Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumSosial & KeluargaKamis, 25 Juni 2026

Kultum — "Hadir Sebelum Terlambat Hadir"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ سَكَنًا وَمَوَدَّةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ini, kita semua mendengar kabar-kabar yang membuat dada sesak — tentang kekerasan terhadap perempuan yang viral, tentang anak-anak yang menjadi korban di tempat yang seharusnya melindungi mereka. Malam ini, di Hari Asyura, saya tidak ingin mengajak kita ikut marah-marah seperti yang ramai di lini masa. Saya ingin mengajak kita pulang ke pertanyaan yang lebih sunyi tapi lebih penting: bagaimana sebenarnya keadaan orang-orang yang tinggal serumah dengan kita?

Ada satu hadits yang ringkas tapi menusuk. Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diriwayatkan dalam Bulugh al-Maram:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

"Cukuplah seseorang dianggap berdosa, jika ia menyia-nyiakan orang-orang yang menjadi tanggungannya." (Bulugh al-Maram 1329)

Saudara-saudara sekalian, perhatikan kata "menyia-nyiakan" itu. Kita biasa membayangkan menyia-nyiakan keluarga berarti tidak memberi mereka makan. Tapi maknanya jauh lebih luas. Ada bentuk penyia-nyiaan yang tidak kelihatan, yang justru paling sering terjadi di rumah-rumah kita yang berkecukupan: hadir secara fisik, tapi absen secara batin. Kita ada di ruang yang sama dengan anak kita, tapi mata kita di layar. Kita duduk semeja, tapi pikiran kita di pekerjaan. Anak bertanya, kita menjawab tanpa menoleh. Inilah penyia-nyiaan zaman kita — bukan kelaparan perut, tapi kelaparan perhatian.

Mari kita ukur diri sendiri dengan jujur. Berapa kali pekan ini kita benar-benar menatap mata anak kita saat ia bercerita? Berapa kali kita meletakkan ponsel dan mendengarkan sampai selesai, tanpa memotong, tanpa terburu-buru? Saya tahu, kita semua sibuk. Beban hidup berat, apalagi di tengah kabar pemutusan kerja dan harga-harga yang naik. Tapi justru di sinilah ujiannya. Anak tidak butuh orang tua yang sempurna; anak butuh orang tua yang hadir.

Coba kita renungkan, kenapa banyak anak yang akhirnya menyimpan lukanya sendirian sampai terlambat ketahuan? Sering kali bukan karena mereka tidak mau bercerita, tapi karena mereka merasa tidak akan didengar. Mereka pernah mencoba bicara, lalu dijawab dengan "nanti", "jangan cengeng", "Ayah capek". Lama-lama mereka belajar diam. Dan rumah yang anaknya memilih diam adalah rumah yang berbahaya, karena kita kehilangan jendela untuk tahu apa yang sedang terjadi pada jiwa mereka. Banyak kabar kekerasan terhadap anak yang baru terungkap setelah berbulan-bulan justru karena tidak ada orang dewasa yang menjadi tempat aman bagi si anak untuk bercerita.

Allah Ta'ala mengingatkan kita dengan ayat yang sangat menyentuh. Allah berfirman dalam Surah An-Nisaa ayat 9:

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةًۭ ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًۭا سَدِيدًا

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An-Nisaa: 9)

Subhanallah. Allah mengajak kita membayangkan satu hal yang membuat hati bergetar: seandainya kita tiada hari ini, bagaimana nasib anak-anak kita yang lemah? Akankah ada yang menjaga mereka seperti kita menjaga? Rasa khawatir itu, kata Allah, seharusnya menjadi penggerak agar kita bertakwa dan berkata benar kepada mereka selagi kita masih ada. Selagi masih ada. Karena penyesalan terbesar seorang manusia bukanlah karena ia kurang kaya untuk keluarganya, tapi karena ia kurang hadir untuk mereka, dan baru menyadarinya ketika sudah terlambat.

Mari kita jujur sebentar tentang diri kita sendiri, karena kultum ini bukan untuk menuding orang lain. Kita semua pernah merasa lelah pulang kerja, ingin sebentar saja menikmati ketenangan di ponsel, lalu anak datang menarik-narik baju minta ditemani. Reaksi pertama kita sering kali "sebentar, Nak", dan "sebentar" itu berubah menjadi setengah jam, lalu menjadi malam yang berlalu tanpa percakapan apa pun. Saya pun begitu. Tidak ada di antara kita yang sempurna dalam hal ini. Tapi justru karena kita semua rentan pada hal yang sama, kita perlu saling mengingatkan. Bukan untuk merasa bersalah berkepanjangan, tapi untuk mengubah satu kebiasaan kecil mulai malam ini.

Coba kita pikirkan lebih dalam mengapa kehadiran ini begitu menentukan. Anak yang tumbuh dengan orang tua yang hadir akan punya satu hal yang sangat berharga: rasa aman. Rasa aman inilah benteng pertama yang melindungi anak dari banyak bahaya di luar sana. Anak yang merasa dicintai dan didengar di rumah tidak mudah dirayu oleh orang asing yang berpura-pura memberi perhatian. Anak yang terbiasa bercerita kepada orang tuanya akan segera melapor jika ada orang dewasa yang memperlakukannya dengan tidak pantas. Sebaliknya, anak yang haus perhatian justru paling rentan — ia akan mencari kehangatan itu di tempat lain, kepada siapa saja yang mau mendengarnya, dan tidak semua orang yang mau mendengarnya berniat baik. Banyak kasus yang kita dengar bermula dari celah ini: celah perhatian yang kosong di rumah, lalu diisi oleh tangan yang salah.

Dan kehadiran ini bukan hanya soal anak, saudara-saudara. Pasangan kita juga butuh dihadiri. Berapa banyak rumah tangga yang retak bukan karena masalah besar, tapi karena akumulasi dari ratusan momen kecil di mana suami atau istri merasa tidak dianggap, tidak didengar, tidak dilihat? Allah menamai pernikahan dengan kata sakinah — ketenangan. Tapi ketenangan itu tidak datang sendiri; ia dirawat dengan kehadiran, dengan percakapan yang tulus, dengan perhatian pada hal-hal kecil. Di tengah tekanan ekonomi yang banyak menimpa keluarga pekan ini, justru kehadiran dan kelembutan inilah yang menjadi perekat. Uang bisa berkurang, tapi rumah yang penghuninya saling hadir akan tetap menjadi tempat berlindung yang nyaman.

Ada satu pertanyaan yang ingin saya titipkan untuk kita renungkan bersama. Kalau hari ini kita ditanya, "Siapa orang yang paling sering kamu lihat wajahnya dalam sehari?" — jujur saja, jawabannya sering kali bukan anak atau pasangan kita, melainkan layar ponsel kita. Kita lebih hafal notifikasi daripada raut wajah orang yang kita cintai. Kita lebih cepat membalas pesan orang jauh daripada menjawab pertanyaan orang yang duduk di sebelah kita. Padahal yang akan menemani kita di hari tua, yang akan mendoakan kita ketika kita tiada, bukanlah pengikut di media sosial, melainkan keluarga yang kita rawat hari ini. Maka memindahkan sebagian perhatian dari layar ke wajah-wajah di rumah bukan sekadar nasihat parenting; itu adalah investasi akhirat.

Saudara-saudara, kabar baiknya, hadir itu tidak mahal. Hadir tidak menuntut kita berhenti bekerja atau membeli apa pun. Hadir hanya menuntut kita mengarahkan perhatian. Lima belas menit yang utuh — tanpa ponsel, tanpa terburu-buru — lebih berharga bagi anak daripada satu jam yang terbagi-bagi. Maka malam ini, saat kita pulang dari sini, ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, letakkan ponsel sepenuhnya saat berbicara dengan anak atau pasangan kita, walau hanya sepuluh menit; tatap mata mereka. Kedua, tanyakan satu pertanyaan yang membuka hati, bukan sekadar "sudah makan?" tapi "tadi di sekolah ada yang bikin kamu sedih nggak?" — lalu dengarkan sampai habis. Ketiga, jadikan diri kita orang yang aman untuk didekati; jangan langsung marah saat anak mengaku salah, karena anak yang takut dimarahi adalah anak yang akan menyembunyikan masalahnya yang besar.

Dan jangan kita lupa, kehadiran kita kepada keluarga adalah pintu kehadiran kepada Allah. Rumah yang hangat dan penuh perhatian akan lebih mudah diajak shalat berjamaah, lebih mudah diajak mengaji bersama, lebih mudah menerima nasihat. Sebaliknya, sulit menanamkan nilai-nilai agama pada anak yang hatinya terluka oleh ketidakhadiran kita. Anak meniru bukan dari apa yang kita ucapkan, tapi dari bagaimana kita memperlakukan mereka. Ketika kita hadir dengan kasih sayang, kita sedang mengajarkan kepada mereka wajah Islam yang sebenarnya — agama yang lembut, yang merangkul, yang menjaga. Inilah dakwah yang paling jujur: dakwah yang dimulai dari meja makan kita sendiri, bukan dari mimbar atau media sosial.

Mari kita renungkan: rumah kita kelak akan ditanya. Bukan luasnya, bukan isinya, tapi siapa-siapa yang Allah titipkan di dalamnya, dan bagaimana kita menjaga mereka. Hadir hari ini, sebelum datang hari di mana kita ingin hadir tapi sudah tak bisa. Itulah pesan yang ingin saya bawa pulang malam ini.

Marilah kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَهْلِيْنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْنَا لَهُمْ حَاضِرِيْنَ رَاعِيْنَ رَحِيْمِيْنَ، وَاحْفَظْ أَوْلَادَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا مَأْوًى آمِنًا تَمْلَؤُهُ الْمَوَدَّةُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan