Saat kabar pekan ini penuh cerita tentang harta yang diperebutkan dan diselewengkan, ada satu kisah kecil dari Madinah yang justru bercerita sebaliknya — tentang seseorang yang nyaris tak punya apa-apa namun memberi dari yang paling berharga. Kisah ini dihimpun Syaikh Yusuf al-Kandahlawi dalam Hayat as-Sahabah — bab al-Hijrah, "qaul Abi Dzarr: inna fil-mali tsalatsatu syuraka'", di antara kisah-kisah para sahabat tentang harta dan infak.
Malam itu gelap dan dingin di Madinah. Abu Aqil seorang lelaki miskin. Bukan miskin biasa — ia tak punya apa pun untuk disedekahkan kecuali tenaganya sendiri.
Maka ia datang ke sebuah sumur. Ia ikatkan tali ke punggungnya. Sepanjang malam ia menarik timba, naik turun, naik turun. Punggungnya basah oleh keringat dan air sumur. Upahnya: dua takar kurma.
Pagi datang. Abu Aqil membawa dua takar itu. Satu takar ia antar ke rumah, untuk keluarganya yang menunggu. Takar yang lain ia genggam erat, lalu ia bawa ke masjid.
Ia berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ. "Ya Rasulullah," katanya, menyerahkan sedekahnya. Rasulullah ﷺ menerimanya, lalu bersabda agar kurma itu ditaburkan ke tumpukan sedekah yang lain.
إِنْثُرْهُ فِي الصَّدَقَةِ
"Taburkanlah ia ke dalam sedekah."
Di sudut masjid, beberapa orang munafik melihat itu. Mereka berbisik, lalu tertawa mengejek. "Sedekah apa ini? Bukankah Allah dan Rasul-Nya cukup kaya tanpa satu takar kurma orang miskin ini?" Mereka mencibir pengorbanan semalam suntuk itu seakan ia tak berarti apa-apa.
Tetapi langit menjawab cibiran mereka. Allah menurunkan ayat yang mengabadikan Abu Aqil dan orang-orang sepertinya, sekaligus menelanjangi para pengejek.
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لاَ يَجِدُونَ إِلاَّ جُهْدَهُمْ
"Orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan yang mencela orang-orang yang tidak memperoleh apa untuk disedekahkan selain sekadar kesanggupannya." (QS. At-Tawba: 79)
Maka tercatatlah di langit nama seorang lelaki yang tak punya apa-apa, yang menukar separuh upah lelahnya dengan ridha Allah. Dan tercatat pula kehinaan mereka yang mencemoohnya dari balik kekayaan.
Pelajaran
Abu Aqil tidak menunggu menjadi kaya untuk bersedekah. Ia tidak punya emas, tidak punya kebun, tidak punya simpanan — hanya punggung yang basah keringat dan dua takar kurma. Namun separuh dari satu-satunya yang ia miliki itu cukup untuk membuat namanya turun dalam wahyu. Inilah yang sering terbalik dalam diri kita: kita yang punya lebih justru paling ragu memberi, sementara yang nyaris tak punya justru paling berani berbagi. Di pekan ketika begitu banyak harta diperebutkan dan diselewengkan, kisah Abu Aqil menorehkan ukuran yang sebenarnya: nilai sebuah pemberian bukan terletak pada besarnya angka, melainkan pada beratnya pengorbanan dan kemurnian niat. Satu takar kurma yang ditarik semalaman lebih berat di sisi Allah daripada gunung harta yang didapat dengan mudah dan dikeluarkan tanpa rasa.
Sumber Asli
Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / قول أبي ذر: إن في المال ثلاثة شركاء
قصة أبي عقيل رضي الله عنه أخرج الطبراني عن أبي عقيل رضي الله عنه أنه بات يجر الجرير على ظهره على صاعين من تمر، فانفلت بأحدهما إلى أهله ينتفعون به، وجاء بالآخر يتقرَّب به إلى الله عزّ وجلّ، فأتى به رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبره، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم «إنثره في الصدقة» . فقال فيه المنافقون - وسخروا منه -: ما كان أغنى هذا أن يتقرَّب إلى الله بصاع من تمر؟ فأنزل الله عزّ وجلّ: {الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لاَ يَجِدُونَ إِلاَّ جُهْدَهُمْ} (التوبة: 79) - الآية -.
