Ada satu pekan ketika kabar di feed terasa seperti debu — tipis, beterbangan, sulit ditangkap, tetapi mengendap di paru-paru. Di antara serpihan itu, kisah lama dari Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — باب ذكر الفتن جملة ثم نفصل ذكرها بعد ذلك إن شاء الله تعالى menghimpun pertanyaan seorang sahabat yang khawatir, dan jawaban Nabi ﷺ yang menggambar peta fitnah di akhir zaman dengan tangan beliau sendiri.
Hudzaifah bin Al-Yaman duduk lebih dekat daripada sahabat-sahabat lain. Orang-orang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang kebaikan. Hudzaifah memilih bertanya tentang keburukan.
Alasannya satu — dia takut keburukan itu suatu hari menyusulnya.
"Wahai Rasulullah," kata Hudzaifah, "dulu kami berada dalam jahiliyah dan keburukan. Lalu Allah datangkan kepada kami kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?"
Nabi ﷺ menjawab pendek, "Ya."
Hudzaifah tidak puas. Dia bertanya lagi, "Apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan?"
"Ya," kata Nabi ﷺ. "Tetapi di dalamnya ada dakhan."
قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ
"Apa itu dakhan?" tanya Hudzaifah.
Nabi ﷺ menjawab, "Kaum yang memberi petunjuk dengan petunjuk yang bukan petunjukku. Engkau mengenal sebagian dari mereka dan engkau mengingkari sebagian."
Hudzaifah merasakan ada beban berat di kalimat itu. Dakhan — bahasa Arab untuk asap. Bukan api yang jelas, bukan air yang jernih — asap. Sesuatu yang membuat mata pedih, sesuatu yang membuat pemandangan kabur, sesuatu yang membuat kita tidak yakin apa yang sedang kita lihat. Kebaikan akan datang lagi, tetapi bercampur asap. Kebenaran akan disampaikan, tetapi bercampur petunjuk yang bukan dari Nabi ﷺ.
Hudzaifah menatap Rasulullah ﷺ. Pertanyaan berikutnya keluar dengan suara yang lebih rendah.
"Lalu setelah kebaikan yang bercampur asap itu, apakah ada lagi keburukan?"
"Ya," kata Nabi ﷺ. "Akan datang para penyeru di pintu-pintu Jahannam. Siapa yang menyambut mereka, akan dilemparkan ke dalamnya."
Hudzaifah meminta deskripsi lebih jauh. Nabi ﷺ menjawab, "Mereka dari kulit kita, dan berbicara dengan bahasa kita."
Kalimat itu menggantung. Hudzaifah membayangkan zaman ketika fitnah tidak datang dari musuh asing, melainkan dari orang-orang yang berbicara dengan logat yang sama, berpakaian dengan corak yang sama, mengutip ayat-ayat yang sama — tetapi mengajak menuju arah yang berbeda. Bagaimana cara membedakannya? Bagaimana cara tidak tertipu?
Nabi ﷺ menjawab pertanyaan yang belum diucapkan itu. "Berpegang teguhlah pada jama'ah kaum Muslimin dan imam mereka."
"Bagaimana kalau tidak ada jama'ah dan imam?"
"Jauhilah seluruh kelompok itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai mati menjemputmu."
Hudzaifah menyimpan hadits itu dalam hatinya seperti orang menyimpan peta di balik mantel. Dia juga menyimpan hadits kedua — tentang amanah yang turun ke akar hati manusia, lalu satu per satu dicabut. Tentang seseorang yang tertidur sejenak, lalu amanah diambil dari hatinya, tersisa hanya bekas seperti bercak. Tentang masa ketika orang akan berkata "fulan dapat dipercaya" walau sebenarnya tidak ada lagi seberat zarrah iman di hatinya.
"Aku telah melihat satu dari dua hadits itu," kata Hudzaifah di kemudian hari. "Dan aku menunggu yang lainnya."
Yang ia lihat adalah perpecahan umat dan tumbuhnya para penyeru baru. Yang ia tunggu adalah pencabutan amanah yang merata. Hudzaifah meninggal sebelum menyaksikannya genap, tetapi catatannya tetap dibaca generasi demi generasi — termasuk oleh kita yang membacanya di pekan ini.
Pelajaran
Hudzaifah radhiyallahu 'anhu mengajarkan kita satu kebiasaan yang sangat dibutuhkan di zaman ketika fitnah datang dengan kulit kita sendiri dan berbicara bahasa kita sendiri: bertanya tentang keburukan, bukan hanya kebaikan, supaya kita siap saat ia datang. Di era HP yang menampung surga dan neraka dalam satu layar, di era AI yang bisa meniru suara guru kita dengan sangat mirip, di era algoritma yang menyajikan dakhan — kebaikan yang bercampur asap — di setiap scroll, kita butuh kebiasaan Hudzaifah. Bukan paranoia, melainkan kewaspadaan yang tenang. Kita bertanya: apa bentuk fitnah pekan ini? Dari mana kemungkinan ia masuk ke rumah saya? Bagaimana saya mengenal pembedanya? Lalu kita berpegang pada jamaah dan imam, pada guru yang jelas sanadnya, pada keluarga yang berjalan bersama. Hudzaifah berkata "aku menunggu yang satunya" — kita mungkin sedang menyaksikannya. Tugas kita: mengenalinya, lalu menjaga akar pohon kita masing-masing.
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — باب ذكر الفتن جملة ثم نفصل ذكرها بعد ذلك إن شاء الله تعالى
يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ. ثُمَّ قَرَأَ: {إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ} [لقمان: 34]. وَقَدْ سَأَلَ جِبْرِيلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْإِسْلَامِ فَأَخْبَرَهُ بِهِ، ثُمَّ سَأَلَهُ عَنِ الْإِيمَانِ فَأَخْبَرَهُ بِهِ، ثُمَّ سَأَلَهُ عَنِ الْإِحْسَانِ فَأَخْبَرَهُ بِهِ، فَلَمَّا سَأَلَهُ عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ لَهُ: "مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ". قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَشْرَاطِهَا. فَأَخْبَرَهُ عَنْ ذَلِكَ.
قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ، حَدَّثَنِي ابْنُ جَابِرٍ، حَدَّثَنِي بِشْرُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ، حَدَّثَنِي أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي.
