Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPatologi Sosial DigitalKamis, 25 Juni 2026

Khutbah Jumat — "Layar yang Menjanjikan, Lubang yang Menelan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحَلَّ الطَّيِّبَاتِ وَحَرَّمَ الْخَبَائِثَ، وَجَعَلَ الْمَالَ قِوَامًا لِلْعِبَادِ وَأَمَانَةً يُسْأَلُوْنَ عَنْهَا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Di hari yang penuh berkah ini, di bulan Muharram yang Allah muliakan, marilah kita memulai dengan satu kesadaran sederhana: harta yang ada di tangan kita hari ini bukanlah milik kita sepenuhnya. Ia titipan. Dan setiap titipan akan ditanya kembali, dari mana ia datang dan ke mana ia pergi. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

وَلَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ وَتُدْلُوا۟ بِهَآ إِلَى ٱلْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا۟ فَرِيقًۭا مِّنْ أَمْوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Itulah firman Allah dalam QS. Al-Baqara: 188, yang artinya: "Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui." Perhatikan, jamaah, betapa lengkap larangan ini. Allah tidak hanya melarang mencuri secara kasar; Allah melarang segala cara memakan harta orang lain yang batil — yang tidak ada landasan halalnya — sekalipun dibungkus dengan transaksi yang tampak rapi.

Pekan ini, dari berita dan percakapan yang sampai kepada kita, kita ketahui betapa ramai persoalan jerat pinjaman online ilegal dan judi daring. Banyak saudara kita terjerat: meminjam dengan bunga yang mencekik untuk menutup kekalahan judi, lalu berjudi lagi berharap menutup utang. Kabar yang sampai kepada kita bahkan menggambarkan ada yang sampai pada titik putus asa, sampai terucap keinginan untuk menempuh jalan apa pun demi uang — "menghalalkan segala cara". Inilah, ma'asyiral muslimin, gambaran nyata dari hati yang sudah kalah sebelum dompetnya kalah. Ketika seseorang berani berkata "halalkan segala cara", sesungguhnya yang ia robohkan pertama kali bukan hukum negara, melainkan pagar halal-haram yang Allah pasang di dalam dirinya.

Mari kita pahami akar persoalannya. Judi, dalam istilah syariat disebut maysir, adalah transaksi di mana seseorang menyerahkan harta dengan harapan menang besar tanpa kerja yang sepadan — dan di sisi lain, ada yang pasti kehilangan. Tidak ada nilai yang ditambahkan, tidak ada barang yang ditukar, hanya perpindahan harta berdasarkan keberuntungan dan tipuan. Inilah salah satu bentuk paling murni dari "memakan harta dengan batil". Rasulullah ﷺ memperlakukan ajakan berjudi sedemikian seriusnya, sampai-sampai sekadar mengucapkan ajakan itu pun menuntut penebusan. Beliau bersabda:

مَنْ حَلَفَ مِنْكُمْ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ بِاللَّاتِ وَالْعُزَّى، فَلْيَقُلْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ

Sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari 6301, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa di antara kalian bersumpah lalu dalam sumpahnya menyebut 'Demi Lata dan 'Uzza', maka hendaklah ia mengucapkan 'Laa ilaaha illallaah'. Dan barangsiapa berkata kepada kawannya, 'Mari, aku berjudi denganmu', maka hendaklah ia bersedekah." Renungkanlah, jamaah. Hanya dengan mengucapkan ajakan judi, seseorang sudah diperintahkan bersedekah sebagai penebus. Lidah yang baru saja menjajakan kerusakan harus segera diganti dengan tangan yang mengeluarkan kebaikan. Maka bagaimana dengan zaman kita, di mana ajakan judi tidak lagi diucapkan dari mulut ke mulut, melainkan dikirim ribuan kali melalui iklan, tautan, dan bujukan di layar setiap orang?

Adapun pinjaman ribawi, ma'asyiral muslimin, Allah dan Rasul-Nya memberi peringatan yang sangat keras. Bukan hanya peminjam dan pemberi pinjaman yang terkena, melainkan seluruh mata rantai yang menopangnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim 1598, dari Jabir radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, pencatatnya, dan dua saksinya, dan beliau bersabda: "Mereka semua sama." Empat peran dalam satu laknat — bukan hanya yang menerima bunga, tetapi juga yang memberi pinjaman ribawi, yang mencatatkan, dan yang menyaksikan. Pelajaran ini sangat relevan dengan zaman kita. Di balik aplikasi pinjol ilegal ada rantai panjang: ada yang mengelola, ada yang menjadi penagih, ada yang menyebarkan tautan di grup, ada yang menjadi perantara mengisi data tetangga. Semua duduk di kursi yang dilaknat itu, meski mereka berlindung di balik kalimat "saya kan cuma membantu".

Dan dengar betapa hati-hatinya Rasulullah ﷺ mengkhawatirkan umatnya bukan karena kemiskinan, melainkan karena limpahan dunia. Beliau bersabda:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مَا يُخْرِجُ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا

Dalam Sahih Muslim 1052b, dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Hal yang paling aku takuti pada kalian adalah apa yang Allah hadirkan bagi kalian dalam bentuk perhiasan dunia." Lalu beliau menjelaskan bahwa harta itu hijau dan manis; siapa yang mengambilnya dengan haknya dan menempatkannya pada haknya, ia menjadi penolong yang baik, tetapi siapa yang mengambilnya tanpa hak, ia seperti orang yang makan tapi tak pernah kenyang. Bukankah ini gambaran sempurna tentang penjudi dan pemburu kekayaan instan di zaman kita? Mereka makan, menang sekali, kalah sepuluh kali, dan tak pernah merasa cukup — terus makan tanpa pernah kenyang, sampai habis harta, habis tenang, habis keluarga.

Akar dari semua ini, jamaah, adalah dua penyakit hati yang Rasulullah ﷺ peringatkan dalam satu napas. Beliau bersabda:

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Dalam Sahih Muslim 2578, dari Jabir radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan di Hari Kiamat, dan jauhilah kekikiran, karena kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, karena ia mendorong mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan apa yang diharamkan bagi mereka." Lihatlah betapa tepatnya peringatan ini. Kekikiran dan keserakahan — kerakusan yang tidak pernah merasa cukup — itulah yang mendorong manusia menumpahkan darah dan menghalalkan yang haram. Kalimat "menghalalkan segala cara" yang viral pekan ini sesungguhnya sudah disebut Rasulullah ﷺ empat belas abad lalu sebagai gejala dari penyakit syuh, ketamakan yang membinasakan.

Marilah kita belajar dari generasi terbaik umat ini, jamaah. Para sahabat Rasulullah ﷺ adalah orang-orang yang sangat berhati-hati terhadap sumber harta mereka. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, ketika pernah memakan makanan yang dibeli dari upah yang ternyata tidak jelas asalnya, beliau sampai memuntahkannya kembali karena khawatir ada suap yang masuk ke perutnya. Begitu pula 'Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu, yang menjaga harta umat dengan sangat ketat, sampai berkata kepada dunia, "Hai dunia, janganlah engkau memperdayaku, dan perdayalah selainku." Mereka memahami satu hal yang sering kita lupakan: bahwa harta yang masuk ke tubuh kita akan menjadi darah dan daging, dan darah-daging yang tumbuh dari yang haram lebih layak masuk ke neraka. Bandingkan dengan kewaspadaan mereka, betapa mudahnya hari ini seseorang menelan harta haram hanya dengan sekali sentuh layar, tanpa rasa gentar sedikit pun.

Maka, ma'asyiral muslimin, apa yang bisa kita lakukan sebagai jamaah pekan ini? Pertama, mari kita periksa telepon genggam kita sendiri malam ini — adakah aplikasi pinjol ilegal, adakah tautan judol yang masih kita simpan atau ikuti? Hapus, tanpa menunda. Kedua, mari kita jaga lidah dan jari kita; jangan menjadi penyebar tautan, perantara, atau penyaksi bagi transaksi yang dilaknat. Ingatlah, dalam hadits tadi, pencatat dan saksi pun masuk dalam laknat yang sama — maka meneruskan satu pesan ajakan judol pun bukan perkara ringan. Ketiga, mari kita hidupkan kembali budaya qardh hasan — pinjaman kebaikan tanpa bunga — di lingkungan kita; satu keluarga yang kesulitan lebih baik kita bantu langsung daripada kita biarkan jatuh ke tangan rentenir digital. Bayangkan jika setiap masjid memiliki satu kotak amanah kecil untuk menolong jamaah yang terdesak; berapa banyak keluarga yang bisa kita selamatkan dari cengkeraman bunga. Keempat, mari kita didik anak-anak kita bahwa rezeki yang sedikit tapi halal jauh lebih menenangkan daripada kekayaan banyak yang dikejar dengan jalan haram; mari kita tanamkan sejak dini bahwa untung tanpa kerja adalah tanda bahaya, bukan keberuntungan. Kelima, mari kita perbanyak sedekah pekan ini sebagai penyuci harta dan penyubur keberkahan — karena Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, di khutbah kedua ini izinkan kita menggali lebih dalam. Pertama, persoalan judol dan pinjol bukanlah persoalan pribadi yang selesai dengan satu orang berhenti. Ia adalah jaring yang menjerat tetangga, keluarga, dan teman. Maka tugas kita bukan hanya menyelamatkan diri, tetapi juga merentangkan tangan kepada yang sudah terjerat — bukan dengan menghakimi, melainkan dengan menolong mereka keluar.

Kedua, mari kita renungkan bahwa silau dunia di layar adalah ujian yang Rasulullah ﷺ sebut paling beliau khawatirkan. Setiap kali kita membuka beranda dan melihat pamer kekayaan instan, kita sedang diuji: apakah kita tetap percaya bahwa rezeki halal yang sedikit lebih baik, ataukah hati kita ikut tergiur. Penjagaan hati ini adalah jihad harian.

Ketiga, kekasaran lisan di ruang digital yang kita saksikan pekan ini adalah cermin dari hati yang gelap oleh kezaliman. Menjaga jari dari menyakiti orang lain adalah bagian dari menjaga iman. Maka mari kita jadikan diri kita oase kesantunan di tengah gurun kekasaran digital.

Keempat, marilah kita renungkan makna bulan Muharram yang sedang kita jalani. Hari ini adalah Hari Asyura, hari yang Rasulullah ﷺ teladankan dengan puasa, hari penuh ampunan. Alangkah indahnya jika momentum ini kita jadikan titik balik — bukan sekadar menahan lapar, melainkan menahan tangan dari harta yang haram, menahan hati dari ketamakan, dan menahan jari dari menyakiti. Puasa Asyura mengajarkan kita bahwa menahan diri, sekecil apa pun, adalah pintu menuju jiwa yang merdeka dari penghambaan kepada dunia. Mari kita keluar dari masjid ini dengan satu tekad sederhana: menjadi pribadi yang lebih bersih hartanya, lebih lembut lisannya, dan lebih cukup hatinya, mulai hari ini juga.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ الْمُذِلِّ، وَمِنْ كَسْبٍ حَرَامٍ يُهْلِكُ، وَنَسْأَلُكَ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَقَلْبًا قَنُوْعًا بِمَا قَسَمْتَ لَنَا.

اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الَّذِيْنَ وَقَعُوْا فِيْ شِبَاكِ الرِّبَا وَالْمَيْسِرِ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَهُمْ، وَفُكَّ كُرَبَهُمْ، وَاهْدِهِمْ إِلَى الْكَسْبِ الْحَلَالِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ فَرِّجْ هَمَّهُمْ، وَنَفِّسْ كَرْبَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَأَعِنْهُمْ عَلٰى حِمَايَةِ النَّاسِ مِنْ كُلِّ ضَرَرٍ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا وَارْحَمْ أَوْلَادَنَا، وَاحْفَظْ شَبَابَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan