أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, ramai kita dengar kabar tentang tuduhan-tuduhan yang dilemparkan ke ruang publik dan ujaran-ujaran kasar yang beredar dari balik akun tanpa nama. Malam ini saya ingin mengajak kita berhenti sebentar pada satu kebiasaan kecil yang ternyata menentukan banyak hal: jeda satu menit sebelum kita menekan tombol kirim.
Kita semua pernah merasakannya. Sebuah kabar masuk, hati kita panas, dan jari kita bergerak lebih cepat daripada pikiran kita. Dalam hitungan detik, kabar itu sudah berpindah ke puluhan orang. Tapi pernahkah kita bertanya, apa yang sebenarnya kita sebarkan? Allah Ta'ala mengingatkan kita dengan sebuah ayat yang seakan ditulis untuk zaman jejaring kita.
وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةًۭ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةًۭ ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
Dalam QS. Al-Anfaal: 25 Allah berfirman: "Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." Para ulama menjelaskan bahwa fitnah, bila dibiarkan, tidak akan berhenti pada orang yang memulainya. Ia menjalar dan menimpa banyak orang yang tidak bersalah. Inilah persis cara kerja kabar dusta di media kita: satu unggahan keliru bisa menghancurkan nama baik seseorang, memecah persaudaraan, dan baru disesali setelah semuanya terlambat.
Mari kita ukur diri sendiri, jamaah. Berapa kali pekan ini kita membagikan sesuatu yang belum kita periksa? Kita dengar pekan ini ada sosok mahasiswa yang sempat bertemu pejabat tinggi, lalu menjadi bahan perbincangan yang melebar ke segala arah. Kita juga dengar dugaan perundungan terhadap seorang pelajar oleh oknum gurunya. Dan kita dengar sindiran-sindiran tajam yang menuduh tanpa kejelasan. Yang menarik, jamaah, sebagian dari kita ikut membagikan semua itu bahkan sebelum kita tahu mana yang benar. Kita merasa sedang membela kebenaran, padahal kita sedang mempercepat penyebaran sesuatu yang belum tentu benar.
Di sinilah satu hadits Nabi ﷺ menyentuh kita lebih dalam. Beliau memasukkan tuduhan keji terhadap kehormatan ke dalam tujuh dosa yang membinasakan, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim 89: "Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan," di antaranya menuduh wanita mukminah yang menjaga kehormatannya. Bayangkan, jamaah, betapa beratnya dosa tuduhan palsu di sisi Allah — disejajarkan dengan dosa-dosa terbesar. Padahal hari ini, menuduh seseorang cukup dengan satu jari. Bahkan dengan teknologi sekarang, gambar dan suara pun bisa dipalsukan. Maka jeda satu menit itu bukan sekadar etika; ia adalah benteng dari dosa besar.
Kalau kita renungkan lebih dalam, masalahnya bukan pada alatnya, tapi pada kecepatan hati kita yang belum terlatih. Manusia memang diciptakan tergesa-gesa. Tapi iman mengajarkan kita untuk menahan diri, untuk bertanya dulu sebelum bertindak, untuk memilih diam ketika ragu. Diam dari menyebarkan yang belum pasti, dalam timbangan Allah, bisa jadi lebih bernilai daripada seribu kalimat pembelaan. Para ulama dahulu begitu menjaga lisan mereka; sebagian mereka rela menggigit batu agar tidak berbicara tanpa keperluan. Bayangkan bagaimana sikap mereka seandainya hidup di zaman ketika satu lisan bisa menjangkau ribuan orang dalam sekejap. Mereka pasti akan jauh lebih berhati-hati daripada kita yang menganggap enteng setiap ketukan jari.
Ada pula pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri sendiri: untuk apa sebenarnya kita menyebarkan kabar itu? Jujurlah, jamaah. Sering kali bukan karena ingin membela kebenaran, melainkan karena ingin terlihat tahu lebih dulu, ingin menjadi yang pertama, ingin ada di tengah keramaian. Niat yang keruh inilah yang membuat jari kita ringan untuk keburukan. Sebab itu, memperbaiki cara kita bermedia tidak cukup dengan aturan; ia harus dimulai dari membersihkan niat. Tanyakan: apakah aku menyebar ini karena Allah, atau karena ego? Pertanyaan sederhana ini, bila jujur dijawab, sering kali sudah cukup menghentikan jari kita.
Dan ada sisi lain yang sering kita lupa. Di balik layar yang sama, ada saudara-saudara kita yang sedang bersedih, lelah jiwanya, bahkan ada yang menuliskan keinginan menyakiti diri. Kalau jari kita begitu cepat untuk menyebar tuduhan, mengapa ia begitu lambat untuk membalas pesan saudara yang kesepian? Mari kita seimbangkan: kalau kita ingin jari ini ringan, ringankanlah ia untuk kebaikan — menyapa, menghibur, mendoakan. Betapa banyak orang yang bertahan hidup hanya karena ada satu pesan singkat yang menyatakan bahwa ia tidak sendirian. Kebaikan sekecil itu, di mata Allah, tidaklah kecil. Maka jangan sampai kita menjadi orang yang sibuk menyebar keburukan, sementara pintu-pintu kebaikan yang ada di genggaman kita justru kita biarkan tertutup.
Maka, jamaah, setelah pulang dari sini malam ini, ada tiga hal sederhana yang bisa kita lakukan dalam 24 jam ke depan. Pertama, sebelum membagikan kabar apa pun besok, tahan satu menit dan tanyakan tiga hal: benarkah, bermanfaatkah, dan apakah ini melukai seseorang. Kedua, hapus atau diamkan satu grup yang isinya hanya tuduhan dan gosip. Ketiga, balas satu pesan saudara yang sedang sedih dengan kalimat hangat atau telepon langsung. Tiga langkah kecil ini, jika dijaga, akan mengubah cara kita hidup di dunia digital.
Mari kita tutup dengan menundukkan hati kepada Allah. Sesungguhnya jari yang dijaga adalah cerminan dari hati yang dijaga, dan hati yang dijaga adalah pangkal dari semua keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang berhati-hati dalam berkata dan dalam menekan setiap tombol kirim.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا وَأَيْدِيَنَا مِنْ كُلِّ مَا يُؤْذِي عِبَادَكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ إِذَا تَكَلَّمَ صَدَقَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ أَدَّى. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ كُلَّ قَلْبٍ ضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا، وَاشْرَحْ صُدُوْرَ شَبَابِنَا، وَرُدَّهُمْ إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيْلًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
