Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsInspirasi & Kisah PribadiKamis, 25 Juni 2026

Kisah Pendek — "Duduk di Tepi Jalan Madinah"

Di tengah pekan yang ramai dengan kabar tentang orang-orang penting dan jabatan-jabatan besar, ada satu kisah lama yang justru bercerita tentang kebalikannya: tentang seorang manusia paling mulia yang memilih merendahkan dirinya. Kisah ini dihimpun Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — Bab tentang Ketawadukan Rasulullah ﷺ, dari penuturan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Madinah di suatu siang. Matahari menggantung tinggi, jalan-jalan tanahnya memantulkan panas. Di salah satu sudut kota, seorang perempuan tua berjalan mendekat. Wajahnya menyimpan beban. Ada urusan di hatinya yang ingin ia sampaikan kepada Rasulullah ﷺ — sesuatu yang barangkali memalukan, barangkali terlalu kecil untuk diganggukan kepada seorang pemimpin umat.

Ia memberanikan diri. Suaranya pelan ketika berkata kepada beliau:

إِنّ لي اليك حاجة

"Sesungguhnya aku punya keperluan denganmu."

Orang-orang mungkin mengira beliau akan menyuruhnya menunggu, atau menyerahkannya kepada sahabat lain. Beliau adalah pemimpin sebuah umat yang sedang tumbuh. Waktunya berharga. Tetapi yang terjadi sebaliknya. Rasulullah ﷺ tidak meninggikan dirinya. Beliau berkata dengan lembut:

اجلسي في أيّ طريق المدينة شئت أجلس إليك

"Duduklah di jalan Madinah mana pun yang engkau mau, dan aku akan duduk bersamamu."

Lihatlah. Bukan perempuan itu yang harus datang ke majelis beliau. Beliau yang bersedia menghampiri, di jalan mana pun yang dipilih perempuan itu, agar urusannya bisa disampaikan tanpa malu, tanpa harus didengar orang banyak. Beliau merendahkan diri demi menjaga perasaan seorang perempuan tua yang barangkali tak dianggap penting oleh siapa pun.

Bayangkan pemandangan itu. Seorang pemimpin yang namanya disebut di setiap penjuru jazirah, yang ucapannya diikuti ribuan orang, memilih duduk di tanah berdebu di tepi jalan, menundukkan kepala mendengarkan keluhan seorang perempuan tua. Tidak ada pengawal yang mengusirnya. Tidak ada protokol yang menghalanginya. Hanya dua manusia, di tepi jalan, satu berbicara dan satu mendengar dengan sungguh-sungguh. Dan yang mendengar itu adalah manusia paling mulia yang pernah berjalan di muka bumi.

Ketawadukan beliau bukan hanya di hadapan satu orang. Anas bin Malik juga menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, menunggang keledai, dan memenuhi undangan seorang hamba sahaya. Beliau tidak pernah merasa terlalu tinggi untuk hadir di tempat-tempat yang sederhana, di antara orang-orang yang dianggap kecil oleh dunia. Para sahabat begitu mencintai beliau — tidak ada sosok yang lebih mereka cintai. Namun ketika beliau datang, mereka tidak berdiri menyambut secara berlebihan, karena mereka tahu beliau tidak menyukai pengagungan yang melampaui batas. Beliau ingin tetap menjadi seorang hamba di antara hamba-hamba Allah, bukan sosok yang diletakkan di atas mereka.

Beliau bahkan pernah memperingatkan, sebagaimana diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu:

لا تطروني كما أطرت النّصارى ابن مريم إنّما أنا عبد فقولوا: عبد الله ورسوله

"Janganlah kalian berlebihan memujiku seperti orang Nasrani berlebihan memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya."

Dan dalam kesederhanaannya, beliau berkata bahwa seandainya dihadiahi sepotong kaki kambing pun beliau akan menerimanya, dan seandainya diundang untuk itu beliau akan datang. Tidak ada yang terlalu kecil, tidak ada yang terlalu rendah. Dunia di mata beliau bukan tempat untuk meninggikan diri.

Pelajaran

Kisah perempuan tua yang dipersilakan memilih sendiri tepi jalan Madinah itu menyimpan satu pelajaran yang menusuk: bahwa kemuliaan sejati justru terletak pada kesediaan turun, bukan pada kebutuhan untuk dipandang tinggi. Rasulullah ﷺ, manusia paling agung, tidak pernah merasa harga dirinya jatuh karena duduk di tepi jalan menemani seorang yang lemah. Di pekan ketika banyak percakapan berputar tentang jabatan, gengsi, dan siapa yang lebih tinggi, kisah ini mengembalikan ukuran yang benar: orang yang paling mulia adalah yang paling sanggup menghampiri, mendengarkan, dan memuliakan mereka yang merasa tak terlihat. Mungkin di sekitar kita ada "perempuan tua" itu — orang yang menyimpan keperluan di hatinya tapi tak berani bersuara. Tugas kita hanya satu: bersedia duduk di sebelahnya.

Sumber Asli

Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم

الشمائل المحمدية للترمذي ط إحياء التراث 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم 313- حدثنا أحمد بن منيع وسعيد بن عبد الرحمن المخزوميّ «1» وغير واحد قالوا- حدثنا سفيان بن عيينة عن الزّهريّ عن عبيد الله عن ابن عباس عن عمر بن الخطاب قال-: «قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تطروني «2» كما أطرت النّصارى ابن مريم إنّما أنا عبد فقولوا: عبد الله ورسوله». 314- حدثنا عليّ بن حجر. حدثنا سويد بن عبد العزيز «3» عن حميد عن أنس بن مالك رضي الله عنه: «أن امرأة «4» جاءت الى النبيّ صلى الله عليه وسلم فقالت له: إنّ لي اليك حاجة. فقال: اجلسي في أيّ طريق المدينة شئت أجلس «5» إليك» «6».

315- حدثنا عليّ بن حجر. حدثنا عليّ بن مسهر عن مسلم الأعور «1» عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعود المريض ويشهد الجنائز ويركب الحمار ويجيب دعوة العبد. 320- قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لو أهدي إليّ كراع لقبلت ولو دعيت عليه لأجبت».

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan