Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumEkonomi & BisnisKamis, 25 Juni 2026

Kultum — "Tiga Sekutu dalam Hartamu"

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja melewati Hari Asyura ini, di tengah kabar tentang dugaan korupsi dana pangan, jeratan pinjol, dan kecemasan akan pemadaman listrik, ada satu pertanyaan kecil yang ingin saya ajukan malam ini: sebenarnya, dari semua harta yang kita kumpulkan seumur hidup — berapa banyak yang benar-benar menjadi milik kita?

Pertanyaan ini bukan teka-teki. Dengarkanlah sabda Nabi ﷺ yang sangat menggugah.

يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِي مَالِي إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَأَمْضَى

Dalam riwayat Sahih Muslim 2959a, Rasulullah ﷺ bersabda, yang artinya: "Seorang hamba berkata: 'Hartaku, hartaku.' Padahal dari hartanya hanya tiga hal yang benar-benar miliknya: apa yang ia makan lalu habis, apa yang ia kenakan lalu usang, atau apa yang ia sedekahkan lalu ia simpan untuk akhiratnya. Adapun selain itu, ia akan pergi dan meninggalkannya untuk orang lain." Subhanallah. Coba kita renungkan kalimat ini sejenak. Kita bekerja keras, menabung, kadang sampai mengorbankan waktu bersama keluarga, demi sesuatu yang ternyata — menurut Nabi ﷺ — tidak benar-benar menjadi milik kita kecuali tiga bagian itu saja.

Saudara-saudara sekalian, ada satu perkataan indah dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu 'anhu yang melengkapi sabda Nabi ini. Beliau berkata bahwa dalam harta seseorang itu ada tiga sekutu. Sekutu pertama adalah takdir — yang tidak meminta izin kepadamu saat ia mengambil bagian terbaik atau terburuk dari hartamu lewat musibah atau kerusakan. Sekutu kedua adalah ahli waris — yang dengan sabar menunggu engkau meletakkan kepalamu untuk terakhir kali, lalu segera mengambil semuanya sementara engkau pergi tanpa membawa apa-apa. Dan sekutu ketiga adalah dirimu sendiri. Maka kata Abu Dzar: jika engkau mampu untuk tidak menjadi yang paling lemah di antara ketiga sekutu itu, jangan sampai engkau menjadi yang paling lemah.

Coba kita pikirkan. Takdir tidak pernah lalai mengambil bagiannya. Ahli waris tidak pernah lupa menunggu gilirannya. Yang sering lalai justru kita sendiri — sekutu yang seharusnya paling bersemangat mengambil bagian abadi, tetapi malah paling sering menunda. Kita menunda sedekah sampai "nanti kalau sudah kaya". Kita menunda membayar zakat sampai "nanti kalau sempat dihitung". Kita menunda membantu tetangga yang terlilit utang sampai "nanti kalau ada lebih". Padahal dua sekutu lain tidak pernah menunda.

Saudara-saudara, izinkan saya gambarkan dengan satu contoh yang dekat dengan kita. Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya bekerja keras, menumpuk simpanan demi simpanan, sambil berkata pada dirinya: "Nanti saja, kalau sudah pensiun, baru saya banyak-banyak sedekah." Lalu ajal datang lebih cepat dari rencananya. Apa yang terjadi pada tumpukan itu? Takdir mungkin sudah mencicilnya lewat sakit dan musibah. Sisanya, dalam sekejap, berpindah ke tangan ahli waris — dan ia pergi tanpa membawa satu rupiah pun dari semua yang ia kira miliknya. Inilah tragedi sekutu yang lemah: ia menjaga harta untuk dua sekutu lain, dan lupa menyisihkan bagian untuk dirinya sendiri yang abadi. Bukankah ini ironi yang menyayat? Kita berhemat justru pada satu-satunya pengeluaran yang tidak akan pernah hilang.

Dan perhatikanlah, jamaah, betapa menunda itu sendiri adalah bentuk tipu daya yang halus. Setan tidak selalu menyuruh kita berbuat jahat secara terang-terangan; sering kali ia cukup membisikkan "nanti saja". Nanti, nanti, dan nanti — sampai waktu habis. Maka Nabi ﷺ mengajarkan agar kita bersegera dalam kebaikan, sebab umur bukan milik kita untuk dipastikan. Bagian abadi itu harus diambil hari ini, dalam keadaan apa pun kita — lapang atau sempit — karena justru sedekah di waktu sempit itulah yang paling tinggi nilainya di sisi Allah.

Pekan ini kita mendengar kabar betapa banyak harta yang bocor lewat jalan yang salah — dana yang seharusnya menjadi piring nasi anak-anak diduga diselewengkan, uang rakyat kecil tersedot ke dalam bunga pinjol yang mencekik. Kita mudah marah pada para pelakunya, dan kemarahan itu wajar. Tetapi malam ini saya ingin mengajak kita menengok ke dalam dulu. Sebab orang yang mengambil harta yang bukan haknya itu sebenarnya sedang menjadi "sekutu yang paling lemah" dalam bentuk yang paling tragis: ia merebut bagian yang akan ditinggalkannya juga, sambil mengorbankan bagian abadinya di akhirat. Ia mengira sedang memperkaya diri, padahal sedang memiskinkan dirinya untuk selamanya.

Maka pelajaran malam ini sederhana tetapi dalam: jangan biarkan diri kita menjadi sekutu yang paling lemah atas harta kita sendiri. Setiap rupiah yang kita sedekahkan, kita zakatkan, kita gunakan untuk membantu saudara yang kesulitan — itulah satu-satunya bagian yang benar-benar kita bawa pulang. Sisanya hanya titipan yang akan berpindah tangan. Mari kita ukur diri sendiri: pekan ini, sudahkah kita mengambil bagian abadi kita, atau kita masih menunda sambil dua sekutu lain terus mencicil bagian mereka?

Ada yang lucu tapi jujur, saudara-saudara: kita semua punya catatan belanja online yang panjang di handphone, tapi catatan sedekah kita sering kosong atau lupa kita isi. Padahal yang pertama akan usang dan habis, yang kedua justru abadi. Malam ini, sebelum tidur, mari kita lakukan satu hal kecil saja: keluarkan sedekah, sekecil apa pun, untuk seseorang yang kita tahu sedang kesulitan pekan ini. Jangan tunggu jadi kaya. Jangan tunggu sempat. Ambil bagian abadi kita malam ini juga, sebelum sekutu yang lain mendahului.

Saya akhiri dengan satu kesimpulan yang ingin kita bawa pulang: harta bukanlah apa yang tertulis di rekening kita, melainkan apa yang telah kita kirimkan lebih dulu ke akhirat. Sisanya hanya angka yang akan kita tinggalkan. Maka jadilah sekutu yang cerdas atas hartamu sendiri — yang tidak menunggu takdir dan ahli waris untuk menghabiskannya.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا أَعْطَيْتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُنْفِقِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكَ، وَأَصْلِحْ لَنَا أَهْلَنَا وَأَمْوَالَنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan