Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPendidikan & SDMKamis, 25 Juni 2026

Kultum — "Niat Lurus Sebelum Ilmu Tumbuh"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja melewati ramainya kabar tentang dunia kampus dan sekolah — mulai dari gairah mahasiswa, dugaan ketidakjujuran di organisasi, sampai sorotan pada integritas para pengelola program pendidikan — ada satu pesan kecil yang ingin saya bagikan malam ini, dan pesan itu sebenarnya berakar pada satu kata: niat.

Pernahkah kita bertanya, kenapa dua orang yang sama-sama menuntut ilmu bisa berakhir sangat berbeda? Yang satu ilmunya menjadi cahaya, yang lain ilmunya justru menjadi alat menipu. Para ulama menjawab: bedanya ada di niat. Dalam kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim disebutkan sebuah prinsip yang dalam tentang adab penuntut ilmu:

[الثاني] حسن النية في طلب العلم بأن يقصد به وجه الله تعالى والعمل به وإحياء الشريعة، وتنوير قلبه وتحلية باطنه والقرب من الله تعالى يوم القيامة

"(Adab kedua bagi penuntut ilmu adalah) memperbaiki niat dalam menuntut ilmu, yaitu dengan memaksudkannya untuk mencari ridha Allah Ta'ala, mengamalkannya, menghidupkan syariat, menerangi hatinya, menghiasi batinnya, dan mendekatkan diri kepada Allah pada hari Kiamat." (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / الثاني)

Saudara-saudara, dalam kitab itu juga dikutip ucapan Sufyan ats-Tsauri yang menggetarkan: "Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku perjuangkan daripada meluruskan niatku." Bayangkan, seorang ulama besar pun menganggap meluruskan niat itu perjuangan terberat. Lalu bagaimana dengan kita? Kita yang mengaji sambil mengintip jumlah like, kita yang sekolah agar dipandang pintar, kita yang menjadi pengurus agar dianggap berpengaruh. Niat itu seperti akar pohon — tersembunyi di dalam tanah, tak terlihat orang, tetapi menentukan apakah seluruh pohon tumbuh sehat atau membusuk dari dalam. Sehijau apa pun daunnya di permukaan, kalau akarnya rusak, pohon itu sedang menuju roboh.

Inilah yang membuat kabar pekan ini terasa dekat dengan kita semua. Ketika ada percakapan tentang dugaan ketidakjujuran di organisasi mahasiswa, kita mudah menudingnya sebagai "mereka". Padahal benih yang sama ada di dalam dada kita masing-masing: keinginan untuk dihormati, untuk berkuasa, untuk memiliki lebih. Ilmu dan jabatan hanyalah air; ia mengikuti bentuk wadahnya. Kalau wadah niatnya bersih, ilmu menjadi rahmat. Kalau wadahnya retak oleh ambisi, ilmu menjadi bencana. Betapa banyak orang pandai yang ilmunya justru dipakai untuk merancang penipuan yang lebih rapi. Betapa banyak orang berpendidikan tinggi yang gelarnya hanya menjadi topeng yang lebih meyakinkan. Kepandaian tanpa kelurusan niat bukanlah keselamatan; ia bisa menjadi senjata yang lebih tajam untuk melukai.

Mari kita renungkan juga, saudara-saudara, satu sisi yang sering terlupa. Bukan hanya penuntut ilmu yang wajib meluruskan niat, tetapi juga yang mengajar. Para ulama mengajarkan bahwa seorang pendidik hendaknya memaksudkan pengajarannya untuk ridha Allah dan menyebarkan kebaikan, bukan untuk mengejar bayaran semata, bukan untuk dihormati sebagai orang berilmu, bukan untuk menundukkan orang lain dengan pengetahuannya. Ketika niat seorang guru lurus, kelas yang sederhana pun terasa penuh berkah. Ketika niatnya bergeser, gelar sepanjang apa pun tak akan menggantikan hilangnya cahaya itu. Maka tanggung jawab meluruskan niat ini melingkupi seluruh ekosistem pendidikan kita — dari murid yang baru belajar mengeja, sampai guru yang sudah puluhan tahun mengajar.

Maka mari kita ukur diri sendiri malam ini. Coba tanyakan dalam hati: untuk apa sebenarnya aku belajar, mengajar, dan menjabat? Kalau jawabannya mulai bergeser dari Allah ke arah pujian manusia, di situlah kita perlu berhenti dan memperbaiki. Karena ilmu yang tidak bermanfaat justru bisa menjadi beban di akhirat — sampai-sampai Nabi ﷺ sendiri berlindung darinya, "min 'ilmin laa yanfa'" — dari ilmu yang tidak bermanfaat. Renungkanlah: yang membuat ilmu bermanfaat bukanlah banyaknya, melainkan keterhubungannya dengan amal dan ketakwaan. Ilmu yang tidak mengubah perilaku pemiliknya, yang tidak membuatnya lebih takut kepada Allah dan lebih lembut kepada sesama, adalah ilmu yang berhenti di kepala dan tidak pernah sampai ke hati. Dan hati yang tidak ikut belajar, saudara-saudara, adalah hati yang paling rugi: ia menyimpan banyak kebenaran namun tidak satu pun yang menghidupkannya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan setelah pulang dari sini? Tiga hal sederhana. Pertama, sebelum membuka kitab atau laptop besok pagi, ucapkan dalam hati: "Ya Allah, kujadikan belajarku ini untuk-Mu." Satu kalimat, tapi ia mengubah seluruh nilai pekerjaan kita. Pekerjaan yang sama — membaca, mengetik, mengajar — bisa bernilai ibadah atau bisa sekadar rutinitas kosong, dan yang membedakannya hanya kalimat niat itu. Kedua, kalau kita dititipi amanah sekecil apa pun — kas kelas, jadwal piket, kepercayaan teman — jagalah seolah Allah sedang menonton, karena memang demikian. Justru di tempat yang tidak ada manusia mengawasi itulah iman kita sedang diuji paling jujur. Ketiga, kalau kita mengajar atau mendidik, periksa nada kita: apakah kita mendidik dengan kasih atau dengan ego yang ingin ditakuti? Sebab anak yang belajar karena cinta akan terus belajar bahkan setelah gurunya tiada, sedangkan anak yang belajar karena takut akan berhenti begitu rasa takutnya hilang.

Dan izinkan saya menambahkan satu hal lagi yang dekat dengan hari ini. Hari ini adalah Hari Asyura, sepuluh Muharram, hari yang istimewa untuk muhasabah dan memohon ampun. Tidak ada yang lebih pantas kita muhasabahi malam ini selain niat-niat kita yang mungkin sudah lama bergeser tanpa kita sadari. Mari kita jadikan puasa Asyura — bagi yang mampu — sebagai penanda dimulainya kembali kelurusan niat dalam menuntut dan mengajarkan ilmu. Bukan dengan janji besar yang sulit ditepati, tapi dengan satu langkah kecil yang konsisten.

Mari kita tutup dengan satu kesimpulan yang ingin saya titipkan untuk dibawa pulang: ilmu yang akan menyelamatkan kita bukan yang paling banyak, melainkan yang paling lurus niatnya dan paling lembut adabnya. Sehebat apa pun isi kepala, ia tak berarti bila hatinya tidak ikut belajar. Maka jadikanlah setiap proses belajar dan mengajar di rumah kita sebagai jalan mendekat kepada Allah, bukan sekadar mengejar nilai atau pengakuan. Itulah warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan untuk anak-anak kita.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ نِيَّاتِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا نُوْرًا يَهْدِيْنَا إِلَيْكَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan