gagasan dengan dalil, di sisi pesantren yang berani membersihkan rumahnya sendiri.

Tetapi, jamaah, mari kita jaga adab dalam berdiri di sisi ini. Membela bukan berarti membakar. Mendukung pelapor bukan berarti menghakimi terlapor sebelum proses tuntas. Membela martabat guru bukan berarti memaki pejabat yang melontarkan kalimat itu — kita tetap doakan supaya beliau diberi cahaya hati untuk menyesali dan memperbaiki. Inilah dakwah yang dewasa: jujur soal masalah, lembut soal manusia. Membenci perbuatan, tidak membenci orang yang berbuat. Karena yang berbuat juga manusia yang bisa berubah — selama kita masih percaya pada kuasa hidayah Allah.

Saudara-saudara sekalian, mari kita masuk ke refleksi yang lebih dalam. Kalau Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Pengajar, maka rumah kita seharusnya menjadi sekolah pertama anak-anak kita. Bukan sekolah formal — sekolah akhlak. Sekolah cara berbicara. Sekolah cara memperlakukan orang lemah. Sekolah cara menyikapi keadilan dan ketidakadilan. Pertanyaannya, jamaah: hari ini, apakah anak kita lebih sering belajar akhlak dari kita, atau dari HP yang ada di tangan mereka? Inilah pertanyaan yang sering kita hindari. Karena jawabannya, mungkin, membuat kita tidak nyaman.

Pekan ini juga ramai diskursus tentang anak-anak SD-SMP yang konten medsosnya membuat kita terhentak. Bukan kebetulan ini muncul beriringan dengan diskursus tentang pendidikan. Akar persoalannya satu: anak kita sedang belajar — dari siapa saja yang sempat hadir di hadapan mereka. Kalau yang hadir setiap malam adalah HP, maka HP-lah guru paling lama mereka. Lalu kita, orang tua, kemudian heran kenapa anak kita tahu lagu viral lebih banyak daripada surah pendek. Karena memang itu yang kita biarkan terjadi.

Maka tugas kita pekan ini, jamaah, ada tiga. Pertama, mulai malam ini, kembalikan satu jam di rumah sebagai jam belajar bersama anak — bukan jam ngomel kalau nilainya jelek, tapi jam duduk bersama membaca, mengaji, atau bercerita. Kedua, cari satu guru ngaji atau guru honorer di lingkungan kita dan ucapkan terima kasih langsung. Bawa amplop kecil bila bisa, bawa makanan bila tidak. Yang penting tatap mata, ucapkan terima kasih. Ketiga, kalau di tempat kerja kita ada rekan yang sedang melaporkan ketidakberesan dan dia mulai sendirian — jangan ikut menjauh. Kirim pesan singkat, tawarkan dengar curhat, atau tinggal di sampingnya saat rapat. Itu sudah dakwah.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ أَوْلَادِنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْنَا لَهُمْ قُدْوَةً حَسَنَةً. اَللّٰهُمَّ بَارِكْ فِيْ مُعَلِّمِيْنَا وَمَنْ يُعَلِّمُ أَوْلَادَنَا، وَارْفَعْ دَرَجَاتِهِمْ، وَيَسِّرْ أُمُوْرَهُمْ، وَاجْزِهِمْ خَيْرَ الْجَزَاءِ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ مَنْ يَقُوْلُ الْحَقَّ، وَكُنْ مَعَ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ غَيْرَكَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan