اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, kita berdiri di mimbar ini pada hari yang mulia, di pekan yang baru saja melewati Hari Asyura — hari di mana umat ini diajak menengok ke dalam, menimbang ulang hubungannya dengan dunia. Marilah kita buka khutbah ini dengan firman Allah yang menggetarkan, sebuah peringatan keras tentang harta yang ditimbun dan tidak dialirkan ke jalan yang benar.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلْأَحْبَارِ وَٱلرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۗ وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍۢ
Allah berfirman dalam QS. At-Tawba: 34, yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih."
Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikanlah betapa ayat ini menggabungkan dua penyakit harta dalam satu napas: memakan harta orang lain dengan jalan batil, dan menimbun kekayaan tanpa mengalirkannya. Keduanya bukan dosa masa lampau yang asing bagi kita; keduanya adalah cermin dari banyak kabar yang sampai kepada kita pekan ini. Mari kita renungkan bersama, sebab khutbah ini bukan hendak menunjuk orang lain, melainkan mengajak kita semua menimbang diri.
Pekan ini publik dikejutkan oleh kabar dugaan penyelewengan dana pada program makan bergizi untuk rakyat. Salah satu yang diduga terlibat disebut-sebut mengakui adanya persoalan dalam pengelolaan dana itu, dan dalam kabar lain, seorang pejabat tinggi ditangkap karena diduga menerima suap. Kita tidak hendak menjadi hakim atas perkara yang masih bergulir; biarlah hukum bekerja dengan adil. Tetapi sebagai jamaah yang beriman, kita wajib menarik pelajaran: ketika dana yang semestinya menjadi piring nasi bagi anak-anak yang lapar justru bocor di tengah jalan, itulah wajah paling pahit dari "memakan harta orang dengan jalan batil". Inilah yang Allah peringatkan dengan ancaman siksa yang pedih.
Di lapisan lain, kabar pekan ini juga ramai dengan jeratan pinjaman online yang mencekik dan judi online yang menghancurkan rumah tangga. Banyak saudara kita terperangkap janji uang cepat, lalu terlilit bunga yang berlipat-lipat hingga kehilangan rasa tenang, bahkan kehilangan harga diri. Tentang inilah Allah berfirman dengan tegas.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوا۟ ٱلرِّبَوٰٓا۟ أَضْعَٰفًۭا مُّضَٰعَفَةًۭ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Dalam QS. Aal-i-Imraan: 130 Allah berfirman, yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan." Lihatlah, ma'asyiral muslimin, betapa Allah menutup larangan riba ini dengan kata "supaya kamu mendapat keberuntungan". Seakan-akan Allah hendak berkata: yang kalian kira keberuntungan — uang yang datang cepat tanpa kerja — itulah justru jurang kerugian; dan yang kalian kira kerugian — meninggalkan bunga dan bersabar dengan rezeki yang halal — itulah keberuntungan sejati.
Riba dalam ayat ini digambarkan "berlipat ganda", dan inilah persis mekanisme pinjol ilegal yang menjerat tetangga-tetangga kita: utang kecil yang membengkak menjadi gunung dalam hitungan pekan. Maka tugas kita pekan ini bukan sekadar mengutuk para pemberi pinjaman gelap itu, melainkan menutup pintu masuknya sejak dari rumah kita sendiri. Kita yang berdagang, kita sebagai kepala keluarga, kita yang mengelola kas RT atau kas masjid — kita semua diuji untuk tidak tergoda jalan pintas yang berbunga.
Hadirin yang dirahmati Allah, Allah memperdalam pelajaran ini dalam ayat berikut, yang membongkar ilusi pertumbuhan harta lewat riba.
وَمَآ ءَاتَيْتُم مِّن رِّبًۭا لِّيَرْبُوَا۟ فِىٓ أَمْوَٰلِ ٱلنَّاسِ فَلَا يَرْبُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ۖ وَمَآ ءَاتَيْتُم مِّن زَكَوٰةٍۢ تُرِيدُونَ وَجْهَ ٱللَّهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُضْعِفُونَ
Allah berfirman dalam QS. Ar-Room: 39, yang artinya: "Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan pahalanya." Sungguh menakjubkan logika ilahi ini: harta riba terlihat bertambah di buku tabungan, tetapi di sisi Allah ia menyusut, hampa berkah, kosong dari ketenangan. Sebaliknya, harta yang dikeluarkan sebagai zakat dan sedekah terlihat berkurang di tangan, tetapi di sisi Allah ia berlipat ganda. Inilah ekonomi yang Allah ajarkan — bukan ekonomi angka, melainkan ekonomi berkah.
Dan di sinilah, ma'asyiral muslimin, kita sampai pada peringatan Nabi ﷺ yang paling mengejutkan tentang harta. Beliau tidak menakuti umatnya dengan kemiskinan, melainkan dengan kelimpahan.
إِنَّ أَكْثَرَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مَا يُخْرِجُ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ بَرَكَاتِ الأَرْضِ
Dalam riwayat Sahih al-Bukhari 6427, Rasulullah ﷺ bersabda, yang artinya: "Hal yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah keberkahan dunia yang akan Allah keluarkan untuk kalian." Para sahabat bertanya apakah kebaikan dapat mendatangkan keburukan. Nabi ﷺ terdiam beberapa saat hingga mereka mengira beliau sedang menerima wahyu, lalu beliau menjelaskan dengan perumpamaan binatang ternak: ada ternak yang makan rumput musim semi hingga perutnya membusung lalu mati atau hampir mati karena rakus, dan ada ternak yang makan secukupnya, menghadap matahari, lalu kembali makan dengan tenang. Begitulah, sabda beliau, orang yang mengambil harta dengan haknya dan menggunakannya pada haknya — alangkah baiknya harta itu baginya; tetapi siapa yang mengambilnya tanpa hak, ia bagaikan orang yang makan dan tidak pernah kenyang.
Renungkanlah perumpamaan ini, hadirin. Kekhawatiran terbesar Nabi ﷺ bukan saat umatnya lapar, melainkan saat dunia dibentangkan luas dan umat berlomba memperebutkannya seperti ternak yang rakus hingga binasa. Bukankah ini persis yang kita saksikan? Dana yang diselewengkan, bunga yang ditumpuk, energi yang diperebutkan — semua adalah wajah dari kerakusan yang Nabi takutkan. Maka khutbah ini sesungguhnya adalah cermin: di mana posisi kita dalam perumpamaan itu — ternak yang rakus, atau ternak yang makan secukupnya lalu menengadah ke langit?
Hadirin yang dimuliakan Allah, harta yang halal sesungguhnya adalah penolong yang luar biasa di jalan Allah. Bukan harta yang tercela, melainkan cara memperoleh dan mengalirkannya. Para sahabat adalah orang-orang yang menguasai dunia tetapi tidak dikuasai olehnya. Renungkanlah Abu Thalhah, sahabat kaya dari Madinah, yang ketika turun ayat "kalian tidak akan mencapai kebajikan sampai kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai", segera bangkit dan menyedekahkan kebun kurma paling ia cintai, Bayrahā', tanpa menunggu esok hari. Begitu pula Zaid bin Haritsah yang menyerahkan kudanya yang paling berharga. Itulah hati yang merdeka dari harta. Itulah yang membuat Rasulullah ﷺ tersenyum, bukan karena banyaknya harta yang masuk, melainkan karena hati yang ikhlas mengeluarkannya.
Maka, ma'asyiral muslimin, izinkan saya menutup khutbah pertama ini dengan beberapa langkah nyata yang dapat kita ambil pekan ini. Pertama, mari kita audit sumber rezeki kita masing-masing — apakah masih ada celah riba, gharar, atau hak orang lain yang belum tertunaikan di dalamnya; bersihkan satu per satu mulai pekan ini. Kedua, jika ada saudara, tetangga, atau anak kita yang terjerat pinjol atau judi online, jangan kita hakimi, tetapi kita rangkul: bantu lunasi dengan qardh hasan tanpa bunga, atau temani mencari jalan keluar. Ketiga, mari kita hidupkan kembali kebiasaan sedekah harian, sekecil apa pun, sebagai penyeimbang dari kecenderungan menimbun. Keempat, untuk yang memegang amanah harta — kas masjid, dana arisan, anggaran apa pun — mari kita jaga transparansinya sebagai ibadah, bukan sekadar administrasi. Kelima, di pekan Asyura ini, mari kita iringi muhasabah harta dengan puasa sunnah dan istighfar, memohon agar Allah membersihkan rezeki kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, dalam khutbah kedua ini izinkan kita menggali lebih dalam satu sisi yang mudah terlewat. Peringatan Nabi ﷺ tentang kelimpahan dunia bukan ajakan untuk membenci harta atau memuja kemiskinan. Islam tidak pernah mengajarkan demikian. Yang Nabi takutkan adalah perubahan hati — saat harta yang awalnya alat berubah menjadi tujuan, saat tangan yang awalnya memberi berubah menjadi tangan yang merampas, saat rasa cukup menguap diganti rasa rakus yang tak pernah kenyang.
Renungkanlah pula bahwa kerusakan ekonomi yang kita lihat pekan ini bermula dari satu titik kecil yang sering kita remehkan: izin diri untuk mengambil yang bukan hak kita "sedikit saja". Korupsi besar lahir dari kebiasaan kecil menggunakan fasilitas kantor untuk pribadi. Jeratan pinjol bermula dari satu keputusan tergesa-gesa karena tak sabar menanti rezeki yang halal. Maka penjagaan kita pun harus dimulai dari yang kecil — dari kejujuran di hal-hal yang tampaknya sepele.
Dan inilah hikmah Asyura yang relevan dengan semua ini: hari di mana Allah menyelamatkan Musa 'alaihissalam dari kezaliman Fir'aun yang menumpuk kekuasaan dan kekayaan di atas penindasan. Pekan ini, sembari berpuasa sunnah, mari kita memohon diselamatkan dari "fir'aun-fir'aun kecil" dalam diri kita sendiri — kerakusan, ketidaksabaran, dan ketamakan yang membuat kita lupa bahwa semua harta hanyalah titipan.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، وَطَهِّرْ أَمْوَالَنَا مِنَ الْحَرَامِ وَالرِّبَا وَأَكْلِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ مِمَّا يُحِبُّوْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
اَللّٰهُمَّ فُكَّ كَرْبَ كُلِّ مَدِيْنٍ مِنْ إِخْوَانِنَا الْمُسْلِمِيْنَ، وَاقْضِ عَنْهُمْ دُيُوْنَهُمْ، وَأَنْقِذْهُمْ مِنْ كُلِّ جَشَعٍ يُهْلِكُهُمْ، وَاكْفِهِمْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا وَحَافِظًا.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَارْزُقْهُمُ الْأَمَانَةَ فِيْ حِفْظِ أَمْوَالِ الْأُمَّةِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى الْمُسْلِمِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
