Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatAqidah & IbadahKamis, 25 Juni 2026

Khutbah Jumat — "Asyura, Tauhid, dan Hati yang Lurus"

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ لِيَعْبُدُوهُ، وَهَدَاهُمْ إِلَى تَوْحِيدِهِ لِيُفْلِحُوا، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, kita berdiri di mimbar ini pada hari yang istimewa — hari Asyura, sepuluh Muharram. Allah membuka tahun hijriah dengan bulan yang Dia muliakan, dan di dalamnya ada hari yang menyimpan keutamaan besar. Marilah kita mulai khutbah ini dengan firman Allah yang menjadi poros seluruh hidup kita:

وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًۭا وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

"Dan (aku telah diperintah): Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yunus: 105)

Ayat ini, jamaah Jumat, adalah ringkasan dari segala yang kita kerjakan. Seluruh ibadah kita — puasa Asyura yang sebagian dari kita jalankan hari ini, shalat lima waktu, sedekah, dzikir — semuanya bermuara pada satu hal: menghadapkan wajah kepada Allah dengan lurus, tanpa berpaling ke kiri dan ke kanan, tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun. Inilah yang disebut hanif: kecenderungan yang lurus, yang tidak miring oleh hawa, tidak goyah oleh tren, tidak tunduk pada selain Allah.

Dari berita pekan ini kita ketahui bahwa keutamaan puasa Asyura ramai diperbincangkan. Banyak yang berbagi pengingat tentang hadits-hadits seputar keutamaan hari ini. Ini kabar yang menggembirakan — di tengah ramainya perdebatan, hati banyak orang masih rindu pada ibadah yang murni. Namun pekan ini juga sampai kepada kita sebuah pertanyaan yang berseliweran di ruang maya, terutama di kalangan anak muda: "Kalau surga dan neraka itu sudah takdir, untuk apa kita repot-repot rajin ibadah?" Pertanyaan ini terdengar tajam, bahkan terdengar logis. Tetapi sesungguhnya, jamaah, ia lahir dari keletihan, bukan dari ilmu. Dan tugas kita pekan ini adalah merawatnya dengan hikmah, bukan mematahkannya dengan caci.

Mari kita jawab dengan tenang. Ibadah bukanlah cara kita memaksa Allah memasukkan kita ke surga. Ibadah adalah hak Allah atas kita, dan ia adalah cara kita menempuh jalan yang Allah ridhai. Rasulullah ﷺ menjelaskan apa yang Allah cintai dari kita dalam sabda yang agung:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏ "‏إن الله تعالى يرضى لكم ثلاثا، ويكره لكم ثلاثًا‏:‏ فيرضى لكم أن تعبدوه، ولا تشركوا به شيئًا، وأن تعتصموا بحبل الله جميعًا ولا تفرقوا، ويكره لكم‏:‏ قيل وقال، وكثرة السؤال، وإضاعة المال‏"‏

"Sesungguhnya Allah menyukai tiga hal untuk kalian dan tidak menyukai tiga hal untuk kalian. Dia menyukai kalian menyembah-Nya semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah belah; dan Dia tidak menyukai bagi kalian percakapan yang tidak berguna, banyak bertanya yang tidak perlu, dan menyia-nyiakan harta." (Riyad as-Salihin 1781)

Perhatikanlah, hadirin. Rasulullah ﷺ menyandingkan tiga hal yang Allah cintai dengan tiga hal yang Allah benci. Yang dicintai dibuka dengan ibadah dan tauhid; yang dibenci dibuka dengan "qiila wa qaala" — percakapan yang tidak berguna, debat yang tidak menambah amal. Bukankah ini gambaran pekan kita? Sebagian energi umat tersedot ke "qiila wa qaala", ke perdebatan yang panas tetapi kering. Padahal yang Allah ridhai justru sederhana: sembahlah Dia, jangan sekutukan Dia, dan jaga persatuan. Pertanyaan "untuk apa ibadah kalau sudah takdir" itu sendiri adalah salah satu bentuk "katsratus su'al" — banyak bertanya yang tidak melahirkan amal, hanya melahirkan keraguan.

Maka jawaban atas pertanyaan itu, jamaah, ada dalam hadits Abu Ayyub. Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya tentang amal yang mendekatkannya ke surga dan menjauhkannya dari neraka. Dengarkanlah jawaban beliau:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ، أَخْبَرَنَا أَبُو الأَحْوَصِ، ح وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ، عَنْ أَبِي أَيُّوبَ، قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ

"Diriwayatkan dari Abu Ayyub bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: Tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang mendekatkanku kepada surga dan menjauhkanku dari neraka. Maka beliau ﷺ bersabda: Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan berbuat baik kepada kerabat." (Sahih Muslim 14a)

Lihatlah, hadirin. Nabi ﷺ tidak menjawab dengan ceramah tentang takdir. Beliau langsung menunjuk pada amal. Karena memang begitulah cara seorang hamba: ia tidak diminta menyingkap rahasia takdir Allah; ia diminta beramal. Takdir itu urusan Allah; ibadah itu urusan kita. Orang yang bertanya "untuk apa ibadah kalau sudah takdir" sesungguhnya sedang ingin lari dari tanggung jawab dengan menumpang pada kata "takdir". Padahal Nabi ﷺ mengajarkan: beramallah, karena masing-masing dimudahkan menuju apa yang ia tempuh.

Dan ibadah yang Allah cintai, jamaah, harus bersih dari syirik — bersih dari menggantungkan hati pada selain Allah. Allah berfirman dengan tegas:

وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًۭا مِّنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Yunus: 106)

Syirik di zaman kita, hadirin, sering tidak berwujud patung. Ia berwujud ketergantungan hati — pada jabatan, pada angka pengikut, pada pujian manusia, pada ramalan dan jimat yang dijual di marketplace. Ketika seseorang lebih takut kehilangan citra di mata orang daripada takut kehilangan ridha Allah, ada serpihan syirik halus yang sedang menggerogoti tauhidnya. Asyura adalah waktu yang tepat untuk membersihkan hati dari ketergantungan-ketergantungan ini, dan mengembalikannya hanya kepada Allah.

Dan perhatikanlah, hadirin, bahwa tauhid yang benar tidak pernah berdiri sendiri terpisah dari akhlak kepada sesama. Allah menyandingkan keduanya dalam satu napas firman-Nya:

۞ وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًۭا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (QS. An-Nisaa: 36)

Betapa indah susunan ayat ini, jamaah. Allah membuka dengan perintah menyembah-Nya dan larangan menyekutukan-Nya — itulah tauhid. Lalu tanpa jeda, Dia langsung beralih ke ibu-bapa, kerabat, yatim, miskin, tetangga, hingga ibnu sabil. Seolah Allah hendak berkata: tauhidmu belum sempurna jika hatimu tidak melembut kepada makhluk-Ku. Maka orang yang shalatnya panjang tetapi lisannya tajam kepada tetangga, sesungguhnya sedang mengkhianati ayat ini. Asyura mengajak kita memeriksa keduanya sekaligus: hubungan kita dengan Allah, dan hubungan kita dengan orang-orang di sekeliling kita.

Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, ada beberapa hal konkret yang bisa kita lakukan pekan ini. Pertama, bagi yang belum, masih ada peluang berpuasa esok hari — sebelas Muharram — untuk menyempurnakan keutamaan Asyura. Kedua, mari kita audit hati kita: adakah ketergantungan pada selain Allah yang diam-diam tumbuh? Ketiga, kita kurangi "qiila wa qaala" — perdebatan yang tidak menambah amal — dan kita ganti dengan dzikir dan istighfar. Keempat, kita jaga tali persaudaraan; jangan biarkan perbedaan organisasi atau pendapat merobek ukhuwah kita. Kelima, kita didik anak-anak kita bahwa ibadah bukan beban, melainkan kehormatan seorang hamba yang diizinkan menghadap Tuhannya. Keenam, kita ajarkan dengan teladan, bukan dengan ceramah panjang — karena anak melihat apa yang kita kerjakan, bukan apa yang kita katakan.

Sesungguhnya, jamaah, agama ini ringan bagi orang yang ikhlas dan berat bagi orang yang ragu. Orang yang menghadapkan wajahnya dengan lurus akan merasakan ibadah sebagai kelegaan, bukan beban. Sebaliknya, orang yang hatinya terbelah antara dunia dan akhirat akan selalu merasa ibadah itu memberatkan. Asyura mengajak kita memilih: menghadap dengan utuh, atau terus terbelah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dirahmati Allah, izinkan kita memperdalam tiga sisi dari khutbah pertama. Sisi pertama: Asyura mengajarkan bahwa amal yang kecil dan konsisten lebih dicintai daripada amal besar yang sesaat. Puasa satu hari ini, bila dijalankan dengan ikhlas, menghapus dosa setahun yang lalu — sebuah perbandingan yang membuat kita sadar betapa Allah Maha Pemurah kepada hamba yang mau mendekat.

Sisi kedua: pertanyaan-pertanyaan skeptis yang kita dengar pekan ini sesungguhnya adalah panggilan halus untuk kita hadir. Anak-anak muda yang bertanya "untuk apa ibadah" bukanlah musuh; mereka adalah saudara kita yang sedang kehausan makna. Mereka tidak butuh dibungkam; mereka butuh ditemani berpikir. Dan tugas kita adalah menjadikan rumah, masjid, dan ruang digital kita tempat yang aman untuk bertanya.

Sisi ketiga: menjaga persatuan adalah ibadah. Ketika Allah menyebut yang Dia ridhai, Dia menyandingkan tauhid dengan "berpegang pada tali Allah dan tidak berpecah belah". Maka perbedaan organisasi, perbedaan pendapat fiqih, tidak boleh kita biarkan menjadi luka yang merobek barisan. Kita boleh berbeda di cabang, selama kita satu di pokok: La ilaha illallah.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا وَوَحِّدْ صُفُوفَنَا، وَاجْمَعْ كَلِمَتَنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى، وَلَا تَجْعَلْ بَيْنَنَا فُرْقَةً وَلَا شِقَاقًا.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الشِّرْكِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ وَتَوْحِيدِكَ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ فُكَّ أَسْرَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ أَطْفَالَنَا وَأَهْلِيْنَا، وَاهْدِ شَبَابَنَا إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan