Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Marilah pada Jumat yang penuh berkah ini kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Hari ini kita berkumpul di rumah Allah bertepatan dengan satu hari yang mulia, Hari Asyura, sepuluh Muharram — hari yang sepanjang sejarah dikenang sebagai hari ketika Allah menolong hamba-hamba-Nya yang tertindas dan membinasakan kezaliman yang melampaui batas. Pertemuan kita hari ini terasa sangat tepat, karena hati kita pun sedang dipenuhi keprihatinan terhadap saudara-saudara kita yang tertindas di tempat yang jauh.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:
QS. An-Nisaa: 36
۞ وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًۭا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًۭا فَخُورًا
Artinya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri."
Ayat ini, hadirin yang dimuliakan Allah, meletakkan sebuah peta tanggung jawab yang menarik untuk kita renungkan pekan ini. Setelah memerintahkan tauhid, Allah langsung menyusunnya dengan daftar panjang siapa saja yang berhak atas ihsan kita: orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman seperjalanan, sampai musafir yang kehabisan bekal. Yang menakjubkan, daftar ini bergerak dari yang terdekat ke yang terjauh. Allah seakan mengajarkan kita bahwa kepedulian sejati bukan memilih antara yang dekat dan yang jauh, melainkan merawat keduanya sekaligus, dimulai dari lingkaran yang paling mudah kita jangkau.
Dari berita yang sampai kepada kita pekan ini, kita semua mengetahui betapa beratnya derita saudara-saudara kita di Gaza dan kawasan sekitarnya. Sebuah wilayah yang seharusnya menjadi tempat tinggal yang aman bagi penduduknya kini diperbincangkan layaknya tempat penderitaan yang tak berkesudahan. Anak-anak yatim bertambah, orang-orang miskin kehilangan rumah, dan musafir yang terusir dari tanahnya berjalan tanpa tujuan. Bukankah mereka semua persis golongan yang disebut dalam ayat tadi — al-yatama, al-masakin, ibnus-sabil? Maka keprihatinan kita kepada mereka bukan sekadar emosi politik; ia adalah panggilan ihsan yang Allah perintahkan secara langsung.
Namun, ma'asyiral muslimin, di sinilah kita perlu berhati-hati. Ketika hati terluka, ada godaan besar untuk melampiaskan kemarahan ke segala arah, termasuk ke sesama saudara seiman yang kebetulan berbeda cara pandang dalam menyikapi krisis. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dengan tegas:
Sahih Muslim 2564a
لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا ۚ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ ۚ التَّقْوَى هَا هُنَا
Artinya: "Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling menawar barang yang sedang ditawar orang lain, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, dan janganlah kalian saling menjatuhkan harga. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak menelantarkannya, dan tidak menghinanya. Takwa itu di sini."
Perhatikanlah, hadirin, betapa indah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menutup rangkaian larangan itu dengan kalimat "wa kunu 'ibadallahi ikhwana" — jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Kemudian beliau menunjuk dadanya tiga kali sambil berkata bahwa takwa itu letaknya di sini, di hati. Artinya, ukuran sejati seorang yang bertakwa bukan seberapa keras ia berteriak menentang kezaliman di luar, melainkan seberapa bersih hatinya dari kebencian kepada saudaranya sendiri. Betapa sering kita melihat umat terpecah justru saat sedang menghadapi musibah bersama, saling menuduh kurang peduli, saling merendahkan sikap. Inilah kemenangan halus bagi kezaliman: ia tidak hanya melukai yang jauh, tetapi juga memecah yang dekat.
Maka argumen khutbah kita hari ini sederhana namun mendasar: marahlah pada kezaliman, jangan pada saudara. Salurkan luka itu menjadi tiga hal yang Allah dan Rasul-Nya benarkan — doa untuk yang tertindas, solidaritas yang nyata, dan keadilan yang kita tegakkan dari lingkaran terdekat — bukan menjadi perpecahan di antara sesama umat.
Persaudaraan ini bukan slogan kosong. Ia memiliki konsekuensi yang sangat konkret. Dengarkanlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
Sahih Muslim 2580
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: "Seorang Muslim adalah saudara bagi sesama Muslim. Ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menelantarkannya. Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa melapangkan satu kesulitan seorang Muslim, Allah akan melapangkan satu kesulitannya pada Hari Kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat."
Lihatlah dua kata kunci di awal hadits ini: "la yazhlimuhu wa la yuslimuhu" — tidak menzaliminya dan tidak menelantarkannya. Kezaliman adalah dosa aktif; penelantaran adalah dosa pasif. Keduanya dilarang. Saat saudara kita terluka, diam membisu dan berpaling juga merupakan bentuk kegagalan ukhuwah. Tetapi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berhenti pada larangan; beliau membuka pintu pahala yang luas: siapa yang melapangkan kesulitan saudaranya, Allah akan melapangkan kesulitannya kelak. Inilah yang harus kita pahami pekan ini — bahwa setiap doa yang tulus, setiap rupiah yang kita sisihkan untuk kemanusiaan, setiap upaya menutupi aib dan menjaga nama baik sesama, semuanya tercatat sebagai melapangkan kesulitan saudara, dan Allah membalasnya berlipat.
Lalu apa yang menjadi inti dari semua persaudaraan ini? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menggariskan batas suci yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun:
Riyad as-Salihin 234
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لا يَخُونُهُ وَلا يَكْذِبُهُ وَلا يَخْذُلُهُ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ عِرْضُهُ وَمَالُهُ وَدَمُهُ، التَّقْوَى هَهُنَا، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
Artinya: "Seorang Muslim adalah saudara bagi sesama Muslim. Ia tidak boleh mengkhianatinya, tidak boleh berdusta kepadanya, dan tidak boleh menelantarkannya tanpa pertolongan. Segala sesuatu yang dimiliki seorang Muslim adalah suci bagi seorang Muslim: kehormatannya, hartanya, dan darahnya. Takwa itu di sini. Cukuplah bagi seseorang dianggap berbuat jahat jika ia menghina saudara Muslimnya."
Tiga hal disebut Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai sesuatu yang suci dan haram dilanggar: kehormatan, harta, dan darah. Inilah yang sedang dirampas dari saudara-saudara kita di tempat yang jauh — darah mereka ditumpahkan, harta mereka dihancurkan, kehormatan mereka diinjak. Dan justru karena kita memahami betapa sucinya tiga hal ini, kita pun wajib menjaganya pada sesama yang ada di sekitar kita. Bagaimana mungkin kita marah pada perampasan darah di Gaza, sementara lisan kita gampang mencabik kehormatan saudara di grup percakapan? Bagaimana kita menangisi harta yang dihancurkan di sana, sementara timbangan kita di pasar masih curang? Konsistensi inilah yang dituntut takwa. Keadilan tidak bisa dibagi-bagi menurut jarak.
Para ulama kita pun mengajarkan bahwa menjaga lisan dan menjauhi prasangka adalah bagian dari menjaga umat. Syekh dalam kitab adab menasihatkan agar seorang yang berilmu menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan tuduhan, dan menegakkan amar makruf nahi mungkar dengan sabar atas gangguan, sebagaimana firman Allah yang beliau kutip: Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ — "Dan bersabarlah atas apa yang menimpamu; sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." Maka sikap kita terhadap krisis pekan ini hendaknya menegakkan kebenaran dengan hikmah, bukan dengan caci yang memecah, dan dengan kesabaran yang memuliakan, bukan kebisingan yang melelahkan.
Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah kita tarik semua ini menjadi langkah konkret pekan ini. Pertama, perbanyaklah doa untuk saudara-saudara yang tertindas — terutama hari ini, di hari Asyura, hari yang dimuliakan untuk merendah diri kepada Allah. Kedua, salurkan bantuan yang nyata melalui lembaga kemanusiaan yang tepercaya, sekecil apa pun, karena melapangkan kesulitan saudara adalah ibadah yang dibalas Allah. Ketiga, jagalah lisan dan jari kita di ruang digital — jangan biarkan kemarahan yang benar berubah menjadi caci-maki yang merusak persatuan. Keempat, tegakkan keadilan di lingkaran terdekat — di rumah, di tempat kerja, di lingkungan — karena umat yang kuat dibangun dari individu yang adil. Kelima, jadikan puasa hari ini sebagai sarana mendekat kepada Allah dan menenangkan hati yang resah. Dan keenam, ajarkan anak-anak kita tentang Palestina dan tentang makna keadilan, agar kepedulian ini tidak putus pada generasi kita saja.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu sisi yang ingin kita gali lebih dalam pada khutbah kedua ini. Persaudaraan umat ini bukan hanya soal perasaan, melainkan soal komitmen dan janji yang dijaga. Allah berfirman tentang sifat orang-orang beriman yang beruntung, bahwa mereka adalah orang yang memelihara amanat dan janji-janjinya. Maka solidaritas kita kepada saudara yang tertindas adalah amanah yang dipikulkan kepada kita; ia tidak boleh menguap begitu saja ketika sorotan media beralih.
Sisi kedua, marilah kita renungkan bahwa kemarahan yang tidak terkelola adalah pintu masuk bagi setan untuk memecah barisan. Betapa banyak energi umat yang seharusnya diarahkan untuk membantu yang lemah malah habis untuk pertengkaran internal tentang siapa yang paling benar sikapnya. Kita memohon kepada Allah agar dijauhkan dari fitnah yang memecah hati sesama Muslim.
Sisi ketiga, hari Asyura ini mengingatkan kita pada sejarah panjang pertolongan Allah kepada yang tertindas. Pertolongan itu tidak selalu datang secepat yang kita inginkan, tetapi ia pasti datang bagi mereka yang sabar dan tidak meninggalkan jalan yang benar. Maka jangan biarkan rasa tak berdaya membuat kita berhenti berdoa dan berbuat.
Sisi keempat, ingatlah bahwa amal kecil yang konsisten lebih dicintai Allah daripada luapan besar yang sekejap. Doa yang dijaga, sedekah yang rutin, lisan yang dijaga, dan keadilan yang ditegakkan setiap hari — itulah modal umat yang sebenarnya.
Marilah kita tutup khutbah ini dengan memperbanyak shalawat dan doa.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَتَقَبَّلْ شُهَدَاءَهُمْ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ، وَجَنِّبْهُمُ الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَنْ رَبَّيَانَا صِغَارًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
