Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumAcara Kalender IslamAhad, 21 Juni 2026

Kultum — "Empat Hari Lagi Kita Berpuasa"

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Empat hari lagi, Kamis 25 Juni 2026 — bertepatan dengan 10 Muharram 1448 H — adalah hari Asyura. Satu hari sebelumnya, Rabu 24 Juni, adalah Tasu'a — hari yang Rasulullah ﷺ niatkan dalam Sahih Muslim 1134b sebagai pelengkap puasa Asyura. Kultum ini ingin menyampaikan satu pesan sederhana: jangan biarkan Asyura lewat tanpa puasa.

Mengapa pesan ini perlu diulang? Karena dalam kalender modern kita, Asyura mudah hilang. Hari Kamis penuh — ada kerja, ada agenda, ada anak-anak yang harus diantar sekolah. Kalau kita tidak merencanakan dari sekarang, hari itu akan lewat dan kita baru sadar di Maghrib bahwa kita lupa puasa.

Diriwayatkan dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma:

وعن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله ﷺ صام يوم عاشوراء، وأمر بصيامه.

— Riyad as-Salihin 1251

"Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan kami berpuasa." Perintah dari Rasulullah ﷺ — meskipun statusnya sunnah dan bukan wajib — adalah ajakan yang tidak ringan. Itu bukan saran umum; itu instruksi spesifik untuk satu hari spesifik.

Dan janji Allah dalam hadits Bulugh al-Maram 700 yang sudah kita dengar: puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lampau. Bayangkan: satu hari, satu paket dosa setahun. Ini bukan ekonomi pasar; ini ekonomi rahmat Allah.

Tiga langkah praktis untuk pekan ini:

Pertama, malam ini juga — Minggu malam atau Senin pagi — niatkan dalam hati: "Saya akan berpuasa Tasu'a dan Asyura tahun ini." Tulis di kalender HP. Set alarm sahur untuk Rabu 24 dan Kamis 25.

Kedua, kabarkan ke keluarga. Anak-anak yang sudah balig diajak ikut. Pasangan diingatkan. Suami-istri yang berpuasa bersama itu pemandangan yang Allah cinta. Sahur bersama, berbuka bersama.

Ketiga, gunakan istighfar di waktu sahur. Allah memuji dalam ayat-Nya:

وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

— QS. Adh-Dhaariyat: 18

"Dan mereka memohon ampun di waktu sebelum fajar." Waktu sahur Asyura — pukul 3-4 dini hari Kamis — adalah salah satu waktu mustajab. Jangan sekadar makan; sambil makan, beristighfar. Sambil menunggu Subuh, baca surah Al-Fatihah dengan tafakur, atau membaca Yasin perlahan.

Kapan niat dipasang

Salah satu pertanyaan yang sering muncul: "Saya bangun pukul empat pagi, Subuh sudah hampir tiba, saya belum sempat sahur, masih boleh niat?" Jawabannya: boleh. Puasa sunnah berbeda dari Ramadan. Niat boleh ditetapkan setelah Subuh selama belum makan/minum. Bahkan, dari Sahih Muslim 1135, Rasulullah ﷺ mengutus seseorang pagi hari Asyura untuk mengumumkan: barangsiapa belum berpuasa hendaknya berpuasa. Pintu Asyura tidak ditutup oleh matahari pagi. Pertanyaan kedua: "Kalau saya bangun terlanjur menelan air pakai berkumur waktu wudhu, batal apa tidak?" Air yang masuk tidak sengaja saat berkumur tidak membatalkan puasa. Yang membatalkan adalah makan-minum dengan sengaja. Tenangkan diri; teruskan puasa.

Apa yang dilakukan pada hari Asyura selain menahan lapar

Asyura bukan sekadar lapar dari Subuh sampai Maghrib. Empat hal yang dianjurkan untuk dilakukan pada hari itu:

Pertama, memperbanyak istighfar dan dzikir. Imam al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menyebutkan lima waktu mustajab dalam satu hari: terbit matahari, tergelincir, terbenam, iqamah, dan saat orang berdiri untuk shalat. Asyura adalah hari yang menggandakan keberkahan waktu-waktu itu.

Kedua, memperbanyak sedekah. Tidak harus besar. Satu kantong beras ke tetangga yang kurang mampu. Uang lima ribu rupiah ke orang yang minta-minta di lampu merah. Air mineral untuk pekerja yang sedang istirahat siang. Sedekah yang ringan di hari yang berkah menggandakan pahalanya.

Ketiga, silaturahmi. Telpon orang tua kalau jauh, kunjungi tetangga lansia, kirim pesan ke saudara yang sudah lama tidak dihubungi. Satu kalimat sederhana — "Lagi puasa Asyura, ingin sekalian sapa Bapak/Ibu, sehat selalu" — cukup membuka pintu silaturahmi yang sudah lama tertutup.

Keempat, kepada keluarga: ajak makan malam yang khidmat. Buka puasa bersama keluarga inti. Tidak perlu mewah. Cukup masakan rumahan yang familiar, lalu setelah Maghrib duduk sebentar bersama, baca satu hadits singkat, ajak anak-anak bicara tentang apa yang mereka dapatkan dari puasa hari ini.

Saat anak kita ikut tetapi tidak kuat

Anak yang baru belajar puasa sering ikut sahur tapi kemudian tidak kuat menahan sampai Maghrib. Ini sangat normal. Jangan dimarahi. Yang penting niatnya. Anak yang berniat puasa lalu berbuka di tengah hari masih lebih baik dari anak yang tidak pernah niat sama sekali. Berikan apresiasi: "Kamu sudah berusaha, tahun depan insya Allah lebih kuat." Itu bibit yang akan tumbuh.

Penutup

Asyura adalah hadiah Allah untuk kita yang sering tergelincir. Hadiah itu datang setiap tahun, tetapi tidak semua orang membukanya. Pekan ini — lima hari ke depan — adalah kesempatan kita membukanya bersama. Niatkan dari sekarang. Atur sahur. Ajak keluarga. Lalu ketika Kamis sore 25 Juni tiba dan kita berbuka, kita tahu kita telah mengambil satu langkah pendek tetapi nyata di jalan yang sama dengan Musa 'alaihissalam dan Rasulullah ﷺ.

اَللَّهُمَّ بَلِّغْنَا تَاسُوعَاءَ وَعَاشُورَاءَ، وَوَفِّقْنَا لِصِيَامِهِمَا، وَاجْعَلْهُمَا كَفَّارَةً لِسَنَتِنَا الْمَاضِيَةِ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا، وَأَصْلِحْ ذُرِّيَّتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan