Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatTeknologi & AIKamis, 25 Juni 2026

Khutbah Jumat — "Jari yang Dicatat, Hati yang Dijaga"

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Kita berkumpul pada Jumat ini di tengah zaman yang Allah karuniakan kepada kita alat-alat yang tidak pernah dibayangkan oleh kakek-nenek kita. Di telapak tangan kita ada perpustakaan, mimbar, pasar, dan ruang pertemuan sekaligus. Namun di telapak tangan yang sama itu pula tersimpan kemampuan untuk melukai kehormatan orang lain hanya dengan satu ketukan jari. Maka pertanyaan yang ingin kita renungkan bersama pekan ini sederhana: ketika alat membesar, apakah hati kita ikut membesar dalam takwa, atau justru mengecil dalam lalai?

Allah Ta'ala memberi kita peringatan yang sangat relevan dengan zaman jejaring ini.

وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةًۭ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةًۭ ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Dalam QS. Al-Anfaal: 25 Allah berfirman: "Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." Ayat ini, hadirin, berbicara tentang fitnah yang bila dibiarkan tidak akan berhenti pada pelakunya saja. Inilah gambaran yang paling tepat untuk hoaks dan ujaran kebencian di media kita. Satu kabar dusta yang kita teruskan, satu hinaan yang kita bagikan ulang, tidak akan tinggal di layar kita. Ia menyebar, melukai orang yang tidak bersalah, memecah keluarga, dan menebar permusuhan di antara tetangga. Allah memperingatkan agar kita tidak menyangka diri aman hanya karena bukan kita yang memulai; menyebarkan keburukan adalah ikut serta di dalamnya.

Pengantar tema ini terasa nyata bila kita perhatikan kabar-kabar yang sampai kepada kita pekan ini. Ramai diperbincangkan ujaran-ujaran kasar yang dilontarkan dari balik akun anonim, sampai-sampai menyentuh penghinaan terhadap agama dan martabat manusia. Publik juga dikejutkan oleh kabar tentang sosok mahasiswa yang sempat bertemu pejabat tinggi negara, lalu menjadi bahan perbincangan yang melebar ke berbagai arah. Dari berita pekan ini kita juga mendengar dugaan perundungan yang dialami seorang pelajar oleh oknum gurunya di sebuah sekolah, hingga melukai kondisi jiwanya. Dan ada pula sindiran-sindiran tajam yang dilemparkan ke ruang publik, menuduh ini dan itu tanpa kejelasan. Semua ini, hadirin, memiliki satu benang yang sama: kabar bergerak lebih cepat daripada kebenaran, dan jari kita sering bergerak lebih cepat daripada akal kita.

Maka mari kita masuk ke inti khutbah ini. Persoalan terbesar bukanlah teknologinya, melainkan adab pemakainya. Rasulullah ﷺ telah meletakkan timbangan yang jelas tentang kehormatan seorang Muslim. Beliau bersabda dalam riwayat Bulugh al-Maram:

وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-{ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا, وَلَا تَبَاغَضُوا, وَلَا تَدَابَرُوا, وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ, وَكُونُوا عِبَادَ اَللَّهِ إِخْوَانًا, اَلْمُسْلِمُ أَخُو اَلْمُسْلِمِ, لَا يَظْلِمُهُ, وَلَا يَخْذُلُهُ, وَلَا يَحْقِرُهُ }

Dalam Bulugh al-Maram 1694 diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian saling hasad, janganlah kalian saling menawar barang yang sudah ditawar orang lain, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi... Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak meninggalkannya, dan tidak meremehkannya." Lalu beliau menegaskan bahwa darah, harta, dan kehormatan seorang Muslim itu haram atas Muslim lainnya. Perhatikanlah, hadirin: larangan saling membelakangi (tadabur) dan saling membenci itu kini punya wujud baru. Kita membelakangi saudara kita dengan memblokir tanpa tabayyun, kita membencinya dengan thread dan komentar, kita merendahkannya dengan tangkapan layar yang disebar tanpa konteks. Hadits ini menutup semua pintu itu sekaligus. Kehormatan saudara kita tidak berkurang nilainya hanya karena ia kita serang lewat layar, bukan lewat lisan langsung.

Lebih dalam lagi, Rasulullah ﷺ memasukkan tuduhan keji terhadap kehormatan ke dalam dosa-dosa yang membinasakan. Dalam riwayat Muslim:

حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الأَيْلِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَبِي الْغَيْثِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ ‏"‏

Dalam Sahih Muslim 89 diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan." Ketika ditanya apa saja, beliau menyebut di antaranya menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan perang, dan menuduh wanita mukminah yang menjaga kehormatannya dan lalai dari tuduhan zina. Hadirin, lihatlah betapa tinggi kedudukan tuduhan palsu (qadzaf) ini — ia sejajar dengan dosa-dosa terbesar. Hari ini, fitnah terhadap kehormatan tidak lagi butuh saksi atau pasar; ia cukup butuh satu unggahan. Dan dengan datangnya teknologi pemalsuan gambar dan suara, tuduhan palsu menjadi makin mudah dipakaikan kepada orang yang tidak bersalah. Maka peringatan Nabi ﷺ ini justru semakin tajam, bukan semakin usang.

Lalu apa obat dari semua ini? Obatnya adalah menundukkan alat, bukan menyembah alat. Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًۭا مِّنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Dalam QS. Yunus: 106 Allah berfirman: "Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat demikian, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim." Memang ayat ini turun tentang penyembahan berhala, namun ruhnya mengajarkan kita prinsip besar: jangan menggantungkan hati pada sesuatu yang sejatinya hanya alat. Hari ini banyak orang menyerahkan rasa cemas, harga diri, dan ketenangan jiwanya kepada jumlah suka, kepada algoritma, kepada layar yang dingin. Mereka memperlakukan gawai seolah ia sumber manfaat dan mudarat. Padahal manfaat dan mudarat ada di tangan Allah, dan alat hanyalah sarana yang tunduk pada niat pemiliknya. Seorang mukmin memakai teknologi seperti seorang musafir memakai kendaraan — ia mengendarainya, bukan dikendarainya.

Inti dari semua ini adalah amanah ilmu dan kejujuran. Allah Ta'ala mengajarkan kita betapa kuat kedudukan amanah, bahkan ketika tidak ada penulis dan tidak ada saksi.

۞ وَإِن كُنتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ وَلَمْ تَجِدُوا۟ كَاتِبًۭا فَرِهَٰنٌۭ مَّقْبُوضَةٌۭ ۖ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًۭا فَلْيُؤَدِّ ٱلَّذِى ٱؤْتُمِنَ أَمَٰنَتَهُۥ وَلْيَتَّقِ ٱللَّهَ رَبَّهُۥ

Dalam QS. Al-Baqara: 283 Allah berfirman: "...Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu menyembunyikan persaksian." Hadirin, inilah inti etika digital seorang mukmin. Di ruang maya, hampir tidak ada yang mengawasi kita secara langsung. Tidak ada yang tahu apakah kita memalsukan kutipan, menyebar tangkapan layar yang dipotong, atau menyembunyikan kebenaran. Tetapi seorang mukmin tahu bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan. Amanah ilmu berarti kita tidak menyebar sesuatu sebagai ilmu padahal kita belum memeriksanya. Kejujuran berarti kita tidak memotong konteks demi menang dalam perdebatan. Inilah yang membedakan seorang beriman dari sekadar pengguna: pengawasan Allah, bukan pengawasan kamera.

Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan saya tutup khutbah pertama ini dengan beberapa langkah praktis yang bisa kita amalkan pekan ini. Pertama, jadikan jeda satu tarikan napas sebagai kebiasaan sebelum membagikan kabar apa pun — tanyakan: benarkah ini, bermanfaatkah ini, dan apakah ini melukai kehormatan seseorang. Kedua, bersihkan satu kebiasaan jari yang merusak: berhenti dari satu grup yang isinya hanya ghibah dan tuduhan, atau hapus satu kebiasaan berkomentar nyinyir. Ketiga, balas satu pesan saudara kita yang sedang bersedih dengan kehadiran nyata — telepon, kunjungi, tatap matanya — bukan sekadar emoji. Keempat, mulailah membiasakan diri memeriksa sumber sebelum menyebarkan; jadilah orang yang menahan, bukan yang menambah, kobaran fitnah. Kelima, ajarkan hal yang sama kepada anak dan keluarga kita, sebab merekalah yang paling lama hidup di dunia layar ini.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Hadirin yang dirahmati Allah, pada khutbah kedua ini izinkan saya memperdalam beberapa sisi dari apa yang telah kita renungkan tadi. Sisi pertama: ruang digital tidak menghapus malaikat pencatat. Banyak dari kita merasa lebih berani berbuat dosa lewat layar daripada secara langsung, seolah ketukan jari tidak benar-benar terjadi. Padahal setiap huruf yang kita ketik, setiap unggahan yang kita sebar, dicatat dengan sempurna. Layar hanya menyembunyikan kita dari mata manusia, tidak dari penglihatan Allah.

Sisi kedua: kehormatan saudara kita adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar oleh kecanggihan apa pun. Teknologi pemalsuan boleh saja membuat fitnah terlihat meyakinkan, tetapi ia tidak mengubah hukum Allah satu titik pun. Menuduh tanpa bukti tetaplah dosa besar, sekalipun dikemas dengan gambar dan suara yang sempurna.

Sisi ketiga: kesedihan yang diluapkan di layar adalah panggilan, bukan tontonan. Ketika kita melihat saudara kita berteriak pelan di linimasa, itu adalah amanah yang Allah letakkan di hadapan kita. Membalasnya dengan kehadiran adalah sedekah; melewatinya dengan scroll adalah kehilangan kesempatan amal yang besar.

Sisi keempat: amanah ilmu adalah jihad zaman ini. Di tengah banjir informasi, menahan diri untuk tidak menyebar yang belum pasti adalah bentuk takwa yang nyata. Orang yang memeriksa dulu sebelum membagikan sedang menjaga umat dari fitnah, dan itu pahala yang besar di sisi Allah.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ لِسَانٍ لَا يَصْدُقُ، وَمِنْ يَدٍ تَكْتُبُ مَا يُغْضِبُكَ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا وَأَيْدِيَنَا مِنْ كُلِّ مَا يُؤْذِي عِبَادَكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ إِذَا تَكَلَّمَ صَدَقَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ أَدَّى، وَإِذَا وَعَدَ وَفَى. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ شَبَابَنَا الَّذِيْنَ أَثْقَلَتْهُمُ الْهُمُوْمُ، وَاشْرَحْ صُدُوْرَ مَنْ ضَاقَتْ بِهِمُ الدُّنْيَا، وَرُدَّهُمْ إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيْلًا. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ أَطْفَالَنَا وَأَهْلَنَا.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan