Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumSosial & KeluargaKamis, 18 Juni 2026

Kultum — "Akad Bukan Kelakar, Pagar Mulai Dari Dapur"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ سَكَنًا، وَجَعَلَ بَيْنَ النَّاسِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ خَيْرُ مَنْ رَحِمَ الْأَطْفَالَ وَأَحْسَنَ إِلَى أَهْلِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, malam ini kita kumpul setelah sholat untuk sebentar saja — sekitar sepuluh menit. Pekan yang baru kita lewati ramai sekali oleh sindiran tajam tentang pernikahan. Ada postingan yang menertawakan ekspektasi keluarga, ada postingan yang menyebut nikah bukan jawaban masalah, ada pula yang sebaliknya — mengglorifikasi single life sebagai jalan bahagia. Mungkin sebagian dari kita pernah membacanya. Saya ingin sebentar saja mengajak kita semua merenung tentang satu hal: apakah kita pernah memperlakukan nikah sebagai kelakar?

Rasulullah ﷺ memperingatkan kita lewat hadits yang dimuat dalam Bulugh al-Maram 1252:

ثَلَاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ: النِّكَاحُ، وَالطَّلَاقُ، وَالرَّجْعَةُ

"Ada tiga perkara yang, baik dilakukan dengan serius maupun bercanda, tetap dianggap serius: pernikahan, perceraian, dan merujuk kembali istri setelah perceraian yang belum final."

Tiga perkara ini disebut khusus oleh Rasulullah ﷺ karena ketiganya menyangkut dua manusia yang akan memiliki hak satu sama lain di hadapan Allah. Pernikahan — bukan sekadar event yang foto-fotonya akan diunggah ke Instagram. Perceraian — bukan sekadar ancaman saat marah. Rujuk — bukan sekadar drama emosional. Ketiganya, kata Nabi ﷺ, kalau diucapkan main-main pun, tetap dihitung serius oleh syariat.

Jamaah yang saya hormati, mari kita ukur diri sendiri. Pernah tidak kita main-main melempar kata "cerai" saat berantem dengan pasangan? Pernah tidak kita meremehkan akad nikah orang lain karena alasan-alasan yang seharusnya tidak menjadi alasan? Pernah tidak kita menjadikan rumah tangga orang sebagai bahan obrolan di warung kopi? Kalau pernah, mari pekan ini kita istighfar — bukan karena dosanya kecil, tapi karena Rasulullah ﷺ mengajari kita ada hal-hal yang tidak boleh diperlakukan dengan tangan ringan.

Saya teringat ragam cerita kekerasan rumah tangga yang ramai dibicarakan pekan ini di lini masa — perempuan-perempuan yang merasa bukti kerentanannya sulit didengar di rumah sendiri, lalu memilih menulis ke ruang publik karena di rumahnya tidak ada yang mendengar. Kita tidak tahu detail setiap kasus, kita tidak boleh menghakimi. Tapi kita boleh bertanya: kalau saudari kita yang seperti itu, ke mana dia akan datang? Apakah masjid kita siap menjadi pintu pertamanya? Apakah ada ustadzah di kompleks yang bisa dihubungi? Apakah ada keluarga muslim yang siap menampung tanpa mengintimidasi? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan teori — ini tugas kita yang konkret pekan ini.

Mari kita angkat satu hadits lagi dari Sahih Muslim 768. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

"Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain."

Mungkin kita mendengar hadits ini sering kali, tapi malam ini saya minta kita merenung sebentar. Mengapa Rasulullah ﷺ membangun pagar yang sangat awal — bahkan antara sesama laki-laki, bahkan antara sesama perempuan? Karena beliau tahu manusia itu lemah. Sekali pagar dilonggarkan, terus akan lebih longgar. Sekali batas dianggap remeh, terus akan lebih sepele. Kalau di rumah kita, kakak-adik tumbuh tanpa adab pandangan, jangan kaget kalau ketika mereka remaja, mereka kesulitan menjaga diri di luar rumah. Pagar fitrah dibangun dari dapur, bukan dari papan tulis.

Pekan ini, kita juga membaca diskursus tentang kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus dan kabar viral perilaku tak senonoh di ruang publik. Saya tidak ingin membahas detailnya — itu bagian masalahnya: konten seperti itu seharusnya tidak menjadi tontonan. Yang penting kita renungkan: anak-anak yang kita kirim ke sekolah pagi-pagi itu sedang tumbuh di dunia yang menggoda mereka setiap saat. Apakah di rumah mereka mendapat bekal yang cukup untuk melawan godaan itu? Bukan ceramah panjang — bekal sederhana: kebiasaan membaca Quran, kebiasaan menutup HP saat makan, kebiasaan bertanya kepada orang tua tanpa takut dimarahi. Anak yang punya bekal ini tidak otomatis suci dari godaan — tetapi mereka punya jangkar untuk pulang.

Refleksi yang lebih dalam, jamaah yang saya hormati: kerapuhan rumah kita sering bukan karena masalah yang besar, melainkan karena ribuan keputusan kecil yang tidak kita audit. Sebuah kata kasar di pagi hari. Sebuah pesan yang kita biarkan tidak dijawab. Sebuah malam ketika kita lebih asyik dengan layar daripada dengan anak. Sebuah doa yang kita lewatkan. Akumulasi kecil-kecil itu, dalam setahun-dua tahun, membentuk celah yang besar. Setan tidak masuk lewat pintu utama; dia masuk lewat retakan kecil yang kita kira tidak apa-apa.

Apa yang harus kita lakukan setelah pulang dari sholat malam ini? Tiga hal sederhana saja. Pertama, sebelum tidur, ucapkan satu kalimat baik kepada pasangan — sekadar terima kasih, sekadar minta maaf kalau ada salah. Bukan untuk pasangannya — untuk diri kita sendiri, supaya kita tidur dalam keadaan hati tidak mengerasi orang lain. Kedua, besok pagi, ajak satu anak (atau adik kalau belum punya anak) bicara lima menit tentang sesuatu yang dia suka, tanpa interupsi, tanpa nasihat. Lima menit yang mengirim pesan: "saya ada untukmu." Ketiga, mulai pekan ini, kalau ada saudari kita di lingkungan yang sedang terluka — jangan menunggu dia minta tolong. Datangi. Tanyakan kabar. Bahkan kalau dia menolak bicara, kehadiran kita memberitahu dia bahwa pintu masih terbuka.

Mari kita tutup. Rumah yang sehat bukan rumah yang ramai oleh nasihat, melainkan rumah yang penuh oleh telinga yang mendengarkan. Pekan ini, mari kita pulang dengan satu komitmen: lebih banyak diam dan mendengar, lebih sedikit memberi nasihat sebelum diminta.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَزْوَاجَنَا، وَأَوْلَادَنَا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا قِطْعَةً مِنَ الْجَنَّةِ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَاحْفَظْ مَنْ نُحِبُّ، اَللّٰهُمَّ مَنْ كَانَ مَظْلُوْمًا فِيْ بَيْتِهِ فَفَرِّجْ كَرْبَهُ، وَمَنْ كَانَ ظَالِمًا فَاهْدِهِ وَرُدَّهُ إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيْلًا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan