Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumKonflik & GeopolitikKamis, 25 Juni 2026

Kultum — "Doa yang Tidak Pernah Sia-sia"

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, hati kita semua mungkin terasa berat. Kabar tentang penderitaan saudara-saudara kita di Gaza dan kawasan sekitarnya datang silih berganti, dan banyak dari kita merasa ingin berbuat sesuatu tetapi bingung harus mulai dari mana. Malam ini, izinkan saya membagikan satu pesan sederhana: jangan pernah meremehkan kekuatan doa, terutama di hari yang mulia seperti hari Asyura ini.

Saya ingin mulai dengan satu ayat yang sering kita dengar, tetapi jarang benar-benar kita renungkan dalam konteks seperti sekarang. Allah berfirman:

QS. Hud: 114

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

Artinya: "Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada sebagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang mau mengingat."

"Innal-hasanati yudzhibnas-sayyi'at" — sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan. Para jamaah, ayat ini memberi kita kabar gembira yang luar biasa. Ketika kita merasa tidak berdaya menghadapi kezaliman besar di dunia, Allah mengingatkan bahwa amal baik sekecil apa pun tidak pernah sia-sia. Ia menghapus dosa, mengangkat derajat, dan — yang sering kita lupa — ia mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih layak menjadi penolong umat.

Saudara-saudara sekalian, mari kita jujur. Pekan ini kita dengar kabar yang membuat marah. Kita melihat gambar-gambar yang membuat mata berkaca. Lalu apa yang kita lakukan? Sebagian dari kita menumpahkan kemarahan di media sosial, berdebat panjang, bahkan tak jarang bertengkar dengan sesama Muslim yang berbeda cara pandang. Di ujung hari, kita lelah, hati makin keruh, dan saudara yang jauh tetap tidak terbantu. Ada yang salah dengan cara kita menyalurkan kepedulian.

Coba kita perhatikan pola yang berulang ini. Kabar berat datang, emosi memuncak, jari bergerak lebih cepat dari pikiran. Kita membagikan, mengomentari, membantah. Lalu muncul satu komentar dari saudara seiman yang sikapnya berbeda sedikit, dan tiba-tiba fokus kita berpindah — bukan lagi pada yang tertindas, melainkan pada "membenarkan diri" di hadapan sesama. Energi yang seharusnya menjadi doa dan sedekah malah habis menjadi pertengkaran. Setan tidak perlu bekerja keras; ia cukup menunggu kita yang sibuk saling melukai. Di sinilah letak bahayanya: kemarahan yang benar, kalau tidak diarahkan, justru menjadi pintu masuk perpecahan di tubuh umat sendiri.

Pernahkah kita merasa, setelah seharian larut dalam berita dan perdebatan, bukan ketenangan yang kita dapat melainkan kegelisahan yang makin dalam? Itu adalah tanda dari Allah bahwa cara kita keliru. Hati yang sehat akan tenang ketika ia mengadu kepada Tuhannya; hati yang resah biasanya sedang terlalu sibuk dengan makhluk dan lupa kepada Sang Pencipta. Maka pertanyaannya bukan "seberapa keras aku bersuara", melainkan "seberapa sering aku mengangkat tangan kepada Allah untuk mereka".

Mari kita ukur diri sendiri. Berapa kali pekan ini kita menyebut nama saudara-saudara kita di Gaza dalam doa kita yang sungguh-sungguh? Bandingkan dengan berapa lama kita menghabiskan waktu untuk scroll dan berdebat. Saya tidak sedang menyalahkan; saya pun pernah berada di posisi itu. Tetapi kita perlu jujur bahwa kemarahan yang tidak diarahkan ke doa dan amal hanya akan menggerus jiwa kita sendiri tanpa memberi manfaat kepada siapa pun.

Di sinilah hari Asyura datang sebagai hadiah. Hari ini, sepuluh Muharram, adalah hari yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam anjurkan untuk berpuasa, dan beliau menyebutkan bahwa puasa Asyura menghapus dosa setahun yang telah lalu. Bayangkan, para jamaah — satu amal sederhana, menahan lapar sehari, dengan ganjaran yang begitu besar. Inilah bukti nyata dari ayat tadi: kebaikan menghapus keburukan. Hari ini Allah membuka pintu yang lebar bagi kita untuk membersihkan diri dan mendekat kepada-Nya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengajarkan kita bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, bernilai sedekah. Beliau bersabda dalam riwayat Sahih Muslim 720 bahwa setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil dan takbir adalah sedekah, demikian pula amar makruf dan nahi mungkar. Maka bahkan ketika kita merasa tidak punya apa-apa untuk diberikan, kita masih punya lisan untuk berzikir dan hati untuk berdoa — dan itu semua tercatat sebagai sedekah di sisi Allah. Tidak ada satu pun Muslim yang benar-benar tak berdaya selama ia masih bisa mengangkat tangan kepada Tuhannya.

Refleksi yang lebih dalam, para jamaah: mengapa Allah membuat doa sebagai senjata orang beriman? Karena doa membentuk hati kita. Orang yang setiap hari mendoakan saudaranya yang tertindas akan tumbuh menjadi orang yang lembut hatinya, yang tidak bisa lagi berbuat zalim kepada orang di sekitarnya. Doa mengikat kita pada nasib umat, dan ikatan itu mengubah perilaku. Inilah rahasia mengapa solidaritas sejati selalu dimulai dari kamar shalat, bukan dari kolom komentar.

Maka malam ini, sebelum kita pulang, mari kita ambil tiga langkah konkret. Pertama, sisihkan waktu khusus malam ini juga untuk mendoakan saudara-saudara kita yang tertindas, dengan nama dan dengan air mata jika bisa. Kedua, jika belum berpuasa hari ini, niatkan untuk mengganti dengan amal baik lain dan rencanakan puasa sunnah di hari-hari mendatang. Ketiga, esok pagi, pilih satu kebaikan kecil — sedekah, menahan lisan dari debat yang sia-sia, atau membantu tetangga — sebagai wujud nyata bahwa kepedulian kita tidak berhenti di perasaan.

Para jamaah, mari kita tutup dengan kesimpulan ini: kita mungkin tidak bisa menghentikan kezaliman di tempat yang jauh dengan tangan kita, tetapi kita bisa mengangkat tangan kita kepada Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan kita bisa menjadi pribadi yang adil dan penyayang di lingkaran kita sendiri. Itu bukan langkah kecil; itu adalah cara seorang mukmin mengubah dunia, satu hati pada satu waktu.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَاجْمَعْ قُلُوْبَنَا عَلَى الْحَقِّ، اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَأَعْمَالَنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan