Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPekerja & Pertanian RakyatKamis, 25 Juni 2026

Kultum — "Upah yang Tidak Boleh Tertunda"

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, banyak kabar tentang saudara-saudara kita yang kehilangan pekerjaan dan tentang para pekerja yang menuntut kejelasan haknya. Ada satu pesan sederhana yang ingin saya bagikan malam ini, dan pesan itu berputar pada satu kata: hak. Hak orang yang bekerja untuk kita.

Mari kita mulai dengan sebuah peringatan Nabi ﷺ yang singkat tapi menggetarkan. Rasulullah ﷺ bersabda:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الأَعْلَى، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، أَخِي وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ ‏"‏‏.‏

"Penundaan (pembayaran) utang oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman." (Sahih al-Bukhari 2400)

Perhatikan, saudara-saudara. Nabi ﷺ tidak berkata "kurang sopan" atau "kurang baik". Beliau memakai kata zulm, kezaliman. Menunda hak orang lain padahal kita mampu menunaikannya — entah itu upah, entah itu utang — adalah perbuatan yang masuk dalam kategori kezaliman. Bayangkan seorang pekerja harian yang menunggu upahnya untuk membeli beras malam itu, lalu kita yang mampu menundanya dengan ringan, "besok-besok saja". Bagi kita mungkin sepele; bagi dia, malam itu menjadi gelap.

Pekan ini kita dengar kabar gelombang pemutusan kerja di sektor tekstil, dan kita dengar pula suara para pengemudi ojek daring yang merasa haknya belum jelas. Kabar-kabar ini, kalau kita dengarkan dengan hati, sebenarnya bertanya kepada kita semua: apakah kita termasuk orang yang menjaga hak pekerja, atau termasuk yang menyepelekannya? Pertanyaan ini tidak hanya untuk pemilik pabrik besar. Ia juga untuk kita yang punya warung dan menggaji satu-dua pegawai, kita yang memakai jasa tukang, kita yang memesan makanan lewat aplikasi dan kadang lupa bahwa di ujung sana ada manusia yang menunggu nafkahnya.

Saudara-saudara, kita perlu jujur pada diri sendiri. Kita sering merasa menjadi orang baik hanya karena tidak pernah mencuri dan tidak pernah menipu secara terang-terangan. Padahal kezaliman terhadap hak pekerja sering datang dalam bentuk yang halus dan terasa wajar: menunda gaji karena merasa "dia tidak akan berani menagih"; menambah beban kerja tanpa menambah haknya; menawar jasa orang kecil sampai dia hampir tidak dapat untung, lalu kita bangga karena "pintar berhemat". Semua ini, di mata Allah, adalah pengurangan hak yang akan dihitung. Hadits tadi tegas: penundaan oleh orang yang mampu adalah kezaliman. Dan kezaliman, sekecil apa pun ia tampak di dunia, kelak akan menjadi kegelapan yang berlapis di Hari Kiamat. Maka jangan kita anggap remeh selisih kecil yang kita ambil dari hak orang yang bekerja.

Dan ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, saudara-saudara. Kadang godaan terbesar bukan datang dari kemiskinan, melainkan dari kekayaan. Rasulullah ﷺ pernah berkata bahwa hal yang paling beliau khawatirkan menimpa umatnya adalah perhiasan dunia yang Allah bukakan bagi mereka. Ketika harta melimpah, hati mudah lupa pada hak orang lain. Maka jangan kita kira menjaga hak pekerja hanya urusan orang susah; justru ketika kita mulai lapang, di situlah ujian menjaga keadilan menjadi paling berat.

Dan tahukah saudara-saudara, betapa Allah memuliakan kerja itu sendiri? Ketika Nabi ﷺ ditanya tentang penghasilan terbaik, beliau menjawab: "Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap transaksi yang bebas dari penipuan." (Bulugh al-Maram 890). Maka tangan yang lelah bekerja itu bukan tangan yang hina — ia adalah tangan yang diberkahi. Kalau Nabi ﷺ saja memuliakannya, siapakah kita untuk menahan haknya?

Renungkan sejenak, saudara-saudara. Di balik setiap upah yang kita tunaikan tepat waktu, ada rasa aman yang kita berikan kepada satu keluarga. Di balik setiap hak yang kita tahan, ada kecemasan yang kita tanam di hati orang lain. Islam tidak pernah memisahkan ibadah ritual dari keadilan sosial. Sholat kita di masjid tidak akan utuh maknanya jika di luar masjid kita menahan hak orang yang bekerja untuk kita. Inilah yang membuat agama ini begitu utuh: ia mengurus hati kita dengan Allah dan sekaligus mengurus tangan kita dengan sesama.

Saudara-saudara, izinkan saya memberi satu gambaran yang dekat dengan kita. Bayangkan seorang tukang bangunan yang sehari penuh mengangkat semen di bawah terik matahari. Sore harinya ia datang, tangannya kasar, bajunya basah keringat, menunggu upah yang sudah dijanjikan. Lalu yang menyuruhnya berkata ringan, "Aduh, besok saja ya, hari ini belum sempat ke ATM" — padahal di sakunya ada uang yang cukup. Bagi yang menyuruh, itu cuma menunda satu malam. Tapi malam itu, di rumah si tukang, mungkin ada anak yang menunggu beras. Inilah yang Nabi ﷺ sebut sebagai kezaliman: bukan karena nilainya besar, tetapi karena kita menahan apa yang menjadi hak orang lemah padahal kita mampu menunaikannya. Pekan ini, dengan kabar para pekerja yang haknya digantung, gambaran sederhana ini terasa makin nyata di sekeliling kita.

Maka malam ini, sebelum kita pulang, mari kita ambil dua langkah kecil. Pertama, periksa: adakah hak orang yang masih tertahan di tangan kita — upah yang belum dibayar, utang yang sudah mampu kita lunasi, janji yang belum kita tepati? Tunaikan secepatnya. Kedua, kalau di sekitar kita ada tetangga yang baru kehilangan pekerjaan, jangan tunggu dia meminta. Datangi, tanyakan kabarnya, dan bantu dengan cara yang menjaga harga dirinya. Itu sudah cukup untuk menjadikan malam ini bermakna.

Saudara-saudara, keadilan kepada pekerja bukan urusan ekonomi semata. Ia adalah cermin dari iman kita. Orang yang takut kepada Allah akan paling berhati-hati terhadap hak orang lemah, karena ia tahu bahwa di Hari Kiamat, kezaliman akan menjelma menjadi kegelapan. Semoga kita dijauhkan dari kegelapan itu, dan dijadikan termasuk orang-orang yang menjaga timbangan keadilan sampai akhir hayat.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا، وَوَفِّقْنَا لِأَدَاءِ حُقُوْقِ عِبَادِكَ، وَجَنِّبْنَا الظُّلْمَ كُلَّهُ، وَارْحَمْ عُمَّالَنَا وَفُقَرَاءَنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan