Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatTeknologi & AIKamis, 18 Juni 2026

Khutbah Jumat — "Amanah HP yang Gunung pun Enggan"

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ، وَجَعَلَ لَهُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لِيَشْكُرُوْا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Marilah kita mulai khutbah pekan ini dengan satu ayat yang sangat berat — ayat yang menjelaskan kenapa setiap genggaman kita atas alat yang berkuasa, mulai dari pena sampai HP, tidak pernah sederhana.

إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًۭا جَهُولًۭا

Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Ahzaab: 72 — "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh."

Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikan satu hal dalam ayat ini yang sering kita lewatkan. Allah menggambarkan langit, bumi, dan gunung — tiga ciptaan yang massanya jauh lebih besar dari kita, yang umur geologisnya jauh lebih panjang dari sejarah manusia. Semua benda raksasa itu enggan memikul amanah. Mereka tahu betapa berat tanggung jawab itu, dan mereka memilih mundur. Yang akhirnya menerima amanah adalah manusia — makhluk yang oleh Allah sendiri disifati sebagai zhalūm jahūl, amat zalim dan amat bodoh. Bukan karena Allah memandang rendah kita; ayat ini justru mengingatkan kita bahwa amanah yang ada di pundak kita lebih berat dari berat fisik gunung-gunung di luar sana.

Dari berita pekan ini kita ketahui, jamaah, bahwa diskursus tentang teknologi di Indonesia tidak lagi diisi oleh perdebatan tentang riset komputasi atau regulasi data — ia diisi oleh diskursus tentang anak-anak yang terpapar konten yang tidak pantas di platform pendek, oleh percakapan tentang keluarga muda yang berantakan akibat jeratan judi online di tengah tekanan ekonomi, oleh keluhan tentang konten viral yang tidak mendidik tetapi disebar berkali-kali oleh tangan kita sendiri. Ramai diperbincangkan pekan ini juga peran ulama di era kecerdasan buatan — bagaimana seharusnya da'i memakai alat-alat baru ini, di mana batasnya, kapan AI menjadi pembantu yang baik dan kapan ia menjadi pengganti guru yang berbahaya.

Hadirin yang dirahmati Allah, semua kabar ini adalah serpihan dari satu pertanyaan besar yang sama: bagaimana manusia menjaga amanah ketika alat yang ia genggam berkuasa lebih dari yang ia bayangkan? HP di tangan kita hari ini bukan hanya benda elektronik. Ia adalah kunci ke perpustakaan dunia, sekaligus kunci ke pasar gelap dunia. Ia adalah jendela ke ilmu, sekaligus jendela ke fitnah. Ia adalah dompet, kamera, mikrofon, papan tulis, ruang ibadah, dan jalan ke neraka — semuanya dalam satu benda yang muat di saku. Inilah amanah teknologi yang Allah letakkan di tangan generasi kita. Dan kita pikul dengan ringan, seringkali tanpa kesadaran.

Mari kita ingat sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dalam Riyad as-Salihin 1417 dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu — Beliau ﷺ menubuatkan bahwa amanah turun ke akar hati manusia, lalu pelan-pelan dicabut sehingga di akhir zaman manusia berkata "fulan dapat dipercaya" walau sebenarnya tidak ada lagi setitik iman di hatinya. Pencabutan amanah, kata Nabi ﷺ, bukan dengan letusan keras. Ia datang ketika seseorang "tertidur sejenak", lalu amanah diambil dari hatinya seperti debu di tapak kakinya — bekasnya ada, isinya hilang. Inilah peringatan untuk kita yang hidup di era ketika "tidur" tidak hanya berarti tidur fisik. Kita "tertidur" ketika scroll dua jam tanpa sadar. Kita "tertidur" ketika menyebar konten tanpa tabayyun. Kita "tertidur" ketika menyerahkan anak kepada layar tanpa dampingan. Amanah yang dipikul manusia di QS. Al-Ahzaab: 72 sedang dicabut diam-diam dari hati banyak orang — bukan oleh musuh dari luar, tetapi oleh ketidak-sadaran kita sendiri.

Lihatlah, jamaah, bagaimana ayat ini berbicara langsung pada zaman kita. Kalau manusia disifati zhalūm jahūl dalam memikul amanah, maka HP yang kita pegang adalah ujian amanah paling intensif yang pernah ada dalam sejarah. Dulu, untuk berbuat zhalim, seseorang harus berjalan kaki ke pasar dan mengurangi takaran. Hari ini, satu klik di tengah malam bisa menyebarkan fitnah ke ribuan orang. Dulu, untuk mengakses konten yang merusak akhlak, seseorang harus pergi ke tempat tertentu. Hari ini, anak sembilan tahun bisa menemukannya hanya dengan menggeser ibu jari. Dulu, untuk menjadikan judi sebagai kebiasaan, seseorang harus rajin pergi ke tempat tertentu. Hari ini, kerusakan itu masuk ke kamar tidur lewat aplikasi yang terpasang di HP suami yang istrinya tertidur di sampingnya. Inilah zaman ketika amanah yang dipikul manusia berlipat-lipat beratnya, karena pengaruh setiap tindakan kecil membesar dengan teknologi.

Allah Ta'ala juga berfirman dalam QS. At-Tawba: 34 — "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah."

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلْأَحْبَارِ وَٱلرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ

Ayat ini, jamaah, sering kita baca dalam konteks korupsi pejabat agama di umat terdahulu. Tetapi di zaman kita, ia berlaku juga atas siapa pun yang memakai pengaruhnya — termasuk pengaruh digital — untuk mengambil harta orang lain dengan jalan batil. Platform judi online, jeratan pinjaman online berbunga tinggi, skema piramida berkedok investasi syariah, akun-akun yang menjual harapan palsu kepada orang yang ekonominya rapuh — semuanya adalah variasi dari pola lama yang Allah ingatkan dalam ayat ini. Dan kita, kalau diam saja melihat tetangga jatuh ke jeratan ini, sebagian dari kediaman kita adalah kediaman yang menghalangi orang lain dari jalan Allah, karena keuangan yang hancur sering kali menyeret iman ikut hancur.

Hadirin yang dimuliakan Allah, dalam riwayat Bulugh al-Maram 1469 dari 'Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda — "Janganlah kalian berkhianat, karena ghulul akan seperti api bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya dan menjadi sebab kehinaan bagi pelakunya di dunia dan di akhirat." Hadits ini berbicara tentang khianat pada harta rampasan perang, tetapi prinsipnya jauh lebih luas: setiap pengambilan yang tidak sah, baik dari kas negara, dari dompet tetangga, dari waktu produktif jamaah yang kita sedot ke konten yang sia-sia, atau dari masa depan keluarga yang habis di meja judi — semua itu ghulul dalam bentuk baru. Dan Nabi ﷺ memberi peringatan keras: ia menjadi api dan kehinaan di dunia dan akhirat. Pekan ini kita melihat bayangannya di setiap kabar tentang keluarga yang berantakan karena gawai yang tidak dijaga.

Mari kita pikirkan, jamaah, kisah seorang sahabat senior yang kalau ia melihat anak kecil bermain dengan barang miliknya, ia akan mengembalikan barang itu walau hanya sebutir kurma. Itulah kepekaan ulama salaf terhadap harta. Bandingkan dengan kita hari ini yang melepaskan jam-jam terbaik anak kita kepada algoritma yang dirancang untuk mengaduk dopamin — algoritma yang tidak mengenal anak kita, tidak peduli pada akhlaknya, tidak menjawab kepada siapa pun ketika besok ia menarik anak kita ke kebiasaan yang merusak. Kita memikul amanah jiwa-jiwa kecil ini, dan kita harus jujur kepada diri sendiri: berapa banyak amanah itu sudah kita serahkan kepada mesin?

Dari sini, ada empat hal praktis yang bisa kita lakukan mulai pekan ini, jamaah. Pertama, audit gawai keluarga di akhir pekan ini. Duduk dengan pasangan, buka HP anak, buka HP kita sendiri. Lihat aplikasi apa saja yang terpasang, akun apa saja yang difollow, kanal apa saja yang sering muncul di feed. Tidak untuk menghakimi, tetapi untuk mengenal medan jihad kecil yang setiap hari kita lewati. Kedua, buat satu kesepakatan tertulis dengan keluarga tentang waktu layar — kapan HP boleh dipegang anak, kapan harus dititip, kapan keluarga bicara tanpa layar di tangan. Bukan larangan total, tetapi pengaturan amanah. Ketiga, kalau ada saudara, tetangga, atau jamaah yang terjebak judi online atau jeratan pinjaman online, jangan menjauhinya. Datangi dengan rahmah, tawarkan dengar cerita, sarankan langkah keluar yang konkret — uninstall aplikasi, lapor ke pengurus RT, sambungkan dengan keluarga besar untuk pemulihan keuangan. Keempat, kita yang aktif di media sosial, biasakan tabayyun sebelum sebar; biasakan bertanya "apakah konten ini bermanfaat bagi pembaca, ataukah hanya menghasilkan reaksi sesaat?". Jejak digital adalah amal jariyah atau dosa jariyah — kita tidak bisa menghapus dampaknya setelah sekali sebar.

Kelima, dukung secara aktif kreator dakwah lokal yang bekerja keras menghasilkan konten yang menjernihkan. Like, share, comment — tindakan kecil ini di mata algoritma adalah suara yang membentuk apa yang akan muncul di feed jamaah lain di seluruh Indonesia pekan depan. Keenam, untuk yang bekerja di sektor teknologi atau pendidikan — manfaatkan keahlian kita untuk merancang alat sederhana yang membantu jamaah lain: filter konten anak, jadwal puasa Tasu'a-Asyura yang tepat waktu, atau panduan keamanan digital sederhana yang bisa dibagi di grup RT. Amanah teknologi tidak hanya tentang membatasi yang buruk, tetapi juga tentang menyalurkan yang baik.

Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan saya menutup khutbah pertama ini dengan satu refleksi. Allah memilih manusia untuk memikul amanah karena manusia diberi kesadaran moral yang tidak dimiliki gunung. Kesadaran itu bukan otomatis aktif — ia harus dijaga, dibangunkan, dilatih. Setiap kali kita mengangkat HP, ada momen kecil di mana kesadaran itu menyala atau padam. Hidup kita di era teknologi sebenarnya adalah rangkaian momen-momen kecil itu, bertumpuk hari demi hari, sampai akhirnya menjadi pola, lalu menjadi karakter, lalu menjadi nasib. Mari kita pulang dari mimbar ini dengan satu tekad: malam ini, saya akan duduk dengan keluarga, dan kami akan membuat satu keputusan kecil tentang gawai kami. Mungkin hanya satu jam tanpa HP saat makan malam. Mungkin satu aplikasi yang akan kami uninstall. Mungkin satu kesepakatan tentang scroll setelah Isya. Apa pun itu, mari mulai. Karena gunung-gunung enggan memikul amanah ini, dan Allah memberikannya kepada kita — sungguh kita amat zalim dan amat bodoh kalau memikulnya dengan main-main.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin yang dirahmati Allah, izinkan saya menggali lebih dalam satu sisi dari khutbah pertama. Kita sering berpikir teknologi adalah hal di luar diri kita — sesuatu yang dibuat orang lain, dipasarkan korporasi, dan kita hanya pemakai. Sikap "hanya pemakai" inilah yang menjadi pintu masuk hilangnya kesadaran. Ketika kita merasa hanya pemakai, kita merasa tidak bertanggung jawab atas dampaknya. Padahal setiap klik, setiap share, setiap waktu yang kita berikan kepada platform adalah suara yang membentuk arah industri ini. Kita bukan hanya pemakai — kita adalah bahan baku perhatian yang dijual oleh platform kepada pengiklan. Begitu kita sadar bahwa perhatian kita adalah harta, kita akan lebih hati-hati membuangnya.

Refleksi kedua: anak-anak kita tidak akan belajar menjaga amanah teknologi kalau orang tuanya sendiri tidak menampilkan teladan menjaga amanah itu. Mereka melihat ayah yang scroll TikTok sambil makan, ibu yang membalas WA grup di tengah berbicara dengan mereka, kakak yang merekam adiknya menangis untuk konten — dan mereka belajar bahwa beginilah cara dewasa menggunakan HP. Hijrah digital harus dimulai dari kita, bukan dari membenahi anak.

Refleksi ketiga: bagi yang bekerja di sektor digital atau yang punya kemampuan teknis, ada amanah yang khas. Setiap baris kode, setiap fitur yang dirancang, setiap notifikasi yang dijadwalkan — semua itu adalah keputusan moral. Kalau kita merancang fitur yang membuat orang sulit berhenti scroll, kita ikut memikul beban dari setiap orang yang tertidur larut karena fitur itu. Kalau kita merancang fitur yang membantu orang berhenti pada waktunya, kita ikut mendapat pahala dari setiap orang yang sholat Subuhnya tepat waktu. Inilah amanah profesi yang spesifik bagi era digital.

Refleksi keempat tentang AI: alat-alat baru ini, dari model bahasa sampai pembuat gambar, adalah pisau yang sangat tajam. Pisau bisa untuk memasak makan malam keluarga, bisa juga untuk melukai. Bagi da'i muda, ustadzah, dan pelajar agama — pakailah AI sebagai alat bantu transkripsi, terjemahan kasar, pencarian referensi awal — tetapi jangan pernah menjadikannya sumber fatwa. Otoritas keilmuan tetap berada pada guru, sanad, dan kitab muktabar. AI tidak punya hati yang takut kepada Allah; ia tidak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat atas kesalahan yang ia bisikkan kepada kita. Pertanggungjawaban tetap pada kita.

Refleksi kelima dan terakhir: di antara berkah pekan ini, dalam tujuh hari ke depan kita akan memasuki Hari Tasu'a pada Rabu, 9 Muharram, dan Hari Asyura pada Kamis, 10 Muharram. Sunnah Nabi ﷺ adalah berpuasa pada hari-hari itu — Asyura menghapus dosa setahun yang lalu sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim. Inilah waktu yang Allah berikan untuk mengangkat diri kembali dari rendahan layar gawai ke tingginya muraqabah dengan-Nya. Mari kita siapkan niat dari sekarang, jadwalkan sahur sederhana, ajak keluarga ikut serta. Puasa adalah hijrah harian dari konsumsi yang otomatis ke kesadaran yang aktif — pelajaran yang sangat dibutuhkan di era ketika konsumsi konten kita pun nyaris otomatis.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ، وَاجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ نُحُوْرِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَهْلَنَا فِي الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الْمُبَارَكِ، وَاجْعَلْ تَحْتَ كُلِّ خَيْمَةٍ مِنْ خِيَامِهِمْ مَلَكًا حَافِظًا.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَأَلْهِمْهُمْ رُشْدَهُمْ فِيْ سِيَاسَةِ التِّقْنِيَةِ وَحِفْظِ أَجْيَالِنَا مِنْ شُرُوْرِ الشَّاشَاتِ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَوْلَادَنَا فِيْ بُيُوْتِنَا، وَاحْفَظْهُمْ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اَللّٰهُمَّ يَا مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ، نَسْأَلُكَ أَنْ تَحْفَظَ هَوَاتِفَنَا وَشَاشَاتِنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَأَنْ تَجْعَلَهَا أَدَوَاتٍ لِخِدْمَةِ دِيْنِكَ، لَا أَبْوَابًا لِغَفْلَتِنَا.

اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلٰى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَأَعِنَّا عَلٰى صِيَامِ تَاسُوْعَاءَ وَعَاشُوْرَاءَ، وَتَقَبَّلْهُ مِنَّا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan