Di tengah ramainya kabar pekan ini tentang sekolah, kampus, dan cara mendidik anak, ada sebuah prinsip lama yang sering terlupa: bahwa menuntut ilmu adalah perjuangan yang sederajat dengan medan juang lainnya. Syaikh Yusuf al-Kandahlawi dalam Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / الإهتمام بالتعليم في الجهاد menghimpun riwayat tentang bagaimana umat awal Islam menempatkan ilmu, bahkan di tengah panggilan jihad.
Madinah, tahun-tahun awal. Panggilan untuk berangkat ke medan datang silih berganti. Ayat-ayat turun memerintahkan kaum mukminin bersiaga.
خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا
"Bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) secara berkelompok, atau majulah bersama-sama."
Lalu turun pula seruan yang lebih tegas.
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا
"Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan ringan maupun berat."
Semangat berangkat membakar dada para sahabat. Siapa yang mau tertinggal dari kebaikan? Maka hampir semua ingin maju, semua ingin ke garis depan. Seakan-akan tinggal di Madinah adalah aib.
Tetapi di sinilah Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan sebuah hikmah yang halus. Ada ayat lain yang menahan arus itu, yang mengajarkan bahwa tidak semua harus berangkat sekaligus.
Sebab kalau semua pergi, siapa yang menjaga ilmu? Siapa yang akan duduk, belajar, memahami agama secara mendalam, lalu mengajarkannya kembali kepada mereka yang pulang dari medan? Maka sebagian tinggal — bukan karena takut, bukan karena malas, tetapi karena tafaqquh fid-din, mendalami agama, adalah tugas yang tak boleh kosong.
Begitulah umat awal memahami keseimbangan. Pedang dijaga oleh sebagian, dan kitab dijaga oleh sebagian yang lain. Keduanya jihad. Yang tinggal untuk belajar bukan barisan kelas dua; ia adalah penjaga sumber yang membuat seluruh perjuangan tetap punya arah.
Pelajaran
Kisah ini menyingkap satu hal yang mudah kita lupakan: bahwa menjaga ilmu adalah amanah kolektif yang harus selalu ada penjaganya. Umat awal tidak pernah membiarkan kursi pembelajaran kosong, bahkan ketika panggilan yang lebih heroik sedang berkumandang. Mereka paham, sebuah masyarakat yang kehilangan orang-orang yang tafaqquh fid-din akan kehilangan kompasnya, sekuat apa pun tenaganya. Di pekan ketika kita ramai membicarakan kerapuhan dunia pendidikan — guru yang melukai, dana yang diselewengkan, niat yang bergeser — riwayat ini mengingatkan bahwa merawat orang-orang yang lurus dalam menuntut dan menjaga ilmu adalah pekerjaan yang tak boleh kita anggap remeh. Selalu harus ada yang "tinggal demi ilmu".
Sumber Asli
Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / الإهتمام بالتعليم في الجهاد
الإهتمام بالتعليم في الجهاد في سبيل الله قول ابن عباس في معنى الآية {وما كان المؤمنون لينفروا كافة} أخرج البيهقي عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال الله تبارك وتعالى: {خذوا حذركم فانفروا ثبات أو أنفروا جميعا} وقال: {أنفروا خفافا وثقالا} وقال: {إِلاَّ تَنفِرُواْ يُعَذّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا}، ثم نسخ هذه الآيات
