اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَقَامَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْعَدْلِ، وَأَمَرَ عِبَادَهُ بِالْقِسْطِ وَالْإِحْسَانِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita buka khutbah ini dengan satu ayat yang menggambarkan bagaimana Allah membangun seluruh alam ini di atas satu prinsip: keseimbangan. Allah berfirman:
وَأَقِيمُوا۟ ٱلْوَزْنَ بِٱلْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا۟ ٱلْمِيزَانَ
"Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu." (QS. Ar-Rahmaan: 9)
Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini turun di tengah surah yang penuh menyebut nikmat. Dan di antara deretan nikmat itu, Allah menempatkan satu perintah: tegakkan timbangan dengan adil. Seakan Allah ingin mengajari kita bahwa keadilan bukan urusan pengadilan saja, melainkan urusan setiap tangan yang menimbang sesuatu — sekantong beras di pasar, sepetak warisan di keluarga, satu keputusan di meja kerja. Ketika timbangan itu dimiringkan, yang rusak bukan hanya transaksi; yang rusak adalah rasa aman seluruh masyarakat.
Dari berita pekan ini kita ketahui betapa nyatanya pelajaran itu. Publik dikejutkan oleh kabar seorang perempuan yang disekap dan dianiaya, sampai akhirnya pelakunya ditangkap dan diproses hukum. Kita juga mendengar putusan berat bagi seseorang yang menghabisi nyawa pasangannya sendiri, dan kabar duka tentang seorang peserta pelatihan yang seharusnya pulang dalam keadaan selamat. Tiga kabar ini, walau berbeda tempat dan pelaku, mengirim satu pesan yang sama kepada kita: ketika yang kuat tidak lagi menahan diri terhadap yang lemah, timbangan kehidupan miring, dan masyarakat kehilangan ketenangannya.
Maka pertama-tama, mari kita renungkan bahwa keadilan dalam Islam bukan sekadar tidak menyakiti orang lain. Keadilan adalah menempatkan setiap hak pada pemiliknya dan setiap kekuatan pada tempatnya yang benar. Yang kuat dititipi kekuatan bukan untuk menekan, melainkan untuk melindungi. Yang berkuasa dititipi kuasa bukan untuk mengambil, melainkan untuk menjaga. Inilah inti dari perintah Allah yang lain dalam surah yang sama:
أَلَّا تَطْغَوْا۟ فِى ٱلْمِيزَانِ
"Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu." (QS. Ar-Rahmaan: 8)
Lihatlah bagaimana Allah merangkai dua ayat berurutan: jangan melampaui batas dalam timbangan, lalu tegakkanlah timbangan dengan adil. Larangan dulu, baru perintah. Seakan Allah tahu bahwa hati manusia cenderung condong, dan condong itu harus ditahan sebelum keadilan bisa ditegakkan. Setiap kita punya "timbangan" masing-masing: orang tua menimbang antara anak-anaknya, atasan menimbang antara bawahannya, pedagang menimbang antara untung dan hak pembeli. Pekan ini, ketika begitu banyak kabar tentang timbangan yang miring, pertanyaan untuk kita bukan "siapa yang salah di luar sana", melainkan "apakah timbangan di tangan kita sendiri masih lurus?"
Hadirin yang berbahagia, agar kita tidak salah arah, mari kita dengar bagaimana keadilan begitu dimuliakan dalam sabda Nabi kita ﷺ. Dalam riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو، يَعْنِي ابْنَ دِينَارٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو
"Ketahuilah, orang-orang yang adil akan duduk di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi Allah, di sebelah kanan Ar-Rahman — yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukum mereka, dalam urusan keluarga mereka, dan dalam segala sesuatu yang mereka kuasai." (Sahih Muslim 1827)
Perhatikanlah, hadirin, bagaimana Nabi ﷺ tidak menjanjikan mimbar cahaya itu hanya untuk hakim dan penguasa. Beliau menyebut tiga lapangan sekaligus: keadilan dalam keputusan, keadilan dalam keluarga, dan keadilan dalam segala yang berada di bawah tanggung jawab kita. Artinya, seorang ibu yang adil kepada anak-anaknya, seorang ketua RT yang jujur dengan iuran warga, seorang karyawan yang tidak mengambil yang bukan haknya — mereka semua sedang menuju mimbar cahaya yang sama. Keadilan bukan jabatan; ia adalah akhlak yang bisa diraih siapa saja.
Dan agar kita memahami betapa seriusnya tanggung jawab orang yang memutuskan perkara orang lain, dengarkanlah peringatan keras dalam hadits berikut:
عَنْ بُرَيْدَةَ رضى الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: "اَلْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ: اِثْنَانِ فِي اَلنَّارِ، وَوَاحِدٌ فِي اَلْجَنَّةِ. رَجُلٌ عَرَفَ اَلْحَقَّ فَقَضَى بِهِ فَهُوَ فِي اَلْجَنَّةِ، وَرَجُلٌ عَرَفَ اَلْحَقَّ فَلَمْ يَقْضِ بِهِ وَجَارَ فِي اَلْحُكْمِ فَهُوَ فِي اَلنَّارِ"
"Para hakim itu ada tiga jenis: dua di neraka dan satu di surga. Yang masuk surga adalah orang yang mengetahui kebenaran lalu memutuskan sesuai kebenaran itu. Adapun yang mengetahui kebenaran tetapi memutuskan menyimpang darinya dan berbuat zalim dalam keputusannya, ia masuk neraka. Demikian pula orang yang memutuskan perkara tanpa ilmu." (Bulugh al-Maram 1579)
Hadits ini, hadirin, menampar sebuah anggapan yang sering kita pelihara: bahwa cukup tahu yang benar saja sudah menyelamatkan. Tidak. Nabi ﷺ menempatkan orang yang tahu kebenaran tetapi tidak menjalankannya sejajar dengan orang yang menghakimi tanpa ilmu — sama-sama di neraka. Betapa banyak di antara kita yang tahu mana yang adil, tahu mana hak tetangga, tahu mana yang seharusnya dikembalikan, tetapi memilih diam karena segan, atau menyimpang karena ada keuntungan. Ilmu yang tidak diiringi keberanian menegakkannya bukanlah keselamatan; ia adalah hujjah yang justru memberatkan.
Lalu bagaimana teladan tertinggi keadilan itu ditunjukkan? Mari kita kembali ke satu peristiwa di masa Nabi ﷺ. Ketika beliau sedang membagikan harta di Ji'rana, ada seseorang yang berkata kepada beliau, "Berlaku adillah!" Beliau ﷺ menjawab dengan tegas:
حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا قُرَّةُ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضى الله عنهما
"Sesungguhnya aku akan celaka jika aku tidak berbuat adil." (Sahih al-Bukhari 3138)
Renungkanlah, hadirin. Manusia paling adil sepanjang sejarah, yang dijamin keadilannya oleh wahyu, tetap merasakan beratnya tanggung jawab itu sampai mengatakan "aku celaka jika tidak adil." Jika seorang Nabi yang ma'shum saja begitu cemas terhadap keadilan, bagaimana mungkin kita yang penuh kepentingan merasa ringan dan santai? Sikap ini mengajarkan kita kerendahan hati: bahwa keadilan menuntut kewaspadaan terus-menerus, bukan kepercayaan diri yang membabi buta.
Dan inilah, hadirin, yang harus kita renungkan tentang kemarahan yang melanda kita pekan ini. Ketika kabar kezaliman sampai ke telinga, hati kita bergejolak — itu pertanda iman yang masih hidup. Tetapi Islam mengajarkan kita membedakan antara benci pada perbuatan dan benci pada pelakunya. Kita boleh, bahkan harus, membenci kezaliman dengan sepenuh hati. Tetapi menjadikan kemarahan itu sebagai izin untuk menghancurkan kehormatan seseorang sebelum hukum menuntaskan urusannya, untuk ikut menyebarkan aib dan menebak-nebak keburukan, itu justru bentuk lain dari memiringkan timbangan. Keadilan menuntut kita adil bahkan kepada orang yang kita anggap bersalah — memberinya hak untuk diproses dengan benar, tidak menghukumnya dua kali lewat lidah dan jari-jari kita. Inilah keadilan yang sukar: adil ketika hati sedang panas.
Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita juga ingat bahwa keadilan punya sisi yang sering terlupa, yaitu menunaikan hak yang lemah tanpa mereka harus memohon-mohon. Dalam tradisi para sahabat, ada sebuah ungkapan yang menggetarkan: "Tidak akan disucikan suatu umat yang tidak menjamin hak orang lemahnya dapat diambil dari orang kuatnya, tanpa orang lemah itu harus tergagap-gagap memintanya." Inilah ukuran sejati sebuah masyarakat yang adil — bukan dari megahnya gedung pengadilan, melainkan dari seberapa mudah orang paling lemah memperoleh haknya. Maka pertanyaan untuk kita pekan ini: adakah di sekitar kita orang lemah yang haknya tertahan, yang terlalu segan untuk meminta? Tetangga yang piutangnya belum kita bayar, pekerja yang upahnya kita tunda, orang tua yang perhatiannya kita lalaikan?
Hadirin yang dirahmati Allah, dari sini mari kita turunkan ke amal nyata. Pertama, mari kita audit timbangan kita sendiri pekan ini — apakah ada hak orang lain, sekecil apa pun, yang tertahan di tangan kita: utang yang belum dibayar, amanah barang yang belum dikembalikan, gaji pekerja yang ditunda tanpa alasan. Kedua, mari kita perhatikan yang lemah di sekitar kita; menengok tetangga yang sedang ditimpa kezaliman, menawarkan bantuan kepada keluarga korban, adalah bentuk konkret menegakkan keadilan dari bawah. Ketiga, bagi kita yang memegang amanah — sebagai pengurus, bendahara, pemimpin keluarga — mari kita buka kembali catatan kita dan pastikan tidak ada hak orang yang tercampur dengan milik pribadi. Keempat, mari kita didik anak-anak kita sejak dini bahwa adil itu indah, dimulai dari membagi mainan dengan saudaranya secara setara.
Hari ini, hadirin, kita juga berada di hari Asyura, tanggal sepuluh Muharram — hari yang oleh Nabi ﷺ dianjurkan untuk berpuasa. Hari ini Allah menyelamatkan kaum yang lemah dari kezaliman seorang penguasa yang melampaui batas. Maka tidak ada momentum yang lebih tepat untuk menyegarkan tekad kita menegakkan keadilan dan membela yang tertindas selain hari ini. Mari kita jadikan puasa hari ini sebagai pengikat janji: bahwa di tahun yang baru ini, timbangan di tangan kita akan kita jaga tetap lurus.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, di khutbah kedua ini izinkan kita perdalam satu sisi yang sering terlewat. Keadilan yang dituntut Islam bukanlah keadilan yang dingin dan kaku. Ia keadilan yang berpasangan dengan rahmat. Allah memerintahkan keadilan dan ihsan dalam satu tarikan napas — adil agar tidak ada yang terzalimi, dan ihsan agar yang lemah mendapat lebih dari sekadar haknya. Inilah yang membedakan keadilan seorang mukmin dari keadilan yang sekadar prosedural.
Maka ketika kita marah pada kabar kezaliman pekan ini, mari kita pastikan amarah itu tidak berhenti sebagai luapan di layar gawai. Amarah yang sehat adalah amarah yang berubah menjadi tindakan: membela yang lemah, menolak ikut menyebar aib, dan mendoakan agar keadilan benar-benar ditegakkan tanpa kita ikut menjadi hakim atas pribadi orang. Sebab dakwah kita adalah membenci perbuatan zalim, bukan menghancurkan kehormatan pelakunya sebelum hukum menuntaskan tugasnya.
Dan mari kita ingat bahwa puncak keadilan adalah keadilan terhadap diri sendiri: menempatkan Allah pada posisi-Nya yang benar di hati kita, lalu membiarkan seluruh hidup kita ditimbang oleh-Nya. Orang yang adil kepada Tuhannya akan lebih mudah adil kepada sesamanya.
Hadirin, di hari Asyura yang penuh berkah ini, mari kita tutup dengan satu tekad. Hari ini Allah dahulu menyelamatkan kaum yang lemah dari penindasan, dan menenggelamkan kesombongan yang melampaui batas. Sejarah itu bukan sekadar dongeng masa lalu; ia janji yang terus berlaku: bahwa kezaliman, sebesar apa pun, punya batas waktu, dan keadilan, sekecil apa pun ditegakkan, tidak pernah sia-sia di sisi Allah. Maka jangan biarkan rasa lelah membuat kita berhenti berharap pada keadilan. Selama kita menjaga timbangan kita sendiri tetap lurus dan ikut membela yang lemah dari posisi kita masing-masing, kita sedang menjadi bagian dari janji itu. Marilah kita berdoa agar Allah mengokohkan langkah kita di jalan keadilan dan rahmat.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوصًا إِخْوَانَنَا فِي أَرْضِ فِلَسْطِينَ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِينًا.
اَللَّهُمَّ احْفَظِ الضُّعَفَاءَ مِنَّا مِنْ ظُلْمِ الْأَقْوِيَاءِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَأْخُذُ الضَّعِيفُ حَقَّهُ بَيْنَنَا غَيْرَ مُتَعْتَعٍ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَارْزُقْهُمْ بِطَانَةً صَالِحَةً تَدُلُّهُمْ عَلَى الْعَدْلِ.
اَللَّهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى الْمُسْلِمِينَ، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَ هَٰذَا الْيَوْمِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
