بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ النَّاسَ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِيَتَعَارَفُوْا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja melewati awal Muharram 1448 H, ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini. Pekan ini diskursus di feed kita kembali ramai membahas berbagai isu lintas-batas: nasib saudara-saudara kita pengungsi Rohingya yang sudah puluhan tahun terlunta-lunta, perbincangan tentang pengungsi perubahan iklim di belahan dunia lain, dan diskursus yang panas di feed media sosial tentang kelompok-kelompok yang berbeda dari kita. Di tengah arus ini, ada satu pertanyaan yang ingin saya ajukan kepada diri saya sendiri, dan kepada kita semua: di mana letak adab kita ketika berhadapan dengan yang berbeda?
Mari kita dengar sebuah pesan Allah Ta'ala lewat lisan Nabi-Nya, sebuah peringatan singkat yang menyimpan banyak ajaran:
Sahih Muslim 6537
لَا تَهَجَّرُوْا وَلَا تَدَابَرُوْا وَلَا تَحَسَّسُوْا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلٰى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا
"Janganlah kalian saling menjauhi, janganlah saling mendengki, janganlah saling menipu, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara."
Rasulullah ﷺ menyampaikan ini sebagai sebuah disiplin minimum untuk umat ini: jangan menjauhi, jangan mendengki, jangan menipu, dan kalian adalah ikhwan — hamba-hamba Allah yang bersaudara. Kata-kata yang pendek tapi dalamnya menjangkau setiap retakan hubungan manusia. Karena hubungan kita seringkali rusak bukan karena kebencian besar — melainkan karena tetes-tetes kecil: menjauh perlahan, dendam yang tidak diaduk dengan doa, pengamatan yang ingin tahu urusan orang lain yang bukan urusan kita. Hadits ini mengingatkan kita pada disiplin batin yang halus.
Lalu kita bertanya: apa hubungannya dengan diskursus pekan ini? Pertama, dengan tema pengungsi Rohingya. Sebuah etnis yang sudah puluhan tahun dianggap "tidak punya negara" oleh banyak rezim. Anak-anaknya tumbuh di kamp pengungsian atau tempat penahanan, bukan di pekarangan rumah. Kita yang berada di Indonesia, dengan damai di rumah masing-masing, mudah lupa bahwa mereka adalah saudara kita seakidah. Mudah pula merasa "ini bukan urusan kita; itu negara lain". Padahal dalam timbangan Islam, urusan saudara kita selalu menjadi urusan kita — minimal dalam doa, kalau bukan dalam dana atau aksi. Kita tidak boleh "tahajjur" — saling menjauh — terhadap saudara kita yang tertindas hanya karena geografi.
Kedua, dengan diskursus di feed pekan ini tentang kelompok yang dianggap menyimpang. Banyak postingan keras yang menuntut pendekatan hukum berat. Saya tidak akan masuk ke perdebatan fiqh-nya malam ini — itu ranah para ulama. Tapi saya ingin mengingatkan satu hal: cara kita berbicara tentang seseorang adalah cermin dari adab kita. Membenci penyimpangan adalah tanda iman yang sehat; mengubah kebencian itu menjadi penghinaan personal di kolom komentar adalah pintu kepada zhulm — kezaliman yang Rasulullah ﷺ peringatkan dalam hadits qudsi. Membenci perbuatan, tidak menghina manusianya. Itu prinsip yang harus kita pegang erat, jamaah, apalagi di era di mana setiap kata kita tercatat dan dibaca anak-anak kita.
Ketiga, ada nada yang lebih hangat dalam diskursus pekan ini. Beberapa cerita yang beredar di feed warga Indonesia tentang sosok-sosok Muslim biasa di luar negeri yang menampilkan keyakinannya dengan tenang di ruang publik — di profesi duniawi sekalipun — membuat banyak orang Indonesia takjub. Bukan karena gegap-gempita; justru karena tenangnya. Inilah dakwah yang bukan dari mimbar — dakwah yang dibawa orang biasa di profesi sangat duniawi, dengan keyakinan yang tidak perlu meminjam suara keras untuk terdengar. Saya ingin kita merenung: bagaimana cara Islam kita terdengar oleh tetangga non-Muslim di kompleks kita? Apakah lewat caci-maki di Whatsapp keluarga, atau lewat sikap kita yang menepati janji, mengembalikan pinjaman tepat waktu, menyapa tetangga lansia dengan ramah?
Inilah inti pesannya, jamaah: toleransi yang sehat dalam bingkai Islam bukan netralitas dingin terhadap kebenaran, dan bukan pula peleburan identitas. Toleransi yang sehat adalah ihsan yang aktif kepada setiap manusia dalam setiap kondisi — yang kita setujui dan yang tidak kita setujui, yang seakidah dan yang berbeda, yang dekat dan yang jauh. Allah berfirman tentang prinsip ini:
QS. Ash-Shu'araa: 183
وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
"Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan."
Perhatikan, Allah memakai kata an-nas — manusia. Bukan hanya saudara seiman. Hak manusia, siapa pun dia, tidak boleh dirugikan. Inilah pondasi moral untuk ko-eksistensi yang adil. Bukan dengan mengabaikan perbedaan, tapi dengan mempertahankan timbangan keadilan bagi setiap pihak.
Refleksi terakhir, jamaah. Apa yang harus kita kerjakan setelah pulang dari sholat malam ini? Ada beberapa langkah kecil yang bisa kita ambil dalam 24 jam ke depan. Sisipkan satu doa untuk saudara-saudara kita pengungsi Rohingya dan pengungsi iklim di mana pun mereka berada — Allah mendengar nama-nama yang kita sebut. Periksa kolom komentar kita di feed pekan ini: apakah ada kalimat yang sudah kita tulis, yang kalau anak kita membacanya nanti, kita akan malu? Hapus jika ada. Mulai pekan depan, latih lidah kita memisahkan kritik perbuatan dari penghinaan terhadap orangnya. Dan satu hal lagi: setidaknya kunjungi seorang tetangga non-Muslim yang sudah lama tidak kita sapa, dengan satu sapaan sederhana. Itu sudah merupakan dakwah.
Jamaah yang saya hormati, mari kita tutup malam ini dengan doa pendek.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَاكْشِفْ ضُرَّهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآوِ مُشَرَّدَهُمْ، وَاحْفَظْ أَطْفَالَهُمْ خَلْفَ الْأَسْوَارِ وَفِيْ الْمَخَيَّمَاتِ.
اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا لِنَكُوْنَ مِنَ الْعَادِلِيْنَ فِيْ الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ، وَاجْعَلْنَا مِيْزَانًا قَائِمًا لِلْحَقِّ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يُفْسِدُ فِيْ الْأَرْضِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
