Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsAcara Kalender IslamAhad, 21 Juni 2026

Kisah Pendek — "Hari Laut Membelah"

Suara orang menangis terdengar pertama kali dari rumah-rumah kecil di pinggir kota Mesir. Bukan tangis biasa — tangis yang putus-putus, tangis yang sudah tujuh tahun lamanya menjadi kebiasaan ibu-ibu Bani Israil setiap kali pasukan Firaun mendatangi rumah mereka untuk mencari bayi laki-laki yang baru lahir.

Musa 'alaihissalam berdiri di pinggir Sungai Nil malam itu. Bulan Muharram, hari kesembilan, kalau penanggalan kemudian akan menyebutnya begitu. Di pundak beliau ada tongkat yang sudah pernah berubah menjadi ular di hadapan tukang sihir istana. Di belakang beliau, ratusan ribu Bani Israil — laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua — berdiri membawa apa pun yang sempat mereka bawa dari rumah masing-masing. Roti yang belum sempat dipanggang. Pakaian. Anak kecil yang masih disusui.

"Berangkat," kata Musa. Suaranya tidak tinggi. Tidak seperti pidato. Hanya satu kata. Tetapi ratusan ribu orang itu langsung bergerak.

Allah ﷻ telah berbicara di waktu yang lebih awal:

وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِىٓ إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ

Musa tahu mereka akan dikejar. Allah telah memberi tahu. Yang tidak Musa tahu — yang baru akan beliau saksikan beberapa jam ke depan — adalah dengan cara apa Allah akan menyelesaikan urusan ini.

Mereka berjalan sepanjang malam. Anak-anak digendong. Orang tua dibopong bergantian. Kuda-kuda yang dimiliki sebagian Bani Israil ditarik tali. Roti yang masih ada di adonan dibawa juga — di kemudian hari, Bani Israil akan membuat roti tidak beragi mengenang malam ini.

Pagi datang. Mereka sampai di tepi laut.

Di belakang mereka, terdengar derap pasukan. Firaun datang. Bukan sendirian — dengan seluruh tentara, kereta perang, panah, tombak. Firaun yang mengaku tuhan, yang sudah tujuh tahun menyiksa Bani Israil dengan kerja paksa membuat bata untuk piramida-piramida yang akan dipuji di museum, yang membunuh bayi-bayi laki-laki dan membiarkan bayi-bayi perempuan hidup sebagai pemuas. Firaun yang setiap pagi melihat dirinya di cermin dan berkata kepada cermin itu:

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

"Aku Tuhanmu yang Mahatinggi."

Bani Israil melihat ke laut di depan. Tidak ada jembatan. Tidak ada perahu yang cukup besar. Air bergelombang. Anak-anak menangis. Orang tua mulai menyalahkan Musa.

"Kami sudah terjebak."

Musa melihat ke laut. Lalu menengadah. Allah ﷻ memerintahkan beliau memukulkan tongkat ke laut. Beliau memukul. Laut terbelah. Bukan terbelah pelan-pelan — terbelah seperti tirai yang ditarik dua sisi. Air berdiri sebagai dua dinding. Di antara dua dinding itu, dasar laut menjadi jalan yang kering. Ikan-ikan yang tidak sempat terbawa air berkelap-kelip di pasir, tetapi tidak ada yang sempat melihatnya — semua orang terlalu sibuk berlari.

Bani Israil menyeberang. Ratusan ribu. Sepanjang siang. Anak-anak digendong. Orang tua dibopong. Roti dijaga jangan jatuh.

Sampai di seberang, Musa menengok. Di belakang, Firaun memimpin pasukannya masuk ke jalan yang sama — jalan kering yang masih bersih dari kaki Bani Israil yang baru saja menyeberang. Firaun tertawa. Tentara-tentaranya tertawa. Kuda-kuda berlari. Mereka kira Musa membuka jalan untuk mereka juga.

Ketika tentara Firaun yang terakhir masuk ke jalan kering itu, Allah ﷻ memerintahkan laut menutup.

Dua dinding air yang berdiri tegak — runtuh dalam satu kedipan mata.

Firaun tenggelam. Tentaranya tenggelam. Kuda-kudanya tenggelam. Senjata-senjatanya tenggelam. Cermin yang setiap pagi diajak bicara — tenggelam.

Bani Israil yang berdiri di pantai seberang menyaksikan dari kejauhan. Hari itu adalah hari ke-sepuluh Muharram. Mereka, dari hari itu, menyimpan tanggal itu dalam ingatan kolektif sebagai hari syukur.

Musa 'alaihissalam — yang baru saja melihat keajaiban yang akan diceritakan kepada anak cucu sampai akhir zaman — duduk di pasir. Tidak menari. Tidak meneriakkan kemenangan. Hanya bersujud kepada Allah ﷻ. Lalu beliau berkata: "Mulai besok, dan selamanya pada tanggal ini setiap tahun, kita akan berpuasa. Sebagai syukur."

Itulah mula pertama puasa Asyura.

Ribuan tahun kemudian, di tahun pertama Hijrah, Rasulullah ﷺ tiba di Madinah. Beliau melihat keturunan Bani Israil — komunitas Yahudi di Madinah — masih menjaga tradisi puasa itu. Beliau bertanya. Mereka menjelaskan. Beliau bersabda:

فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ

Kami lebih berhak kepada Musa daripada kalian.

Bukan karena Musa milik siapa-siapa. Tetapi karena warisan tauhid yang Musa bawa — bahwa hanya Allah Tuhan, bahwa Firaun-Firaun di setiap zaman pasti tenggelam, bahwa keselamatan datang kepada yang berjalan di jalan-Nya — itulah yang Bani Muhammad ﷺ pegang sampai hari ini.

Pelajaran

Asyura bukan tentang Musa saja, dan bukan tentang Bani Israil saja. Asyura adalah pengingat bahwa Firaun dari setiap zaman akan tenggelam, dan bahwa kita — yang lemah, yang tidak punya kuda dan tombak — selamat selama kita berjalan ketika Allah memerintahkan berjalan, dan diam ketika Allah memerintahkan diam. Sehari puasa di hari Kamis 25 Juni 2026 adalah pengakuan kita bahwa kisah Musa adalah kisah kita juga. Kita keluar dari Mesir-Mesir kecil dalam diri kita — kebiasaan yang berat, dosa yang tidak ditinggalkan, kemalasan yang menahan kita di pinggir laut. Lalu kita memukulkan tongkat niat. Allah membuka jalan.

Sumber Asli

Kisah di atas diretell dari kitab Al-Bidayah wan-Nihayah karya Imam Ibn Katsir, bab ذكر صومه عليه السلام (tentang puasa Musa 'alaihissalam), yang merujuk pada riwayat dalam Sunan Ibn Majah dan dukungan ayat QS. Ash-Shu'araa: 52. Pemahaman Rasulullah ﷺ tiba di Madinah merujuk pada Sahih Muslim 1130c dan Sahih al-Bukhari 4737.

Lihat Briefing Mingguan