بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَدْلُ فِي حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْأَمِينُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, malam ini kita berkumpul di hari yang istimewa — hari Asyura, sepuluh Muharram. Dan di pekan yang baru saja kita lewati, ada banyak kabar tentang yang lemah ditindas yang kuat. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan dari pertemuan dua hal ini: hari Asyura dan keberanian membela yang lemah.
Mari kita mulai dari sebuah pertanyaan sederhana. Kenapa Nabi ﷺ begitu memuliakan hari Asyura? Karena di hari inilah, dahulu, Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya yang lemah dari kejaran seorang penguasa yang merasa dirinya paling berkuasa di muka bumi. Hari Asyura, pada intinya, adalah hari kemenangan yang lemah atas yang zalim. Maka ketika kita berpuasa hari ini, kita sebenarnya sedang merayakan satu nilai: bahwa Allah berpihak kepada yang tertindas, dan cepat atau lambat, timbangan akan ditegakkan.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an, mengingatkan kita pada prinsip dasar ini:
أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَحْكَمِ ٱلْحَٰكِمِينَ
"Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?" (QS. At-Tin: 8)
Ayat ini, jamaah, adalah ayat yang menenangkan sekaligus menggugah. Menenangkan, karena ia mengingatkan kita bahwa di atas semua pengadilan dunia yang kadang lambat dan kadang keliru, ada Hakim Yang Maha Adil yang tidak pernah salah dan tidak pernah lupa. Tetapi juga menggugah, karena jika Allah seadil itu, maka kita yang mengaku hamba-Nya tidak boleh berpangku tangan terhadap ketidakadilan di depan mata.
Pekan ini, kabar yang sampai ke kita menyayat hati. Seorang perempuan disekap dan dianiaya hingga pelakunya akhirnya ditangkap. Seorang istri kehilangan nyawa di tangan orang yang seharusnya melindunginya. Dan kita semua, dari balik layar, merasakan amarah yang sama. Tetapi izinkan saya bertanya kepada kita semua: apakah amarah itu cukup? Apakah cukup kita mengetik komentar geram lalu lanjut scroll seperti biasa?
Di sinilah saya ingin mengajak kita belajar dari sebuah sikap yang sangat indah. Suatu kali, ketika Nabi ﷺ membagikan harta, ada orang yang menuduh beliau tidak adil. Coba bayangkan beratnya tuduhan itu. Tetapi beliau tidak membalas dengan kemarahan yang merusak. Beliau menjawab dengan kerendahan yang dalam, seperti diriwayatkan:
"Celakalah engkau! Siapa lagi yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil?" (Sahih Muslim 1064f)
Lihatlah, jamaah. Bahkan ketika dituduh secara tidak adil, Nabi ﷺ tidak sibuk membela harga dirinya. Beliau justru menegaskan kembali komitmennya pada keadilan. Inilah pelajaran pertama untuk kita: orang yang benar-benar adil tidak gampang tersinggung; ia sibuk memastikan dirinya tetap lurus, bukan sibuk membalas yang menyerangnya.
Coba kita renungkan sejenak betapa beratnya kalimat yang beliau ucapkan. "Siapa lagi yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil?" Seakan beliau berkata: keadilan itu terlalu mahal untuk dipertaruhkan demi membalas satu tuduhan. Bandingkan dengan kebiasaan kita, jamaah. Begitu ada yang menyinggung kita sedikit saja di grup keluarga atau di tempat kerja, kita bisa kehilangan keseimbangan, lalu membalas dengan kata-kata yang menyakitkan, bahkan membuka aib orang yang menyinggung kita. Di saat seperti itu, timbangan kita sudah miring — bukan karena orang lain, tetapi karena kita membiarkan ego mengambil alih kemudi. Nabi ﷺ mengajarkan jalan yang berbeda: tetap tenang, tetap lurus, dan biarkan keadilan menjadi pembelaan terbaik bagi diri kita.
Dan ada satu hal lagi yang menyentuh dari berita pekan ini, jamaah. Ketika banyak orang ramai membahas kasus-kasus besar, kita melihat dua jenis reaksi. Ada yang sibuk menghakimi, menebak siapa pelaku siapa korban, lalu ikut menyebar segala yang ia dengar. Dan ada yang diam-diam mendoakan agar keadilan ditegakkan, lalu mengambil pelajaran untuk dirinya sendiri. Pertanyaannya untuk kita malam ini: kita termasuk yang mana? Sebab keadilan tidak hanya soal apa yang kita tuntut dari orang lain, tetapi juga soal bagaimana kita memperlakukan kabar yang sampai ke kita. Menahan diri untuk tidak ikut menjatuhkan orang sebelum jelas perkaranya — itu pun bentuk keadilan yang dihitung Allah.
Maka, jamaah, apa yang ayat dan kisah ini ungkapkan tentang diri kita? Mereka mengungkapkan bahwa keadilan itu butuh keberanian. Berani jujur ketika berbohong lebih menguntungkan. Berani membela yang lemah ketika diam lebih aman. Berani mengembalikan hak orang ketika tidak ada yang tahu kita menahannya. Keadilan bukan untuk orang yang punya jabatan; ia untuk orang yang punya nyali. Dan hari Asyura ini mengingatkan kita bahwa keberanian membela yang lemah itu, sekecil apa pun, dicatat oleh Allah, Hakim Yang Maha Adil.
Saya tahu, kadang kita merasa terlalu kecil untuk berbuat. "Saya cuma orang biasa, apa yang bisa saya lakukan terhadap kezaliman sebesar itu?" Pertanyaan ini wajar. Tetapi keadilan tidak selalu menuntut kita mengubah dunia; kadang ia hanya menuntut kita tidak ikut memiringkan timbangan di lingkaran kecil kita sendiri. Tidak ikut menyebar kabar yang belum tentu benar tentang orang. Tidak menahan upah pekerja kita. Tidak pilih kasih di antara anak-anak kita. Dari sinilah keadilan besar itu bermula.
Para sahabat dahulu punya ukuran yang jujur tentang masyarakat yang adil, jamaah. Mereka berkata bahwa tidak akan disucikan sebuah umat yang di dalamnya orang lemah tidak bisa mengambil haknya dari orang kuat tanpa harus tergagap-gagap memohon. Renungkanlah ukuran ini. Ia tidak menanyakan seberapa megah lembaga hukum kita, atau seberapa ramai kita membahas keadilan di media. Ia menanyakan satu hal yang sangat membumi: apakah orang paling lemah di antara kita mudah mendapatkan haknya, atau harus berjuang dan merendah dulu? Kalau kita bawa ukuran ini pulang ke rumah masing-masing, mungkin kita akan menemukan bahwa orang lemah yang haknya tertahan itu bukan orang jauh — ia bisa jadi pembantu di rumah kita, orang tua yang sudah sepuh, atau anak yang suaranya jarang kita dengar.
Maka malam ini, sebelum kita pulang, ada tiga hal yang bisa kita lakukan dalam waktu dekat. Pertama, jika hari ini kita berpuasa Asyura, mari kita niatkan puasa itu sebagai pembelaan terhadap yang lemah — bahwa kita akan menjadi orang yang menegakkan, bukan memiringkan. Kedua, mari kita pilih satu orang lemah di sekitar kita pekan ini — tetangga yang kesusahan, pekerja yang tertunda haknya — lalu kita tunaikan satu kebaikan nyata untuknya. Ketiga, mari kita berhenti dari satu kebiasaan kecil yang diam-diam menzalimi orang lain: menunda janji, menggunjing, atau menahan yang bukan hak kita.
Jamaah yang saya hormati, mari kita tutup dengan satu kesimpulan. Hari Asyura mengajarkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan yang lemah. Tugas kita bukan menunggu keadilan datang dari langit, melainkan menjadi tangan kecil yang ikut menegakkannya di bumi. Mari kita mulai dari timbangan kita sendiri.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَادِلِينَ الْمُقْسِطِينَ، وَاحْفَظْنَا مِنْ أَنْ نَظْلِمَ أَوْ نُظْلَمَ، وَتَقَبَّلْ صِيَامَنَا فِي هَٰذَا الْيَوْمِ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَ السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
