Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ النَّاسَ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِيَتَعَارَفُوْا، وَأَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, mari pada Jumat ini kita mengambil jeda dari hiruk-pikuk pekan ini untuk merenungkan satu sumbu besar yang dalam minggu-minggu terakhir terasa sedang diuji: bagaimana kita, sebagai umat yang dipanggil rahmatan lil-'alamin, memperlakukan saudara semanusia di luar lingkaran identitas kita. Allah membuka pintu pertama ke pertanyaan ini lewat lisan Nabi Syu'aib 'alaihissalam:
QS. Hud: 85
وَيَٰقَوْمِ أَوْفُوا۟ ٱلْمِكْيَالَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
"Dan Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.'"
Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikan bagaimana Nabi Syu'aib menyatukan tiga perintah dalam satu napas: cukupkanlah takaran, jangan rugikan hak orang lain, dan jangan rusak bumi. Ketiganya satu napas keadilan. Inilah peletak dasar relasi yang sehat antara kita dengan sesama manusia, antara kita dengan bumi yang kita pijak, dan antara kita dengan kelompok yang berbeda dari kita. Adil bukan label untuk transaksi pasar saja; ia adalah disiplin yang harus menemani kita di setiap garis pertemuan dengan yang berbeda dari diri kita.
Pekan ini, ada beberapa diskursus yang menggugah nurani kita. Pertama, diskursus yang kembali muncul tentang nasib saudara-saudara kita pengungsi Rohingya — etnis yang sudah puluhan tahun dianggap "tidak berkewarganegaraan" oleh banyak rezim modern, yang anak-anaknya tumbuh di kamp atau tempat penahanan, bukan di pekarangan rumah. Mereka beragama sama dengan kita, mereka manusia sebagaimana kita. Kedua, diskursus tentang pengungsi perubahan iklim — saudara-saudara kita lintas benua yang harus berpindah karena lahannya tidak lagi bisa dihuni. Ketiga, dari diskursus dakwah global, perbincangan yang muncul tentang sosok-sosok Muslim biasa di profesi sangat duniawi yang menampilkan keyakinannya dengan tenang di hadapan dunia — sebuah ekspresi keimanan yang menarik perhatian karena justru tidak gaduh. Tiga benang ini menanyakan pertanyaan yang sama: apakah belas kasih kita cukup luas untuk mereka yang bukan dari lingkaran terdekat?
Marilah kita mendengarkan jawaban Allah Ta'ala lewat hadits qudsi yang diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, agar pertanyaan tadi tidak menggantung tanpa pegangan:
Sahih Muslim 6572
يَا عِبَادِيْ إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلٰى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوْا
"Wahai hamba-Ku, Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi."
Hadirin yang dimuliakan Allah, Rasulullah ﷺ menyampaikan dalam hadits qudsi ini sebuah deklarasi yang menggetarkan: kezaliman, oleh Allah Sang Pencipta sendiri, diharamkan atas Diri-Nya. Allah — yang Maha Berkuasa, yang punya hak mutlak melakukan apa pun — memilih dengan kehendak-Nya untuk tidak menzalimi makhluk-Nya, lalu mengharamkan kezaliman pula di antara kita. Pesannya jelas: zhulm bukan dosa biasa; zhulm adalah pelanggaran rancangan Allah atas alam semesta. Dan kalau kita merenungkan nasib saudara-saudara kita pengungsi Rohingya yang sudah puluhan tahun terlunta-lunta, atau pengungsi iklim yang terusir dari satu lahan ke lahan lain, atau saudara kita di Palestina yang sudah sekian dekade hidup di bawah pendudukan — kita sedang melihat manifestasi zhulm yang berlapis, baik karena perbuatan langsung maupun karena pembiaran kolektif.
Apa tugas kita di mimbar pekan ini? Pertama, mengakui bahwa belas kasih kita seharusnya tidak berhenti di garis etnis atau garis kewarganegaraan. Nabi ﷺ tidak menanyakan paspor Bilal sebelum memerdekakannya. Beliau tidak menanyakan KTP Suhaib ar-Rumi sebelum memuliakannya. Beliau menerima Salman al-Farisi yang berasal dari Persia dengan tangan terbuka. Sahabat-sahabat dari berbagai bangsa, berbagai warna kulit, berbagai latar sosial — semua disambut sebagai bagian dari satu tubuh yang sama. Allah menegaskan dalam ayat yang sering kita dengar, "Sesungguhnya Aku telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal — sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa."
Kedua, mengisi kekosongan tadi dengan adab. Adab kita di feed media sosial pekan ini sedang diuji. Banyak diskursus keras berlangsung di kanal X tentang berbagai isu — dari pendekatan hukum terhadap kelompok tertentu sampai sindiran kasar tentang etnis lain. Sebagian dilakukan dengan nada yang menjadikan kemarahan sebagai bukti keimanan. Mari kita ingat dengan teliti: kemarahan pada perbuatan tidak boleh berubah menjadi penghinaan pada orang. Rasulullah ﷺ memberi peringatan keras tentang ini:
Riyad as-Salihin 1452
اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya, tidak merendahkannya, dan tidak menghinanya."
Tiga larangan dalam satu hadits: tidak menzalimi, tidak merendahkan, tidak menghina. Ini standar minimum untuk pergaulan internal umat. Dan jika ini standar untuk sesama Muslim, kita bertanya: apakah pantas kita menggunakan standar yang lebih kasar terhadap saudara semanusia yang non-Muslim? Tentu tidak. Beliau juga menegaskan dalam riwayat lain bahwa "tidak boleh saling menjauhi, tidak boleh saling mendengki, tidak boleh saling menipu, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara":
Sahih Muslim 6537
لَا تَهَجَّرُوْا وَلَا تَدَابَرُوْا وَلَا تَحَسَّسُوْا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلٰى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا
"Janganlah kalian saling menjauhi, janganlah saling mendengki, janganlah saling menipu, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara."
Inilah yang kita kerjakan ketika kita memilih kata-kata di kolom komentar, ketika kita merancang khutbah, ketika kita berdiskusi tentang isu sensitif. Kita bukan hanya berbicara untuk diri kita; kita sedang membangun budaya bicara untuk satu generasi. Generasi anak-anak kita yang sedang membaca feed media sosial sekarang — apakah mereka melihat orang dewasa Muslim yang adil, tenang, dan penuh ihsan, atau melihat orang dewasa yang berlomba berteriak paling keras?
Ketiga, kita harus menerjemahkan empati lintas-iman ini ke tindakan konkret. Salah satu diskursus yang baik untuk diangkat adalah gerakan "pertobatan ekologis" — ajakan bagi tokoh agama lintas keyakinan untuk bersuara tentang krisis lingkungan. Bumi adalah amanah yang tidak punya agama, tetapi merawatnya adalah ibadah yang lintas-iman. Ketika sungai-sungai keruh dan udara berdebu, semua warga — Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, dan yang tidak beragama — sama-sama menanggung beban kerusakannya. Maka koalisi merawat bumi adalah salah satu pintu paling alami untuk mempraktikkan ko-eksistensi yang adil di Indonesia.
Marilah kita kembali kepada keadilan sebagai sumbu utama relasi lintas-batas, sebagaimana Allah Ta'ala mengingatkan kita melalui hamba-hamba-Nya yang menjual dan membeli di pasar:
QS. Ar-Rahmaan: 9
وَأَقِيمُوا۟ ٱلْوَزْنَ بِٱلْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا۟ ٱلْمِيزَانَ
"Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu."
Ayat ini, walaupun konteks turunnya berkaitan dengan praktik perdagangan, mengandung prinsip yang sangat luas: setiap relasi yang melibatkan pihak lain harus diukur dengan timbangan yang lurus. Termasuk relasi kita dengan kelompok yang berbeda. Apakah kita menimbang anak Rohingya dengan timbangan yang sama dengan menimbang anak kita sendiri? Apakah kita menimbang non-Muslim yang adil dengan timbangan yang sama dengan menimbang Muslim yang adil? Atau timbangan kita miring tergantung siapa di seberang kita?
Allah juga memberikan teguran keras kepada mereka yang mengurangi hak orang lain:
QS. Ash-Shu'araa: 183
وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
"Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan."
Ayat ini menggunakan kata "an-nas" — manusia. Bukan "al-mu'minin" (orang-orang beriman) saja, bukan "ikhwanikum" (saudara-saudaramu) saja. Tetapi an-nas. Manusia. Hak manusia, siapa pun dia, tidak boleh dirugikan. Inilah dasar moral bagi Muslim yang ingin membangun masyarakat yang plural dan adil. Bukan sekadar toleransi liberal yang berakhir di "yang penting saling tidak mengganggu"; melainkan ihsan yang aktif: memuliakan, menjaga, dan menjadi pelindung bagi yang lemah, lintas batas iman.
Hadirin yang dimuliakan Allah, mari sebelum kita menyudahi khutbah pertama ini, kita beri diri kita beberapa tindakan konkret untuk pekan depan. Pertama, dalam doa pribadi kita malam ini, sisipkan nama-nama saudara kita yang lemah lintas batas: anak-anak Rohingya di kamp dan tempat penahanan, pengungsi iklim di belahan dunia mana pun, saudara kita di Palestina yang masih bertahan. Sebut mereka, sebab Allah mendengar. Kedua, di setiap diskusi kita pekan ini di kantor atau di feed media sosial, latih lidah kita memisahkan kritik perbuatan dari penghinaan kepada orangnya. Bahasa kita adalah jejak adab kita. Ketiga, dukung secara konkret satu lembaga kemanusiaan yang sudah terverifikasi — kalau bisa, lewat zakat atau infaq, untuk membiayai proyek yang membantu kelompok lintas-iman yang mengalami kerentanan. Keempat, mulai gerakan sederhana di lingkungan kita: ajakan memilah sampah di masjid, satu pohon yang ditanam di pekarangan tetangga, satu jam membersihkan saluran air. Bumi yang dirawat adalah ko-eksistensi yang dipraktikkan. Kelima, bagi kita yang sebagai orang tua punya anak yang sedang membentuk identitas, ajak mereka membaca tentang Bilal, Suhaib, Salman, dan para sahabat dari berbagai bangsa — agar pintu hati mereka tidak menyempit oleh feed yang algoritmanya menghadiahi kemarahan.
Marilah kita rangkum: keadilan adalah disiplin lintas-batas; ihsan adalah pakaian umat rahmatan lil-'alamin; dan ukhuwah Islamiyah yang sehat justru paling jelas terlihat ketika kita berhadapan dengan yang berbeda dari kita. Semoga Allah memantapkan kaki kita pada timbangan yang lurus, dan menjadikan kita bagian dari mereka yang merawat bumi, bukan yang merusaknya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, kita berdiri di awal Muharram 1448 H — tahun baru hijriyah yang baru beberapa hari kita lalui. Hijrah, dalam makna terdalamnya, adalah perpindahan dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi. Salah satu hijrah pekan ini, jika kita pilih, adalah berpindah dari belas kasih yang sempit ke belas kasih yang luas — dari peduli hanya kepada lingkaran kecil ke peduli pada setiap mustadh'afin yang Allah titipkan kabarnya di depan mata kita. Hijrah ini tidak mudah; ia menuntut latihan adab dan latihan timbangan.
Marilah kita renungkan satu sisi yang sering luput: bahwa adab dalam berbicara tentang yang berbeda dari kita adalah cermin dari aqidah kita yang lurus. Orang yang yakin pada kebenaran imannya tidak perlu menghina yang lain untuk merasa benar. Yang gelisah ialah yang perlu meninggikan suaranya supaya merasa lebih tinggi. Maka percaya diri yang sehat dalam Islam itu tenang, dingin, mengundang, bukan riuh dan menyala.
Di sisi yang lain, kita harus jujur mengakui bahwa di pekan-pekan ini ada arus-arus diskursus yang ekstrem — sebagian menuntut pendekatan kasar terhadap kelompok yang dianggap menyimpang. Mari kita tegaskan: Islam memiliki batas normatif yang jelas, tetapi batas itu dijaga oleh institusi yang sah dan didakwahi dengan hikmah, bukan dengan caci-maki di kolom komentar. Mengubah penyimpangan menjadi cap personal pada manusianya bukan dakwah; itu adalah cara menutup pintu taubat bagi mereka yang sebenarnya sedang mencari jalan keluar. Tugas kita adalah membuka pintu, bukan menambah daun pintu baru yang mereka harus dobrak.
Refleksi ketiga: kita hidup di bumi yang sedang sakit. Krisis iklim adalah persoalan lintas-iman yang paling alami untuk kita kerjakan bersama. Diskursus tentang "pertobatan ekologis" yang mengajak tokoh agama lintas keyakinan ikut bersuara adalah ajakan yang sangat selaras dengan ajaran kita tentang ifsad fil-ard yang dilarang dan amanah khilafah yang Allah titipkan kepada manusia. Mari masjid kita mulai dari yang paling sederhana: memilah sampah di tempat wudhu, mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai pada acara komunitas, mendorong jamaah membawa botol minum sendiri. Hal-hal kecil yang konsisten lebih berharga daripada slogan-slogan besar yang sekali jalan.
Refleksi keempat: feed publik pekan-pekan ini sering diramaikan kisah hangat dari sosok yang sederhana — Muslim biasa di profesi sangat duniawi yang dengan tenang menampilkan keyakinannya, sosok-sosok yang dakwahnya bukan lewat mimbar tetapi lewat sikap. Inilah dakwah lintas-batas yang paling kuat: hadirnya seorang Muslim yang adil, rendah hati, dan teguh di profesinya — bagi mereka yang tidak pernah masuk masjid pun, sosok seperti ini adalah bacaan pertama tentang Islam. Marilah kita semua bertekad menjadi versi terbaik dari diri kita di profesi masing-masing, agar Islam yang kita perlihatkan kepada dunia bukan hanya yang berteriak di mimbar tetapi juga yang adil di meja kerja.
Akhirnya, jamaah, mari kita angkat doa kita kepada Allah Ta'ala.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا عَلٰى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا، وَعَدُوِّ الْإِسْلَامِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، وَأَطْفَالَ الرُّوْهِنْجَا الْمُحْتَجَزِيْنَ فِيْ سُجُوْنِ الْغُرَبَاءِ، وَالْمُهَجَّرِيْنَ مِنْ دِيَارِهِمْ بِسَبَبِ الْحُرُوْبِ وَتَغَيُّرِ الْمَنَاخِ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ أَهْلِهَا عَلَى اخْتِلَافِ قَبَائِلِهِمْ وَلُغَاتِهِمْ، وَاجْعَلْنَا قَوْمًا يُحِبُّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فِيْكَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ مِيْزَانًا قَائِمًا بِالْعَدْلِ بَيْنَ النَّاسِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَرَبِّهِمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَارْحَمْ أَطْفَالَنَا، وَاحْفَظْ أَهْلِيْنَا، وَوَسِّعْ قُلُوْبَنَا لِنَرْحَمَ كُلَّ خَلْقِكَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ، وَلَا يَبْخَسُوْنَ النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ، وَلَا يُفْسِدُوْنَ فِيْ الْأَرْضِ.
اَللّٰهُمَّ بَلِّغْنَا يَوْمَ تَاسُوْعَاءَ وَعَاشُوْرَاءَ فِيْ هَذَا الشَّهْرِ الْمُحَرَّمِ، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا، وَاجْعَلْهُ كَفَّارَةً لِذُنُوْبِنَا الْمَاضِيَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
