Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsSosial & KeluargaKamis, 25 Juni 2026

Kisah Pendek — "Lelaki yang Membela Bayi Perempuan"

Di tengah pekan yang dipenuhi kabar tentang yang lemah dilukai di lingkaran terdekatnya, ada satu sosok dari masa paling gelap Jazirah Arab yang justru berdiri sendirian membela mereka yang tak punya suara. Ibn Ishaq, sebagaimana dihimpun Ibnu Hisyam dalam Sirah Ibn Hisham — من وأده إذا أثقله له, mencatat kisah seorang lelaki Quraisy bernama Zayd bin 'Amr bin Nufail, yang hidup sebelum Islam datang namun menolak menyembah berhala dan menolak satu kebiasaan keji yang dianggap biasa oleh kaumnya.

Mekah waktu itu tenggelam dalam penyembahan patung. Di sekeliling Ka'bah berjajar berhala-berhala batu, masing-masing dengan namanya sendiri, dan di kaki mereka mengalir darah hewan yang disembelih atas nama selain Allah. Bau anyir bercampur asap dupa menggantung di udara panas, dan suara tawar-menawar para penjual sesajian memenuhi pelataran. Orang-orang Quraisy datang membawa kambing dan unta, menyembelihnya di hadapan berhala, lalu menyantapnya sebagai bagian dari ritual yang mereka anggap suci. Begitulah adat yang diwarisi turun-temurun dari nenek moyang, dan nyaris tak seorang pun berani mempertanyakannya — sebab mempertanyakan berarti memisahkan diri dari seluruh kaum.

Tetapi Zayd mempertanyakannya. Ia bukan orang asing yang datang dari jauh; ia putra Quraisy sendiri, lahir dan besar di tengah mereka. Justru karena itulah penolakannya terasa begitu berani. Ia berdiri di tengah keramaian dan mencela sembelihan kaumnya. Ia memandang seekor kambing yang baru saja disembelih untuk berhala, lalu berkata dengan suara yang menantang kebiasaan seluruh negeri:

الشاة خلقها الله، وأنزل لها من السماء ماءً، وأنبت لها من الأرض الكلأ، ثم تذبحونها على غير اسم الله؟

"Kambing itu Allah yang menciptakannya, Allah yang menurunkan air dari langit untuknya, dan Allah yang menumbuhkan rerumputan dari bumi untuknya — lalu kalian menyembelihnya bukan atas nama Allah?" Ia mengucapkannya sebagai pengingkaran terhadap kebiasaan itu, dan sebagai pengagungan terhadap Allah yang menciptakan segala sesuatu.

Namun ada satu kemungkaran lain yang membuat hati Zayd lebih perih lagi. Di masa itu, sebagian orang Arab mengubur hidup-hidup bayi perempuan mereka — ada yang karena takut miskin dan tak sanggup menafkahi, ada pula yang karena rasa malu yang sesat bila yang lahir bukan anak lelaki. Seorang bayi yang baru saja membuka matanya ke dunia, yang tangisannya pertama kali memecah keheningan, dibawa pergi dan ditimbun tanah hidup-hidup hanya karena ia perempuan. Tak ada yang membelanya; tak ada hukum yang melindunginya. Dan di tengah masyarakat yang menerima kekejian itu sebagai hal lumrah, Zayd berdiri menentangnya seorang diri:

وَنَهَى عَنْ قَتْل الْمَوْءُودَةِ

Dan ia melarang pembunuhan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Ia tidak diam. Ia mencela kaumnya atas keburukan yang mereka lakukan, dan ia berkata terang-terangan bahwa ia tidak mengikuti agama mereka:

وَقَالَ: أعبدُ ربَّ إبْرَاهِيمَ

Dan ia berkata: "Aku menyembah Tuhan Ibrahim." Di tengah ratusan berhala, ia mencari kembali agama yang lurus, agama bapak para nabi.

Tahun demi tahun berlalu, dan Zayd menua dalam pencariannya. Asma' binti Abi Bakar, yang masih kecil ketika itu, kelak menceritakan apa yang pernah ia saksikan dengan matanya sendiri. Ada hari ketika orang-orang melihat Zayd, lelaki tua yang telah beruban, menyandarkan punggungnya ke dinding Ka'bah — bangunan yang dibangun Ibrahim, namun kini dikepung berhala. Ia berseru kepada kaumnya dengan suara yang tak gentar:

يَا معشرَ قُرَيْشٍ، وَاَلَّذِي نَفْسُ زَيْدِ بْنِ عَمْرٍو بِيَدِهِ: مَا أَصْبَحَ مِنْكُمْ أَحَدٌ عَلَى دِينِ إبْرَاهِيمَ غَيْرِي

"Wahai sekalian Quraisy, demi Dzat yang jiwa Zayd bin 'Amr berada di tangan-Nya: tidak ada seorang pun di antara kalian yang berada di atas agama Ibrahim selain aku." Kalimat itu menggambarkan betapa sunyinya jalan yang ia tempuh. Seluruh kota memilih jalan yang sama, dan ia memilih untuk sendirian di jalan yang benar.

Tetapi kesendirian itu tidak membuatnya sombong. Justru di puncak keteguhannya, Zayd menyadari betapa kecil pengetahuannya. Ia tahu bahwa berhala itu batil, tetapi ia belum tahu persis bagaimana cara menyembah Allah dengan benar. Maka ia menengadahkan wajahnya, lalu berdoa dengan kerendahan hati yang menyayat:

اللَّهُمَّ لَوْ أَنِّي أَعْلَمُ أيَّ الْوُجُوهِ أَحَبُّ إلَيْكَ عبدتُك بِهِ، وَلَكِنِّي لَا أَعْلَمُهُ

"Ya Allah, seandainya aku tahu cara mana yang paling Engkau cintai untuk aku beribadah kepada-Mu, niscaya aku akan beribadah dengan cara itu — tetapi aku tidak mengetahuinya." Lalu ia bersujud di atas telapak tangannya, sujud seorang lelaki yang mencari Tuhannya dalam gelap, dengan hati yang jujur.

Zayd wafat sebelum Muhammad ﷺ diutus sebagai nabi. Ia tidak sempat melihat Islam yang ia cari-cari sepanjang hidupnya datang dengan terang. Kelak, putranya Sa'id bin Zayd dan keponakannya 'Umar bin al-Khaththab bertanya kepada Rasulullah ﷺ, bolehkah mereka memohonkan ampun untuk Zayd. Dan jawaban beliau menjadi pengakuan atas seorang pencari kebenaran yang berdiri sendirian di tengah kegelapan zamannya:

نَعَمْ، فَإِنَّهُ يُبْعث أُمَّةً وحدَه

"Ya, sungguh ia akan dibangkitkan sebagai satu umat tersendiri." Satu orang, dihitung sebagai satu umat. Dalam syairnya, Zayd pernah menanggalkan seluruh berhala kaumnya sekaligus, dan memilih hanya satu Tuhan:

عَزَلْتُ اللاتَ والعُزَّى جميعًا ... كذلك يفعلُ الجَلْدُ الصبورُ

"Aku tinggalkan Lata dan 'Uzza, keduanya sekaligus — begitulah yang dilakukan oleh orang yang teguh lagi penyabar."

Pelajaran

Zayd bin 'Amr tidak punya kitab suci di tangannya, tidak punya nabi yang membimbingnya, dan tidak punya satu pun teman seperjalanan. Yang ia punya hanyalah hati yang menolak melihat yang lemah dianiaya. Ia membela bayi perempuan yang akan dikubur hidup-hidup pada zaman ketika nyaris semua orang menganggap perbuatan itu wajar, dan ia menentang arus seluruh kotanya seorang diri. Keberaniannya lahir dari satu hal sederhana: keyakinan bahwa setiap jiwa yang lemah adalah ciptaan Allah yang berhak dijaga, bukan dibuang. Di rumah dan di tengah masyarakat hari ini, yang paling lemah pun masih sering menjadi yang paling mudah dilukai — anak kecil, perempuan, orang yang tak punya suara untuk membela diri. Kisah Zayd mengingatkan bahwa membela mereka kadang berarti berani berbeda, berani berkata "ini salah" ketika sekeliling kita menganggapnya biasa. Dan ketika seseorang berdiri membela yang lemah dengan jujur, Allah tidak pernah melupakannya — meski ia berdiri sendirian, di mata Allah ia bisa bernilai seperti satu umat utuh.

Sumber Asli

Sirah Ibn Hisham — المجلد: الأول / من وأده إذا أثقله له. قال الفرزدق

وَنَهَى عَنْ قَتْل الْمَوْءُودَةِ1، وَقَالَ: أعبدُ ربَّ إبْرَاهِيمَ، وبادَى قَوْمَهُ بعيْب مَا هُمْ عَلَيْهِ. قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ: وَحَدَّثَنِي هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُمِّهِ أَسَمَاءَ بِنْتِ أَبِي بكر رضي = الله عليه، وأن زيد بن عمرو بن نفيل كان يعيب على قريش ذبائحهم، ويقول: الشاة خلقها الله، وأنزل لها من السماء ماءً، وأنبت لها من الأرض الكلأ، ثم تذبحونها على غير اسم الله؟ إنكارًا لذلك، وإعظامًا له.

لَقَدْ رأيتُ زيدَ بْنَ عَمْرِو بْنِ نُفَيْل شَيْخًا كَبِيرًا مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إلَى الْكَعْبَةِ، وَهُوَ يَقُولُ: يَا معشرَ قُرَيْشٍ، وَاَلَّذِي نَفْسُ زَيْدِ بْنِ عَمْرٍو بِيَدِهِ: مَا أَصْبَحَ مِنْكُمْ أَحَدٌ عَلَى دِينِ إبْرَاهِيمَ غَيْرِي، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ لَوْ أَنِّي أَعْلَمُ أيَّ الْوُجُوهِ أَحَبُّ إلَيْكَ عبدتُك بِهِ، وَلَكِنِّي لَا أَعْلَمُهُ، ثُمَّ يَسْجُدُ عَلَى رَاحَتِهِ.

أَتَسْتَغْفِرُ لِزَيْدِ بْنِ عَمْرٍو؟ قَالَ: "نَعَمْ، فَإِنَّهُ يُبْعث أُمَّةً وحدَه".

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan