Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsLingkungan & BencanaKamis, 25 Juni 2026

Kisah Pendek — "Perempuan yang Memilih Surga"

Di tengah kabar pekan ini tentang banjir yang merendam rumah dan listrik yang padam, ada satu pertanyaan tua yang selalu kembali: bagaimana orang-orang saleh dahulu menanggung sakit yang tak kunjung sembuh? Syaikh Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah, dalam Hayat as-Sahabah — bab الصبر على البلايا مطلقا (sabar atas segala musibah), menghimpun sebuah kisah pendek yang menggetarkan tentang seorang perempuan Anshar dan penyakit yang menyertainya bertahun-tahun.

Perempuan itu menderita penyakit ayan. Sewaktu-waktu tubuhnya kejang tanpa peringatan. Lutut melemas, pandangan menggelap, lalu ia jatuh ke tanah tak sadarkan diri. Orang-orang berkerumun, sebagian menolong, sebagian hanya menatap. Dan justru tatapan itulah yang paling ia takutkan. Bukan rasa sakitnya. Bukan tubuhnya yang gemetar. Yang ia takutkan adalah auratnya tersingkap di depan banyak mata ketika ia kambuh dan tak berdaya.

Penyakit itu menyertainya entah sudah berapa lama. Ia memikulnya sendiri, hari demi hari, dalam diam.

Suatu hari ia memberanikan diri. Ia datang menemui Rasulullah ﷺ di Makkah. Langkahnya berat, tetapi tekadnya sudah bulat. Wajahnya menyimpan beban yang lama dipendam. "Wahai Rasulullah," katanya, suaranya nyaris berbisik, "penyakit ini telah mengalahkanku."

Nabi ﷺ menatapnya dengan lembut. Beliau tidak buru-buru menjawab. Tidak ada nada iba yang merendahkan, tidak ada terburu-buru. Lalu beliau menawarkan sesuatu yang sama sekali tak terduga oleh perempuan itu.

«إِنْ تَصْبِرِي عَلَى مَا أَنْتِ عَلَيْهِ تَجِيئِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ عَلَيْكِ ذُنُوبٌ وَلَا حِسَابٌ»

"Jika engkau bersabar atas keadaanmu ini, engkau akan datang pada Hari Kiamat tanpa membawa dosa dan tanpa hisab."

Perempuan itu terdiam sejenak. Udara seolah berhenti. Tawaran itu berat sekali menggantung di antara mereka. Di satu sisi, kesembuhan yang selama ini ia rindukan kini ada dalam genggaman doa Nabi — satu doa, dan penyakit itu mungkin lenyap selamanya. Di sisi lain, ada janji yang jauh lebih besar dari sekadar tubuh yang sehat: surga, tanpa dosa, tanpa hisab. Ia menimbang. Lalu ia memilih.

"Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran," katanya, dan kali ini suaranya mantap tak bergetar, "aku akan bersabar sampai aku berjumpa dengan Allah." Ia tidak meminta dihilangkan sakitnya. Ia hanya menambahkan satu permintaan kecil — permintaan yang justru menunjukkan betapa terjaganya rasa malunya bahkan di tengah ujian: "Tetapi aku khawatir auratku tersingkap saat aku kambuh. Doakanlah aku agar tidak tersingkap."

Nabi ﷺ pun mengangkat tangan dan mendoakannya. Dan sejak hari itu, kehidupan perempuan itu berubah. Setiap kali ia merasakan tanda-tanda penyakitnya hendak datang — kepala mulai berat, pandangan mulai berkunang — ia tidak panik. Ia bergegas menuju Ka'bah, meraih kain penutupnya, dan berpegang erat-erat. Lalu, dengan keyakinan seorang yang sudah menyerahkan urusannya kepada Allah, ia berbisik kepada penyakitnya, "Pergilah." Maka penyakit itu pun mundur, dan ia tetap tertutup, tetap terjaga, persis seperti yang ia mohonkan.

Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau pernah berkata kepada muridnya, Atha', "Maukah kutunjukkan kepadamu seorang perempuan penghuni surga?" Atha' menjawab, "Tentu." Ibnu Abbas berkata, "Perempuan berkulit hitam itulah orangnya. Dialah yang datang kepada Nabi ﷺ dan memilih bersabar." Sejarah bahkan mencatat namanya: Ummu Zufar radhiyallahu 'anha — perempuan jangkung berkulit gelap yang dahulu pernah terlihat berpegangan pada kain Ka'bah.

Pelajaran

Yang menakjubkan dari kisah ini bukan kesembuhannya, melainkan pilihannya. Ummu Zufar diberi pilihan yang sangat manusiawi — bebas dari sakit — namun ia menukarnya dengan sesuatu yang tak terlihat mata: surga tanpa hisab. Ia tidak menyangkal sakitnya; ia bahkan jujur menyebut ketakutannya akan aurat tersingkap. Tetapi ia tidak membiarkan sakit itu merampas imannya. Inilah sabar yang tegak: menerima ujian sebagai jalan menuju Allah, sambil tetap berikhtiar menjaga apa yang masih bisa dijaga. Ketika musibah pekan ini terasa berat di pundak kita, kisah perempuan Anshar ini berbisik pelan: yang menentukan bukan beratnya ujian, melainkan ke mana kita memalingkan hati saat ujian itu datang.

Sumber Asli

Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / الصبر على البلايا مطلقا

صبر امرأة أنصارية على داء الصرع أخرج البزار عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم بمكة فجاءته امرأة من الأنصار فقالت: يا رسول الله إن هذا الخبيث قد غلبني، فقال له: «إن تصبري على ما أنت عليه تجيئين يوم القيامة ليس عليك ذنوب ولا حساب» ، قالت: والذي بعثك بالحق لأصبرنَّ حتى ألقى الله. قالت: إني أخاف الخبيث أن يجرِّدني، فدعا له، فكانت إذا خشيت أن يأتيها تأتي أستار الكعبة فَتَعَلَّق بها وتقول له: اخسأ فيذهب عنها.

وعند أحمد عن عطاء رضي الله عنه قال: قال لي ابن عباس رضي الله عنهما: ألا أريك امرأة من أهل الجنة؟ قلت: بلى، قال: هذه السوداء، أتت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت: إني أصرع وأنكشف فادع الله لي، قال: «إن شئت صبرت ولك الجنة، وإن شئت دعوت الله لك أن يعافيك» قالت: لا، بل أصبر فادع الله ألا أنكشف ولا ينكشف عني. قال: فدعا لها.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan