بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja melewati ramainya kabar tentang anak-anak yang terpapar konten yang merusak akhlak di platform digital, dan curhatan tentang keluarga muda yang berantakan karena judi online di HP — ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini. Pesan tentang HP kita.
Pekan ini, kabar yang sampai kepada kita seperti potongan-potongan kecil dari satu gambar besar. Diskursus tentang anak-anak yang terpapar konten yang tidak pantas di platform digital terus muncul. Ada percakapan tentang keluarga muda yang berantakan karena jeratan judi online di tengah tekanan ekonomi. Ada juga diskursus tentang kesejahteraan guru honorer dan ketimpangan gaji yang ramai dibicarakan di kanal-kanal sosial. Semua kabar ini punya satu kesamaan: HP. Bukan HP-nya yang salah — HP adalah alat. Yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana kita memikulnya?
Allah Ta'ala berfirman, jamaah, dalam QS. Hud: 85 — "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan."
وَيَٰقَوْمِ أَوْفُوا۟ ٱلْمِكْيَالَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
Ayat ini, jamaah, diucapkan Nabi Syu'aib 'alaihissalam kepada kaumnya yang curang di pasar. Konteks aslinya tentang takaran dagangan — bagaimana mereka mengurangi timbangan saat menjual dan menggenapkannya saat membeli. Tetapi pesan inti ayat ini lebih luas dari sekadar timbangan fisik. Allah memerintahkan kita untuk adil dalam setiap pertukaran nilai, dan melarang kita membuat kerusakan di muka bumi. Di era kita, pertukaran nilai yang paling sering kita lakukan justru bukan di pasar — melainkan di HP. Kita "menjual" waktu kita kepada platform. Kita "membeli" hiburan, informasi, atau pengakuan sosial dari mereka. Tukar-menukar ini terjadi puluhan kali sehari, dan kita jarang bertanya: apakah saya sedang adil dalam timbangan ini?
Mari kita ukur diri sendiri, jamaah. Kalau dalam sehari kita scroll dua jam tetapi sholat sunnah Dhuha tidak sempat — apakah timbangan itu adil? Kalau kita teliti membandingkan harga di marketplace tetapi tidak pernah membaca tafsir satu ayat — apakah timbangan itu adil? Kalau kita marah pada anak yang menonton video tidak pantas, padahal anak itu meniru jam-jam scrolling kita sendiri — apakah timbangan itu adil? Inilah pertanyaan-pertanyaan kecil yang menyentuh dasar QS. Hud: 85. Adil bukan hanya soal urusan jual-beli; adil adalah cara kita memperlakukan waktu, perhatian, dan kepercayaan yang dititipkan Allah kepada kita.
Pekan ini ramai juga dibicarakan tentang peran ulama di era kecerdasan buatan. Ada yang takut bahwa AI akan menggantikan guru. Ada yang justru optimis bahwa AI akan memperluas akses umat kepada ilmu. Yang benar, jamaah, ada di tengah — dan jawabannya ada di hati kita masing-masing. AI adalah alat. Kalau kita pakai untuk membantu transkripsi kajian, untuk menerjemahkan kitab klasik secara kasar, untuk merapikan jadwal majelis taklim, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar yang sebenarnya bisa kita jawab sendiri — itu bantuan yang baik. Tetapi kalau kita pakai untuk menggantikan duduk di majelis ilmu, untuk menggantikan bertanya kepada guru, untuk menggantikan membaca kitab dengan sanad yang jelas — itu pengkhianatan amanah keilmuan kepada diri sendiri. Ilmu yang berkah datang dari rantai manusia yang berhati, bukan dari mesin yang tidak takut kepada Allah.
Dari riwayat Sahih al-Bukhari 6377, kita ingat doa Nabi ﷺ — "Ya Allah, sucikanlah hatiku dengan air salju dan hujan es, dan sucikanlah hatiku dari segala dosa sebagaimana pakaian putih disucikan dari kotoran." Inilah doa yang kita butuhkan di era ketika hati kita terus-menerus dicipratkan oleh konten yang melewati layar — kabar buruk, gosip, syahwat, kemarahan, iri hati. Semua mampir di hati setiap kali kita scroll. Kalau hati tidak dicuci setiap hari, ia akan menebal. Dan hati yang menebal adalah hati yang tidak lagi peka kepada bisikan kebaikan.
Mari kita renungkan satu kebiasaan kecil, jamaah. Sebelum tidur malam, sebelum mata kita menutup, di mana posisi HP kita? Di bawah bantal? Di samping wajah? Itulah kekasih terakhir kita di malam itu dan kekasih pertama di pagi hari. Dan sering kali, kekasih ini bukan keluarga, bukan kitab, bukan ayat — melainkan platform yang merancang notifikasi agar kita kembali kepadanya. Apakah ini adil dalam timbangan QS. Hud: 85? Apakah hak waktu kita, hak mata kita, hak hati kita sudah ditunaikan dengan cukup, sebelum kita serahkan sisanya kepada layar?
Manusia, jamaah, adalah makhluk yang akan menjadi serupa dengan apa yang ia tatap berulang-ulang. Kalau kita menatap kebun, kita belajar tentang kesabaran. Kalau kita menatap wajah orang tua, kita belajar tentang syukur. Kalau kita menatap mushaf, kita belajar tentang ketenangan. Tetapi kalau yang kita tatap adalah feed yang dirancang untuk membuat kita gelisah — apakah kita heran kalau hidup kita menjadi gelisah? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang ingin saya tinggalkan di hati jamaah malam ini.
Sebelum kita tutup, izinkan saya beri tiga tindakan konkret yang bisa kita kerjakan dalam 24 jam ke depan. Pertama, malam ini sebelum tidur, letakkan HP di luar kamar — di ruang tamu, di dapur, di mana saja yang bukan tempat tidur kita. Cukup satu malam. Kedua, besok pagi, sebelum membuka HP, baca dulu satu ayat dari mushaf walau hanya tiga ayat. Beri Allah giliran pertama atas mata kita, bukan algoritma. Ketiga, ajak anak duduk satu kali makan tanpa HP di meja — kita, anak, dan pasangan kita. Lihat wajah satu sama lain. Bicara. Tertawa. Ini adalah hijrah digital yang paling kecil tetapi paling sering kita lupa kerjakan.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ قُلُوْبَنَا مِنْ فِتْنَةِ الشَّاشَاتِ، وَاحْفَظْ أَوْلَادَنَا مِنْ شَرِّ مَا تُبَثُّ، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا بُيُوْتًا تُتْلٰى فِيْهَا آيَاتُكَ، لَا بُيُوْتًا تَنْطَفِئُ فِيْهَا الْفِطْرَةُ.
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا تَاسُوْعَاءَ وَعَاشُوْرَاءَ، وَأَعِنَّا عَلٰى صِيَامِهَا، وَتَقَبَّلْ مِنَّا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
