أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja melewati hari Asyura ini, ada satu pesan yang ingin saya bagikan — terutama untuk siapa saja di antara kita yang sedang merasa lelah dengan hidupnya sendiri. Pekan ini, di banyak ruang percakapan anak muda, sampai kepada kita ungkapan-ungkapan yang berat: rasa putus asa, rasa tidak berdaya, bahkan keinginan untuk berhenti. Saya tidak ingin melewatinya begitu saja malam ini.
Mari kita mulai dari satu kebenaran yang sederhana tetapi sering kita lupakan. Allah berfirman:
بَلِ ٱلْإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفْسِهِۦ بَصِيرَةٌۭ
Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri (QS. Al-Qiyaama: 14). Ayat ini, saudara-saudara, berkata bahwa kita ini sebenarnya tahu keadaan hati kita sendiri. Orang yang sedang tenggelam tahu ia sedang tenggelam, walaupun di depan orang lain ia tersenyum. Maka langkah pertama bukan menyalahkan diri, melainkan jujur kepada diri: "Aku sedang tidak baik-baik saja, dan itu tidak apa-apa untuk diakui."
Siapa di antara kita yang pekan ini pernah merasa ingin menyerah pada sesuatu — pada pekerjaan, pada hubungan, pada diri sendiri? Saya yakin kita semua pernah merasakannya dalam kadar yang berbeda. Dan di sinilah agama kita hadir, bukan dengan cambuk, tetapi dengan tangan yang terulur.
Pekan ini kita juga mendengar kabar tentang gelombang pemutusan kerja dan saudara-saudara kita yang penghasilannya menyusut. Kita dengar pula tentang anak-anak muda yang menuliskan kelelahan hidup yang dalam. Dua kabar ini sebenarnya satu keluarga: keduanya adalah malam yang panjang. Dan pesan saya malam ini hanya satu kalimat: jangan berhenti di tengah jalan, karena fajar sudah dekat.
Mari kita dengar bagaimana Rasulullah ﷺ menghargai amal yang paling kecil sekalipun. Dalam riwayat dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap pagi, setiap ruas tulang tubuh kita berkewajiban sedekah — dan setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil dan takbir adalah sedekah, dan dua rakaat Dhuha sudah mencukupi semua itu (Sahih Muslim 720). Lihatlah betapa lembutnya agama ini. Bagi orang yang merasa tidak sanggup berbuat apa-apa, Allah berkata: cukup ucapkan subhanallah, dan itu sudah Aku catat sebagai sedekah yang mengangkat derajatmu. Tidak ada keadaan yang terlalu hancur untuk memulai dari satu langkah kecil.
Saya teringat, saudara-saudara, betapa banyak orang besar dalam sejarah Islam yang pernah berada di titik terendahnya. Ka'b bin Malik, sahabat yang setia, pernah diboikot lima puluh malam karena satu kesalahan. Dunia terasa menyempit baginya. Tetapi ia tidak melepaskan tali harapan kepada Allah, dan akhirnya Allah sendiri yang menurunkan ayat untuk menerima taubatnya. Pesan dari kisah itu untuk kita malam ini: penilaian manusia bukanlah keputusan akhir. Keputusan akhir ada di tangan Allah, dan tangan Allah selalu lebih luas dari sangkaan kita.
Apa artinya ini bagi kita yang sedang lelah? Artinya, rasa lelah kita bukan bukti bahwa kita gagal. Rasa lelah adalah tanda bahwa kita telah berjuang. Dan Allah tidak pernah menyia-nyiakan perjuangan hamba-Nya. Mungkin malam ini kita belum melihat jalan keluar, tetapi melihat jalan keluar bukan syarat untuk terus melangkah — yang menjadi syarat hanyalah keyakinan bahwa Allah masih bersama kita.
Saudara-saudara, ada satu hal yang sering kita salah pahami tentang harapan. Kita kira harapan itu perasaan yang datang sendiri ketika keadaan membaik. Padahal harapan dalam Islam adalah pilihan, bahkan ketika keadaan belum berubah sama sekali. Husnuzan billah — berbaik sangka kepada Allah — adalah keputusan hati untuk percaya bahwa Allah sedang mengatur yang terbaik, meski mata kita belum melihatnya. Coba kita ingat ummul mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha, yang pernah dituduh secara keji selama berhari-hari sampai beliau menangis tak henti, tidak tahu harus berbuat apa. Beliau tidak punya kuasa membersihkan namanya sendiri. Tetapi beliau menyandarkan semuanya kepada Allah, dan akhirnya Allah sendiri yang turun membela dari langit. Pelajaran untuk kita: ketika kita merasa tak berdaya mengubah keadaan, sandaran kita bukan pada kekuatan diri, melainkan pada Allah yang Maha Melihat.
Dan perhatikan, saudara-saudara, betapa lembutnya cara Allah memperlakukan hamba yang ingin kembali. Di antara doa terindah yang Nabi ﷺ ajarkan adalah doa memohon ampunan atas segala kesalahan — yang disengaja maupun tidak, yang besar maupun yang kecil, yang kita ketahui maupun yang luput dari ingatan kita (Sahih Muslim 2719a). Doa ini seakan berkata kepada kita: jangan takut datang kepada Allah dengan seluruh kekuranganmu. Justru dengan kekurangan itulah seorang hamba paling jujur menghadap Tuhannya. Tidak ada hati yang terlalu kotor untuk dibersihkan, tidak ada lembaran yang terlalu penuh coretan untuk ditulis ulang.
Inilah, saudara-saudara, makna momentum Asyura yang baru kita lewati. Hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa 'alaihissalam dan kaumnya yang lemah dari kezaliman Fir'aun, di saat mereka terjepit antara laut dan pasukan musuh, di titik yang tampaknya tanpa jalan keluar. Justru di titik itulah pertolongan Allah datang. Asyura mengajarkan kita bahwa Allah punya kebiasaan menolong yang lemah di saat yang paling tidak terduga. Maka jika malam ini kita merasa terjepit antara dua kesulitan, ingatlah: Allah yang membelah laut untuk Musa adalah Allah yang sama yang mendengar doa kita malam ini.
Maka, saudara-saudara, sebelum kita pulang malam ini, izinkan saya menitipkan tiga hal yang bisa kita lakukan dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, jika hati kita sedang berat, ucapkan istighfar dan dzikir pendek sebelum tidur — biarkan kalimat Allah menemani malam kita. Kedua, jika kita melihat ada saudara, teman, atau anggota keluarga yang akhir-akhir ini murung atau menghilang, kirim satu pesan tulus malam ini juga: "Apa kabarmu? Aku di sini." Jangan tunggu besok. Ketiga, jangan menutup mata dari rasa sakit orang lain dengan kalimat "sabar saja"; dengarkan dulu, baru bicara.
Saudara-saudara, saya tutup dengan satu kesimpulan yang ingin saya titipkan untuk kita bawa pulang: hidup ini adalah malam dan fajar yang bergantian. Yang membedakan seorang mukmin bukanlah bahwa ia tidak pernah mengalami malam, tetapi bahwa ia tahu fajar pasti datang, dan ia tidak melepaskan harapan kepada Allah di tengah gelapnya.
اَللّٰهُمَّ يَا مُفَرِّجَ الْهُمُوْمِ، فَرِّجْ هَمَّ كُلِّ مَهْمُوْمٍ مِنَّا، وَيَا كَاشِفَ الْغُمُوْمِ اكْشِفْ غَمَّ كُلِّ مَغْمُوْمٍ، وَأَنِرْ قُلُوْبَنَا بِنُوْرِ الرَّجَاءِ فِيْكَ، وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
