Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumLingkungan & BencanaKamis, 25 Juni 2026

Kultum — "Sabar yang Bukan Diam, Tapi Tegak"

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ini, kabar tentang banjir yang merendam pesantren dan keluhan tentang listrik yang padam bergiliran terasa menekan dada. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini, dan pesan itu cuma satu kata: sabar. Tapi tunggu dulu — saya tahu, kata "sabar" sudah terlalu sering kita dengar sampai kehilangan rasanya. Kita kira sabar itu berarti diam, pasrah, tidak berbuat apa-apa. Malam ini saya ingin kita luruskan: sabar dalam Islam bukan diam. Sabar adalah tegak.

Mari kita mulai dari satu perumpamaan yang Nabi ﷺ berikan. Beliau ﷺ menyebut seorang mukmin itu seperti tanaman muda yang segar.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَةِ مِنَ الزَّرْعِ، تُفَيِّئُهَا الرِّيَاحُ

Hadits ini diriwayatkan Imam Bukhari, Sahih al-Bukhari 5644, dari Abu Hurairah. Maknanya: seorang mukmin itu ibarat tanaman muda yang segar; dari arah mana pun angin bertiup, ia membungkuk, tetapi ketika angin reda ia tegak lagi. Coba kita bayangkan, saudara-saudara. Tanaman padi yang masih hijau di sawah, ketika diterpa angin kencang, ia menunduk sampai hampir menyentuh tanah. Tapi ia tidak patah. Begitu angin berlalu, ia berdiri lagi. Bandingkan dengan pohon besar yang kaku — ketika badai datang, ia justru tumbang dan tercerabut akarnya.

Inilah gambaran iman yang sehat. Ketika musibah datang — banjir masuk rumah, listrik padam, kehilangan yang dicintai — seorang mukmin boleh menunduk. Hatinya boleh sedih, matanya boleh menangis. Nabi ﷺ sendiri menangis ketika putranya Ibrahim wafat. Jadi siapa bilang sabar itu berarti tidak boleh sedih? Yang membedakan mukmin adalah: ia menunduk, tapi tidak patah. Ia membungkuk diterpa ujian, lalu tegak kembali. Sebab ia tahu kepada siapa ia bersandar.

Pekan ini kita dengar kabar tentang air bah yang menelan pesantren karena hutan di hulu dibabat habis. Kita juga dengar kecemasan tentang lampu yang byar-pet. Kabar-kabar seperti ini, kalau kita biarkan, bisa membuat kita jadi pohon kaku yang gampang tumbang — mengeluh tiada henti, menyalahkan ke sana ke mari, sampai lupa bahwa di atas semua itu ada Allah yang mengatur. Padahal Allah sudah memberi tahu kita rahasianya. Allah berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ

Dalam QS. At-Taghaabun: 11 Allah berfirman: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." Perhatikan kalimat terakhirnya, saudara-saudara: "Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." Artinya, ketika seorang yang beriman ditimpa musibah dan ia tetap percaya kepada Allah, Allah akan menenangkan hatinya — memberinya petunjuk untuk menerima, untuk tetap tegak, untuk tahu langkah apa berikutnya. Itulah hadiah sabar: bukan musibahnya yang hilang, tapi hatinya yang dikuatkan.

Lalu sabar yang tegak itu seperti apa wujud nyatanya? Begini. Ketika rumah kebanjiran, sabar yang tegak bukan berarti duduk meratap. Sabar yang tegak adalah: mengucap "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," lalu bangkit menyelamatkan keluarga, membersihkan rumah, dan membantu tetangga yang lebih parah. Ketika listrik padam, sabar yang tegak bukan mengomel sepanjang malam. Sabar yang tegak adalah: bersyukur untuk yang masih ada, menyalakan lilin, dan barangkali justru menjadikan gelap itu kesempatan berkumpul bercerita dengan anak-anak tanpa layar gadget. Sabar itu aktif, saudara-saudara. Sabar itu bergerak.

Dan tahukah kita, kenapa Allah begitu menyukai hamba yang sabar? Karena bagi seorang mukmin, tidak ada keadaan yang merugikan. Nabi ﷺ bersabda bahwa urusan mukmin itu menakjubkan — kalau ia senang ia bersyukur, dan itu baik; kalau ia susah ia bersabar, dan itu pun baik. Coba renungkan: dalam hidup ini hanya ada dua keadaan, lapang atau sempit. Dan seorang mukmin punya kunci untuk menjadikan keduanya keuntungan. Lapang ia syukuri, sempit ia sabari. Maka ia tidak pernah benar-benar rugi. Inilah kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan uang, dan tidak bisa direnggut oleh banjir mana pun.

Ada satu hal lagi yang sering kita lewatkan, saudara-saudara. Sabar yang tegak itu bukan hanya soal hati yang kuat, tapi juga soal lidah yang terjaga dan tangan yang bergerak benar. Sebagian kita, ketika ditimpa musibah, sibuk berkata "andai saja dulu saya begini, pasti tidak begini." Padahal Nabi ﷺ justru melarang kalimat "andai-andai" yang melemahkan itu. Beliau mengajarkan kita untuk bersemangat pada apa yang bermanfaat, meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak berputus asa; lalu jika musibah tetap menimpa, ucapkanlah "qaddarallah" — Allah telah menetapkan, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan. Lihat bedanya: kalimat "andai" menyeret kita ke masa lalu yang tak bisa diubah dan membuka pintu setan; kalimat "Allah telah menetapkan" membawa kita maju dengan tenang. Maka pekan ini, ketika kita mendengar kabar pesantren yang terendam atau lampu yang padam, mari jaga lidah kita: kurangi keluhan dan penyesalan, perbanyak istirja' dan ikhtiar yang nyata.

Dan jangan lupa, jamaah, bahwa sabar atas musibah juga punya wujud sosial. Salah satu sabar yang paling indah adalah ketika kita menghibur dan menguatkan saudara yang sedang tertimpa. Menjenguk yang sakit, menengok yang rumahnya kebanjiran, menemani yang berduka — semua itu adalah cara kita menebar kesabaran kepada orang lain, bukan hanya menyimpannya untuk diri sendiri. Inilah yang membuat sebuah komunitas Muslim menjadi kuat di tengah musibah: bukan karena tidak ada yang jatuh, tetapi karena selalu ada tangan yang mengulurkan diri menolong yang jatuh.

Maka, jamaah yang saya cintai, mari kita ukur diri sendiri malam ini. Ketika kabar buruk pekan ini sampai ke kita, kita jadi tanaman muda yang menunduk lalu tegak, atau pohon kaku yang tumbang dan tercerabut? Pekan ini, mari kita latih tiga hal sederhana. Pertama, biasakan lidah kita mengucap istirja' setiap kali ada hal kecil yang tidak menyenangkan — bahkan ketika ketinggalan motor atau tumpah air. Latih dari yang kecil, supaya kuat ketika yang besar datang. Kedua, kalau ada tetangga yang terkena musibah pekan ini, jangan cuma berdoa dari rumah — datangi, hibur, bawakan sesuatu. Ketiga, jadikan setiap keluhan yang muncul di hati sebagai alarm untuk segera berganti menjadi syukur atau ikhtiar.

Saya tutup dengan satu kalimat yang ingin saudara-saudara bawa pulang: musibah tidak datang untuk mematahkan kita, tetapi untuk menunjukkan kepada Allah seberapa lentur dan kuat akar iman kita. Mari kita berdoa.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِيْنَ الشَّاكِرِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بُيُوْتَنَا وَأَهْلِيْنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَبَلَاءٍ، وَارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُتَضَرِّرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan