Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatLingkungan & BencanaKamis, 25 Juni 2026

Khutbah Jumat — "Bumi Amanah, Musibah Penguji Iman"

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ جَعَلَ الْأَرْضَ مِهَادًا وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا، وَسَخَّرَ لَنَا مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيْعًا مِنْهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Kita berkumpul pada Jumat ini di tengah kabar yang berat. Dari berita pekan ini kita ketahui bagaimana air bah merendam sebuah pondok pesantren hingga beberapa meter — bukan karena hujan yang luar biasa lebat semata, melainkan karena hutan di hulunya telah dibabat untuk perkebunan dan pertambangan. Kita juga mendengar keluh-kesah tentang listrik yang padam bergiliran, tentang kecemasan akan pasokan energi, dan tentang saudara-saudara kita yang kehilangan tempat berteduh akibat musibah. Semua kabar ini, jamaah, memanggil kita untuk merenung: apa sesungguhnya hubungan kita dengan bumi yang kita pijak, dan bagaimana iman kita berdiri ketika musibah datang?

Marilah kita awali dengan firman Allah yang menggambarkan sikap seorang hamba di hadapan bumi dan musibah sekaligus:

قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱللَّهِ وَٱصْبِرُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱلْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۖ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Itulah firman Allah dalam QS. Al-A'raaf: 128, yang artinya: "Musa berkata kepada kaumnya: 'Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.'" Perhatikanlah, jamaah, betapa dua perkara dirangkai dalam satu napas: isti'anah — memohon pertolongan kepada Allah — dan sabar. Lalu ditegaskan kepemilikan: bumi ini milik Allah. Nabi Musa 'alaihissalam mengucapkan ini kepada kaumnya yang tertindas, sebagai pengingat bahwa bumi bukan warisan yang bisa direbut dengan kezaliman, melainkan amanah yang dipusakakan Allah kepada siapa yang Dia kehendaki — dan kesudahan yang baik hanya untuk yang bertakwa.

Dari ayat ini kita belajar bahwa bumi bukan milik kita untuk dihabiskan. Kita hanya pemegang amanah, khalifah fil-ardh yang akan dimintai pertanggungjawaban. Ketika hutan dibabat tanpa perhitungan, ketika sungai dijadikan tempat sampah, ketika tanah dikeruk hingga kehilangan daya serapnya, sesungguhnya yang sedang terjadi bukan sekadar kerusakan ekologis — itu adalah pengkhianatan terhadap amanah. Dan tagihannya jatuh kepada yang lemah: santri yang pesantrennya terendam, petani yang sawahnya tertimbun, keluarga yang rumahnya hanyut. Inilah yang dalam bahasa syariat disebut ifsad fil-ardh, kerusakan di muka bumi, yang Allah larang dengan tegas. Menjaga bumi, jamaah, bukan urusan sekuler yang dipinjam dari kerangka asing — itu perintah syariat sejak empat belas abad lebih, bagian dari iman dan ketakwaan kita.

Namun ayat tadi tidak berhenti pada amanah; ia juga memerintahkan sabar. Dan di sinilah lapis kedua pesan kita pekan ini. Sebab tidak semua musibah adalah buah dosa manusia. Allah memberitahu kita bahwa ujian adalah keniscayaan hidup, sebuah sunnah yang berlaku atas seluruh hamba beriman. Dengarlah firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Dalam QS. Al-Baqara: 155 Allah berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." Perhatikan kelembutan susunan ayat ini, jamaah. Allah menyebut ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan — persis jenis musibah yang dibawa banjir dan kerusakan lingkungan. Lalu Dia tidak menutup ayat dengan ancaman, melainkan dengan kabar gembira: "basyiris-sabirin," berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Maka sabar bukanlah kekalahan; ia adalah pintu menuju kabar gembira dari Allah.

Lalu apa hakikat sabar yang dimaksud? Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa sabar yang sejati diuji justru pada saat-saat pertama musibah menghantam. Beliau bersabda:

الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

Dalam riwayat Imam Muslim, Sahih Muslim 926a, Rasulullah ﷺ bersabda: "Kesabaran (yang sejati) itu ditunjukkan pada pukulan pertama (saat musibah baru menimpa)." Betapa dalam hadits pendek ini, jamaah. Banyak orang menyangka dirinya penyabar karena beberapa pekan setelah musibah ia sudah bisa tersenyum lagi — padahal pada saat itu luka memang sudah mereda dengan sendirinya. Sabar yang berpahala besar adalah sabar pada detik pertama, ketika kabar buruk baru saja sampai, ketika air baru saja masuk rumah, ketika lampu baru saja padam dan hati terguncang. Pada momen itulah lidah seorang mukmin diuji: apakah ia akan mengeluh dan menyalahkan, atau mengembalikan segalanya kepada Allah.

Dan pengembalian itu punya kalimatnya sendiri yang Allah ajarkan. Allah berfirman tentang sifat orang-orang yang sabar:

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

Itulah QS. Al-Baqara: 156: "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun' — sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali." Kalimat istirja' ini, jamaah, adalah pengakuan ganda: bahwa kita milik Allah, maka Dia berhak melakukan apa saja atas milik-Nya; dan bahwa kita akan kembali kepada-Nya, maka tidak ada satu pun musibah yang sia-sia di sisi-Nya. Para sahabat mengucapkannya bahkan untuk perkara kecil. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah mengucapkan istirja' ketika tali sandalnya putus, lalu berkata, "Sesungguhnya setiap hal yang menimpa seorang mukmin dan tidak ia sukai, itu adalah musibah." Lihatlah, sandal yang putus pun ia kembalikan kepada Allah. Maka apatah lagi banjir, kehilangan, dan ujian besar yang sedang menimpa saudara-saudara kita pekan ini.

Maka, jamaah yang dimuliakan Allah, marilah kita pahami: ketika musibah datang, mukmin tidak menjadi rapuh. Rasulullah ﷺ memberi kita perumpamaan yang indah tentang hal ini. Dengarlah:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ، قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ فُلَيْحٍ، قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ هِلاَلِ بْنِ عَلِيٍّ، مِنْ بَنِي عَامِرِ بْنِ لُؤَىٍّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ مَثَلُ الْمُؤْم

Dalam riwayat Imam Bukhari, Sahih al-Bukhari 5644, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti tanaman muda yang segar; dari arah mana pun angin datang, ia akan membengkokkannya, tetapi ketika angin mereda, ia akan tegak kembali. Demikian pula, seorang mukmin ditimpa musibah, tetapi ia tetap sabar sampai Allah menghilangkan kesulitannya." Subhanallah, jamaah. Nabi ﷺ tidak menggambarkan mukmin sebagai batu yang tak bergerak. Mukmin itu seperti tanaman muda — ia lentur, ia bisa membungkuk ditiup angin musibah, hatinya boleh sedih, matanya boleh menangis. Tetapi ia tidak patah. Begitu badai reda, ia tegak kembali. Inilah sabar yang sehat: bukan menyangkal rasa sakit, melainkan tidak membiarkan rasa sakit mematahkan iman.

Dan tahukah kita, jamaah, bahwa di balik kesabaran atas musibah tersimpan kebaikan yang utuh? Rasulullah ﷺ menyingkapnya dalam sabda yang menakjubkan. Dalam riwayat Imam Muslim, Sahih Muslim 2999, dari Suhaib radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, karena segala urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidaklah didapati pada seorang pun kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, maka itu pun adalah kebaikan baginya." Maka seorang mukmin sejati tidak pernah rugi: dalam kelapangan ia menambah pahala dengan syukur, dalam kesempitan ia menambah pahala dengan sabar. Dua-duanya keuntungan. Inilah kekayaan ruhani yang tidak dimiliki oleh siapa pun selain orang beriman.

Lalu apa yang harus kita lakukan, jamaah, sebagai tindakan nyata pekan ini? Pertama, hidupkan kembali kesadaran amanah atas bumi: mulailah dari rumah dan lingkungan kita — kurangi sampah plastik, jaga pohon yang ada, jangan menambah kerusakan sekecil apa pun. Ini fardh kifayah kita sebagai khalifah fil-ardh. Kedua, ringankan beban saudara yang tertimpa musibah: kumpulkan bantuan lewat masjid dan RT untuk korban banjir dan pengungsi, sekecil apa pun. Ketiga, latih lidah kita untuk mengucapkan istirja' pada pukulan pertama setiap musibah, besar maupun kecil, agar hati terbiasa kembali kepada Allah. Keempat, jadikan musibah pekan ini sebagai bahan muhasabah keluarga: ajak anak-anak kita memahami bahwa menjaga lingkungan adalah ibadah, dan bahwa sabar adalah kekuatan, bukan kelemahan. Kelima, perbanyak doa dan istighfar — hari ini adalah Hari Asyura, hari yang dianjurkan kita berpuasa untuk menghapus dosa setahun yang lalu; momentum yang tepat untuk membersihkan diri dan memohon dijauhkan dari bencana.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلٰى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Jamaah yang dirahmati Allah, izinkan kita perdalam tiga renungan dari khutbah pertama. Renungan pertama: musibah lingkungan yang kita saksikan menuntut kita membedakan antara takdir murni dan akibat perbuatan. Banjir yang datang karena hutan dibabat bukanlah semata-mata kehendak langit yang harus kita terima dengan tangan terlipat — ia adalah peringatan agar kita memperbaiki perilaku. Sabar di sini berarti tabah menghadapi akibatnya, sekaligus berani mengubah sebabnya.

Renungan kedua: kabar yang berat sering membuat hati kita gamang dan lidah kita mudah mengeluh. Maka kembalinya kita kepada istirja' bukan ritual kosong, melainkan latihan ruhani agar setiap guncangan mengembalikan kita kepada Allah, bukan menjauhkan. Mukmin yang terlatih akan mengucapkan "inna lillahi" sebelum air matanya kering.

Renungan ketiga: di tengah musibah, umat dipanggil untuk menjadi tangan pertolongan, bukan penonton. Menghibur yang berduka, membantu yang kehilangan, dan merawat pengungsi adalah amal yang Allah muliakan. Inilah saatnya masjid dan keluarga menjadi simpul kasih sayang, bukan sekadar tempat singgah.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوْءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَالْفِتَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُتَضَرِّرِيْنَ مِنَ الْفَيَضَانَاتِ وَالزَّلَازِلِ وَالْمُهَجَّرِيْنَ، وَأَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَآوِ مُشَرَّدَهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَأَلْهِمْهُمْ رُشْدَهُمْ فِيْ حِفْظِ أَرْضِكَ وَغَابَاتِكَ وَأَنْهَارِكَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدِيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِيْنَ الشَّاكِرِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan