اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ سَكَنًا، وَجَعَلَ بَيْنَ النَّاسِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ مَنْ رَحِمَ الْأَطْفَالَ وَأَحْسَنَ إِلَى أَهْلِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Kita berdiri di hari Jumat yang istimewa, di tengah bulan Muharram, bahkan tepat pada Hari Asyura — sepuluh Muharram. Bulan ini, sejak dahulu, adalah bulan yang mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menengok ke dalam: bagaimana keadaan rumah kita, bagaimana keadaan orang-orang yang Allah titipkan ke tangan kita. Bukan kebetulan jika di hari muhasabah seperti ini, kabar-kabar yang sampai kepada kita pekan ini justru banyak berbicara tentang rumah, tentang keluarga, tentang yang lemah di tengah kita.
Marilah kita awali khutbah ini dengan firman Allah yang menjadi pegangan kita pagi ini. Allah Ta'ala berfirman dalam Surah An-Nisaa ayat 9:
وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةًۭ ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًۭا سَدِيدًا
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An-Nisaa: 9)
Ayat ini turun dalam konteks penjagaan harta anak yatim, tetapi para ulama kita membacanya jauh lebih luas. Allah memerintahkan kita membayangkan satu hal yang menggetarkan: seandainya kita wafat hari ini, dan kita meninggalkan anak-anak yang lemah — lemah ekonominya, lemah ilmunya, lemah jiwanya — bagaimana perasaan kita memikirkan mereka diperlakukan oleh orang lain? Rasa khawatir itu, kata Allah, hendaklah menjadi ukuran bagaimana kita memperlakukan titipan orang lain hari ini, dan bagaimana kita menjaga titipan kita sendiri. Inilah hati seorang penjaga: ia menimbang setiap perbuatannya dengan pertanyaan, "Relakah aku jika anak-anakku diperlakukan seperti ini?"
Hadirin yang dirahmati Allah, dari berita pekan ini kita ketahui beberapa kabar yang membuat hati kita perih. Publik dikejutkan oleh kasus penyekapan dan penyiksaan seorang perempuan di daerah Cileunyi — sebuah kekejaman yang viral dan ditonton jutaan orang, hingga pelakunya disoraki publik saat tiba di hadapan penegak hukum. Dari ruang yang lain, sampai pula kepada kita kabar tentang anak dan perempuan yang menjadi korban di lingkaran yang justru paling dekat dengan mereka. Kita tidak datang ke mimbar ini untuk ikut menghakimi satu nama; itu sudah menjadi urusan hukum yang kita serahkan kepada yang berwenang. Kita datang untuk bertanya pada diri kita sendiri: apa yang salah dari cara kita membangun rumah, sehingga rumah — yang seharusnya menjadi tempat paling aman di muka bumi — bisa berubah menjadi tempat luka?
Bersamaan dengan itu, pekan ini ramai pula kabar gelombang pemutusan hubungan kerja di sektor tekstil, dan tuntutan atas hak para pekerja transportasi daring. Di belakang setiap pemberitaan itu ada keluarga-keluarga yang malam ini menghitung ulang isi dompet mereka. Dan seperti yang sudah kita duga, di saat rumah-rumah tertekan secara ekonomi, godaan jalan pintas pun datang: jeratan pinjaman online ilegal dan judi online terus menggoda, menjanjikan kemudahan yang sebenarnya hanya memperdalam jurang. Tiga kabar ini — kekerasan di rumah, tekanan ekonomi keluarga, dan godaan jalan pintas yang haram — sebenarnya satu benang yang sama: benang tentang penjagaan yang gagal, tentang amanah yang terbengkalai.
Maka, ma'asyiral muslimin, izinkan kita menjadikan satu hadits agung sebagai poros khutbah kita hari ini. Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim:
أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ
"Ketahuilah, setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya. Seorang pemimpin atas manusia adalah penggembala dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang pria adalah penjaga atas anggota keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah penjaga atas rumah suaminya dan anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka." (Sahih Muslim 1829a)
Perhatikanlah, hadirin, betapa Rasulullah ﷺ tidak menyisakan seorang pun dari kita tanpa tanggung jawab. Beliau memulai dengan kata "alaa" — "ketahuilah" — sebuah seruan untuk membuka telinga dan hati. Lalu beliau menyebut "kullukum", "setiap kalian" — tidak ada pengecualian. Pemimpin negeri adalah penjaga; ayah adalah penjaga; ibu adalah penjaga; bahkan pelayan yang mengurus harta tuannya adalah penjaga. Dalam riwayat lain dari Sahih al-Bukhari, Rasulullah ﷺ menegaskan rincian yang sama:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِيْ أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِيْ بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
"Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya; seorang penguasa adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya; seorang pria adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya; seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya." (Sahih al-Bukhari 2558)
Inilah yang sering luput dari kita ketika kita membayangkan "kepemimpinan". Kita membayangkan kursi, jabatan, panggung. Padahal Rasulullah ﷺ menanamkan dalam dada setiap Muslim bahwa kepemimpinan yang pertama dan paling menentukan justru ada di dalam rumah, di balik pintu yang tidak dilihat kamera mana pun. Seorang ayah memimpin meja makannya. Seorang ibu memimpin pendidikan akhlak anaknya. Dan kelak, ketika berdiri di hadapan Allah, bukan jumlah pengikut di media sosial yang ditanya, melainkan: bagaimana keadaan orang-orang yang Aku titipkan kepadamu?
Perhatikan pula, hadirin, betapa hadits ini menyusun tanggung jawab itu berlapis-lapis dan saling menopang. Pemimpin negeri menjaga rakyat; tetapi rakyat itu sendiri terdiri dari rumah-rumah; dan setiap rumah dijaga oleh ayah dan ibu; dan di dalam rumah ada anak yang kelak akan menjadi penjaga pula. Tidak ada satu pun simpul yang boleh putus. Ketika satu rumah rusak, retakannya menjalar ke seluruh masyarakat. Maka tidak heran jika para ulama mengatakan bahwa memperbaiki umat harus dimulai dari memperbaiki rumah tangga, dan memperbaiki rumah tangga harus dimulai dari memperbaiki diri sendiri. Kita tidak bisa berharap melahirkan generasi yang adil jika kita sendiri zalim kepada orang-orang yang serumah dengan kita. Kita tidak bisa berharap masyarakat yang jujur jika di rumah kita kebohongan kecil dianggap biasa. Penjagaan adalah rantai, dan rantai itu sekuat simpulnya yang paling lemah.
Hadirin yang dimuliakan Allah, kalau kita renungkan kabar kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ramai pekan ini melalui kaca mata hadits ini, kita akan menemukan luka yang dalam. Sebab kekerasan dalam rumah bukan sekadar pelanggaran hukum — ia adalah pengkhianatan terhadap amanah penjagaan yang Allah letakkan. Tangan yang seharusnya melindungi berubah menjadi tangan yang melukai. Rumah yang seharusnya menjadi benteng berubah menjadi penjara. Dan inilah yang membuat dosa itu berlipat: bukan hanya menyakiti satu jiwa, tetapi menghancurkan kepercayaan paling dasar manusia, bahwa kedekatan berarti keamanan.
Maka peringatan keras datang dari Rasulullah ﷺ tentang mereka yang menelantarkan tanggungannya. Dalam Bulugh al-Maram, diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
"Cukuplah seseorang dianggap berdosa, jika ia menyia-nyiakan orang-orang yang menjadi tanggungannya." (Bulugh al-Maram 1329)
Renungkanlah, hadirin. Rasulullah ﷺ tidak berkata "cukuplah seseorang berdosa jika ia mencuri" atau "jika ia berdusta" — meski semua itu dosa. Beliau memilih satu gambaran yang sangat mengena: menelantarkan orang yang menjadi tanggunganmu. "Menyia-nyiakan" di sini punya makna luas. Ia bisa berarti menelantarkan nafkah lahirnya, membiarkan anak kelaparan sementara uang habis di meja judi. Ia juga bisa berarti menelantarkan nafkah batinnya — membiarkan anak tumbuh tanpa sentuhan, tanpa bimbingan, tanpa rasa aman, karena orang tua terlalu sibuk dengan layar, dengan ego, dengan kemarahannya sendiri. Banyak rumah hari ini secara fisik berkecukupan, tetapi secara batin kosong. Anak-anak makan kenyang tetapi lapar perhatian. Inilah penyia-nyiaan yang halus, yang tidak terlihat, tetapi yang kelak akan ditanyakan.
Lalu bagaimana wujud penjagaan yang Allah ridhai? Allah Ta'ala memberi kita peta yang ringkas dan padat dalam Surah An-Nahl. Allah berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90)
Para ulama menyebut ayat ini sebagai ayat yang paling lengkap mengumpulkan kebaikan dan melarang keburukan. Lihatlah urutannya, hadirin. Allah memulai dengan al-'adl — keadilan. Lalu al-ihsan — berbuat lebih dari sekadar adil, berbuat dengan kelembutan dan kemurahan. Lalu memberi kepada kerabat dekat — silaturahim dan menafkahi keluarga. Setelah itu Allah menutup tiga pintu keburukan: al-fahsya' (perbuatan keji termasuk yang merusak kehormatan), al-munkar (kemungkaran), dan al-baghy (permusuhan dan penindasan). Sungguh, jika kita membaca kabar kekerasan dan penindasan pekan ini, kita seperti membaca daftar persis apa yang Allah larang di ayat ini. Al-baghy — penindasan terhadap yang lemah — adalah lawan langsung dari penjagaan. Maka memperbaiki keluarga berarti menegakkan separuh awal ayat ini di dalam rumah, dan menutup rapat separuh keduanya.
Marilah kita belajar dari teladan kita, Rasulullah ﷺ, bagaimana seorang penjaga sejati memperlakukan keluarganya. Beliau adalah pemimpin sebuah umat, panglima dalam banyak peperangan, kepala negara yang mengatur urusan ribuan jiwa. Namun di rumah, beliau adalah suami yang membantu pekerjaan rumah tangga, yang menjahit sendiri pakaiannya, yang memanggil istri-istrinya dengan panggilan lembut. Beliau adalah kakek yang membiarkan Hasan dan Husain menaiki punggungnya saat sujud, lalu memperpanjang sujudnya agar tidak menjatuhkan keduanya. Pernah seorang lelaki badui keheranan melihat Rasulullah ﷺ mencium cucunya, lalu berkata, "Aku punya sepuluh anak, tak satu pun pernah kucium." Rasulullah ﷺ menatapnya dan bersabda, "Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi." Inilah wajah kepemimpinan rumah dalam Islam: bukan kekuasaan yang menakutkan, melainkan kasih sayang yang menumbuhkan. Betapa jauh gambaran ini dari kabar-kabar kekejaman yang kita dengar pekan ini.
Ada pula sisi yang sering terlupa, hadirin. Penjagaan bukan hanya melindungi anak dari bahaya di luar, tetapi juga menjaga jiwa mereka dari kekosongan di dalam. Seorang ulama salaf pernah ditegur anaknya yang berbuat salah, lalu ia menjawab, "Aku menelantarkanmu kecil, maka engkau menelantarkanku besar; aku menyia-nyiakanmu sebagai anak, maka engkau menyia-nyiakanku sebagai ayah." Apa yang kita tanam pada anak di usia dini akan kita panen ketika kita tua dan lemah. Rumah yang dibangun di atas amanah akan menjadi tempat berlindung di hari tua; rumah yang dibangun di atas kelalaian akan menjadi sumber penyesalan. Maka setiap menit yang kita berikan kepada anak hari ini — mendengarkan ceritanya, menjawab pertanyaannya, hadir saat ia membutuhkan — adalah investasi penjagaan yang Allah catat.
Dan agar penjagaan itu tidak menjadi sekadar perasaan, Allah mengikatnya dengan kata yang berat: amanah. Allah Ta'ala berfirman:
۞ إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. An-Nisaa: 58)
Ayat ini, hadirin, biasa kita dengar dalam konteks jabatan publik. Dan memang benar — ketika sampai kabar tentang dugaan penyelewengan pada program yang menyangkut gizi anak-anak negeri ini, ayat inilah yang relevan. Amanah publik harus disampaikan kepada yang berhak, bukan disunat di tengah jalan. Tetapi jangan kita lupa: amanah terbesar yang dipegang sebagian besar dari kita bukanlah anggaran negara, melainkan jiwa-jiwa kecil di rumah kita. Anak adalah amanah. Istri adalah amanah. Suami adalah amanah. Allah menutup ayat ini dengan dua nama-Nya yang menggetarkan: Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Tidak ada pintu rumah yang cukup tebal untuk menutupi penglihatan-Nya. Apa yang terjadi di balik tembok, di dalam kamar, di tengah pertengkaran yang tak terdengar tetangga — semuanya didengar dan dilihat oleh Allah.
Hadirin, izinkan kita menyambungkan amanah ini dengan beban ekonomi yang banyak menimpa keluarga pekan ini. Ketika seorang ayah kehilangan pekerjaannya karena gelombang pemutusan hubungan kerja, ujian amanahnya justru menjadi lebih berat, bukan lebih ringan. Sebab di titik itulah setan paling gencar membisikkan jalan pintas: pinjaman ribawi yang katanya cepat cair, atau judi online yang menjanjikan keberuntungan dalam semalam. Padahal keduanya bukan jalan keluar, melainkan jurang yang lebih dalam. Berapa banyak rumah yang tadinya hanya kekurangan, lalu hancur total karena terjerat utang berbunga yang mencekik atau karena tabungan ludes di meja judi digital. Menjaga keluarga di masa sulit bukan berarti memberi mereka segalanya, melainkan memberi mereka yang halal walau sedikit, dan menjaga ketenangan rumah agar tidak runtuh oleh kepanikan. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita berlindung kepada Allah dari beban utang yang menjerat, karena beliau tahu utang dapat merusak akhlak dan ketenangan seseorang. Maka penjagaan di masa sempit adalah dengan kesabaran, dengan musyawarah keluarga, dengan menurunkan gaya hidup, dan dengan tetap memegang yang halal — bukan dengan menggadaikan agama demi sesuap kemudahan semu.
Dan ada satu bentuk penjagaan yang kerap kita lupakan, hadirin: menjaga lisan dan jari kita di ruang digital. Pekan ini kita menyaksikan betapa kasarnya percakapan publik — caci maki, olok-olok, bahkan kalimat-kalimat vulgar yang menyentuh hal paling intim dan suci dalam kehidupan keluarga, dilemparkan begitu saja seakan tanpa beban. Padahal setiap kata yang kita ketik adalah amanah yang akan ditanya. Anak-anak kita menyaksikan bagaimana orang tuanya bersikap di grup percakapan, bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda pendapat, bagaimana kita menyebarkan kabar tanpa memeriksa kebenarannya. Rumah yang ingin menumbuhkan akhlak mulia tidak bisa abai pada akhlak digital. Allah memerintahkan dalam ayat tadi agar kita "mengucapkan perkataan yang benar" — qaulan sadidan — dan perintah itu hari ini mencakup pula apa yang kita tulis di layar, bukan hanya yang kita ucapkan dengan lidah.
Maka, ma'asyiral muslimin, dari uraian ini kita bisa menarik beberapa langkah nyata yang bisa kita amalkan mulai hari Jumat ini juga. Pertama, mari kita audit rumah kita sendiri sebelum mengaudit orang lain. Tanyakan dalam hati: adakah di rumahku jiwa yang terabaikan, yang lapar perhatian, yang takut bicara? Kedua, jadikan rumah kita tempat yang aman untuk bercerita. Anak yang berani bercerita kepada orang tuanya adalah anak yang terlindungi; anak yang menyimpan luka sendirian adalah anak yang rapuh. Ketiga, hidupkan kepekaan terhadap tetangga. Jika kita merasakan ada yang tidak beres di rumah sebelah — ada teriakan, ada anak yang murung berkepanjangan — jangan diam dengan dalih "itu urusan keluarga mereka". Penjagaan adalah tugas kolektif. Keempat, jagalah pintu rezeki keluarga dari yang haram; jangan biarkan tekanan ekonomi mendorong kita ke pinjaman ribawi atau judi yang dijanjikan sebagai jalan keluar. Kelima, di Hari Asyura ini, mari kita jadikan puasa dan istighfar sebagai pembersih, dan jadikan muhasabah keluarga sebagai amalan. Keenam, doakan dengan sungguh-sungguh anak dan keluarga kita; doa orang tua untuk anaknya adalah doa yang tidak tertolak.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, di khutbah kedua ini izinkan kita menggali lebih dalam satu sisi yang sering kita lewatkan. Kita sering mengira bahwa memperbaiki keluarga adalah urusan privat, sesuatu yang cukup diselesaikan di balik pintu masing-masing. Padahal Rasulullah ﷺ menempatkan penjagaan keluarga sebagai fondasi yang menopang seluruh bangunan masyarakat. Sebuah negeri yang adil tidak mungkin lahir dari rumah-rumah yang zalim. Maka ketika kita memperbaiki cara kita memperlakukan istri, anak, dan tetangga, sesungguhnya kita sedang memperbaiki Indonesia dari unitnya yang paling kecil.
Sisi kedua yang perlu kita renungkan adalah tentang kelemahan. Ayat pembuka tadi berbicara tentang "dzurriyyatan dhi'afa" — keturunan yang lemah. Allah secara khusus memerintahkan kita mengkhawatirkan yang lemah. Dalam masyarakat kita hari ini, yang lemah bukan hanya anak yatim. Yang lemah adalah anak yang tidak punya suara di hadapan orang dewasa, perempuan yang terkurung dalam relasi yang menindas, pekerja yang kehilangan pekerjaannya tanpa jaring pengaman, lansia yang ditinggal sendirian di rumahnya. Islam mengukur kemuliaan sebuah komunitas dari bagaimana ia memperlakukan anggotanya yang paling lemah, bukan yang paling kuat.
Sisi ketiga adalah tentang keadilan yang dimulai dari diri. Mudah bagi kita marah pada pelaku kekejaman yang viral; itu kemarahan yang sehat dan manusiawi. Tetapi takwa yang sejati menuntut kita membalik cermin ke wajah sendiri: adakah ketidakadilan kecil yang kita lakukan setiap hari kepada orang-orang terdekat? Nada suara yang kasar, janji yang tidak ditepati pada anak, perhatian yang selalu tertunda. Keadilan besar di negeri ini akan tegak ketika cukup banyak rumah yang menegakkan keadilan-keadilan kecil di dalamnya.
Sisi keempat, di Hari Asyura ini, marilah kita ingat bahwa hari ini Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kezaliman Fir'aun. Asyura adalah hari kemenangan yang lemah atas yang zalim. Maka semangat Asyura yang kita hidupkan bukan sekadar puasa, melainkan keberpihakan: berpihak pada yang tertindas, menolong yang lemah, dan tidak pernah menjadi pihak Fir'aun di rumah maupun di tengah masyarakat kita.
Maka marilah kita tutup khutbah ini dengan menengadahkan tangan dan berdoa kepada Allah.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَهْلِيْنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا سَكَنًا تَمْلَؤُهُ الْمَوَدَّةُ وَالرَّحْمَةُ، وَاحْفَظْ أَطْفَالَنَا وَنِسَاءَنَا وَضُعَفَاءَنَا مِنْ كُلِّ ظُلْمٍ وَأَذًى.
اَللّٰهُمَّ مَنْ تَوَلَّى أَمْرَ بَيْتٍ فَوَفِّقْهُ لِيَكُوْنَ رَاعِيًا أَمِيْنًا رَحِيْمًا، وَمَنِ ابْتُلِيَ بِالظُّلْمِ فِيْ بَيْتِهِ فَفَرِّجْ عَنْهُ وَانْصُرْهُ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقِ الْعَاطِلِيْنَ عَمَلًا حَلَالًا، وَاكْفِ الْمَدِيْنِيْنَ بِفَضْلِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَبْعِدْ عَنْ بُيُوْتِنَا الرِّبَا وَالْمَيْسِرَ وَكُلَّ كَسْبٍ خَبِيْثٍ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلَا تَكُنْ عَلَيْهِمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَارْزُقْهُمْ بِطَانَةً صَالِحَةً تَحْفَظُ الْأَمَانَةَ وَلَا تَخُوْنُهَا.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
