Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ini, ramai sekali kabar tentang orang-orang yang terjerat judi online dan pinjaman daring. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini, dan pesannya sederhana: dalam judi, tidak ada yang benar-benar menang.
Siapa di antara kita yang belum pernah melihat iklan "menang besar, modal kecil" muncul di layar telepon? Hampir tidak ada. Janji itu menyelinap di sela-sela video, di kolom komentar, bahkan di grup keluarga. Dan janji itu memikat karena ia menyentuh keinginan paling purba dalam diri kita: ingin cepat, ingin banyak, ingin tanpa lelah. Tetapi Allah sudah memberi kita timbangan yang jujur. Allah berfirman:
Itulah QS. Ar-Room: 39, yang artinya: "Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipat gandakan pahalanya." Perhatikan keindahan logika ayat ini, saudara-saudara. Apa yang tampak bertambah lewat jalan haram — bunga, kemenangan judi, uang yang dikejar dengan tipu — sesungguhnya tidak bertambah sedikit pun di sisi Allah. Sebaliknya, apa yang tampak berkurang karena kita keluarkan demi Allah, justru itulah yang dilipatgandakan.
Mari kita ukur diri sendiri dengan jujur. Berapa banyak cerita yang sampai ke kita pekan ini tentang orang yang awalnya hanya ingin "iseng main sekali", lalu kalah, lalu meminjam untuk balas dendam, lalu terjerat utang yang mencekik? Kabar yang sampai ke kita juga menggambarkan keputusasaan yang lebih dalam: ada yang sampai berkata ingin menempuh jalan apa pun demi uang, ingin "menghalalkan segala cara". Inilah yang membuat saya merinding. Sebab ketika seseorang sudah berani mencabut pagar halal-haram, ia tidak sedang kehilangan uang — ia sedang kehilangan dirinya.
Coba kita perhatikan pola yang berulang ini, saudara-saudara. Judi tidak pernah berkata jujur sejak awal. Ia tidak datang dengan wajah "ayo, rugikan dirimu". Ia datang dengan wajah harapan: layar yang berkedip, angka yang menggoda, satu kemenangan kecil di awal yang sengaja dibiarkan agar kita percaya. Kemenangan pertama itulah jebakan yang paling halus, karena ia membisikkan, "lihat, kamu bisa." Padahal di balik layar, seluruh sistem sudah dirancang agar dalam jangka panjang kita pasti kalah. Begitu pula pinjol ilegal — ia datang seolah malaikat penolong di saat genting, lalu berubah menjadi rantai yang membelit. Inilah tipuan yang sama sejak zaman dahulu, hanya bajunya yang berganti menjadi aplikasi dan iklan.
Dan perhatikanlah, jamaah, betapa luasnya kerusakan ini. Seseorang yang terjerat judol tidak jatuh sendirian. Ia menyeret istrinya yang harus menanggung malu menghadapi penagih, anaknya yang uang sekolahnya raib, orang tuanya yang tabungannya dipinjam dengan janji palsu. Satu orang yang kalah judi bisa membuat satu rumah kehilangan ketenangannya selama bertahun-tahun. Inilah mengapa Islam tidak menganggap judi sekadar hobi buruk — ia menganggapnya perusak yang menjalar.
Rasulullah ﷺ pernah menyebut judi dalam satu kelompok dengan dosa-dosa paling berat. Beliau bersabda:
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ
Dalam Sahih Muslim 89, Rasulullah ﷺ bersabda: "Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan," lalu beliau menyebutkan di antaranya menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa tanpa hak, memakan harta anak yatim, dan memakan riba. Riba dan harta haram disejajarkan dengan dosa-dosa yang paling menghancurkan. Mengapa? Karena harta yang masuk dengan jalan haram tidak hanya merusak rekening, ia merusak doa, merusak keberkahan keluarga, dan merusak ketenangan hati. Berapa banyak rumah tangga yang retak bukan karena kekurangan, tetapi karena kelebihan yang tidak halal?
Kalau kita renungkan lebih dalam, judol dan pinjol sebenarnya menyerang sesuatu yang sangat mendasar dalam diri kita: rasa cukup. Manusia diciptakan dengan kecenderungan ingin lebih, dan itu wajar. Tetapi syariat datang untuk mengajari kita qana'ah — merasa cukup dengan yang halal. Tanpa qana'ah, berapa pun harta yang kita kumpulkan tidak akan pernah terasa cukup; kita akan terus berjudi dengan hidup, terus berlari mengejar bayangan yang tak pernah tertangkap.
Saudara-saudara, mungkin ada di antara kita malam ini yang merasa, "Tapi saya tidak main judi, saya tidak pakai pinjol, jadi ini bukan urusan saya." Izinkan saya mengajak kita berpikir ulang. Penyakit ini menjalar lewat kelalaian kita semua. Ketika kita membiarkan tautan judol berseliweran di grup tanpa menegur, ketika kita mendiamkan tetangga yang anaknya mulai terjerat, ketika kita ikut memamerkan gaya hidup yang membuat orang lain merasa hidupnya kurang — di situ kita ikut menyiram benihnya. Maka menjaga lingkungan dari penyakit ini adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan mereka yang sudah terjerat. Rasa cukup yang kita pancarkan, atau ketidakcukupan yang kita pamerkan, sama-sama menular.
Lalu apa yang harus kita lakukan setelah pulang dari masjid malam ini? Ada tiga hal yang bisa kita kerjakan dalam 24 jam ke depan. Pertama, buka telepon kita dan hapus satu hal — satu aplikasi, satu grup, satu akun — yang menjadi pintu masuk judol atau pinjol ke dalam hidup kita. Kedua, kalau kita tahu ada saudara, tetangga, atau teman yang sedang terjerat, kirimkan satu pesan yang menolong, bukan menghakimi; tawarkan untuk menemani, bukan untuk mempermalukan. Ketiga, malam ini, sisihkan sedikit harta untuk sedekah — sekecil apa pun — sebagai cara kita menyatakan kepada Allah bahwa kita lebih percaya pada janji-Nya daripada pada janji layar.
Saudara-saudara sekalian, mari kita tutup dengan satu kalimat yang saya harap menempel sampai besok pagi: dalam judi, kemenangan adalah jebakan yang paling berbahaya, karena ia membuat kita kembali untuk kalah lebih besar. Yang menang sejati adalah ia yang berhenti hari ini, dan menggantung harapannya pada rezeki yang halal.