Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatAcara Kalender IslamAhad, 21 Juni 2026

Khutbah Jumat — "Pewaris Hari Selamat Musa"

Tema Khutbah: Asyura sebagai hari syukur lintas-nabi, dan posisi umat Muhammad ﷺ sebagai pewaris perjalanan keselamatan.

Pembuka

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ نَجَّى مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ، وَجَعَلَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ آيَةً مِنْ آيَاتِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْقَائِلُ: "فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ". اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Lima hari yang lalu kita memasuki tahun 1448 Hijriah. Sebagian dari kita mengirim ucapan, sebagian memajang kalender Hijri di sticker WA, sebagian lain tetap menjalani Selasa sebagai Selasa biasa. Tetapi langit tidak biasa-biasa saja pada pekan ini — tahun ini, Kamis empat hari ke depan, jatuh hari yang Allah pilih sebagai tanda keselamatan: hari kesepuluh Muharram. Hari Asyura.

Mengapa Asyura penting

Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, lalu beliau melihat satu kelompok berpuasa pada hari ke-sepuluh Muharram. Beliau bertanya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dalam riwayat Imam Muslim:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ "مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ" فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ "فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ". فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

— Sahih Muslim 1130c

Perhatikan kalimat Rasulullah ﷺ: "Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian." Ini bukan sekadar pernyataan klaim historis. Ini adalah penegasan teologis bahwa kenabian adalah satu jalur. Musa 'alaihissalam membawa tauhid; Muhammad ﷺ menyempurnakan tauhid yang sama. Yang membedakan adalah siapa yang setia kepada wasiat tauhid itu sampai akhir.

Allah menurunkan dalam Al-Qur'an penghormatan kepada Musa:

سَلَٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ

— QS. As-Saaffaat: 120

"Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun." Ini bukan ayat sentimental — ini deklarasi syariat: keduanya berdiri sebagai teladan dalam barisan para nabi yang Allah utus untuk membebaskan manusia dari perbudakan, baik perbudakan fisik (Firaun atas Bani Israil) maupun perbudakan dosa (Firaun internal di dalam diri kita).

Janji Allah: kafarah setahun yang lampau

Mungkin ada di antara kita yang berkata: "Tahun lalu saya jauh dari Allah, tahun ini ingin memulai bersih. Apa caranya?" Salah satu jalan terbukanya ada di hari Kamis empat hari lagi. Rasulullah ﷺ bersabda — diriwayatkan dari Abu Qatadah dalam Bulugh al-Maram:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ اَلْأَنْصَارِيِّ — رضى الله عنه — أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ ﷺ سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، قَالَ: "يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ".

— Bulugh al-Maram 700

"Puasa hari Asyura menghapus dosa setahun yang lampau." Satu hari ibadah ringan — menahan makan dan minum dari Subuh sampai Maghrib — Allah hapuskan dosa-dosa setahun ke belakang. Ini bukan transaksi mekanis; ini karunia yang Allah letakkan sebagai pintu rahmat. Tetapi rahmat ini tidak bekerja tanpa istighfar yang menyertainya. Asyura tanpa muhasabah hanyalah lapar yang sia-sia.

Tasu'a: jembatan menuju Asyura

Banyak jamaah lupa bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan pasangan: Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram). Di tahun terakhir hayat beliau, beliau bersabda — sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim 1134b dari Ibnu Abbas: "Sekiranya aku masih hidup tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan juga." Tujuannya menurut para ulama: membedakan praktik kita dari Yahudi yang hanya berpuasa hari ke-10. Beliau wafat sebelum sampai ke tahun itu, tetapi para sahabat mewarisi niat tersebut sebagai sunnah yang dianjurkan kuat.

Maka tahun ini, mari kita ambil pasangan lengkap: Rabu 24 Juni puasa Tasu'a, Kamis 25 Juni puasa Asyura. Dua hari berturut-turut. Bagi yang Senin 22 Juni juga menyempatkan puasa sunnah Senin, itu rangkaian tiga hari yang indah menuju Asyura.

Aplikasi: hijrah yang bukan kosmetik

Hadirin, tahun baru Hijriah bukan tentang kembang api atau status WA "Selamat Tahun Baru 1448 H". Hijrah Nabi ﷺ dari Mekah ke Madinah bukan perubahan kota — itu perubahan kondisi. Mekah masih sama lokasinya, tetapi Madinah jadi tempat tegaknya hukum Allah. Bagi kita pekan ini, hijrah berarti satu hal yang mungkin sederhana namun memerlukan kemauan: tinggalkan satu kebiasaan. Mungkin scroll media sosial yang membakar waktu setelah Maghrib. Mungkin tertib bayar zakat dan sedekah yang selama ini ditunda. Mungkin shalat Subuh berjamaah di masjid yang sudah lama hanya niat. Satu hal saja. Dimulai pekan ini, dikuatkan dengan puasa Tasu'a-Asyura.

Wahb bin Munabbih meriwayatkan dalam Nashaihul Ibad, yang termaktub dalam Taurat: barangsiapa membawa bekal di dunia, ia akan aman di Hari Kiamat. Asyura adalah bekal. Tahun baru Hijriah adalah kesempatan untuk mengisi koper bekal yang baru. Jangan biarkan koper itu kosong setiba di pintu Asyura.

Aplikasi keempat: keluarga

Hadirin, satu paragraf khusus untuk para kepala keluarga. Asyura adalah peluang dakwah dalam rumah yang murah dan ringkas. Tidak perlu ceramah panjang ke anak-anak. Cukup tiga langkah:

Pertama, ajak istri berdiskusi malam ini juga: kita puasa dua hari, Rabu dan Kamis. Atur sahur, atur berbuka, atur pekerjaan domestik supaya istri tidak kelelahan.

Kedua, ajak anak-anak yang sudah baligh ikut. Anak yang belum baligh diajak juga — boleh setengah hari, atau seberapa mampu mereka. Yang penting mereka merasakan ritme rumah yang berbeda dua hari itu.

Ketiga, ceritakan kisah Musa 'alaihissalam dengan singkat. Tidak usah versi panjang. Cukup: "Asyura itu hari Allah selamatkan Nabi Musa dari Firaun. Kita puasa karena Nabi Muhammad ﷺ ajarkan untuk syukur. Itu saja, sudah cukup untuk membuat anak-anak ingat seumur hidup bahwa Asyura ada artinya, bukan sekadar hari kosong di kalender.

Aplikasi kelima: warga komunitas

Pesan terakhir khutbah ini ditujukan kepada pengurus RT, pengurus musholla, pengurus majelis taklim, dan siapa saja yang memegang amanah komunitas. Asyura tahun ini turun di Kamis — sebagian besar kita masih bekerja atau sekolah pada hari itu, dan baru berkumpul jamaah di masjid pada Jumat sehari sesudahnya. Tetapi sahur dua hari berturut-turut adalah saat ujian. Banyak jamaah niat tapi gagal bangun. Bagaimana kalau pengurus RT mengkoordinir pos sahur kecil — bukan acara mewah, sekadar titik kumpul di teras musholla atau halaman rumah pengurus, jam 03:30 pagi Rabu dan Kamis? Patungan nasi bungkus, satu termos teh, kurma untuk dibawa pulang. Lalu lima menit sebelum imsak, salah satu jamaah membaca satu hadits Asyura — tidak perlu ceramah, cukup satu hadits dengan terjemahnya. Anak-anak yang ikut akan mengingat seumur hidup.

Inilah yang kita sebut: dakwah komunal yang ringan tapi membekas.

Penutup khutbah pertama

Mari kita tutup khutbah pertama ini dengan istighfar dan doa.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْ هَذَا الْعَامَ الْجَدِيدَ بَدَايَةَ تَوْبَةٍ لَا نَنْكُثُ بَعْدَهَا، وَوَفِّقْنَا لِصِيَامِ تَاسُوعَاءَ وَعَاشُورَاءَ، وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Hadirin, di khutbah pertama tadi kita sudah mengingatkan diri kita tentang asal-usul Asyura: hari Allah menyelamatkan Musa, hari Rasulullah ﷺ menyatakan "kami lebih berhak", janji kafarah setahun yang lampau, niat Tasu'a sebagai pelengkap. Di khutbah kedua ini, izinkan saya menyampaikan tiga reminder penutup yang ringkas.

Reminder pertama: niat. Karena Asyura adalah puasa sunnah, niatnya berbeda dari Ramadan. Tidak harus diniatkan di malam hari. Boleh setelah Subuh selama belum makan/minum. Praktisnya: kalau bangun pagi Rabu 24 Juni dan masih sempat sebelum Subuh, niatkan di hati: "Nawaitu shauma yawmi tasu'a sunnatan lillahi ta'ala". Kalau bangun setelah Subuh — selama belum sarapan — masih bisa niat pada saat itu juga. Begitu pula untuk Asyura hari Kamis-nya. Jangan biarkan teknis niat menjadi hambatan; Rasulullah ﷺ bahkan mengutus seseorang pagi-pagi pada hari Asyura untuk mengumumkan: barangsiapa belum berpuasa hendaknya berpuasa, dan yang sudah makan hendaknya menyempurnakan hingga sore (Sahih Muslim 1135). Pintu Asyura tidak ditutup oleh matahari pagi.

Reminder kedua: berbuka. Sunnah berbuka adalah dengan kurma dan air. Kalau tidak ada kurma, dengan air saja sudah cukup. Jangan menjadikan berbuka sebagai ajang makan berlebihan — itu menghilangkan setengah berkah puasa. Bacakan doa berbuka yang masyhur dari Sunan Abu Dawud ("Hilanglah rasa haus, basahlah urat-urat, dan tetaplah pahala insya Allah") sebelum suap pertama; ajarkan kepada anak-anak.

Reminder ketiga: jangan biarkan Asyura hanya jadi puasa satu hari. Jadikan ia pintu. Pintu untuk lebih sering bermuhasabah, untuk lebih sering bangun sahur — bahkan di hari biasa, untuk kebiasaan istighfar pagi yang Allah puji dalam QS. Adh-Dhaariyat: 18:

وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

"Dan mereka memohon ampun di waktu sebelum fajar." Ayyamul Bidh tiga hari berikutnya — Minggu 28 Juni s/d Selasa 30 Juni 2026 — adalah tindak lanjut alami. Asyura membuka, Ayyamul Bidh meneguhkan.

Doa penutup

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اَللَّهُمَّ كَمَا نَجَّيْتَ مُوْسَى وَقَوْمَهُ مِنْ فِرْعَوْنَ وَجُنُوْدِهِ، نَجِّنَا مِنْ كُلِّ فِرْعَوْنٍ يَتَجَبَّرُ فِي زَمَانِنَا، وَمِنْ كُلِّ هَوًى يَسْتَعْبِدُنَا مِنْ دُوْنِكَ. اَللَّهُمَّ بَلِّغْنَا تَاسُوْعَاءَ وَعَاشُوْرَاءَ صَائِمِيْنَ، وَتَقَبَّلْ صِيَامَنَا، وَاجْعَلْهُ كَفَّارَةً لِسَنَتِنَا الْمَاضِيَةِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan